
Jikalau dulu Aq bisa menjelaskan kepadanya. Ya sudahlah itu semuanya sudah berlalu. Dan sekarang Aq harus bisa mendapatkannya kembali.
******
Mobil mas Al berhenti di parkiran sebuah cafe yang bernuansa alam. Aq menarik nafas panjang. Sebenarnya Aq ingin pulang ke rumah, bertemu anak-anak agar semangatku naik lagi. Aq tau maksud mas Al baik mengajakku ke cafe agar pikiranku tidak kemana-mana dan bisa melupakan sejenak.
" Sayank...ayo turun. Makan dan minum kopi sejenak agar fresh." Mas Al membukakan pintu untukku. Aq berjalan di sampingnya. Pikiranku masih kacau, masih melayang membayangkan yang tidak-tidak.
"Astagfirullah!" pekikku, kakiku terkantuk tangga menuju pintu cafe. Jika Mas Al tidak menangkapku pasti tubuh gembulku ini sudah terkapar.
" Sayank, hati-hati. Kamu gak papa ?"
" Gak Mas, makasih. Maaf ya" Aq mengusap muka ku dengan kedua tangan.
Fokus Rin, jangan berfikir macam-macam.
Kami duduk di dekat cendela, tanpa menanyakan padaku minuman atau makanan apa Mas Al sudah tau apa yang kusuka. Dia masih mengingat semua. Aq tau dia tidak mengalihkan pandangannya kepadaku setelah memesan. Aq memandang keluar cendela cafe. Aq tak berani memandangnya. Mataku sudah berkaca-kaca, sedetik kemudian air mataku sudah lolos ke pipi tanpa ada suara isakan. Cengeng banget sih Aq ini.
Mas Al beralih duduk di sampingku tanpa kusadari. Dia menutup kedua mataku dengan tangannya.
"Sayank, bayangin kamu dengan anak-anak berada di pantai yang indah dan bermain bersama. Betapa bahagianya mereka bermain dan masalah yang kamu hadapi menghilang."
Perkataan Mas Al membuatku membayangkan apa yang dia katakan. Bukan membuatku berhenti meneteskan air mata tetapi malah membuatku terisak, air mataku luruh dengan derasnya. Mas Al merengkuhku ke dalam dekapannya.
" Luapkan sayank, Aq akan selalu ada buat kamu." Tangannya mendekap tubuhku sambil mengusap kepalaku. Begitu nyaman bagiku. Ini yang kubutuhkan saat ini. Untung cafe lumayan sepi, jadi tidak merasakan begitu malu untuk menangis. Malah memang terbilang sepi sekali, tak ada pembeli. Pelayan meletakkan secangkir kopi espresso double shot dan segelas jus jeruk. Mas Al menganggukkan kepala tanda berterima kasih.
" Sayank, sudah nangisnya? tatap Aq, " Ibu jarinya mengusap air mataku dengan lembut.
" Sekarang minum jus jeruknya dan cake nya." ucapnya.
Aq memandang Mas Al, " Terima kasih" ucapku.
" Setelah ini kuantar pulang ke rumah. Aq ingin berkenalan dengan anak-anak."
" Jangan dl Mas. Beri Aq waktu. Aq juga belum tentu bisa menerima kamu. " Aq menunduk.
__ADS_1
Aq belum terpikirkan beralih hati saat ini ataupun dalam waktu dekat ini. Aq hanya ingin memperjelas semuanya saat ini. Dan membesarkan hati anakku terutama Neo. Walau dia masih berumur 8 tahun tapi dia sangat peka. Dia sangat menyayangi ayahnya. Aq takut dengan masalah rumah tangga yang kuhadapi ini dia jadi membenci Ayahnya.
Aq turun dari mobil dan menuju rumah. Mas Al tidak mengantarku turun. Dia mengerti batasan yang harus dilakukannya. Aq berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi. Mobil mas Al melaju meninggalkan gang. Aq masuk rumah tanpa ada semngat apapun. pukul 17 sore anak-anak lagi lihat TV. Aq masuk kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan air dingin. Setelah selesai aq masuk kamar . Kuambil Hp dan mendial no Rio. Nada tersambung tapi tak kunjung diangkat.
Pintu kamar dibuka pelan, aq menoleh ke pintu. Rio masuk ke kamar. Aq mengubah posisi menjadi duduk menyandarkan punggungku di kepala tempat tidur. Rio duduk disebelahku dan kepalanya tertunduk. Aq memberanikan diri untuk bertanya padanya.
"Kamu dari mana cinta? "
Hening, tak ada jawaban dari mulut Rio. Aq menhela nafas.
" Kamu boleh jujur, Aq gak papa. Aq lihat kamu keluar dari mobil berduaan dengan seorang wanita di rumah sakit Harapan. Dia siapa? "
Masih hening. Rio tak kunjung menjawab. Emosiku mulai naik.
" Kamu punya mulut nggak? jawab pertanyaanku..!!!Kamu selingkuh ? Wanita itu kekasih kamu?!!!" Air mataku lolos begitu saja. Aq tak berfikir lagi apakah suaraku di dengar anak-anak di luar.
" Kamu gak mikirin perasaanku bagaimana? Aq ini istri kamu, Kamu anggap apa aq selama ini Hah!"
Akhirnya Rio bersuara, " Maaf, maaf, maaf, Aq khilaf."
" Jadi benar dia kekasih kamu? diakah penyebab kamu selalu marah ke Aq? Kamu sudah menemukan yang baru, bagus, bagus banget. Selama ini aq mendukung apapun yang kamu lakukan. Selama ini aq selalu ada buat kamu. Dulu aq menentang orang tuaku hanya karena ingin hidup dengan kamu. Ujian yang diterpa selama kita mempertahankan hubungan dan akhirnya menikah sama sekali tak terlintas dibenak kam?!!! di pikiran kamu....!!!" Aq berteriak seperti kesetanan. Rio menarikku dalam pelukannya. Memelukku dengan erat.
" Apa sudah terlalu jauh hubungan kalian ?" Tanyaku datar.
Rio mengangguk. Ya Tuhan....apa salahlu hingga rumah tanggaku seperti ini ? Rio yang penyayang dan aq percaya dia setia menjadi seperti ini ? apakah uang merubahnya ? apakah frustasi mengubahnya menjadi bre****k?
" Tinggalkan dia, akhiri hubungan kalian!"
Rio mendongak mendengar perkataanku.
" Maaf cinta, Aq tak bisa, dia mengandung anakku." Bagai tersambar petir aq mendengar ucapan Rio. Kepalaku seketika pening, jantungku berdebar kencang, hatiku sakit, sakit, itu yang kurasakan. Bagaimana ini bisa terjadi??
Diluar pembantuku membawa anak-anakku masuk ke kamarnya dengan alasan sudah waktunya mereka tidur. Sebenarnya agar anak-anak tidak terus menerus mendengar teriakan ku. Aq sangat beruntung mendapatkan pembantu seperti dia.
Suasana dalam kamarku hening, hanya suara isakan tangisku yang terdengar. Rio masih di dalam kamar, dia mengelus kepalaku, kutepis tangannya dengan kasar. Aq tak sudi disentuhnya.
__ADS_1
" Kamu pilih Aq atau dia!" kuberikan pilihan pada Rio.
" Ini sulit Cinta..kumohon jangan menyuruhku memilih" Rio bersimpuh di depanku.
" Egois, kamu benar-benar egois. Kamu ingin memiliki semuanya....?!!! Aq gak habis pikir apa yang sebenarnya dalam pikiran kamu.!!" Suaraku meninggi tapi tak setinggi tadi.
" Aq mencintai kamu Erin, sangat..."
" Apa kamu bilang? Cinta? cinta tidak seperti ini, cinta tak mengkhianati Rio."
" Aq tak mau berpisah darimu dan anak-anak. Tapi aq juga tak bisa meninggalkan Renata."
" Oh nama perempuan itu Renata!, bagus. Jika kamu tak bisa memilih maka aq yang akan menentukan pilihan. Ceraikan Aq." Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Sakit, sungguh sakit mengucapkan kata-kata itu. Tak pernah terpikirkan kata cerai selama ini dalam benakku, walau ekonomi sulit, walau Rio tak bekerja. Tapi jika sudah ada pengkhianatan aq tak bisa mentolelir lagi. Aq tak mau dimadu, aq tak mau berbagi suami dan cinta.
" Apa? Cerai? gak Erin, Aq gak mau. Kamu gak kasian anak-anak? bagaimana mereka nanti ? "
" Hah ! kamu yang gak mikirin akibat dari perbuatan kamu, kamu melempar kesalahan ke aq gt!, seharusnya kamu yang mikir, mikir pakai otak!. Jika kamu gak mau menceraikan Aq, kita bertemu di pengadilan saja. Besok Aq dan anak-anak akan keluar dari kontrakan ini. Jika kamu mau tinggal silahkan. Aq sudah tak peduli. "
" Kamu mau kemana? Kamu mau bawa anak-anak kemana? " dipeganggnya tanganku erat.
" Terserah Aq mau kubawa kemana anak-anak. Kamu tidak usah ikut campur lagi "
Kulangkahkan kaki ke kamar anak-anak dan tidur disamping mereka. Kedamaian dalam wajah mereka saat tidur membuatku menangis kembali, rasa bersalah menderaku karena telah memberikan keluarga yang tak utuh pada mereka, akan menjadi keluarga yang tak utuh.
__ADS_1