
malam hari di ruang kamar bernuansa putih dan coklat, sepasang suami istri duduk berhadapan di sofa yang nyaman, sambil melihat pemandangan yang terlihat indah di balik jendela.
"yuni,... kamu bojoku yang paling tau aku, ngerti tenan neng aku, seng tak tresnani tenan neng ati ku.. nyuwun pengampunten aku yun".... (Yuni.. kamu istri ku yang paling tahu aku, yang sangat mengerti aku, yang paling ku cintai di hatiku.... tolong ma'afkan aku Yun..) ungkapan pak Sutomo seraya menggenggam kedua tangan Bu Yuni. dengan suara serak beriringan tangis.
Bu Yuningsih tak bisa berkata-kata, lidahnya terasa kelu. air mata mengalir tanpa mau berhenti..
ia terlalu kecewa, laki-laki yang sangat ia percaya mampu memberinya bahagia, dia merelakan dirinya di usia muda, pada saat memasuki usia 20 tahun untuk menemani, dan mengabdikan diri menjadi seorang isteri dari seorang pemuda bernama sutomo, dan tinggal jauh dari orang tuanya, yang banyak memberi kasih sayang, dengan kehidupan berkecukupan,.
Dan dengan kebesaran hatinya, 2 manusia hebat di sebut orang tua itu, mengikhlaskan anak gadis satu-satunya untuk di boyong seorang pemuda, yang berjanji akan selalu membahagiakan putri mereka.
Yuningsih masih terdiam. ini terlalu menyakitkan, dadanya terasa sesak, seakan ada beban berat yg menghimpitnya. hingga akhirnya perlahan-lahan berbicara.
"kenapa kamu menyakiti aku sedalam ini mas, rapat sekali kamu menyimpannya, atau aku yang terlalu bod*h, sampai tak sedikitpun aku melihat bayangan lain yang kamu sembunyikan"... ungkapan Yuningsih terdengar serak, menahan diri agar tak menangis lagi.
__ADS_1
"ma'afkan aku yun... ma'af kan aku"... hanya kata ma'af yang terus menerus Sutomo ucapkan.
"aku minta penjelasan mu mas!".. tegas Yuningsih. ia tak lagi menangis, sudah cukup baginya mengeluarkan air mata. ia harus kuat dan tegar.
akhirnya pak Sutomo bercerita.
"2 tahun yang lalu yun, sepulang aku dari ternak yang di desa wangun redjo, ada gadis berhentiin mobil ku sambil nangis, dia bilang bapaknya sakit keras, waktu itu sudah sekarat. dia minta bantuan untuk anter bapaknya ke RS, aku Ndak tega Yun. akhire aku ke rumahnya, dan aku bawa ke rumah sakit sama-sama sama ibunya juga.di rumah sakit langsung di tangani, tapi sudah sangat kritis, kata suster bapaknya pengen ketemu aku, istri sama anaknya itu. kamu tau Yun, bapak itu cerita. dari dulu hidupnya menderita, dia merasa tidak bisa membuat istri dan anaknya bahagia, dia merasa gagal menjadi seorang suami dan seorang ayah. sampe akhirnya dia minta aku buat bahagiain istri dan anaknya itu dengan nikahin Tini. katanya setidaknya ada yang bisa menjaga isteri dan anaknya, dan dia bisa kembali menghadap Gusti dengan tenang. akhire malem iku aku nikahi tini, Ndak lama bapaknya meninggal"..
"ma'afin aku yun... ma'af".. jelas pak Tomo penuh sesal.
"ma'af Yun ... ma'af... aku takut kalo aku cerita ke kamu, kamu bakal tinggalin aku"
"kamu takut aku tinggalin, tapi Ndak ada kamu pikirin gimana perasaan aku. selama Iki aku pikir kamu laki-laki yang sangat sempurna buat aku, bapak yang baik buat Wira dan nindi. nyatae kamu bikin aku kecewa sekali mas"....
__ADS_1
"ma'afkan aku yun... dan tolong jangan pernah pergi dari aku.... jangan tinggalin aku... aku Ndak bisa tanpa kamu".. mohon pak Tomo sambil memegang ke dua tangan Bu Yuni.
"aku butuh waktu untuk mengambil keputusan mas, sekarang aku mau istirahat. aku lelah sekali" ungkap Bu Yuni sambil melepas genggaman pak tomo.dan pergi dari kamar itu.
"mau kemana Yun"..
"aku tidur di kamar tamu, aku butuh sendiri saat ini"
Bu Yuni meninggalkan pak tomo seorang diri, dengan penyesalan begitu dalam.
pagi harinya, semua anggota keluarga berkumpul di meja makan. Bu Yuningsih tetap menyiapkan sarapan seperti biasanya dengan wajah yang sedikit sembab, dan hatinya yang tak baik-baik saja.namun ia harus kuat, Wira dan dan nindi adalah alasannya.
"nindi.. mau sarapan sama apa cah ayu?".. tanya Bu Yuni
__ADS_1
"nasi goreng ibu".. ucap nindi kecil berusia 8 tahun. Bu Yuni pun menyendoknya untuk nindi.
sedangkan Wira, mengambil sarapannya sendiri. begitu juga pak Sutomo, ia tahu istrinya masih kecewa. biasanya ialah yang selalu di dahulukan.