
Kulangkahkan kaki ke kamar anak-anak dan tidur disamping mereka. Kedamaian dalam wajah mereka saat tidur membuatku mennagis kembali, rasa bersalah menderaku karena telah memberikan keluarga yang tak utuh pada mereka dan akan menjadi keluarga yang tak utuh.
******
Pagi ini aku ijin untuk tidak masuk bekerja, untuk menyiapkan barang-barang anak-anak. Hari ini Aq akan pindah. Aq sudah tak sudi untuk tinggal satu atap dengan Rio. Rasanya sudah tak akan ada lagi keinginan untuk kembali. Dengan dibantu Santi, pengasuh anak-anak kami akhirnya mengangkut barang seperlunya ke kontrakan yang sudah aku sewa secara mendadak. Walau kontrakan 3 petak tapi untuk sementara cukup.
Kurebahkan badanku yang sudah sangat lelah. Anak-anak juga sudah tertidur karena terbiasa tidur siang. Walau kasurnya tidak begitu nyaman tapi tak berpengaruh pada anak-anakku. Alhamdulilah mereka tidak ada protes sama sekali. Mungkin karena mereka masih kecil. Kurasakan hp di saku celanaku bergetar. Aku melihat hp ku, ternyata Mas Al menelfon.
" Kamu dimana sayank? aku ke tempat kerja kamu tapi kamunya gak ada?"
__ADS_1
"Aku ijin Mas, karena hari ini aku pindah kontrakan bersama anak-anak" kutarik nafas dan menghembuskan sejenak.
Hening...tak ada kata-kata lagi, hanya kudengar helaan nafas mas Al disebrang telfon.
" Beritahu alamat kamu sekarang." membuka keheningan.
Kusebutkan alamat kontrakanku dengan nada lemas. Aku tahu Mas Al pasti akan menuju kesini. Mobil tak akan bisa masuk ke gang kecil. Hanya sepeda atau motor saja yang bisa melewati jalan ini. Seperti sudah tau atau insting Mas Al yang tajam, Mas Al mengunjungiku dengan menaiki ojek online motor.
Mas Al memasuki rumah kontrakanku dan mengamati ruangan yang ada dan memang terbilang sempit. Dia hanya menghela nafas.
__ADS_1
" Maaf hanya beralaskan tikar, silahkan duduk Mas."
Mas Al duduk disampingku, malah tidak berhadapan denganku. Kukira dia akan memberondongku dengan banyakpertanyaan, tetapi dugaanku salah. Dia melingkarkan tangan kirinya di bahuku, menepuk lembut, menenangkan. Airmataku mengalir begitu saja. Kami hanya diam tanpa ada yang berkata apa-apa. Mungkin Mas Al menghormatiku dan tidak bertanya apa yang terjadi, atau memang dia sudah tau apa yang terjadi.
Sebenarnya aku tahu ini salah, aku masih berstatus sebagai istri orang, tidak baik ada pria masuk dalam kontrakan, walau juga ada anak-anak di kamar. Tangannya masih setia menepuk-nepuk lembut bahuku. aku menhapus air mata dan menyingkirkan tangannya dari bahuku dengan pelan agar Mas Al tidak merasa tersinggung. " Maaf Mas sepertinya tidak baik seperti ini, takut ada orang yang bergunjing."
" Sayank, pindah ke tempat yang lebih layak mau?" tanyanya dengan lembut.
" Maaf apakah menurut mas rumah ini tidak layak? mungkin bagi Mas rumah ini kecil dan tidak layak. Tapi bagiku ini sudah lumayan dengan harga sewa yang miring juga. Aku tak mau membebani Mas dengan segala masalahku dan juga anak-anakku." Aku menunduk, tak berani melihat wajahnya.
__ADS_1
" Sayank, dengarkan, aku tidak merasa terbebani sama sekali, aku dari dulu mencintaimu, tidak pernah melupakanmu sama sekali." Aku terkejut, jantungku berdebar dan menegakkan kepala, memandang wajahnya, melihat sorot matanya. Tak ada kebohongan di matanya.