
Acara kumpul-kumpul orang Indonesia di rumah Oma Hanna sangat ramai. Aku jadi punya banyak teman dan punya referensi tempat-tempat indah yang mau aku kunjungi.
"Gas" suara seorang Pria memanggil nama Bagas.
"Bang" jawab Bagas.
"Jam berapa kita balik ke penginapan?" tanya pria tersebut.
"Jam 8, bang" jawab Bagas.
"Oh, iya Bang. Saya kenalin sama sahabat saya" kata Bagas
"Hellen, ini bang Adrian. Abang Letingku" kata Bagas mengenalkan Pria itu.
Sambil mengulurkan tangan, kami saling menyebutkan nama.
"Hellena"
"Adrian"
Tiba-tiba ponselku berdering
"Hallo" sapa ku
"...…."
"Aku masih di tempat acara" jawabku
"......."
"Baiklah. Aku share lock" jawabku dan memutuskan hubungan telepon.
"Siapa?" tanya Bagas.
"Oh, Temanku. Aku tinggal di apartemennya. Dia akan menjemput ku" jawabku.
"Berapa lama, kamu akan tinggal di Beirut?" tanya Bagas
"Sekitar 2 minggu" jawabku.
"Seminggu lagi, kami akan kembali ke Indonesia. Karena masa tugas kami sudah berakhir. Berikan alamatmu jika tidak berhalangan, aku akan menemui kamu" kata Bagas.
"Baiklah" jawabku dan kemudian memberikan alamat apartemen Maria.
Setelah berbincang dengan Bagas, Riska dan teman-teman Riska. Aku pamit dari Oma Hanna juga dari semua orang yang ada di acara karena sudah dijemput oleh Maria.
"Nanti aku kabari ya, Hellen" kata Bagas.
__ADS_1
"Dah, kak Hellen" suara anak-anak muda itu. Aku hanya melambaikan tanganku sambil tersenyum kepada mereka.
Tanpa ku sadari senyumanku telah membuat seseorang telah menyukaimu.
Beberapa hari lewat dari acara yang aku ikuti. tepatnya hari kelima aku tinggal di Beirut.
Aku dihubungi Bagas untuk sekedar jalan-jalan dan makan malam bersama.
"Kita mau ke mana?" tanyaku
"Kita akan jalan-jalan sesuai dengan yang aku janjikan" jawab Bagas.
Dan benar saja, Bagas membawaku ke pinggiran pantai yang tidak jauh dari Beirut. Tempat ini juga menyediakan restoran dan cafe di sisi lain pantai.
"Wah, indahnya" kataku sambil berdiri memandangi pemandangan indah.
"Hellen, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu" kata Bagas.
"Bagaimana dengan perjodohanmu?" tanya Bagas.
"Entahlah, Gas. Aku sepertinya akan membatalkan pertunangan itu" jawabku.
"Jika itu bisa membuatmu lega dan bebas, lakukanlah" kata Bagas.
Aku memandangi wajah Bagas yang selalu bisa memberikan jalan keluar bagiku ketika aku sudah tidak bisa lagi berfikir.
"Keluarkan semuanya, Hellena. Aku tahu kamu menyimpannya" kata Bagas sambil mengusap punggungku.
"Aku nggak sanggup melihat Mami yang terus-terusan menyembunyikan semua kesedihannya, Gas. Tapi aku juga nggak mau di bilang anak durhaka oleh Papi" kataku meremas baju Bagas.
"Hellen, kamu masih percaya aku kan? Aku akan menunggumu sampai bisa menceritakan semuanya untukku" kata Bagas menenangkan aku.
"Lelaki yang dijodohkan denganku adalah anak dari temen bisnis Papi dan aku tahu siapa dia, kamu juga mengenal dia" kataku melepaskan pelukanku dari Bagas.
"Kevin?" tanya Bagas menyebut namanya.
"Iya, Kevin" jawabku.
"Kamu masih ingat abangku yang ku kenalkan tadi malam?" tanya Bagas.
"Aku tidak terlalu mengingatnya. Ada apa?" jawabku.
"Dia adalah Om nya Kevin, adik bungsu Papinya" kata Bagas.
"Dan aku tahu tentang perjodohanmu dengan Kevin dari abang Adrian. Dan dari bang Adrian, aku tahu kalau Kevin pernah mengancam kamu" kata Bagas
Air mataku semakin deras mengalir "Aku ingin meninggalkan semuanya dan mencari ketenangan, Gas. Tapi ada Mami yang membutuhkan aku untuk tetap bersamanya" kataku.
__ADS_1
"Beberapa hari lagi, aku dan pasukan ku akan pulang ke Indonesia. Akan kutunggu kamu kembali dan kita biacarakan ini" kata Bagas.
"Kevin harus diberikan pelajaran" kata Bagas lagi sambil mengeraskan rahangnya.
Teman-teman Bagas juga ada Adrian bersama mereka tiba-tiba datang.
"Gas, pacaran ya?" tanya salah satu temannya
"Ngarang aja kamu, Yon. Ini sahabatku, kebetulan dia lagi liburan ke sini. Ya sekalian kita ketemu" jawab Bagas.
"Ayo, bang. Duduk bareng aku dan Hellen" ajak Bagas ke Adrian.
"Permisi duduk ya, dek" kata Adrian
"Oh, iya kak" jawabku.
"Kalian sudah pesan makan?" tanya Adrian.
"Belum bang" jawab Bagas.
"Aku akan pesankan" kata Adrian.
"Nggak usah. Abang duduk saja, biarkan aku yang pesan" kata bagas berlalu.
"Maafkan saya. Ini, hapus air matamu. Malu sama pengunjung disini" kata Adrian sambil memberi saputangannya untukku.
Tanpa niatan menolak, langsung aku ambil saputangannya dan membersihkan sisa air mata yang mengalir.
"Terima kasih" kataku dan mengembalikan saputangan Adrian.
"Ya, Tuhan. Kok dipulangin sih, kenapa nggak dicuci dulu. Hellen, Hellen" batinku bergumam.
"Nggak papa, dek. Nanti saya yang cuciin" kata Adrian.
"Aku bisa mendengarkan suara batin orang" katanya lagi membuatku agak aneh.
"Eh, ah itu. Maaf" kataku.
"Saya harap hubungan kamu dan Kevin jangan diteruskan" kata Adrian.
Sejurus aku memandangi wajahnya dengan serius. Wajah yang tidak terlalu tampan tapi terlihat tegas dengan rahang yang menonjol juga sikap dan tutur katanya menunjukkan bahwa pria ini sangat bijaksana dan penuh wibawa tapi sangat berbahaya.
"Itu keinginan saya. Memutuskan pertunangan dengannya. Tapi bagaimana mungkin, Papiku terkait hutang dengan perusahaan Papanya Kevin" kataku.
"Kakakku bukan tipe orang seperti itu. Kevin memanfaatkan hutang Papimu untuk menjeratmu" kata Adrian lagi.
"Entahlah, saya bingung dalam mengambil keputusan" kataku.
__ADS_1
"Saya heran sama kamu, katanya pengacara handal dan bisa memecahkan berbagai masalah yang berat. Tapi masalah mu saja, kamu sudah putus asa" kata Adrian.