Cintaku Untuk Alma

Cintaku Untuk Alma
gara-gara foto


__ADS_3

Aku dan tio pun terkejut


melihat apa yang terjadi, aku benar-benar gak habis fikir sama mentari,


yang dia lakukan pada alma sungguh keterlaluan, aku melihat nya tanpa


baju.


"astagfirullah" ucap kita


"kamu kenapa kok bisa kayak ini" Tanya tio


Aku membuka jeket ku untuk ku berikan ke alma, dia menangis begitu keras, aku merasa tak tega melihat nya,


"sorry rumah kamu dimana biar kita antar ke rumah mu"


"JANGAN!!"


"kenapa jangan?"


"aku gak mau pulang"


"bro gimana ni"


"atau gw beliin dia baju dulu aja ya, mungkin dia malu pulang pakai jeket"


"mungkin"


"yaudah lu tunggu di sini, jagain dia"


"alma kita pulang ya tunggu di sini sama tio okeh"


"ri....o"


Aku pergi membeli baju,


"alma lu tau, dia gak


pernah kayak itu sebelum nya sama orang, karna dia orang nya sangat


dingin kayak freezer 6 pintu, dia gak pernah yang nama nya peduli sama


orang, mau orang itu terluka bahkan meninggal tapi, sekarang aku heran


semenjak dia keluar dari rumah sakit dia pelan-pelan berubah"


"iya sih aku juga heran"


"btw lu kenapa kok bisa kayak ini"


"tio tapi lu janji ya sama gw, gak ngasih tau rio, kalau rio tau bisa habis si mentari di buat nya"


"oh... cewek itu, kebangetan tu orang udah di tolak masih aja"


"iya.."


Tak lama aku sampai,


"ni ganti baju kamu di toilet sana"


Setelah dia ganti baju, kita mengatar nya pulang.


Sesampai nya


kita di rumah nya alma, kita di suruh masuk oleh nya, aku dan tio


terkejut melihat rumah nya, di rumah nya banyak pisau yang menghiasi


rumah nya, dari pisau yang antic sampai pisau yang tak enak di lihat,


aku jadi merinding, "ni rumah atau tempat penyimpanan pisau" kata hati


ku, setelah kita di suruh duduk dan minum, mama nya tio telfon


menanyakan kenapa tio belum pulang, seperti biasa nya setelah tio


menerima telfon, sekarang gIliran ku yang di telfon sama mamaku dan juga


mama ku seperti biasa nya kembali ke biasaan lama nya Marah-marah gak


jelas.


Aku pulang


kerumah diantar oleh tio, aku masuk kedalam, mama memarahi ku karna foto


yang kemaren itu udah tersebar ke orang tua ku, karna aku orang nya


udah lah kan udah terjadi juga, aku sih bodo amat kan dia yang bikin


ulah, so aku kena marah,


"rio ini siapa"


"assalamualaikum"


"waalaikumsalam"


"mama Tanya itu siapa"


"maksud nya?"


"ini lo mama dikirimin foto ini!! Kamu tu ya bukan nya berlajar malah pacaran"


"pacaran? Maksud mama apaan?"


Aku melihat foto itu "bangsat lu" ucap ku dalam hati


"dia bukan pacar ku ma!!"


"terus wanita itu siapa mama Tanya"


"dia mentari, dia teman


aku, dan, dia suka sama rio ma sedang kan rio gak pernah suka sama dia,


dia yang ngejar-ngejar rio I have no feelings for her"


"kalau gak ada perasaan kenapa kamu mau di cium sama dia"


"mana aku tau Tanya sendiri sama orang nya"


"jaket kamu kok kotor"


"aku jatuh tadi, udah ah aku mau mandi"


Aku berjalan ke kamar ku


"eh mama belum selesai nanya, rio!!"


Aku berbalik "apa lagi!!"


"mama nanya kenapa jaket kamu kotor"


"kan udah aku jawab, aku jatuh tadi udah ya mam, anak mu mandi dulu udah bau keringat"


Aku naik ke atas,


sesampai nya aku di kamar, aku berfikir tumben mama marah nya gak kayak


biasa nya, kenapa ya? Kok aku yang bingung mungkin mama ku udah berubah.


Malam nya mama


ku naik dan masuk kekamar ku, untuk mengajak ku makan malam bersama


papa, Saat makan malam papa ku bertanya layak nya orang tua bertanya.


"gimana hari mu"


"baik"


"ada pr"


"udah selesai"

__ADS_1


"papa mau tau serius sama kamu"


"ya..."


"kamu pacaran?"


"pacaran maksud nya?"


"tadi siang papa di kirimin foto kamu mencium seorang wanita!"


"bukan aku yang mencium tapi, dia yang cium aku, ya kali aku cium anak orang"


"masa sih"


"iya, lagian aku juga gak suka sama dia tapi, dia suka padaku"


"iya juga sih, papa


fikir-fikir lagi, mana mungkin orang se cuek terus gak peduli sama orang


dan dingin kayak kamu, bisa suka sama orang"


"makanya"


Setelah makan


malam, aku menuju ke kamar ku, aku merasa ada yang aneh sama papa dan


mama ku, kenapa hari ini mereka aneh banget, tapi aku suka sih, dari


pada marah-marah gak jelas, aku melihat posel ku ternyata ada beberapa


pesan setelah aku lihat, aku melihat sebuah foto, aku benar-benar ingin


marah saat melihat foto itu, ini udah gak benar. Tio menelfon ku,


"assalamualaikum bro!!"


"waalaikumsalam ya bro ada apa lu nelfon?"


"udah buka grup"


"udah ini baru aja"


"gimana bro"


"pokok kita gak bisa


tinggal diam, foto yang gw di cium sama dia pun orang tua gw udah tau,


sampai-sampai di ejek gw sama orang tua gw, sekarang video itu aku gk


"terus apa rencana lu"


"lu punya nomor nya indi gak?"


"punya!"


"telfon dia sekarang sambung 3"


Aku merencana kan sesuatu dengan mereka


"lihat aja besok apa yang gw lakuin"


Tio menelfon ku,


"assalamualaikum bro!!"


"waalaikumsalam ya bro ada apa lu nelfon?"


"udah buka grup"


"udah ini baru aja"


"gimana bro"


"pokok kita gak bisa


tinggal diam, foto yang gw di cium sama dia pun orang tua gw udah tau,


sampai-sampai di ejek gw sama orang tua gw, sekarang video itu aku gk


"terus apa rencana lu"


"lu punya nomor nya indi gak?"


"punya!"


"telfon dia sekarang sambung 3"


Aku merencana kan sesuatu dengan mereka


"lihat aja besok apa yang gw lakuin"


Keesokan hari


nya, sesampai nya aku di sekolah, aku melihat foto yang membuat ku


emosi, tapi aku harus menahan nya, aku tak boleh emosi, mentari yang


tersandar kedinding terlihat bahagia, aku melewati nya dan mengabaikan


nya, dia mengejar ku "rio,rio,rio, RIO, STOP"


Aku berhenti dan berbalik, "apa lagi?"


"morning beb"


"basi"


"aku mau Tanya, foto yang kemeren udah di lihat sama orang tua mu?"


"orang tua ku sibuk, gak ada waktu"


"ah masa"


Aku mendekati telinga nya "jahat lu bisa-bisa nya lu, dasar manusia kejam"


"maksud kamu apa"


"lu kira gw gk tau, kelakuan busuk lu itu"


"rio!!!!" panggil tio dan anggi


"oik sini"


"urusan kita belum selesai"


Aku


meninggal kan nya dan masuk kelas, aku melihat alma yang sangat down


banget, aku, tio, indi dan anggi pun merasa kesal sama mentari, tak lama


guru memanggil alma, karna masalah itu, kita merasa ini tak adil, aku


mengikuti buk resti guru bp, alma sangat tertekan, ia membela diri nya


namun tak berhasil, akhirnya alma di skors, karna aku tak suka dengan


hal ini dan menurut ku ini tak adil, setelah alma pulang, aku dan tio


menghadap ke ruang bp, aku dan menjelaskan semua nya,


Tok. Tok. Tok


"masuk!!"


"eh anak ibuk, masuk, kenapa nih kalian kesini?"


"tujuan kami kesini adalah menjelaskan yang belum jelas, dan..."


"kami datang kesini karna ada yang gak benar bu"


"maksud nya rio apa ya nak ibuk gak paham"

__ADS_1


"maksud ku alma itu gak salah buk dia di paksa sama seseorang"


"hah kamu tau dari mana?"


"ya... saya melihat nya sendiri"


"siapakah orang nya?"


"orang nya......"


"siapa?"


"tapi ibuk janji dulu pada saya bahwa alma tak jadi di skost"


"tenang saja nanti ibu telfon alma untuk datang besok kesekolah"


Aku memberi tau ibu resti, dan beliau terjekut dan tak percaya,


"kamu jangan bohong sama ibu"


"jika ibu tak percaya pada saya, ibu bisa Tanya sama tio!!"


"yang di bilang oleh rio tadi itu semua benar bu, kita yang mengantarkan pulang kemaren"


Setelah aku


keruangan bp, aku menuju kekelas, tak tau kenapa kepala ku sangat sakit


secara tiba-tiba, itu rasa nya sangat pusing, saat aku di tunjuk untuk


maju kedepan mengerja kan soal ipa sanggup tak sanggup aku maju, aku


berjalan sempoyangan, buk aca bertanya pada ku "rio kamu baik-baik saja


kan?"


"ah rio gak apa bu"


"mana spidol nya?"


"itu!!"


BRUUK....


aku tak sadar kan diri,


semua orang di kelas panic mereka mengangkat ku dan membawa ku ke uks,


1jam pun berlalu dan aku gak kunjung sadar, hal hasil, aku di bawa ke


rumah sakit, dokter pun memeriksa keadaan ku, kata dokter "rio hanya


kelelahan saja, dia hanya butuh istirahat, dan saya lihat dia sangat


strees maka nya dia lelah" setelah dokter memberi tau dan pergi, tio


langsung melihat ku yang terbaring di kasur rumah sakit, dia tak tega


melihat tidur seperti itu, tak lama datang lah mentari "gimana keadaan


rio?"


"dia masih belum bangun"


"ahhh aku jadi sangat sedih"


"ini semua gara-gara lu, paham!!"


"lah kok gue, gue gak ngapa-ngapain"


"eh kemaren lu ngapai pake kirim-kirim foto yang memalukan itu, terus video itu"


"video! Itu bukan gw yang kirim"


Aku terbangun gara-gara


suara mereka, "kepala gw masih nyut-nyutan kalian berisik nya minta gw


tendang satu per satu" ucap ku dalam hati


"bisa diam gak sih kalian...... kenapa berisik banget sih"


"rio kamu gak kenapa-kenapa kan aku khawatir lo" sambil memeluk ku


"jangan peluk-peluk gw, gak usah khawatirin gw"


"kenapa?"


"lu tau, gw tu kayak ini gara-gara lu juga"


"tu kan"


"lah kenapa ngomong nya kayak itu sih"


"eh jangan make muka yang sok sedih deh basi banget"


"aku sangat khawatir sama kamu rio"


"lu kira gw bego, Iya?"


"maksud kamu apa sih?"


"kita lihat aja nanti"


Tak lama mama


dan papa ku datang kerumah sakit, mereka terheran melihat mentari, ntah


kenapa, tio dan mentari pun pergi, mama ku bertanya pada ku "kamu kenapa


bisa pingsan disekolah?"


"tadi tiba-tiba pusing di sekolah ma"


"lah bukan nya kamu makan sebelum berangakat kesekolah tadi"


"iya udah kok mah, tadi tiba-tiba aja pusing bangat"


"mama sama papa gak kerja?"


"iya tadi, papa di telfon sama walas mu, jadi mama sama papa kesini"


"hmm"


"aku capek mau tidur"


Tio pergi


menemui anggi dan indi untuk menjengung alma yang di skors sedang kan


mentari pulang ke rumah nya dengan perasaan kesal, tio memberi tau bahwa


aku di rumah sakit, tak lama buk resti menelfon untuk datang kesekolah


besok.


"ya udah ntar malam kita besuk dia, gimana?" seru tio


"ntar malam ya.. hm... gimana ya, ntar deh aku Tanya sama papa ku" ujar alma


"hmmm kalau malam oke" jawab anggi


"eh ntar kalau mama nya rio ada di sana gimana?"


"kenapa sama mama nya" ujar indi


"karna mamanya kurang suka kalau ada teman nya datang"


"tio kita coba aja dulu.."


"benar juga"


 


 

__ADS_1


__ADS_2