
di tengah keramaian pengunjung pasar malam yang berlalu lalang. Nindita dan Mila sudah mengantri di depan pedagang telur gulung. menurut Mila itung-itung bernostalgia waktu sekolah SD.
"nin.... waktu SD kamu pernah jajan beginian Ndak??" tanya Mila.
"ya pernah mil... pertanyaan mu ono-ono ae...
aku kan dari bayi sampe sekarang tinggal di desa... di desa ini tepatnya... telor gulung tentu bukan jajanan asing buat aku" ucap nindi.
"ya aku kira kamu Ndak pernah makan ndog gulung nin... secara kamu anak e juragan, sugih Harta tujuh turunan, sepuluh tanjakan. ku kira nda boleh makan makanan pinggir jalan gitu loh..." ucap Mila
"hus... lambe mu mil... bapak ku ndak sekaya iku, sampe 7 turunan 10 tanjakan... kaya jalan mau ke gunung ae.. kalo soal makanan bapak ibu ku bebasin aja.. asal tau bates gitu aja" ucap Nindita dengan suara pelan seperti berbisik. karena takut pembicaraan nya dengan Mila terdengar orang, malu pikirnya.
"selalu merendah... sekali-kali meroket kali nin" ucap nindi sambil menaik turunkan sebelah halisnya.
"aku nda mau ke bulan mil.. jadi ndak perlu roket".. ucap nindita santai.
"hahaha anak Bu Yuningsih ini memang terbaik" ucap Mila sambil tertawa.
"boboboonnn..." terdengar sahutan dari arah belakang. ternyata ada arum yang tiba-tiba saja ada di belakang mereka.
__ADS_1
"wahhhh.... ada bidadari surga e Panji juga, di sini"... ujar Mila agak kaget
"ngomong opo sih kamu mil" ucap arum sinis
"weladala..... kenapa toh sinis gitu mukanya" tanya mila.
"sebell poll aku ke kamu milaa" ucap Arum sambil mencak-mencak.
"suutttttt.... di pending dulu musyawarah nya.... lanjutin di rumah aja ya.... telor gulung sudah di tangan, sekarang kita mau beli apalagi...??" ucap nindi, yang berdiri di tengah Arum dan mil, sambil mengangkat satu pelastik Yang hampir penuh dengan telor gulung yang di tentengnya.
"wah udah beres aja pesenan kita nin" ucap Mila senang.
"terlalu asyik musyawarah kamu sama Arum ya ... sampe ndaa sadar pesenan kita udah jadi" seloroh Nindita. sedangkan Mila dan Arum tertawa kaku.
sedangkan di sebuah rumah yang terbilang besar. sepasang suami isteri sedang berbincang di teras belakang rumah. sambil memandangi taman indah dengan sinar lampu temaram.
"mas kamu tahu betul, nda mudah buat aku terima Tini di rumah tangga kita... dengan berpikir berulang-ulang. menyakinkan hati aku kalo memang ini jalan dari Gusti yang harus aku jalani, menyakinkan hati aku kalo kamu bisa berlaku adil ke aku, Tini dan anak-anak.. aku selalu yakini diriku sendiri, kalo aku bisa, dan aku mampu untuk di posisi sekarang ini".. ucap Bu Yuningsih tenang.
"tapi, saat aku liat air mata Nindita.. denger tangisannya yang pilu, hati ku pedih sekali mas,... Nindita pratiwi, anak yang aku kandung, aku lahirkan... beberapa belas tahun yang lalu. yang terlihat acuh sama bapaknya bagi sebagian orang. tapi yang aku liat di mata nindi itu banyak rasa kecewa" ucap Bu Yuningsih sambil mengusap air matanya yang tak dapat ia bendung
__ADS_1
"menurut ku sikap Nindita sudah berlebihan yuni. aku tau, dia mungkin merasa aku Ndak adil sama dia. aku lebih banyak perhatian ke bara. tapi menurutku usia bara lebih butuh perhatian dari aku... Nindita sudah besar, harusnya dia faham sama sikap ku, bukan malah merasa aku lebih sayang ke bara" ucap pak Sutomo
"Nindita ndak minta di lahirkan dalam keluarga kita mas... mungkin kalo bisa memilih, dia ndak mau ada di antara kita". jeda Bu yuningsih, sambil menghirup udara dalam ke paru-paru nya..
"Nindita memang terlihat lebih besar dari bara, tapi nindi tetaplah seorang anak mas. mendapatkan kebahagiaan itu hak nya dia... aku faham betul perasaan dia, nindi kecil yang sangat manja sama bapaknya sampai kadang yang cuma mau main berdua aja sama bapaknya... tiba-tiba saja harus mau berbagi sosok bapak dengan anak kecil yang harus dia panggil adik. yang seringkali kamu bilang, Nindita sudah besar kasihan adik bara, perlu bapak untuk ini dan itu... " sambung Bu yuningsih dengan suara bergetar menahan tangis.
"aku rasa, yang mas bilang sikap Nindita sudah berlebihan.. itu luapan rasa sabar seorang anak, yang dia simpan dari kecil. sampai sekarang ini nindi besar, aku rasa dia Ndak bisa, buat selalu menjadi pemaklum sesuai dengan apa yang kamu mau,. nindi juga seorang anak yang masih sangat butuh sosok bapak, dan kasih sayangnya... yang Ndak bisa di paksa-paksa untuk menjadi sosok yang sesuai dengan keinginan mu mas..." ucap Bu yuningsih. yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Yuni... kalo aku lebih banyak waktu sama nindi gimana sama bara ??... bara juga anak aku usianya masih anak-anak juga.. apa iya aku harus acuh sama bara" ucap pak Tomo.
"maksudku bukan nyuruh bapak acuh sama bara. cuma bapak harus lebih tegas sama Tini, bapak juga harus bisa menempatkan diri. kalo waktunya bapak di rumah ini.. tolong fokus sama yang ada di rumah ini. toh aku sama nindi juga Ndak pernah ganggu kamu kalo lagi sama Tini.. " ucap Bu Yuning
"bara msih kecil Yun.. di belum faham.. kalo aku harus fokus sama di sini waktu aku tinggalin dia.. jadi kamu juga harus maklumin kalo kadang bara minta aku kesana, atau dia yang mampir kesini." ucap pak Tomo
"waktu Nindita 8 tahun kamu harusin dia faham keadaan... sekarang bara sudah 10 tahun mas.... apa nindita terus yang harus punya sifat maklum, yang harus mengerti keadaan... hati Nindita sudah luka sejak kecil mas".... ucap Bu Yuningsih di iringi tangis pedih.
"yuni... tolong jangan nangis begitu... ma'af kan aku Yun.... aku akan berusaha untuk jadi lebih baik lagi.... " ucap pak Tomo dengan perasaan bersalah.
"aku merasa gagal mas... aku merasa gagal menjadi ibu.... aku ndak bisa memberikan hak Nindi buat bahagia " tangis Bu yuni semakin pilu.
__ADS_1
"aku yang bertanggungjawab buat pilihan aku 8 tahun yang lalu. saat aku memilih bertahan sama kamu dan menerima Tini... harusnya juga aku memikirkan baik buruknya segala kemungkinan yang akan aku hadapi... sampe akhirnya sekarang anaku nindita yang tumbuh penuh luka.... aku ibu yang gagal mas... gagal sekali" ucap Bu Yuningsih dengan suara lemah, dalam pelukan pak sutomo. sampai akhirnya Bu Yuningsih tak sadarkan diri.
"Yun.... tolong bangun... yuni... !! Yuningsih !!" teriakan pak tomo, sambil menepuk pelan pipi sang isteri.