Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas
PART 14


__ADS_3

author kembali lagi guysssss


Aku termangu, menyaksikan pohon kantil yang gersang tanpa bunga, daunnya berguguran, baunya tak lagi semerbak mengharumkan, Mungkin itulah perumpamaan diriku. Namun aku juga tak tega jika memaksa Xan Xan untuk menjadi maduku dan menjadikan beliau pabrik anak untuk kebahagiaanku dan Mas Hasan bukankah itu egois?


"Dikk"


"Dalem Mas" dia memelukku dari belakang, erat sekali kasih sayangnya mengalir dinadiku, bahkan ketika aku sudah tak sempurna Ia tak menceraikanku ataupun menduakanku.


"Mbangun kromo ingkang satuhu, boten cekap bilih ngagem sepisan roso katresnan. Hananging butuh pirang pirang katresnan lumeber ning pasangan uripmu siji kui.”


(Pernikahan yang sukses tidak membutuhkan sekali jatuh cinta, tetapi berkali-kali jatuh cinta pada orang yang sama.) Aku masih ingat betul pepiling Mbah putri padaku.


"Ini kitab apa Mas?"


"Durratun Nasihin dik, lebih lengkapnya Durratun Nâshihîn fil Wa’zhi wal Irsyâd karya Syaikh ‘Utsmân bin Hasan bin Ahmad kamu pernah ngaji kan?"


"Ya pernah tapi kan sudah lupa, Kitabku juga ndak penuh seperti punya Mas, tulisannya semrawut banyak yang kosong, nah nanti kalo pas dicek sama Ustazd aku tulis saja lagu-lagu tapi pakai tulisan pegon hahahahaha"


"Tapi kok kamu sempet bikin terjemahan Qurotul uyun dan Uqudullijain dik?"


"Ya kalau itu beda lagi Mas yang dibahas kan anu" Aku menundukkan kepala sambil tersipu, dua minggu lebih memang kita tak memadu cinta.


"Ya kamu belajar lagi tah dih, buka-buka kitab biar ngga bosen"


"Ya kan Mai lebih suka belajar sama Mas Hasan bisa sambil gini" Aku beranjak ke pangkuan Mas Hasan, sebenarnya aku canggung rasanya seperti pengantin baru kembali. Kepalaku kusandarkan di bahu Kekarnya.


"Kamu tahu gak dik kisah Abu Dahdah yang masuk surga karena menolong anak yatim?"


Aku tak menjawab hanya menggelengkan kepala.


"Pada zaman Rasulullah SAW dikisahkan ada anak yatim, yang dihalaman rumahnya terdapat 1 pohon kurma milik tetangga. Karena ada suatu keperluan, maka si anak yatim meminta keikhlasan si pemilik pohon kurma untuk memberikan 1 pohon tersebut kepadanya.


Anak yatim itu berkata, “kau punya banyak pohon kurma, kehilangan 1 pohon tidak akan merugikanmu sama sekali. Jadi saya mohon keikhlasannya”. Tapi si tetangga menolak.


Anak ini mengadu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengenai permasalahannya tersebut. Kemudian rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam berkata kepada tetangga anak tersebut, “berikan kepadanya, engkau akan mendapatkan 1 pohon kurma di surga”. Sayangnya, tetangga anak yatim tersebut tetap tidak mau memberikannya.


Dengan cepat kemudian Abu dahdah radhiallahu ‘anhu berkata kepada tetangga si anak yatim, “Engkau tahu kebun kurma milikku?”


“Apakah ada seseorang di Madinah yang tidak mengetahui kebun tersebut?”,jawab si tetangga anak yatim (hal ini menunjukkan bahwa kebun milik abu dahdah populer di kalangan warga Madinah).


“Aku beli 1 pohon kurmamu dengan kebunku tersebut”, kata abu dahdah dengan mantap.


Satu-satunya harta milik abu dahdah ketika itu, kebun kurma yang berisi 500-600 pohon, akhirnya dijual dengan 1 pohon kurma milik tetangga anak yatim tersebut.


Kemudian abu dahdah pun pergi menemui rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Wahai rasulullah, aku telah membeli pohon kurma tersebut, aku bayar dengan kebunku. Sekarang aku berikan pohon kurma itu kepadamu”.


“Alangkah banyaknya tandan kurma yang harum baunya milik abu dahdah di syurga kelak”, Jawab rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada abu dahdah.


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan kalimat tersebut tidak hanya 1 atau 2 kali. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam mengucapkan kalimat tersebut berulang-ulang hingga abu dahdah pun pergi untuk menemui keluarganya.


“wahai ummu dahdah, keluarlah engkau dari situ, aku telah menjualnya dengan 1 pohon di syurga”, kata abu dahdah kepada istrinya.


Ummu dahdah (istri abu dahdah) pun menjawab, “Alangkah beruntungnya jual beli (perniagaan) yang telah kau lakukan itu”.


“Betapa banyak pohon kurma yang merunduk karena lebat buahnya, akar-akarnya dari mutiara dan Yaqut, bagi Abu Dahdah di surga.”(Tafsir Ibnu Abi Hatim, 12/286 dan Tafsir Ibnu Katsir, 8/14)

__ADS_1


"Bukan hanya itu dik, tapi Rasulullah juga pernah mengasuh anak yatim" Mas Hasan melanjutkan ceritanya.


Di suatu hari raya, Rasulullah SAW keluar rumah untuk melaksanakan salat Idul Fitri. Sementara anak-anak kecil tengah bermain riang gembira di jalanan, tampak seorang anak kecil duduk menjauh berseberangan dengan mereka. Dengan pakaian sangat sederhana dan tampak murung, ia menangis tersedu.


Melihat fenomena ini Rasulullah segera menghampiri anak tersebut. “Nak, mengapa kau menangis? Kau tidak bermain bersama mereka?” Rasulullah membuka percakapan.


Anak kecil yang tidak mengenali bahwa orang dewasa di hadapannya adalah Rasulullah menjawab, “Paman, ayahku telah wafat. Ia mengikuti Rasulullah dalam menghadapi musuh di sebuah pertempuran. Tetapi ia gugur dalam medan perang tersebut.”


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terus mengikuti cerita anak yang murung tersebut. Sambil meraba ke mana ujung cerita, Nabi mendengarkan dengan seksama rangkaian peristiwa dan nasib malang yang menimpa anak tersebut.


“Ibuku menikah lagi. Ia memakan warisanku, peninggalan ayah. Sedangkan suaminya mengusirku dari rumahku sendiri. Kini aku tak memiliki apa pun. Makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal. Aku bukan siapa-siapa. Tetapi hari ini, aku melihat teman-teman sebayaku merayakan hari raya bersama ayah mereka. Dan perasaanku dikuasai oleh nasib kehampaan tanpa ayah. Untuk itulah aku menangis.”


Mendengar penuturan ini, batin Rasulullah terenyuh. Ternyata ada anak-anak yatim dari sahabat yang gugur membela agama dan Rasulnya di medan perang mengalami nasib malang begini.


Rasulullah segera menguasai diri. Rasul yang duduk berhadapan dengan anak ini segera menggenggam lengannya.


“Nak, dengarkan baik-baik. Apakah kau sudi bila aku menjadi ayah, Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman, Hasan dan Husein sebagai saudara, dan Fatimah sebagai saudarimu?” tanya Rasulullah.


Mendengar tawaran itu, anak ini mengerti seketika bahwa orang dewasa di hadapannya tidak lain adalah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. “Kenapa tak sudi, ya Rasulullah?” jawab anak ini dengan senyum terbuka.


Rasulullah kemudian membawa anak angkatnya pulang ke rumah. Di sana anak ini diberikan pakaian terbaik. Ia dipersilakan makan hingga kenyang. Penampilannya diperhatikan lalu diberikan wangi-wangian. Setelah beres semuanya, ia pun keluar dari rumah Rasulullah dengan senyum dan wajah bahagia. Melihat perubahan drastis pada anak ini, para sahabatnya bertanya.


“Sebelum ini kau menangis. Tetapi kini kau tampak sangat gembira?” “Benar sahabatku. Tadinya aku lapar, tetapi lihatlah, sekarang tidak lagi. Aku sudah kenyang. Dulunya aku memang tidak berpakaian, tetapi kini lihatlah. Sekarang aku mengenakan pakaian bagus. Dulu memang aku ini yatim, tetapi sekarang aku memiliki keluarga yang sangat perhatian. Rasulullah SAW ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudariku. Apakah aku tidak bahagia?.”


Mendengar sahabatnya, mereka tampak menginginkan nasib serupa. “Aduh, cobalah ayah kita juga gugur pada peperangan itu sehingga kita juga diangkat sebagai anak oleh Rasulullah SAW.”


Waktu terus berjalan. Usia semakin bertambah. Kebahagiaan anak ini pun lenyap ketika selang beberapa tahun setelah itu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal dunia.


Meratapi kepergian ayah angkat paling mulia ini, ia keluar rumah seraya menaburkan debu di atas kepalanya. “Celaka, sungguh celaka. Kini aku kembali terasing. Aku bukan siapa-siapa lagi. Aku kini menjadi yatim. Sepi,” katanya terisak.


Kisah ini dikutip dari Durratun Nashihin karya Syekh Usman bin Hasan bin Ahmad Syakir Al-Khubawi, tanpa tahun, Surabaya, Syirkah Ahmad bin Saad bin Nabhan wa Auladuh, halaman 264-265


Aku masih termangu mendengar apa yang Mas Hasan ceritakan. Kenapa aku tidak mengadopsi anak yatim saja? Kalau soal nasab bukankah banyak anak yatim yang nasabnya juga bagus?


"Mas gimana kalau kita merawat anak yatim saja? bukankah itu juga mulia Mas?"



Hadits riwayat Imam Bukhari



عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا


Dari Sahl bin Sa’ad r.a berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim itu dalam surga seperti ini.” Beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya serta merenggangkan keduanya.”


Daud a.s berkata: “Bersikaplah kamu kepada anak yatim sebagaimana seorang bapak yang penyayang.”


Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Saya dan orang yang memelihara anak yatim di surga, seperti ini (sambil merenggangkan jari telunjuk dan jari tengah).”



Hadits riwayat Imam Muslim


__ADS_1


كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى


“Orang yang menanggung (mengasuh) anak yatim miliknya atau milik orang lain, aku dan dia seperti dua jari ini di surga.” Malik (perowi hadits) mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah.” (HR. Muslim)



Hadits riwayat Thabrani



مَنْ ضَمَّ يَتِيْمًا بَيْنَ أَبَوَيْنِ مُسْلِمَيْنِ فِيْ طَعَامِهِ وَ شَرَابِهِ حَتَّى يَسْتَغْنِيَ عَنْهُ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ


Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thobrani, Shahih At Targhib Al Albani bahwa: “Barang siapa yang mengikutsertakan seorang anak yatim di antara dua orang tua Muslim, dalam makan dan minumnya, sehingga mencukupinya maka ia pasti masuk surga.”


Terdapat seorang lelaki datang kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengeluhkan kekerasan hatinya. Nabi pun bertanya padanya: sukakah kamu? Jika hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi? Kasihilah anak yatim dengan mengusap mukanya, serta berilah makan dari makananmu, maka niscaya hatimu menjadi lunak dan kebutuhanmu dapat terpenuhi.”



Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud



ياَ سَائِبُ انْظُرْ أَخْلاَقَكَ الَّتِيْ كُنْتَ تَصْنَعُهَا فِيْ الجْاَهِلِيَّةِ فَاجْعَلْهَا فِيْ اْلإِسْلاَمِ. أَقْرِ الضَّيْفَ و أَكْرِمِ الْيَتِيْمَ وَ أَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ


“Wahai Saib, perhatikanlah akhlak yang biasa kamu lakukan ketika kamu masih dalam kejahiliyahan, maka laksanakanlah pula dalam keislaman. Jamulah tamu, muliakanlah anak yatim dan berbuat baiklah kamu pada tetanggamu.”


تيم كالتالي لرعاية حقوق الأقارب وذلك لأنه لصغره لا ينتفع به وليتمه وخلوه عمن يقوم به ، يحتاج إلى من ينفعه والإنسان قلما يرغب في صحبة مثل هذا ، وإذا كان هذا التكليف شاقاً على النفس لا جرم كانت درجته عظيمة في الدين .


Anak yatim bagaikan orang setelah kerabat dalam kewajiban memenuhi hak-haknya, hal itu disebabkan masih bocahnya anak yatim tidak mampu memberikan kemanfaatan atas kesendiriannya, ketiadaan orang yang menanggungnya membutuhkan orang-orang yang peduli atas nasibnya, dan jarang sekali orang yang peduli atas nasib mereka.Dan ketika menanggung kebutuhan dan menyayangi mereka merupakan hal yang amat berat maka dipastikan oleh agama bagi penanggungnya berhak akan derajat yang agung.


[Tafsiir ar-Raazy II/201]


"Bukankaj sungguh mulia mas orang yang mau menyantuni mengasihi anak yatim layaknya anak kandung sendiri?"


Belum sempat Mas Hasan menjawab, namun Aku sudah dibuat terkejut dengan kedatangan Ning Mirza dia mengenakan gamis berwarna hitam dan juga jilbab coklat muda. Yang lebih membuat aku terkejut adalah sesosok lelaki berbaju koko putih, dengan sarung berwarna hitam dan juga peci hitam, dia bersama ning Mirza, sesosok laki-laki yang pernah aku cintai waktu mondok dulu, tubuhnya yang tinggi matanya yang sipit, hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih bersih tak salah lagi, dialah Kang Taufiq.


Kang Taufiq menatapku dalam-dalam dari kejauhan. Sorot matanya seakan menyimpan rindu, rindu yang bercampur penyesalan, untuk apa dia datang sekarang? bukankah dulu dia tak menghiraukanku? bahkan ketika aku menantinya, menolak 25 pria dengan berbagai alasan untuk dirinya, kenapa dia tak kunjung datang?


dan sekarang ketika aku sudah memiliki Mas Hasan dia datang hanya untuk mengingatkan sejuta kenangan.


"Dia siapa dik?" tanya mas Hasan.


"Ahh emmm bukan, bukan siapa-siapa." Aku nyaris tak bisa menjawab, namun jantungku kian berdegup kencang, pipiku memerah.


"Kamu nggak kenapa-kenapa kan dik? kok tiba-tiba mukamu merah gitu?"


"Enggak Mas, Mai mau ambil minum dulu" Aku beranjak dari pangkuan Mas Hasan, berharap dia tak mendesakku lagi, bergegas mengunci pintu kamar dengan perasaan yang tak menentu.


"Loh dikkk minumnya kan di dapur."


"Dikkk"


"Dikkkkkk"


Ya Tuhan Mas hasan terus menggedor pintu. Aku harus bagaimana? ahh atau pura-pura pingsan saja.

__ADS_1


kepanjangan ga si author up episode yang ini hyungg?


__ADS_2