Complexity

Complexity
BAB I CHAPTER 9: Gadis dan Pengagum Masa Kecilnya


__ADS_3

Sebagai seorang perempuan yang terlahir dari rakyat jelata, Theresia banyak menghabiskan waktu dengan membantu pekerjaan kedua orang tuanya.


Ibu dan ayahnya berasal dari golongan rakyat jelata, sang ibu sehari-hari bekerja sebagai pengumpul jerami, dan sang ayah bekerja sebagai anak buah kapal pengangkut ikan.


Meskipun hidup sederhana dan penuh dengan keterbatasan, Theresia menjalani hidupnya dengan bahagia, bersama keluarga kecilnya disebuah Desa sederhana yang berdekatan dengan Dermaga.


Desa tempatnya tinggal dikenal sebagai Desa Tsukiyama, sebuah tempat yang menjadi destinasi perdagangan dan tempat bersandar bagi kapal dalam melakukan aktivitas perdagangan.


Desa Tsukiyama memiliki struktur Pemerintahan yang sederhana, pemimpinnya berasal dari seorang kepala suku yang dipilih dari garis keturunan secara turun-menurun, tanah suci mereka adalah laut, dan mereka mempercayai dewa laut sebagai sosok pelindung Desa.


**


“Namaku Tsukiyama Theresia Iris!”teriak seorang gadis dengan rambut hitam sebahu dengan lantang dihadapan teman-temannya.


“Hey, Theresia.. Kau kan tidak berasal dari keluarga kepala suku, jangan pakai marga kepala suku kita dibelakang namamu seenaknya.”balas seorang anak laki-laki dengan nada protes pada Theresia yang berdiri dihadapannya.


“Desa tempat kita tinggal dinamai dengan marga kepala suku, jadi kupikir tidak masalah jika siapapun ingin membawa marga Tsukiyama dalam nama mereka, ini adalah bukti kalau kita adalah bagian dari desa ini.”balas Theresia bersemangat


“Mulai sekarang aku akan membawa nama Tsukiyama didalam hatiku selamanya!”sambung Theresia pada teman-temannya


“Dia mulai lagi, memutuskan seenaknya.”pikir anak-anak lain yang mendengar ucapan Theresia kala itu.


“A..Aku setuju dengan Theresia..”ucap salah seorang anak laki-laki sembari mengangkat tangannya dihadapan anak-anak lain yang berkumpul disana kala itu.


“Eh…”


“Joel?”


“…”Anak-anak lain yang berada di tempat itu spontan memandangnya dengan agak sedikit terkejut.


"Hehe.."Theresia tersenyum kecil, ia seperti merasa telah mendapatkan penggemarnya sendiri.


"Jo..Joel menyukai Theresia!


Anak laki-laki yang belakangan diketahui bernama Joel tersebut secara spontan membuat sebuah pengakuan mengejutkan dihadapan Theresia dan para anak-anak yang berada di tempat itu.


"Joel akan selalu mendukung Theresia!"sambungnya dengan lantang, wajahnya kini merah padam layaknya buah tomat yang kepanasan.


Ia merasa malu setelah mengatakannya, namun ia tidak tahan untuk menyatakan perasaannya setelah melihat wajah Theresia dan rambut hitam sebahunya yang berkilauan dikala sinar matahari menerpa.


Theresia menatap Joel dengan wajah agak sedikit terkejut setelah mendengar pernyataan cinta yang mendadak itu, terlebih lagi ia melakukannya dihadapan anak-anak lain yang sedang memperhatikan.


Theresia membuang pandangannya dari hadapan Joel dan berlari begitu saja meninggalkan tempat itu bersamaan dengan pernyataan cinta Joel yang tak pernah menemukan jawaban.


**


‘Aku harap tidak ada yang berubah…’


Tentang aroma khas yang timbul dari tanah setelah diterpa hujan, tentang angin yang menerbangkan daun-daun pohon tanpa tujuan, tentang burung-burung di hutan yang selalu bernyanyi meskipun tidak ada yang mengerti makna dari nyanyian mereka, dan juga tentang seorang gadis.


‘Theresia Iris…’


Namaku adalah Julius Alexandre, tidak terasa aku menulis surat ini setelah 10 tahun berlalu, dan seperti yang sudah-sudah, surat ini tidak pernah pergi menemui tujuannya.


“Ah, tempat sampahnya sudah penuh, aku harus membuangnya.”ucap Julius sembari melemparkan surat yang baru saja ia tulis kedalam tempat sampah didekatnya. Tempat sampah itu dipenuhi oleh tumpukan kertas yang terbuat dari kulit pohon yang dihaluskan dan sedikit botol tinta yang berasal dari sari buah.


Hari ini adalah adalah hari ulang tahun ku yang ke 20, karena terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, aku sampai lupa kalau sudah 10 tahun sejak hari itu berlalu.


Kira-kira seperti apa dia sekarang?


Aku harap tidak ada yang berubah


10 tahun yang lalu, aku menyatakan perasaan terpendam ku pada seorang gadis bernama Theresia Iris. Jika diingat-ingat, itu memang sangat memalukan sampai-sampai aku ingin mati saja ketika memikirkannya.


Sejak hari dimana aku menyatakan perasaan itu, Theresia tak pernah lagi menampakkan wajahnya dihadapanku, meskipun sesekali ia masih terlihat berkumpul bersama anak-anak yang lain. Namun tetap saja, ia sangat jelas menjauhi dariku.


Seandainya manusia memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu dengan mengorbankan setengah umur mereka di masa depan, kupikir aku akan melakukannya. Kuharap hari dimana aku menyatakan perasaan kepada Theresia tidak benar-benar pernah terjadi, sehingga Theresia tetaplah menjadi Theresia yang kukenal dan tumbuh bersama ku hingga dewasa.


“…”Julius menutupi wajahnya yang memerah,ia mengingat kembali semua pernyataan cinta yang ia lakukan secara spontan pada Theresia 10 tahun yang lalu.


“Kapten Julius, kita akan segera melanjutkan perjalanan kembali ke kerajaan.”terdengar suara seseorang dari balik tenda tempat Julius beristirahat.


“Pasukan akan melanjutkan perjalanan kembali ke kerajaan dibawah komando wakil kapten divisi pertama, Isac Sanders, tolong sampaikan ini kepadanya.”perintah Julius pada seorang pasukan yang melakukan perjalanan bersamanya.

__ADS_1


“Aku akan mampir sebentar menuju Desa di dekat Dermaga, tolong sampaikan hal ini kepada Raja.”lanjutnya sembari mengemasi beberapa perlengkapan yang akan ia ikatkan pada kuda miliknya.


“Kuharap anda menikmati waktu anda, Kapten Julius.”balas prajurit tersebut pada Julius.


“Ya, kuharap aku bisa menikmatinya…”ucap Julius dengan gemetaran setelah mengingat kembali wajah Theresia 10 tahun yang lalu.


Julius Alexandre, 10 tahun berlalu sejak aku meninggalkan tanah kelahiran ku, Desa Tsukiyama. Entah seperti apa keadaan disana setelah 10 tahun berlalu, kuharap aku tidak gugup saat akan kembali bertemu orang-orang disana.


**


“Baiklah, selanjutnya pasukan akan berjalan dibawah komando Wakil Kapten divisi pertama, Isac Sanders.”


“Kuharap kalian semua beristirahat dengan cukup setelah sampai di kerajaan.”pesan Julius pada Isac dan para prajurit kerajaan yang melakukan perjalanan bersamanya.


“Kita akan berpisah disini, aku akan mengambil jalur ke arah barat.”


Julius membelokkan kudanya dan memisahkan diri dari rombongan pasukan, ia memacu kudanya menembus hutan menuju arah Dermaga di wilayah barat.


Namaku Julius Alexandre, namun orang-orang di Desa lebih sering memanggilku dengan sebutan Joel.


Pada usia ku yang ke 10, aku menyatakan perasaan ku secara spontan pada seorang anak perempuan yang telah lama aku kagumi, namun semenjak itu ia tak pernah lagi menunjukkan wajahnya dihadapan ku.


Beberapa bulan setelah hari dimana aku menyatakan perasaan pada Theresia, kedua orang tua ku membawaku pindah dari Desa Tsukiyama menuju ibu kota kerajaan, sehingga aku benar-benar tidak sempat untuk berpamitan pada Theresia dan anak-anak lainnya.


Kupikir ini adalah cara berpisah yang buruk, setelah 10 tahun berlalu aku berpikir untuk kembali ke Desa dan mengucapkan selamat tinggal yang benar kepada Theresia dan yang lainnya.


Pada usia ku yang ke 15 tahun, aku mengikuti ujian masuk untuk menjadi prajurit di ibu kota kerajaan, aku melalui semua tahapannya dengan mudah, bahkan hanya butuh waktu 5 tahun untukku dipercaya sebagai Kapten pasukan termuda dalam sejarah Kerajaan. Mungkin ini karena bakat ayah yang diturunkan kepadaku, dan aku menyerapnya dengan sangat baik.


Kupikir aku bisa memberi sedikit kejutan pada orang-orang di Desa, seperti apa wajah mereka saat mengetahui jika anak dari Desa kecil dipinggir Dermaga kini telah tumbuh menjadi seorang kapten pasukan ibu kota kerajaan.


Kuharap aku bisa membuat kepala suku terkesan, dan mungkin aku bisa kesana dan membuat Theresia terkesan juga, lalu kami akan menikah dan hidup bahagia di ibu kota kerajaan.


“…”lagi-lagi Julius menutupi wajahnya yang merah padam dengan kedua tangannya.


“Baiklah, didepan sana adalah Dermaga wilayah Barat, dan disebelah sana adalah Desa Tsukiyama.”ucap Julius sembari menepuk-nepuk wajahnya, ia berusaha membangkitkan kepercayaan diri.


“10 tahun yang lalu aku lupa berpamitan pada kalian semua, kali ini aku akan melakukannya dengan benar.”pikir Julius sembari mempercepat pergerakan kuda miliknya menuju ke arah Dermaga.


**


‘EH..?! JOEL?’


‘Semuanya!! Joel pulang!’


‘JOEL? Maksudmu bocah ingusan itu?’


‘Wah! Lihatlah dirimu sekarang, tidak ada orang-orang di Desa ini yang mampu melampaui pencapaianmu.’


‘JOEL…’


‘JOEL…’


‘JULIUS ALEXANDRE…’


Joel tersentak dari mimpinya, entah sejak kapan ia tertidur dengan keadaan beraring di tanah, ia tersadar setelah kuda miliknya mencium pipinya yang berbau seperti jerami.


“Oh baiklah, ciuman kuda dipagi hari.”gumam Julius sesaat setelah terbangun dari tidurnya.


Julius menatap tanah disekelilingya, semuanya terlihat berwarna hitam dan lebih menyerupai hutan yang baru saja dibakar habis dibandingkan dengan sebuah Dermaga.


“Sejak kapan aku tertidur…”Pikir Julius kala itu.


Ia mengambil sebuah pengukur berisi pasir dari tas yang tergantung pada kuda miliknya, pengukur pasir digunakan untuk menentukan waktu dan perputaran rotasi bumi, dengan sedikit perhitungan dan ilmu astronomi, seseorang bisa mengetahui tanggal dan waktu dengan tepat.


“Apa-apaan ini, perhitungan pasirnya kacau, alirannya berubah.”ucap Julius setelah menyadari kesalahan pada alat pengukurnya.


“Aku telah menghitungnya berkali-kali tapi tetap saja, ini mustahil.”


“Hari ini adalah…”


‘Februari, tanggal 30.’


"Ini tidak benar…Februari hanya memiliki 28 hari dalam hitungan, dan 29 hari yang hanya muncul dalam 4 tahun, kenapa bisa menjadi 30?”pikir Julius dengan perasaan kacau, ia merasa alatnya dalam kondisi baik-baik saja dan perhitungannya pun jelas sempurna.

__ADS_1


“Daripada itu, tempat ini juga sangat berantakan, bagaimana bisa tidak ada yang melaporkan kejadian ini ke ibu kota kerajaan.”


Julius memutuskan untuk melanjutkan langkahnya lebih jauh untuk melihat keadaan disekitar, sampai akhirnya ia terhenti pada sebuah batu berukuran besar dihadapannya.


Julius mengingat kembali, 10 tahun yang lalu. Theresia berdiri di atas batu besar ini dan berbicara tentang marga Tsukiyama dibelakang namanya.


“Ini jelas adalah Desa Tsukiyama, ingatan tidak mungkin berbohong seperti alat penghitung pasir sialan itu.”


“Tapi dimana orang-orang? Apa yang sebenarnya terjadi?”pertanyaan-demi pertanyaan terus menghampiri kepala Julius, kegusaran semakin terasa merambat diantara wajahnya, hingga tanpa sadar keringat dingin sedari tadi mengalir hingga jatuh diantara pipinya, tetapi ia tidak mempedulikan hal itu.


Ia berjalan dan terus berjalan sembari menuntun kuda miliknya menyusuri jalan-jalan Desa yang nampak berbeda. Semuanya telah berubah, Desanya telah berubah.


Namun Julius menyadari, ada satu hal yang tidak berubah…


“Joel…”seorang gadis dengan rambut hitam sebahu berdiri dihadapan Julius, entah sejak kapan ia berdiri disana dan entah bagaimana pula ia bisa berada disana dalam satu kedipan mata.


Kuda yang sedari tadi dituntun oleh Julius memberontak, insting hewan selalu menunjukkan kebenaran, saat bahaya mendekat ia akan memberontak meskipun berada dibawah pengawasan pemiliknya.


Julius menatap gadis itu dengan perasaan yang kosong, ia tidak mengerti harus bersikap seperti apa, gadis itu sangatlah jelas, gadis yang sama dengan kejadian 10 tahun yang lalu dalam ingatannya.


“Aku Theresia, Theresia Iris.”ucap gadis tersebut pada Julius.


Julius menarik pedang miliknya dan menghunuskannya tepat dihadapan gadis itu, hanya beberapa centi sebelum hampir menyentuh kulit wajah gadis itu.


“Theresia yang kukenal adalah Tsukiyama Theresia Iris, dan dia akan membawa marga Tsukiyama itu sampai ia mati.”ucap Julius pada sosok menyerupai Theresia dihadapannya kala itu.


“Kau menyebutkan namamu tanpa membawa marga Tsukiyama, sudah sangat jelas kalau kau bukan Theresia Iris.”sambungnya sembari menatap tajam pada sosok serupa Theresia itu.


"Dan lagi Theresia adalah gadis yang seumuran dengan ku, Theresia yang asli seharusnya sudah berumur 20 tahun sekarang."sambung Julius pada sosok itu


Sosok misterius itu memiliki wujud seperti Theresia 10 tahun yang lalu.


"Joel..."


"Bukankah selama ini kau berharap semuanya tidak pernah berubah? Aku adalah Theresia Iris, sama dengan Theresia Iris dalam ingatanmu 10 tahun yang lalu. Kaulah yang menginginkan semuanya tidak pernah berubah kan?"ucap sosok Theresia tersebut pada Julius.


Julius menjatuhkan pedangnya, sesaat ia menatap telapak tangannya yang terlihat berukuran lebih kecil dari sebelumnya.


"Ini.. Ini adalah diriku, 10 tahun yang lalu."pikir Julius setelah menyadari perubahan pada tubuhnya, Ia kembali menjadi Julius versi anak-anak saat berusia 10 tahun.


Kepada: Tsukiyama Theresia Iris


Dari: Julius Alexandre


[Aku harap tidak ada yang berubah…’


Tentang aroma khas yang timbul dari tanah setelah diterpa hujan, tentang angin yang menerbangkan daun-daun pohon tanpa tujuan, tentang burung-burung di hutan yang selalu bernyanyi meskipun tidak ada yang mengerti makna dari nyanyian mereka, dan juga tentang seorang gadis.


‘Theresia Iris…’]


"Selama ini, akulah yang selalu berharap semuanya tak akan pernah berubah."Julius mengingat kembali semua isi surat yang ia tulis selama 10 tahun terakhir.


"Aku..."


"Aku...."


"Aku hanya kesepian."


"Aku tidak pernah menyesali hari dimana aku menyatakan perasaan itu padamu, tetapi aku menyesali hari sesudahnya, hari dimana kau tidak pernah muncul dan bermain seperti biasa bersama ku dan anak-anak lainnya."


"Dan selama 10 tahun terakhir ini aku selalu berharap saat aku kembali ke Desa, semuanya tak akan pernah berubah."


Hari ini adalah bulan Februari, tanggal 30. Hari yang seharusnya tak pernah ada dalam sejarah manusia manapun di dunia ini. Hari dimana Julius berharap semua orang tak akan pernah berubah, namun itu mustahil terjadi.


Manusia sejatinya mengalami siklus tumbuh dan berkembang, dalam hitungan perputaran 1 kali kalender, maka umur mereka akan bertambah sebanyak 1 tahun. Namun, semua itu hanya berlaku jika manusia menjalani hidupnya berdasarkan perhitungan 12 bulan dalam kalender.


Tanggal 30 dalam bulan Februari tidak pernah ada dalam kalender ataupun sejarah manusia, ia memiliki dimensinya sendiri, sebuah struktur kehidupan yang baru dimana semuanya dapat dirancang sesuai keinginan pencipta dari tanggal 30 Februari itu sendiri.


Ia dapat menghidupkan orang yang telah mati, memunculkan wujud seseorang di masa lalu, menciptakan hutan, hewan dan berbagai macam hal yang ia lihat dan menambahkan semuanya kedalam dimensi yang tidak pernah ada, yaitu dimensi tanggal 30 di bulan Februari.


Kemampuan ini dikenal sebagai GIVEN: COMPLEXITY, dengan penggunanya yaitu Tsukiyama Theresia Iris.


**

__ADS_1


__ADS_2