Cita-cita Bahagia

Cita-cita Bahagia
ter deren-deren


__ADS_3

bel tanda pelajaran akan di mulai sudah berbunyi. seluruh siswa-siswi sma harapan bangsa, bersegera memasuki ruang kelas untuk bersiap melaksanakan kegiatan belajar mengajar. begitu pula di dalam kelas XI satu. namun di tengah kegiatan belajar yang akan di mulai oleh seorang guru.


suasana riuh kembali terdengar, bukan karena mereka kembali menggoda arum ataupun panji. melainkan kedatangan siswa baru yang kini sedang berdiri di depan kelas untuk memperkenalkan diri.


"ayo perkenalkan nama kamu nak" ucap pak guru


"haii semua.. aku mervino deren Handoko. sebelumnya aku sekolah di salah satu sma swasta di Jakarta. salam kenal buat semua"


ucap deren ramah, di tambah senyuman yang menawan


senyum seorang deren mampu membuat para siswi terpesona di buatnya,.


"wahhh... hhh.." jerit kagum terdengar jelas dalam ruang kelas


"aduuh meleleh adek liat senyumnya mas.." celetuk sri. yang membuat Ilyas mencebik kesal.


"ada yang mau bertanya anak-anak ??" tanya pak guru


"aku... aku" ucap beberapa murid.


"tenang tenang... satu-satu nanyanya ya" instruksi pak guru. membuat keriuhan di kelas berubah kondusif.


"buah anggur di dalam nampan, di sajikan saat kondangan.. abang tampan cowok idaman, adek siap jadi gandengan" pantun gombalan Mila tiba-tiba terdengar jelas di tengah situasi yang kelas yang tenang


"gadis manis, bernyanyi riang.sedang si Abang asyik berdendang. aduh sangat amat di sayang, sampingnya adek ceweknya Abang" deren langsung membalas pantun Mila. sambil melirik Nindita yang duduk di samping mila


kata akhir dari pantun deren seketika membuat banyak pasang mata tertuju pada nindita. Nindita yang tak pernah terlihat dekat dengan laki-laki, tiba-tiba saja sudah punya kekasih. atau apakah selama ini Nindita memang sedang menjaga hati seseorang. tentu saja membuat teman-teman Nindita bertanya-tanya.


begitu juga arum yang langsung menoleh, menatap Nindita dengan sorot meminta jawaban, sedangkan Mila masih terbengong tak habis pikir dengan ucapan deren hingga mulutnya sedikit menganga.


plak.. tepukan tangan Nindita mendarat mulus di mulut Mila. tidak kencang, namun berhasil membuat Mila tersadar dari rasa syoknya.

__ADS_1


"lalet bisa masuk loh ke mulut mu mil" ucap Nindita, setelah Mila tersadar. sedangkan Mila hanya mengusap-usap mulut nya.


sementara itu, Deren langsung meminta izin untuk mencari kursi yang kosong. langkah nya terhenti tepat di belakang kursi nindita yang kebetulan tak berpenghuni. Seolah semesta membenarkan ucapan deren yang mengaku-ngaku kekasih nindita. dan dengan sangat di sengaja deren mengedipkan sebelah matanya ke arah Nindita. yang tak terlepas dari pantauan teman-teman sekelasnya yang sontak saja membuat mereka bersorak riuh.


"ayo anak-anak kita mulai pelajaran hari ini" instruksi dari pak guru, yang membuat situasi kelas menjadi lebih tenang. terlebih ketika di berikan tugas yang cukup banyak. seketika raut wajah sebagian murid menjadi lesu.


di tengah jam pelajaran yang sedang berlangsung. Mila melirik ke arah nindita dan sesekali menengok ke belakang melihat deren, hingga membuat Nindita merasa heran. sedangkan deren mengangkat sebelah alisnya mengisyaratkan tanya.


"kenapa kamu mil ?" tanya Nindita dengan suara pelan.


"masih ngga nyangka kamu punya pacar" ucap Mila sambil melirik ke arah deren.


"ihh masa iya kamu percaya anak baru itu. kalo pun aku ada deket sama cowok, ya aku pasti cerita ke kamu sama Arum" Nindita berucap dengan suara yang pelan, namun ekspresi wajahnya terlihat sebal.


"ini harus di bicarakan secara jelas nin" ucap Mila yang dibuat tegas


"gaya bicara mu kaya elit-elit yang lagi rapat paripurna ae," ucap Nindita.


Bukan perkara soal yang harus di kerjakan, untuk nindi soal itu mudah saja untuk ia kerjakan, bukan besar kepala. Namun memang nindita memiliki IQ yang tinggi. tapi Nindita tau guru nya itu memperhatikan ia dan Mila yang mengobrol di tengah penjelasan beliau, "jangan sampai bilang-bilang ke bapak" harap Bu di dalam hati.


Karena memang pak Sutomo aktif bertanya tentang kegiatan belajar Nindita di sekolah kepada guru-guru yang mengajar nindi. Terlebih pak Sutomo merasa semakin hari, semakin bertambah jauh jarak ia dengan anak perempuan nya itu.


Di saat nindita selesai mengerjakan soal itu, pak guru meminta para siswa untuk untuk bertanya jawab.


"Ada yang mau tanya ke nindita buat jawaban soal no 5 ini, jawabannya betul ndak?" tanya pak guru.


"kalo soal betul nda, sudah pasti betul kalo nindi yang jawab pak," ujar Arum penuh yakin


Deren yang sedari tadi memperhatikan nindita, tersenyum simpul melihat nindi yang cekatan menjawab soal. "pintar.." ucapnya dalam hati.


Dan kerena tidak ada yang menanyakan soal pada nindita akhirnya ia kembali duduk ke kursi nya. Namun sebelum ia duduk, nindi tak sengaja bertemu tatap dengan deren.

__ADS_1


"good job girl.." ucap deren dengan senyum terbaiknya


sedangkan nindita tak membalas ucapan deren, ia hanya menatap heran pada deren.


*


*


*


Di ruang rawat inap di sebuah rumah sakit, Bu Yuning tersenyum manis mendengarkan cerita Wira. Anak laki-laki nya itu dengan telaten menyuapi nya makan. Sesekali mengelus tangan sang ibu.


"jadi kamu udah di tanyain bapaknya Carissa, kapan nikahin anaknya?" tanya bu yuni, setelah mendengar cerita Wira.


"iya bu.. Aku bilang 2, 3 tahun lagi insyaAlloh "


"bapak nya bilang apa terus nak?" tanya Bu yuni dengan antusias


"ya udah, gitu aja bu... katanya yang penting aku udah punya planning" jawab Wira


Nathania Carissa Ramlan, wanita cantik yang menjadi kekasih Wira dalam dua tahun ini. Carissa kuliah di fakultas kedokteran yang sedang mengambil gelar spesialis.


Wira memang sudah dekat dengan keluarga carissa. Sopan santun dan sikap Wira yang berani untuk langsung menghadap ke ayah carissa, untuk mengajak pergi ataupun sengaja main ke rumah, membuat Wira mempunyai nilai plus bagi ayah dan ibu carissa.


"wah anak ibu ini... Seperti nya sudah di wanti-wanti calon mertua" ucap Bu Yuni sambil tersenyum


"aku juga heran sama ayah nya carissa, baru 2 tahun kenal aku, bahkan aku ngga ada cerita tentang bapak atau ibu. Tapi ayahnya carissa, langsung tanya kapan aku nikahin carissa aja"


"berarti kamu sudah berhasil ngambil hati ayahnya carissa wir, kapan hari ajak carissa ke rumah ya..."


"iya Bu... Seenggaknya nunggu aku wisuda dulu ya.. Biar aku ngga malu, bawa-bawa cewek aja kuliah juga belum lulus"

__ADS_1


Ucapan Wira membuat Bu Yuningsih tertawa geli


__ADS_2