
Semua yang perlukan oleh Bryan telah dipersiapkannya dengan teliti dan dia rasa sudah lengkap semua. Ketika sedangg mengecek semuanya tiba-tiba telfon di mejanya berbunyi dengan cepat dia meraih telfon yang sedang berbunyi itu.
“Halo tuan” ucap Clara dengan sopan.
“Masuk ruanganku sekarang” perintah Bryan dan langsun memutuskan sambungan telefonnya.
Clara pun bergegas masuk ruangan Bryan. Setelah samapai di depan pintu dia mengetuknya dan ketika mendengar sahutan dari dalam Clara pun masuk dan mendekat ke meja kerja Bryan.
“Semua sudah siap?” tanya Bryan sambil melihat komputer di hadapannya.
“Iya tuan” jawab Clara singkat.
“Baiklah sekarang kamu bersiaplah 15 menit lagi kita akan berangkan ke bandara untuk berangkat” ucap Bryan yang masih fokus dengan komputernya.
“Baik tuan, saya permisi” ucap Clara sambil berbalik dan meninggalkan Bryan.
Clara pun menghilang dari balik pintu berwarna coklat.
Skip 15 menit kemudian.....
Clara sudah menunggu Bryan di luar ruangannya. Dan ketika pintu terbuka dan Bryan jalan mendahului Clara yang mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai dekat mobil pak sopir membukakan pintu untuk Bryan, Bryan pun masuk kedalam mobil.
Clara pun duduk di kursi samping pak sopir.
“Kenapa kamu duduk di depan?” tanya Bryan kepada Clara.
Clara tidak menjawab tetapi dia melihat Bryan dengan raut muka bingung.
__ADS_1
Bryan yang merasa diilihat pun memalingkan muka menghadap Clara dan “Sini duduklah di sini bersamaku” ucap Bryan sambil melihat keluar jendela.
Clara menarik nafas panjang dan menghembuskannya, dan hembusan itu dapat di dengar oleh Bryan. Clara pun turun dan duduk di samping Bryan.
“Ayo berangkat pak” ucap Bryan sopan.
“Ternyata dia masih sopan terhadap orang tua walaupun seorang sopir” ucap Clara dalam hatinya sambil melihat keluar jendela mobil.
Sesampai di bandara mereka berdua langsung berjalan menuju jet pribadi milik keluarga Bryan yang telah siap.
Setelah sampai di dalam jet Clara memilih duduk agak jauh dari Bryan.
“Hei duduklah di sampingku” ucap Bryan sambil menutup mata.
“Kenapa?” tanya Clara.
Beberapa saat mereka diam, Bryan yang sedang memejamkan matanya dan Clara
yang lagi asik membaca majalah yang disediakan.
“Apa kamu sudah dekat dengan teman sekerjamu?” tanya Bryan.
“Sudah” jawab Clara.
“Berapa orang?” tanya Bryan.
“Satu” jawab Clara.
“Siapa?” tanaya Bryan lagi.
__ADS_1
“Josua” jawab Clara singkat lagi.
“Jangan terlalu dekat dengannya!” ucap Bryan dan membuat Clara kaget dan langsung melihatnya.
“Kenapa?” tanya Clara.
“Tidak suka” jawab Bryan.
“Kenapa?” tanya Clara lagi.
“Ti.dak.su.ka” ucap Bryan dengan penuh penekanan di setiap suku kata.
“Iya tau, kenapa sampai tidak suka?” tanya Clara sudah mau terpancing emosi
yang dari pagi dia pendam.
“Karena kamu sekertarisku” ucap Bryan santai .
“Ish. Kan sama juga” protes Clara dan kembali membaca majala lagi.
“Berbedalah” ucap Bryan dengan tegas dan membuka matanya.
“Kamu itu sekertaris sekaligus calon Tunanganku” ucap Bryan penuh tekanan.
“Hei aku bukan calon tunanganmu dan satu lagi jangan harap aku menerima pertunangan itu karena aku sudah mencintai orang lain dan dia adalah pacarku” jelas Clara dengan satu tarikan nafas saja.
“Aku tahu kok. Dan aku juga sudah punya pacar yang lebih cantik dan seksi bahkan lebih nikmat darimu” ucap Bryan dengan senyum seperti iblis sambil melihat tubuh Clara. Clara pun meresa tatapan nakal dari Bryan langsung memeluk tubuhnya sendiri dan memilih untuk melihat keluar jendela.
Setelah itu tak ada lagi pembicaraan karena Clara mengalah diam dan melanjutkan bacanya hingga dia tertidur.
__ADS_1