
maaf kan...lama vakum....habis lahiran gak pegang laptop sama sekali...
" Rio....kenapa dia ke rumah sakit? siapa yang sakit? dan mobil siapa itu? " pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam benakku. Ditambah lagi aku melihat nya turun mobil dengan seorang perempuan cantik. Perempuan itu menggandeng Rio dengan mesra. Mereka saling pandang dan tersenyum.
Gak mungkin dengan situasi sekarang Rio mau macem-macem. Pikiranku jadi kemana-mana. Sampai di halte terakhir Aq segera turun dan mencoba menelfon Rio.
Tut....Tut....Tut... nada sambung terdengar.
"Assalamualaikum..." ucapku di awal telfon.
"Waalaikumsalam" jawab Rio.
" Yank...km dimana? bisa jemput Aq di terminal terakhir gak?" Aq mencoba untuk membuktikan prasangka apa yg ada dalam pikiranku.
"maaf ya...Aq gak bisa jemput. Lagi keluar sama vendor untuk bicarakan bisnis. barangkali nanti jadi bisa buat tambah-tambah." jawab Rio.
Kulanjutkan rasa penasaran ku
"kamu emang dimana sekarang?"
"Aq di kantor temenku. Udah dulu ya...mau ada meeting nih. Hati-hati di jalan" putus Rio dan menutup telfon nya.
Hatiku berasa sakit banget. Rio berbohong padaku. Dia selama ini gak pernah bohong padaku. Apakah dia selingkuh?.
Sepanjang jalan Aq melamun di dalam angkot. Bloking banget pikiranku. Sampai tak terasa tempatku seharusnya turun sudah terlewat.
" Bang, depan kiri ya..." kataku pada supir angkot yang kutumpangi.
Ah...kenapa pikiranku jadi kemana- mana? fokus Erin...kamu harus pikirkan anak-anakmu.
AL POV #
" Ikuti kemanapun dia pergi" kataku pada supir pribadiku.
Kenapa Erin seperti orang yang linglung? apa yang dia pikirkan? Sayangku jangan membuatku khawatir padamu. Aq sudah pernah kehilanganmu karena kesalahanku dan kali ini aq tak akan pernah melepaskanmu.
Aq mengamati setiap gerak gerik dan tingkah Erin dari keluar rumah sakit sampai turun angkot.
Sayangku...apakah benar-benar berat masalah yang kau hadapi? sampai kau tak sadar jika sudah melewati tempat turun mu.
__ADS_1
Banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam pikiranku. Sore ini cuaca sedang tidak bersahabat. Gerimis rintik-rintik mulai turun. Aku masih mengikuti Erin dari belakang dengan mobil. Ingin rasanya turun dari mobil dan menemaninya berjalan. Tapi aku harus menahannya karena tak mau Erin mengetahui jika aku selalu mengikutinya.
#####
Langkahku kupercepat karena hujan mengguyur. Sedikit berlari dan memegang tas ku diatas kepala untuk melindungi kepalaku dari hujan.
" Ibu....ibu sudah pulang..." teriak Azka
" mama...mam..ma.." panggil Iyan anak bontotku.
Aku langsung menggendongnya dan menciumi kedua pipi nya yang mbul. Mengganti baju, mandi dan bermain dengan anak-anak ku rutinitas ku setelah bekerja. Masalahku sedikit terlupakan dengan bermain dan bermanja-manja dengan mereka.
" Assalamualaikum..." kata Neo mengucap salam. Anak sulungku baru pulang sekolah.
" waalaikumsalam...gimana sekolahnya hari ini? " tanyaku sambil melepas tas sekolahnya dari punggungnya.
" Seru...Aq dapat hadiah jd the best group" katanya sambil menunjukkan hadiahnya padaku.
" Bagus..anak ibu memang jempolan" kataku sambil mengacungkan jempol pada Neo.
" Ibu...besok ada study tour ke BSD kata Bu guru. " Neo memberikanku kertas pengumuman dari sekolahnya.
Hari sudah berganti malam. Rio tak kunjung pulang. W.a yang sudah kukirimkan juga tak dibaca. Aku mencoba menelfonnya. Ada jawaban dari sebrang sana
" Ada apa?" ucap Rio tanpa basa basi.
" Kamu dimana cinta? jam segini kok belum pulang?" tanyaku. Dan sayup-sayup kudengar ada suara perempuan yang memanggilnya.
" Rio sayank...udahan dong telfonnya...kita makan dulu, sudah ditunggu mama nih. " itulah kalimat yang kudengar.
" lha, sebentar ya.. " jawab Rio menanggapi perempuan itu.
" Siapa itu ? kenapa memanggilmu seperti itu? "
" Hanya teman, bentar lagi Aq pulang kok. Gak usah nanya- nanya lagi ya..." jawabnya dengan nada halus.
Walaupun kata- katanya halus tapi tetap tidak membuatku tenang. Apakah yang kupirkan benar? Rio selingkuh? Bagaimana dia bisa tega padaku dan anak-anak? Aku menangis di kamar. Hatiku rasanya teriris.
Pukul 00.30 Rio baru pulang. Aku masih belum tidur. Aku sengaja menunggunya dan meminta penjelasan. Aku keluar dari kamar. Rio menoleh padaku.
__ADS_1
" Belum tidur cinta? " tanyanya padaku.
" Belum. Kenapa jam segini baru pulang?"
" Banyak yang harus dibahas." jawabnya singkat.
" Cinta, boleh Aq bertanya? dan tolong jawab dengan jujur. Apa kamu mencintai wanita lain? " tanyaku sambil menatap nya. Lama Rio diam dan tak menjawab pertanyaanku.
Akhirnya Rio berbicara
" Aq tidak selingkuh cinta, hanya saja..." kata-kata nya menggantung.
" Hanya apa cinta? " tanyaku lagi.
" Heh..hanya saja untuk melancarkan usahaku dan mendapat pekerjaan Aq harus mendekatinya. Ini demi kebaikan kita bersama. Jika Aq sudah mendapatkan yang Aq inginkan hidup kita akan stabil lagi. Akan bangkit lagi."
Aku terkejut dengan jawaban Rio. Dengan kata lain dia memanfaatkan kebaikan orang? atau bahkan cinta seorang wanita kepadanya?
" Dengan kata lain kamu memanfaatkan orang lain? jangan bertindak seperti itu cinta, kita tidak tau hukuman apa yang akan Allah berikan jika kamu bertindak seperti ini. Kamu punya anak- anak yang harus makan dari sesuatu yang halal." jelasku panjang lebar.
" Aku tidak memanfaatkan dia. Dia yang menawariku bantuan. Aq hanya menerima bantuannya saja. Dan membantu nya jg." jawabnya agak mulai nada tinggi.
" Kamu membantu apa ? membantu dia dengan apa? " tanyaku lagi penuh selidik
" Membantu dia dengan pura-pura menjadi kekasihnya. Aq banyak mendapat kan keuntungan dengan itu" kata Rio dengan enteng.
"Astagfirullah...cinta...jangan seperti itu. Dosa. kenapa kamu jadi berubah seperti ini? ini bukan kamu. Dimana kamu yang bijak, sabar, dan dapat membuat keputusan yang baik ? "
" Sudah jangan banyak mengguruiku. Kamu jg nantinya yang ikut merasakan jika Aq sudah stabil lagi."
" Aku tak mau kamu kayak gitu cinta...!!!" setengah berteriak aku berbicara dengan Rio. Air mataku tak terbendung lagi.
" Kenapa kamu kayak gini sih! Biasanya kamu mendukung apa yang Aq lakukan. Kemana positif thinking kamu? Heh...! Kalau kayak gini rasanya lebih baik Risma dari pada kamu. " Kata Rio tak kalah kencang.
"Astagfirullah...kamu kenapa jadi kayak gini sih. Kita boleh kekurangan. Tapi jalan yang diambil jangan yang seperti ini. Gak baik...kamu jg gak bisa banding-bandingkan Aq dengan wanita lain. Aq ini istrimu. Kita menikah juga bukan waktu yang sebentar, dan kamu membandingkan Aq dengan wanita yang baru kamu kenal. Kamu tega!!"
Hatiku benar-benar sakit. Aku masuk ke kamar tanpa memperdulikan Rio lagi. Air mataku tak bisa berhenti. Aku berharap Rio masuk ke kamar dan meminta maaf padaku. Tapi ternyata harapanku hanya harapan kosong. Rio berdiam diri di sofa depan TV. Aku memeluk anak bungsuku untuk menguatkan hatiku dan ikut tertidur di sebelahnya.
***
__ADS_1
Adzan subuh berkumandang. Sayup-sayup aku mendengarnya. Aku bangun dan menunaikan sholat subuh. Aku mencari Rio untuk segera menunaikan sholat. Tetapi aku tidak mendapatinya di manapun. Pintu rumah tidak terkunci. Berarti Rio pergi. Sejak kapan? Kemana dia?