Cita-cita Bahagia

Cita-cita Bahagia
pertama


__ADS_3

"hai... gue deren. boleh tanya cantiik, ruang kepala sekolah di sebelah mana?"..


tanya seorang remaja laki-laki yang tiba-tiba saja menghampiri. hingga membuat langkah Nindita terhenti di depan gerbang sekolahnya. Nindita menelisik remaja laki-laki itu, dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya. bukan siswa sini, pikir nindi. seragam sekolah yang di kenakan nya berbeda dengan seragam yang ia kenakan. wajahnya juga asing, terlihat "kota" di bandingkan dengan teman-teman nya yang lain.


"Heyy... gue tau gue tampan mempesona sampe bikin loe terkagum-kagum gitu. tapi jawab juga dong pertanyaan gue"


ucap remaja laki-laki, yang katanya bernama deren itu dengan sangat percaya diri. narsis sekali ucap nindi dalam hati. yang walaupun pada kenyataannya deren memang remaja laki-laki yang memiliki daya tarik tersendiri.


"kamu ke gedung sana aja, di depannya ada papan denah. kamu tinggal ikuti arahannya aja" ucap Nindita sambil menunjuk ke arah gedung berlantai dua di bagian barat area sekolah. dengan suara yang tenang tanpa memperdulikan ke narsisan seorang deren.


"oke cantik.. thanks ya.. see you next time.."ucap deren.


kemudian melambaikan tangan dan mengerikan sebelah matanya, sambil berlalu dari hadapan Nindita. sedangkan nindi hanya merespon dengan anggukan kecil, dan berjalan menuju kelasnya. kesan pertama nindi terhadap deren adalah, remaja narsistik yang kemungkinan juga seorang playboy.


dan pertama kali nya dalam masa remaja Nindita, seorang yang berlawanan jenis dengan nya secara terang-terangan bertingkah seperti itu. dan terkesan seperti tebar pesona. nindita menggeleng pelan, sambil terus berjalan menuju kelas nya.

__ADS_1


selama ini, teman-teman sebaya nindita. tak ada yang sefrontal itu mendekatinya apalagi merayunya. menyandang predikat sebagai anak seorang Sutomo, juragan sapi yang namanya mashur sampai di pelosok daerah. di tambah kecantikan dan kepandaian Nindita. membuat remaja laki-laki yang mengenalnya merasa segan, bahkan terkesan insecure terhadap nindita. Nindita bagai senja di tepi pantai. yang indah penuh pesona, yang bisa di pandang namun tak bisa di gapai.


sedangkan deren yang berjalan ke arah ruang kepala sekolah, menebar kan senyumanya kepada siapa saja yang ia lewati. senyumnya yang menawan di tambah dengan gigi gingsul yang dia punya membuat senyum deren terlihat penuh karisma. bahkan membuat beberapa siswi terkagum-kagum.


di ruang kelas XI satu. Mila dan Arum terlihat asyik mengobrol, entahlah apapun yang menjadi topik pembicaraan nya. Arum dan Mila selalu terlihat asyik mengobrol. apalagi mereka selalu update tentang berita-berita di dunia Maya.


"rum... berita terbaru dari dunia infotainment sekarang ini ngeri-ngeri banget ya.." ucap Mila


"aku sebel kalo bahas begituan mil... kesel banget sama orang-orang yang nda bersyukur gitu... mau cari yang gimana lagi coba.. " ucap Arum penuh kesal


"bahagianya.. pagi-pagi udah ketawa keceng gitu mil" ucap nindita dari arah belakang Mila dan arum


"ihh goib banget kamu nin.. tau-tau udah di sini aja... kaget aku" ucap Mila.


"bukan aku yang goib, kamunya ke asyikan ngobrol sampe ndak nengok-nengok ke belakang. aku masuk kelas ae kalian nda ngeh" ujar Nindita sambil menaruh tasnya ke atas meja.

__ADS_1


"everybody... !! aku liat cowok keren e poll bangett... aduh... aduh senyume iku mengalihkan duniaku" ucap sri heboh saat memasuki kelas. membuat Sri seketika menjadi pusat perhatian.


"tumben kamu sampe seheboh itu loh Sri ??" ucap Arum penuh tanya


"rum.. aduh ini mah beda.. kalo kamu liat pasti terpesona.." jawab Sri penuh yakin.


"jangan sampe kamu suka sama cowok lain rum.. inget panji oke..!! panji aja cukup satu..!" sambar Ilyas dengan suara cukup keras, menatap Arum dengan wajah penuh penekanan. sedangkan Panji yang baru saja datang mendapat sambutan sorakan dari teman-teman sekelasnya.


"ciyee ciye Panji...." sorakan serempak teman-teman satu kelas, terdengar riuh. sementara itu panji melanjutkan langkah menuju kursi nya di samping Ilyas.


"kenapa sih Yas..??" tanya panji penasaran bercampur bingung.


"ada siswa baru kata sri ganteng e poll.. kalo arum liat wes pasti arum bakalan terpesona kata Sri gitu.. aku bilang arum nda boleh suka sama cowo lain.. cukup ae kamu aja" ucap Ilyas dengan rinci. wajah Panji seketika meringis sambil menatap ke arah Arum yang raut wajahnya terlihat sebal.


sedangkan arum menjadi obyek sempurna bagi Mila untuk terus menggodanya.

__ADS_1


"Arum selamat..! akhirnya go publik juga haha" goda Mila. membuat nindi ikut tertawa. sedangkan arum mencebik sebal.


__ADS_2