Cita-cita Bahagia

Cita-cita Bahagia
berawal sebal


__ADS_3

Di kantin sekolah yang terlihat ramai. nindita, Arum dan Mila sedang asyik mengobrol sambil memakan bakso berkuah merah karena saus dan tentu sambal yang di tuang bersendok-sendok hingga membuat ketiganya kepedasan.


"tumben banget ini loh sambelnya pedes poll, biasanya nda berasa buat aku" ucap Mila


"mungkin cabe nya lagi murah hihi" jawab Arum


"ada yg mau tambah minum nda kalian?" tanya nindi yang akan membeli minum lagi, karena memang ia merasa lidahnya terasa terbakar. Belum lagi keringat yang mengembun di dahinya.


ketika nindi hendak berdiri, dua buah tangan menyodorkan sebotol air mineral, dan sebotol lagi minuman dengan warna coklat yang terlihat manis dan menyegarkan di atas meja


"minum beb. aku beli dua, takut kamu mau yang tawar sama yang manis juga" ucap deren tanpa beban


"nindi.. Ya ampun pacar mu perhatian poll" sambar Mila, sedikit histeris.


"aku ini bukan pacar kamu ya... jangan ngomong yang nda-nda" ucap nindi tegas dengan tatapan mata tajam ke arah deren


Namun sayang, sorot mata tajam Nindita tak membuat deren ciut, justru ia memberi senyuman manis. dan dengan santainya duduk di samping kanan nindita yang kosong.


"minum dulu mending, Udah kepedesan gitu kamu" ucap deren sambil menatap nindi. sedang ke dua tangannya membukakan ke 2 tutup botol minuman kemasan itu.


"nindita ayo duduk duduk.." ucap Arum yang memang di samping kiri nindi, sambil menarik pelan tangan Nindita.


Nindi pun akhirnya duduk, walau merasa terganggu dengan deren yang di sampingnya.


"minum..." ucap deren yang terdengar seperti sebuah perintah.


"ngga papa nin... Daripada lidah panas. minum dulu aja, biar hati juga adem.. ngga ikutan panas juga" ucap Mila sambil sedikit mengikik, yang langsung di balas delikan oleh nindita


"nanti aku ganti.." ucap nindita setelah meminum hampir setengah botol minuman dingin berwarna coklat dengan rasa manis menyegarkan, yang mengurangi rasa pedas pada lidahnya.

__ADS_1


"ngga usah di ganti juga, aku sengaja beliin buat kamu" ucap deren menatap nindita. Tak lupa senyum tipis yang mengisi wajah deren


"duhh deren... Jangan senyum terus... di perhatiin kamu loh sama semua yang ada di kantin ini, bisa-bisa mereka terpana nanti".. ucap mila sambil menengok ke kanan ke kiri.


Dan memang benar hampir semua mata tertuju pada mereka, terutama pada anak baru yang mengaku pacar seorang nindita.


Deren yang tak sungkan duduk di samping Nindita, di tambah perhatian nya, membuat sebagian besar teman-teman di sekolah nya percaya ucapan deren bahwa ia betul pacar nindi.


"teman-teman ayo silahkan di lanjut makan nya ya... Takut keburu dingin makanan kalian" ucap Arum sedikit keras. Namun mampu membuat suasana kantin kembali ramai dengan dentingan sendok dan garpu bahkan suara obrolan yang mulai bersahutan.


"btw... Sejak kapan kamu sama nindi jadian??.." tanya Mila


"dari pagi" jawab deren santai.


"what !!" ucapan kaget Arum dan Mila serempak. Sedangkan nindita tersedak kuah bakso yang ia nikmati. Ia tak perduli dengan keberadaan deren, namun tidak dengan telinga nya. cepat saja ia meneguk air mineral yang katanya ada manis-manisnya.


"pagi tadi kamu nanya kantor kepala sekolah ya.. Ndak ada ya kesepakatan kita pacaran"


"ngga bisa gitu ya.. Seenggaknya harus ada kesepakatan dua pihak.. Lagipula punya niat kok buat cari pacar, bukan buat belajar" protes Nindita


"tapi waktu di kelas kamu diem aja beb... Malah speacles bahagia sampe ngga bisa berkata-kata.. Jadi aku anggapnya kamu setuju jadi pacar aku" ucap deren tenang tanpa beban


"tapi aku diem itu karena kaget kamu ngaku jadi pacar aku, padahal baru ketemu pagi... Bukan karena speacles bahagia..


"udah nggak usah di ribetin beb.. Kamu ngga akan rugi jadi pacar aku. Aku good looking, good rekening, Perhatian, suka senyum, walaupun di akademik aku ngga good banget... Dan lagi kamu ngga punya cowok juga... jadi ngga masalah kita jadian kan"


"narsis banget kamu.. Pokoknya aku bukan pacar kamu... Ngga usah ngaku-ngaku.. Inget itu.. !!" ucap nindi tegas


"udah lah ngga usah ngomel gitu... Makan lagi baksonya ya... Atau mau aku suapin ??.. Atau juga mau di pesenin yang lain beb??.. ucap manis deren sambil menunjukan gigi gingsul nya yang membuat deren tambah tampan rupawan

__ADS_1


"ngga usah !! Aku bisa makan sendiri..." ucap Nindita ketus


"oke oke... Kalo gitu aku tinggal dulu ya., aku harus nemuin pak kepala sekolah" ucap deren lembut sambil sedikit mengacak rambut Nindita dan berlalu pergi


Nindita yang belum pernah di perlukan semanis itu oleh lawan jenis, hanya terdiam tak berucap. Tubuh nya terasa kaku. jawaban ketus yang terlintas dipikiran tiba-tiba saja menghilang. Mulut yang siap berkata pedas terbungkam dengan sendirinya.


"ya ampun nin... Deren sweet banget sii.." Mila tak sadar berteriak cukup keras.. Ia histeris melihat adegan romantis dari deren. bahkan suara Mila mampu menyadarkan dua orang di hadapannya.


"ya ampuun apa yang aku liat tadiii" ucap Arum ketika tersadar dari rasa syok nya


"deren sweet banget kan rum??" tanya Mila dengan wajah yang berbinar


"dia itu nyebelin bukan sweet Mila" sanggah nindita dengan nada kesal. Berbeda dengan hatinya yang berasa di penuhi bunga


"aduh... Ndak usah galak-galak.. Takut nya malah bucin nanti.." Mila malah menggoda Nindita. "ngga akan !!" ucap nindi tegas.


"ngga akan salah maksudnya kan.. hehe" timpal Mila


"nyebelin kamu ya mil".. Balas nindi dengan wajah cemberut


"tapi emang tadi sweet loh nin" ucap Arum yang membuat nindi semakin kesal.


"ngga usah bahas-bahas itu lagi cukup, aku mau ke perpus. kalo kalian belum selesai makannya ngga apa-apa aku sendiri aja"


"ya udah silahkan ke perpus sendiri ae, kita masih makan. Kalo kita ikut kamu, takut-takut kamu sungkan kalo mau ketemu sama deren hehe.. Mubadzir juga bakso ini kalo nda di habisin toh" ucap Mila lancar, tanpa rasa bersalah sama sekali


"milaaaaaaaa....!!" protes nindita dengan suara tertekan menahan kesal.


"peace nindi peace,.." ucap Mila dengan raut wajah yang meringis.

__ADS_1


" Yo wes aku ke perpus sendiri aja.. Ketemu lagi di kelas" ucap nindi sebelum berlalu menuju perpustakaan sekolah.


__ADS_2