
Di Ruangan Klub
“Selamat datang di klub supranatural ! “
(Sambut seluruh anggota klub, sebenarnya hanya 4 orang saja sih, termasuk Hikasa dan Amane)
Sesekali Hikasa melirikkan matanya kearah Amane yang nampak begitu bersemangat.“Terima kasih sambutannya.”ucap Amane dengan pandangan berbinar-binar.
“Sejak kapan sifatnya bisa berubah drastis seperti itu.”pikir Hikasa sesaat setelah melihat sikap Amane yang ceria.
Akira Hikasa, 3 Minggu berlalu semenjak semester baru dimulai, bersamaan dengan kedatangan gadis pindahan misterius bernama Amane yang muncul secara tiba-tiba dalam kehidupan masa remajanya.
“A..ama..”panggil Hikasa sembari berusaha meraih pundak Amane.
Belum sempat Hikasa memanggilnya, suara seseorang perlahan terdengar memotong ucapannya.
“Akira-san, kesini-kesini...”bisik seorang gadis dengan potongan rambut ponytail keemasan sembari menarik tangan Hikasa.
Gadis ini adalah Hikari, atau lebih dikenal sebagai sekretaris klub supranatural.
“Ah iya...”balas Hikasa
“Perkenalkan, ketua klub supranatural Akihisa Yoshifumi.”ucap Hikari sembari menunjuk seorang laki-laki berkacamata yang duduk tak jauh dari mereka.
“Ketua, kenalkan anggota baru yang kuceritakan kemarin, Akira Hikasa dan Chifuyu Amane.”
(Hikari memperkenalkan)
“Salam kenal, mohon bantuannya.”Hikasa memberikan salam perkenalan.
“Syukurlah ada laki-laki selain aku di klub ini.”gumam Hikasa dengan perasaan lega.
Mungkin sebagian dari kalian bertanya-tanya mengenai siapa kedua orang ini dan kenapa Hikasa dan Amane tiba-tiba menjadi bagian dari klub supranatural.
Semua berawal dari seminggu yang lalu…
Pagi baru saja dimulai, samar suara burung gereja terdengar saling bersautan satu sama lain, bersamaan dengan terpaan debu yang perlahan menyelimuti aspal kehitaman.
Berjalan sendirian diantara hiruk pikuk keramaian, menyaksikkan orang-orang yang berlalu lalang serta disibukkan dengan segala aktivitas mereka yang merepotkan.
Amane terlihat berjalan sendirian diantara kerumunan orang-orang.
“Hikasa sudah pergi duluan ya...”pikir Amane sembari menyusuri keramaian.
Ia menundukkan wajahnya, menggenggam erat selempang tas dipundaknya dan mempercepat langkah kaki nya diantara keramaian tersebut.
Dilain tempat tak jauh dari tempat Amane berada, tepatnya disebuah warung penjual kroket yang ramai dikunjungi oleh orang-orang.
Hikasa terlihat sedang mengantri untuk mendapatkan kroket panas sebagai bekal makan siangnya.
“Hari ini kroket lagi ya..”gumam Hikasa sembari menatap kotak bekal makan siang yang sedari tadi dipegangnya.
“Yosh! Jika aku bisa menghemat uang lebih dari ini, maka aku tidak perlu repot-repot menyusahkan Kakek dan Nenek.”ucap Hikasa berusaha menyemangati diri sendiri.
“Lagipula kroket buatan bibi di warung ini adalah yang terbaik, selain murah dan lezat, kroket disini juga rendah kandungan minyak, aku bisa mengatasi masalah gizi dengan kroket isi sayuran.”
“Pokoknya kroket disini adalah yang terbaik.”sambungnya dengan semangat berapi-api.
Hikasa berjalan perlahan mendekati Bibi penjual kroket.
“Tolong 5 buah kroket ekstra sayuran.”pinta Hikasa pada bibi penjual kroket.
“Ah, Hikasa… Hari ini tidak mau coba yang ekstra daging?”ucap bibi penjual kroket tersebut pada Hikasa, tentunya Bibi penjual kroket tersebut telah lama mengenal Hikasa yang telah berlangganan dengannya.
“Ah tidak-tidak, sayuran adalah asupan terbaik dipagi hari.. Lagipula aku akan memakan satu untuk sarapan.”balas Hikasa sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sebenarnya aku gak punya cukup uang untuk beli yang ekstra daging sih.”pikir Hikasa dengan wajah suram.
Bibi penjual kroket tersebut membalas Hikasa sembari tersenyum, ia mengisi kotak bekal Hikasa dengan 5 buah kroket ekstra sayuran dengan tambahan kroket ekstra daging.
“Remaja yang sedang dalam masa pertumbuhan juga harus memperhatikan asupan daging lho.”ucap Bibi penjual kroket tersebut memberikan kembali kotak bekal milik Hikasa.
“Te-terima kasih.”balas Hikasa sembari menyerahkan uang pembayaran pada Bibi penjual kroket tersebut.
“WAHH, ini benar-benar kroket ekstra daging.”pandangan Hikasa nampak berbinar-binar sesaat setelah membuka bungkusan kroket ekstra daging yang baru saja didapatkannya secara gratis.
“Untuk tuhan yang selalu memberikan ku makanan yang cukup setiap hari, terima kasih.”
Hikasa merapalkan doa dan mulai menggigit kroket ekstra daging tersebut.
“INI BENAR-BENAR LUAR BIASA ENAK!”gumam nya dengan mulut yang penuh dengan kroket.
“Ternyata dugaan ku benar, suara ini benar-benar Hikasa.”ucap Amane yang nampak bergerak dengan cepat dari kejauhan.
Tak jauh dari tempat Hikasa berdiri, Amane berakselerasi dengan begitu cepat menuju kearah Hikasa, wajahnya nampak diselimuti kekhawatiran.
“Hikasa tangkap!”teriak Amane yang tiba-tiba saja muncul dan melemparkan sesuatu pada Hikasa.
Hikasa yang spontan menyadari sesuatu yang baru saja dilemparkan Amane padanya spontan menjatuhkan kotak bekal makan siangnya dan menangkap benda yang dilemparkan oleh Amane tersebut.
Kroket yang baru saja dibelinya jatuh berhamburan, termasuk kroket spesial dengan ekstra daging yang baru saja didapatkannya secara gratis.
“EH..”
“EHHHHHH…”teriak Hikasa spontan setelah melihat kroket nya yang berharga berhamburan.
“Hikasa bersiap..”ucap Amane sembari berdiri membelakangi Hikasa.
__ADS_1
“Ini adalah serangan.”sambungnya dengan nada serius.
Sebuah bom asap menggelinding dan meledak diantara Hikasa dan Amane, asap yang ditimbulkan begitu tebal hingga menutupi jarak pandang mereka.
“Ini adalah masker gas.”ucap Hikasa sembari menatap benda yang dilemparkan oleh Amane sebelumnya.
“Asap ini bercampur dengan gas air mata.”ucap Amane pada Hikasa.
Hikasa dengan sigap mengenakan masker gas tersebut.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”Hikasa nampaknya masih belum mengerti dengan keadaan yang menimpa mereka.
“Mereka sudah mulai bergerak.”balas Amane.
“Maksudmu?”Hikasa semakin tidak mengerti.
“Orang-orang yang ingin memusnakan mu.”jelas Amane, Hikasa yang sebelumnya kebingungan kini mulai mengerti dengan situasinya.
Keringat dingin nampak jelas mengalir diantara wajahnya. Kakinya gemetaran, namun ia berusaha sekuat mungkin bertahan diantara getaran yang nyaris membuat tubuhnya roboh tersebut.
Perlahan sebuah siluet menyeruak diantara kepulan asap gas air mata tersebut, diikuti dengan dua siluet lainnya yang bergerak diantara sisi kanan dan sisi kirinya.
“Lama tidak bertemu ya, Amane.”sesosok pria dengan setelan rapi kehitaman khas seorang butler menampakkan dirinya sembari melambaikan tangan pada Amane.
(FYI: BUTLER ADALAH SEBUTAN UNTUK PELAYAN LAKI-LAKI)
“Di..Dia..”Amane nampak terkejut.
“Amane...”pikir Hikasa sesaat setelah melihat ekspressi Amane yang tidak biasa.
Amane menarik bayonet yang tersembunyi diantara setelan roknya.
“Duh.. Duh, tidak kusangka pelayan terdekat Tsukiyama Koharu-sama masih menggunakan senjata yang tidak efektif seperti itu.”ucap pria dengan setelan butler tersebut sembari menatap rendah Amane.
“Se-sebenarnya siapa mereka ini.”getaran yang menyeruak diantara kedua kaki Hikasa semakin kuat, keringat dingin kini semakin deras mengalir bahkan hingga nyaris membasahi pundak seragamnya.
“Di Kota dengan hukum dan peraturan ketat semacam ini, mereka dengan bebas memiliki submachine gun UMP 45, yang benar saja?!”sambung Hikasa setelah menyadari betapa berbahanya orang-orang yang mengincarnya tersebut.
“Hikasa, dengarkan.”ucap Amane pelan.
“Senjata yang dipegangnya memiliki panjang laras sekitar 200 Milimeter, kemungkinan jarak tembak efektifnya adalah 100 Meter, dengan rate of fire 660 ppm dan kapasitas magazine 30/10 peluru."
“Aku akan memangkas jarak jangkauan senjata, disaat ada kesempatan larilah menuju gang sebelah kanan dibelakang bangunan ini, aku akan menemuimu sesegera mungkin.”pinta Amane pada Hikasa.
“Tidak, aku tidak mungkin meninggalkan mu dalam keadaan seperti ini.”balas Hikasa.
“Dengan keberadaan mu disini pun tidak akan merubah hasil apapun, satu-satunya kesempatan untuk hidup adalah melarikan diri.”ucap Amane perlahan berdiri dan bersiap menerima serangan.
Rentetan tembakan sub machine gun mulai dilepaskan, suara keras meraung di udara, desingan peluru meluncur deras secara langsung menuju kearah Amane, namun dengan sigap Amane menangkis serbuan peluru tersebut menggunakan dua pisau bayonet ditangan kanan dan kirinya dengan reflek yang luar biasa cepat.
“….”Hikasa berlari meninggalkan tempat tersebut sesuai arahan Amane.
“Reflek yang bagus.”ucap pria dengan setelan butler tersebut memuji Amane.
“Maid yang paling dekat dengan Tsukiyama Koharu-sama bukanlah orang sembarangan.”sambungnya sembari melemparkan submachine gun yang telah kehabisan peluru tersebut kepada seseorang butler lainnya.
“…Huft.”Amane menghela nafasnya, kedua pisau bayonet dikedua tangannya tampak nyaris hancur keseluruhan akibat menahan laju peluru submachine gun dalam jarak sedekat itu.
“Kau tau Amane? Aku hanya membawa satu magazine peluru saja, tidak lebih.”ucap butler tersebut sembari berjalan perlahan kearah Amane yang masih nampak kelelahan.
“Ta-tangan ku tidak bisa digerakkan…”ucap Amane terbata-bata, ia berusaha menyesuaikan ritme pernafasannya yang masih kacau.
“Aku selalu ingin mengakhiri pertarungan dengan tangan kosong sih, karena bagiku hakikat pertarungan sebenarnya adalah memusnahkan lawan dengan tangan kosong.”
Pria dengan setelan butler itu menepuk pelan kepala Amane sembari tersenyum.
**
Dilain tempat, Hikasa berhasil menyusuri gang yang berada di belakang bangunan sesuai arahan Amane.
“Apa yang harus ku lakukan, kenapa masa remaja ku jadi ajang pemusnahan seperti ini sih?!”gerutu Hikasa sembari mengacak-acak rambutnya.
“Duh Hikasa bodoh, benar-benar bodoh! Kenapa aku malah meninggalkannya dengan om-om seram begitu sih, padahal dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan ku.”ia semakin menyalahkan dirinya sendiri dalam keadaan stress.
“Aku harus kembali.”Hikasa berusaha membulatkan tekad nya untuk menyelamatkan Amane.
“A..Anu..”suara seseorang terdengar memecah suasan hati Hikasa yang sedari tadi berusaha melawan ketakutannya.
“Eh.. Kok dingin?”Hikasa merasakan dingin diantara kakinya.
“Ma-maaf, duh gak sopan banget.”seorang gadis dengan rambut ponytail keemasan menundukkan tubuhnya pada Hikasa, wajahnya begitu merah padam hingga hampir menyerupai buah tomat.
“EHHHHHH?!”Hikasa terkejut setengah mati.
Dua ekor anjing nampak buang air kecil diantara kaki Hikasa.
“MAAAAF!!”teriak gadis berambut ponytail tersebut membungkukkan tubuhnya pada Hikasa.
“Molly, Lucky hentikan..”ucap gadis tersebut berusaha menarik tali kedua anjing itu menjauh dari Hikasa.
“….”Hikasa terpikir akan sesuatu setelah melihat kedua anjing tersebut.
“German Shepherd dan Belgian Malinois, gadis dengan nada bicara lembut dan wajah manis seperti dia…”pikir Hikasa setelah melihat kedua anjing yang berada dalam ikatan gadis ponytail itu.
“Memilih anjing serem begitu ?!”Lanjutnya dengan wajah yang kecut.
“Perkenalkan, Arata Hikari..”gadis berwajah manis dengan potongan rambut ponytail keemasan itu mengulurkan tangannya pada Hikasa.
__ADS_1
Hikasa hanya diam, ia sama sekali tak menanggapi uluran tangan Hikari. Nampaknya ia sedang memikirkan sesuatu.
“DUHH, aku mohon maaf!”teriak Hikari, ia kembali membungkuk pada Hikasa.
Hikasa memegang pundak Hikari dan menatapnya serius, Hikari yang berada dalam posisi tersebut agak sedikit terkejut dengan perlakuan spontan Hikasa, hingga wajahnya merah padam.
“Hikari aku membutuhkan bantuan, aku mohon.”pinta Hikasa dengan tatapan memohon pada Hikari.
“Ba-baik..”balas Hikari dengan wajah merah padam.
**
Anjing berjenis German Shepherd dan Belgian Malinois umumnya adalah anjing dengan kemampuan terlatih khusus yang biasa digunakan oleh aparat militer atau kepolisian.
Anjing dengan jenis ini umumnya sangat pintar dan memiliki keterampilan melacak, melindungi, dan menyerang yang baik apabila telah melalui pelatihan khusus sebelumnya.
Berbeda dengan anjing-anjing lucu dan biasa dipelihara oleh orang-orang pada umumnya, anjing jenis ini sangat mudah menyerang orang-orang disekitarnya jika mereka merasakan ancaman yang ditujukan pada pemiliknya, sehingga pemilik anjing ini setidaknya harus memasang penutup mulut agar anjing tersebut tidak menyerang orang lain.
Tetapi…
‘Gadis remaja super imut ini memelihara German shepherd dan Belgian malinois!!’pikir Hikasa setelah bertemu dengan Hikari.
“MOLLY, LUCKY SERANG !!”teriak Hikari memberi komando pada kedua anjingnya.
Kedua anjing terlatih tersebut dengan sigap menerjang maju dan menyerang pria dengan setelan butler yang sebelumnya menyerang Amane.
Hikasa datang dengan bala bantuan yang kuat.
Ketiga pria misterius dengan setelan butler tersebut dipaksa mundur setelah menerima serangan kejutan mematikan dari anjing militer yang terlatih milik Hikari, lengan seragam mereka robek, bahkan hingga nyaris melukai tubuh mereka.
Hikari memerintah kedua anjingnya untuk mundur setelah ketiga butler tersebut menjauh, nampaknya ia tak ingin menyebabkan luka fisik pada para Butler tu.
“Amane!”Hikasa mendekati tubuh Amane yang nampak lemah.
Kedua tangannya menerima luka sayatan yang cukup parah, hal ini terjadi karena Amane berusaha membelokkan laju peluru submachine gun dengan bayonet miliknya.
Ia baik-baik saja, namun rambutnya nampak berantakan, serta luka sayatan ditangannya mengeluarkan darah yang tidak sedikit, pipinya mengalami sedikit memar dan matanya agak sayu.
“Aku baik-baik saja.”ucap Amane berusaha memposisikan dirinya dengan benar.
Kedua anjing milik Hikari menjilati luka-luka ditangan Amane, hal ini adalah respon alami hewan, mereka menjilati luka untuk menyembuhkannya.
“Aku akan memperban luka-lukanya, kita harus ke ruangan klub di Sekolah.”ucap Hikari sembari berusaha membopong tubuh Amane.
“Aku juga akan membantu.”balas Hikasa.
**
Di Ruangan Klub
“Ma-maaf kalau agak berantakan.. Selamat datang di klub supranatural.”sambut Hikari pada Hikasa dan Amane.
“Te-terima kasih.”balas Amane, kedua tangannya nampak telah diperban sempurna.
“Aku baru tau kalau ada klub semacam ini di sekolah.”ucap Hikasa sembari memperhatikan pernak-pernik bernuansa horor yang menghiasi ruangan itu.
“Ada kok, kami juga menempelkan selebaran pencarian anggota dipapan mading, tapi selalu saja selebarannya ditimpa sama selebaran klub yang lebih populer.”ucap Hikari dengan nada sedikit kesal.
“Ngomong-ngomong apa kami gak mengganggu anggota lain ?”tanya Hikasa.
“Ah.. tidak-tidak, lagipula anggota lainnya juga sudah pulang kok.”balas Hikari, ia bergerak perlahan menuju meja yang berada di ruangan tersebut sembari menawarkan teh buatannya.
“Silahkan.”ucap Hikari menawarkan teh hangat pada Hikasa dan Amane.
“Enaknya punya ruangan klub, bisa santai-santai sepulang sekolah sambil minum teh.”ucap Hikasa.
“Apalagi kalau disandingkan dengan kroket ekstra sayuran, duh… jadi ngiler sendiri.”sambungnya dengan liur yang hampir menetes.
“Kenapa tidak bergabung saja ?”ucap Hikari spontan.
“Anu..”Hikari nampak berpikir, ia kebingungan untuk memanggil Hikasa dengan sebutan apa karena Hikasa belum memperkenalkan diri sebelumnya.
“Akira Hikasa, dan Chifuyu Amane.”ucap Hikasa memperkenalkan diri.
Hikasa menggerakkan kepala Amane hingga membentuk posisi menunduk. “Salam kenal.”ucapnya.
“Tidak, kita tidak bisa menukar waktu latihan dengan bersantai-santai disini.”potong Amane.
“Ah, benar juga.”Hikasa menyadari betapa berbahayanya orang-orang yang menyerang sebelumnya.
“Bisa dipikir-pikir dulu kok, klub kami mengerjakan artikel bertema horor yang diterbitkan dalam majalah Sekolah, tentunya artikelnya berasal dari kunjungan asli anggota klub supranatural ke tempat-tempat yang sepi dan angker, pokoknya seru deh.”sangat jelas Hikari berusaha membujuk Hikasa dan Amane.
“Klub supranatural juga punya penghasilan sendiri lho, dari artikel kami yang diterbitkan majalah sekolah nantinya akan dibayar keuntungan dari penjualan majalah, jadinya seperti kerja sambilan deh.”lanjutnya menjelaskan.
“Aku bergabung.”ucap Amane spontan.
“Berubah pikirannya cepat banget.”gumam Hikasa sedikit terkejut.
Hikari bergerak meninggalkan kursinya dan mengambil beberapa selebaran pendaftaran klub.
“Kalau begitu tinggal menyerahkan formulir pendaftaran klub pada ketua."Hikari nampak tersenyum puas.
“Hikari-san, apa uang yang didapatkan dari klub ini diterima secara rutin ?”Amane yang sebelumnya dingin tiba-tiba saja berubah menjadi seseorang yang mata duitan.
“Tentu, keuntungannya didapat dari jumlah penjualan majalah sekolah, untuk 5 buah majalah yang laku maka akan dihargai dengan 1500 yen.”jelas Hikari.
Amane nampak semakin bersemangat.
__ADS_1
“Aku akan menyusuri seluruh tempat angker di Kota ini!”ucap Amane dengan bersemangat berapi-api.
“Tunggu dulu, bukannya tadi dia bilang soal gak boleh bersantai-santai di ruangan klub.”pikir Hikasa sesaat setelah melihat perubahan sikap Amane.