Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas
PART 16


__ADS_3

Kau yang pernah berjanji setia. Tidak ada hati lain yang mampu jadi muara. Hanya aku satu-satunya, katamu, cinta yang buatmu tetap bernapas. Denganku kau berani mengarungi semesta dan memetik dedaunan senja hingga tak berbekas.


Lalu kau meminta jeda. Kuberi walau rindu begitu menyiksa. Benar saja, pergimu tak kembali. Hanya sebatas angin sore yang melewati nurani.


Kelak bila kau telah merasa cukup, kembalilah. Beberapa pertanyaan telah mekar di kepalaku.


Bahagiakah kamu? Berhasilkah mencari penggantiku? Disaat aku menunggu kau tak kunjung datang, kini aku telah bahagia kau membawa sejuta kenangan.


"Ndukk airnya sudah mendidih loh" suara ibuk membuyarkan lamunan.


"Njih Ibuk"


Aku menyiapkan sarapan untuk Mas Hasan, pagi ini berangkat lebih awal, karena akan ada seminar juga ditempat Ia mengajar.


"Dik, nanti kalau Mas pulang nya agak siang gapapa kan?"


"Njih Mas, nanti Mai juga mau ke rumah budhe, sudah sebulan nggak kesana kok ya rindu"


"Nggak usah dik, kamu diruma saja"


"Njih Mas" sebenarnya aku ingin merengek, tapi yasudahlah sendiko dawuh saja. Mas hasan memelukku erat, mengecup keningku lalu bergegas pergi.


Tiba-tiba aku teringat plastik yang kemarin Alin berikan, aku menyimpannya dimana ya? bukankah kemarin masih di almari? tapi kok nggak ada. hanya ada sarung dan tafsirnya lalu bagaimana dengan suratnya. Ya Allahh jangan-jangan Mas Hasan sudah mengambilnya.


"Bukk, ibukkk"


"Ada apa to ndukk ko teriak-teriak"


"Ibuk lihat plastik hitam disini mboten?"


"Yo plastik hitam kan banyak nduk, kemarin ada nduk plastik dimeja tapi sama suamimu yo susah dibuang di sampah" Aku tercengang mendengar jawaban ibuk.


"Disampah mana buk?"


"Ya disampah belakang rumah, emange ono opo to nduk?"


"Mboten nopo-nopo buk"


Aku langsung kebelakang rumah, namun tak ada apa-apa disana.


"Madosi nopo to ning?" tanya penjual sayur.


"Niki wau wonten sik kebuang ting sampah"


"Wahh yo sudah dibawa truck tadi ba'da subuh ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) sama tukangnya"


Aku langsung lemes, jikalau Mas Hasan yang membuangnya, pasti dia sudah membaca surat itu, dia juga pasti tahu apa isinya dan dari siapa, tapi kenapa Mas Hasan tak marah sedikitpun? bahkan tadi pagi dia masih sempat memelukku.


Drrrrrtt drrrt..


suara ponselku berbunyi.

__ADS_1


"Dikk nanti Mas ada seminar di jogja, kamu ikut ya? sekalian ziarah sama jalan-jalan sekalian"


Aku tidak membalas, rasanya masih takut, takut jika nanti ditanya perihal surat itu. tapi jika aku tak datang bagaimana nantinya? aku tak mungkin bisa menyembunyikan apapun dari suamiku. Ahh mungkin baiknya aku harus terus terang saja.


Aku mengambil air wudhu bersiap untuk duha, berdo'a agar semuanya baik-baik saja. Jikapun rasaku kepada Kang Taufiq masih ada, tolong hapuskan Ya Allah, Engkaulah zdat yang membolak balikkan hati.


Aku mencoba menghubungi Alin, berharap dia bisa mengantarku ke tempat Mas Hasan ngajar.


"Liiin"


tidak ada jawaban .


"Apa Mai? aku lagi di Salatiga, kebetulan pakde ku lagi ada acara. gimana?"


"Ohh nggak apa-apa lin kangen aja hehe"


Karena Alin nggak bisa mungkin aku naik bis saja, jarak Temanggung-Magelang juga tak seberapa. Aku nggak mau merepotkan Mas Hasan buat bolak-balik menjemputku.


***


Belum genap jam 10 tapi terik matahari sudah membakar kulitku. Pengamen dijalanan sudah berlomba-lomba meminta belas kasih. 5 menit kemudian bus sudah datang, aku bergegas naik.


"Mau kemana Neng" tanya pak sopir bus.


"Ohh ini ke Magelang pak"


Penumpang begitu ramai sampai tak ada celah untukku duduk, kulihat anak kecil dengan peci hitam, dan sarung juga tas besar menangis sesenggukan di pojokan bus, aku mendekatinya.


"Dikk boleh Mbak duduk disini"


hanya mengangguk pelan, sambil sesenggukkan.


"Namamu siapa dik"


tidak ada jawaban.


"Kamu sudah makan?"


tidak ada jawaban.


Aku mengambil bekal yang seharusnya aku berikan kepada Mas Hasan. dia menerimanya, matanya masih sembab, bulu matanya basah, kemudian dia mengahabiskan bekal yang kuberikan, terlihat sangat menikmatinya.


"Kamu mondok ya dikk? dimana?"


dia malah menangis semakin keras, orang-orang disekitar melihatku seakan-akan akulah yang telah membuatnya menangis.


"Dulu mbak ini juga mondok dik, di Tahfizdul Qur'an waktu itu masih 8 tahun, masih kelas 2 SD, Mbak belum ngerti mondok itu apa dan bagaimana. Yahhh waktu itu mbak merasa dibuang, bapak dan ibuk mbak ke Kalimantan mengadu nasib disana, setelah 3 tahun mereka pulang dan Bapak mbak yang berangkat lagi namun sampai sekarang ndak ada kabar, sudah berkali-kali dicari di tempat kerja yang dulu, tapi ndak ketemu, yang mbak bisa yahh hanya mendoakan"


"Berarti mbak mondoknya sudah lama ya? dipenjara kok krasan?" Aku tertawa mendengar pertanyaan bocah itu, tapi aku bersyukur dia terlihat menikmati ceritaku.


"Mbak ini sudah nikah sekarang, memangnya kamu tidak krasan dik?"

__ADS_1


"Enggak mbak aku sudah hampir satu tahun di pondok, disana makanannya nggak enak, kalau mandi harus antri dulu, kalau tidurpun hanya sedikit waktunya, itupun harus dilantai tak ada kasur hanya beralaskan karpet."


"Ohh jadi itu alasan kamu tidak krasan dik"


"Bukan mbak, tapi aku kangen sama Molly"


"Molly itu siapa dik? adik kamu?"


"Bukan mbak dia kambingku hehehe"


Aku nyaris tak bisa menahan tawa.


"Kamu ini ada-ada saja, kalau dipondok sudah mulai ngaji apa dik?"


dia tidak menjawab malah mulai berkaca-kaca.


"Aku benci mengaji mbak, aku ndak bisa ngaji. sudah satu tahun aku mondok tapi masih ngaji Iqro' terus, aku mau pulang saja, aku mau cari rumput saja untuk molly"


"Emmm kamu tahu gak dik kisah tentang Ibnu Hajar? " dia hanya menggeleng .


"Kamu mau nggak mbak ceritain?" dia hanya mengangguk.


Pada zaman dahulu ada seorang ulama namanya Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau semula adalah seorang santri yang bodoh. Beliau belajar kepada kyainya sampai beberapa tahun, namun ia belum juga bisa membaca dan menulis, hingga akhirnya diapun berputus asa. Ia pun mohon diri kepada kyainya supaya diperbolehkan pulang. Dengan berat hati sang kyai memperbolehkan Ibnu Hajar pulang, tapi beliau berpesan supaya jangan berhenti belajar sesampainya di rumah.


Akhirnya Ibnu Hajar pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, hujan turun dengan lebat, ia terpaksa berteduh dalam sebuah gua. Oleh karena hujan tak kunjung reda, ia pun memutuskan masuk lebih dalam ke gua sehingga dapat duduk-duduk di dalamnya. Pada saat itulah terdengar suara gemericik. Oleh karena penasaran, ia mendatangi sumber suara tersebut.


Ternyata sumber suara itu berasal dari gemericik air yang menetes pada sebongkah batu yang sangat besar. Batu besar itu berlubang karena telah bertahun-tahun terkena tetesan air. Melihat batu yang berlubang tersebut, akhirnya Ibnu Hajar merenung. Ia berpikir, batu yang besar dan keras ini lama-lama berlubang hanya karena tetesan air ini. Kenapa aku kalah dengan batu? Padahal akal dan pikiranku tidak sekeras batu, berarti aku kurang lama belajar.


Setelah berpikiran demikian akhirnya Ibnu Hajar tidak jadi pulang, ia memutuskan untuk kembali ke pondok. Semangatnya kembali tumbuh untuk belajar kepada kyainya. Akhirnya, Ibnu Hajar kembali ke pondok, ia ingin belajar lebih lama dan lebih tekun. Di pondok ia belajar dengan tekun dan rajin serta tidak mengenal putus asa. Usaha tersebut tidak sia-sia. Ia menjadi orang alim, bahkan dapat mengarang beberapa kitab. Dari asal mula cerita batu di dalam gua, inilah kemudian beliau diberi nama Ibnu Hajar (Anak Batu).


Sumber : Buku Al-Qur’an Hadis Untuk Madrasah Ibtidaiyah Kelas 6.


Dia malah menangis sesenggukan selepas mendengar ceritaku.


"Mbak aku mau kepondok lagi, aku nggak jadi pulang"


"Pondokmu dimana dik? Mau mbak antar?"


"Di secang mbak Al hidayah secang"


Akhirnya aku dan Adit turun dari bis, kemudian mencari bis lagi yang arah ke secang. Pondok nya tak begitu jauh dari jalan raya, sangat mudah untuk menemukannya.


Terlihat bangunan megah beridiri kokoh, cat nya berwarna hijau khas NU, terdengar suara nazdoman yang dilantunkan santri, didepan pagar jelas tertera PONDOK PESANTREN PUTA PUTRI AL-HIDAYAH.


"Yasudah biar mbak Mai yang antar ya dik?"


dia hanya mengangguk.


"Emm kalau nama pengasuhnya siapa dik?"


"Abah K.H Hasan Bisri kalau putranya namanya gus Taufiq"

__ADS_1


Seperti disambar kilat, mungkinkah yang dimaksud adalah kang taufiq? Ya Allah kenapa dunia sesempit ini.


jangan lupa follow IG author @liiiyyyya7 yaaa hyunggg😊😊


__ADS_2