Cita-cita Bahagia

Cita-cita Bahagia
bab 6


__ADS_3

melihat isteri dan anaknya berpelukan penuh kasih.. membuat pak Tomo merasa terharu, sekaligus rasa bersalahnya yang bertambah berkali-kali lipat. walaupun dia tidak mendengar semua percakapan antara ibu dan anak itu. ia yakin semua karena kesalahannya, hingga membuat Bu Yuni menangis bersama putranya. pak Tomo pun langsung menghampiri mereka.


"Bu, baju mu kenapa di masukin ke koper??"... tanya pak Tomo..


"aku mau tidur di kamar tamu, mungkin agak lama mas. aku harap mas mau mengerti..


pak Tomo menghela nafas panjang dan berkata...


"yasudah Bu... tapi aku berharap secepetnya kamu kembali ke kamar ini"


"Wir, bapak minta ma'af.. bapak tau kamu juga pasti kecewa sama bapak.. jadikan kesalahan bapak ini pelajaran, jangan sampe menyesel seperti bapak sekarang ini"


Wira hanya menganggukkan kepalanya, dan bergegas membantu mengangkat koper ibunya.


hari-hari yang begitu sulit bagi Tomo, walaupun satu atap dengan Bu Yuni, namun terasa ada jaraknya...


sesal yang ia rasa. seandainya di tak menyanggupi permintaan bapak Tini, masih banyak pilihan yang lain sebetulnya, seperti berjanji untuk memberi pekerjaan yang layak untuk Tini. andai dia lebih berani mengakui kesalahannya sejak awal kepada istrinya, mungkin tidak terjadi hal seperti ini..


satu Minggu kemudian, Bu Yuni mengajak pak tomo duduk bersama di taman belakang. dengan pemandangan asri yang memanjakan mata, di temani 2 cangkir teh chamomile.


"mas, sebelumnya makasih sudah memberi aku waktu. satu Minggu aku rasa sudah cukup untuk aku menenangkan hati".. ungkap Bu yuni, lalu menghela nafas sejenak


"aku kecewa ke kamu, tapi aku tau semua Ndak lepas dari kehendak gusti"


"aku sudah putuskan. Aku akan tetap mendampingi kamu, mungkin Gusti Alloh mau aku terus belajar ikhlas, dan mau aku buat selalu ingat pada hakikatnya kamu bukan milik aku"...

__ADS_1


"tapi aku minta, mas harus bisa adil baik sebagai suami dan seorang bapak"


ungkapan Bu yuni dengan sikap yang tenang.


"Yun.... maturnuwun Yun... aku akan berusaha selalu adil"... ucap pak Tomo dengan suar bergetar menahan tangis haru, sambil menggenggam tangan Bu Yuni...


sejak saat itu. Bu yuni mencoba membiasakan diri untuk berbagi banyak hal dengan madu nya, berbagi waktu, kasih sayang, materi dan memberi pengertian kepada anak-anaknya.


tiba-tiba saja ia tersentak karena ada tangan kekar melingkari lehernya dari arah belakang.


"ngelamunin apa toh bu ??".. tanya pak Tono pemilik tangan kekar itu, lalu menc*um pipi Bu Yuningsih.


"bapak bikin aku kaget.... aku liat foto wisuda Wira waktu SMA mas jadi inget masa lalu"... ucap Bu Yuning


"ayo makan mas, takut makanannya dingin".. sambung Bu Yuning sambil menggandeng tangan pak Tomo menuju ke meja makan, dan duduk bersama.bu Yuning tidak ingin pak Tomo tahu, bahwa ia sedang teringat salah satu masa terpilu nya.


"iya mas,.. mudah-mudahan keluarga kita dalam rahmatnya Gusti Alloh"..


"aamiin"... pak Tomo mengamini harapan Bu Yuni..


sedangkan di SMA Harapan Bangsa, tepatnya di ruang kelas XI satu. para siswa-siswi sedang berdiskusi membagikan tugas pelajaran sastra Indonesia, membuat drama.


"oke sekarang siapa yang dapet bagian pemeran??".. tanya Farid sebagai pj pelajaran sastra Indonesia.


"aku Halim, pandu, Ilyas, Panji, Arum, Nindita, Sri, Ratih" jawab siswa-siswi bergantian.

__ADS_1


sampai akhirnya semua tugas sudah terbagi. sedangkan Mila bertugas sebagai penata panggung. lalu waktu istirahat pun tiba. Nindita, Arum dan Mila bersama-sama menuju kantin.sambil berjalan Mila sudah mengeluarkan keluh kesahnya.


"nin, aku kok misah sendiri gini ya.... kalian tugasnya di penokohan... lah aku penata panggung sendiri.... pasti capek banget aku. siapin ini itu, ngatur sana sini.... huhu huhu... sedih aku tuh..." keluh Mila dengan raut sedihnya.


"Mila, anak cantike Bu retno..... kamu Ndak sendiri, penata panggung itu banyak. jadi banyak yang bantu, tapi kalo ada capek-capeknya... anggep aja kamu lagi beramal baik yaa".... ucap nindi dengan sedikit candaan. sambil merangkul pundak mila


"bener kata nindi mil..... anggap kamu beramal baik.... ya urip kudu akeh amal".. sambung Arum di tambah acungan dua jari jempolnya.


"iya... semoga amal baik ku nambahnya banyak... tapi kamu Ndak boleh minta ya".. canda Mila..


"wehhh Ndak boleh gitu mil... harus dermawan jadi manusia"....


"makanya kamu pindah aja ke penata latar rum.... biar ada capek... terus amal baik mu jadi bertambah"... seloroh Mila..


"ehhh Ndak gitu konsepnya ya mil !!".. sahut arum


"arum, Mila.... mau makan apa ??... kita udah sampe kantin loh ini..... ayo berjabat tangan, tanda berhentinya perdebatan, dan tanda berdamai"...ucap nindi...


"wis sampe aja, Ndak terasa ya".. ucap Arum sambil mengajak Mila berjabat tangan.


"berdamai !!!"..... ucap Arum dan Mila berbarengan


sedangkan nindi, tersenyum manis melihat tingkah dua sahabatnya itu. menjadi kebiasaan Meraka saat sedang perdebatan selalu mereka akhiri dengan jabat tangan.. tanda damai.


"perdamaian.. perdamaian.. perdamaian... perdamaian hi ha".. tiba-tiba Arum mengeluarkan suara sumbangnya

__ADS_1


"banyak yang cinta damai.. tapi perang makin ramai.. bingung bingung ku memikirnya" sambung Mila...


"hhaa haaa" tawa serentak tiga sekawan mengisi riuhnya suasana kantin


__ADS_2