
Hari ini...
Aku bangun seperti biasa...
Sebagai gadis 6 tahun bernama Amane...
*PUKUL 05.00
Jika dilihat-lihat, dinding kamarku memiliki sisi yang berbeda, sebagian berwarna hijau tua, dan sebagian lainnya berwarna biru muda.
Hijau tua melambangkan hutan, sedangkan biru muda melambangkan langit. Setiap sisi warna yang berbeda memiliki alasannya tersendiri, tetapi jika disimpulkan secara keseluruhan, pada dasarnya aku sangat mencintai warna yang diciptakan oleh alam.
Selimut tidur ku berwarna merah muda, sejujurnya aku tidak terlalu menyukainya. Tetapi, ibu bilang kalau warna merah muda sangat cocok bagi gadis se-usia ku.
Tempat tidurku terbuat dari pohon kayu jati, meskipun terkesan tua dan kuno, tetapi aku sangat menyukai bau khas yang dikeluarkan olehnya.
Bagiku, tempat tidur ini adalah hadiah dari alam, hadiah dari kayu pohon-pohon hutan yang ditebang dan dibentuk sedemikan rupa untuk menopang tubuh manusia yang kelelahan.
Semua terlihat seperti biasanya...
**
"Amane.."samar terdengar suara memanggil dari balik dinding kamar.
"Sudah pagi, ya.."gumam Amane dengan raut wajah kusut, ia masih tampak mengantuk.
Amane mengusap-usap kedua matanya, sesekali rambutnya yang masih terlihat berantakan jatuh terurai hingga tak sengaja masuk mengenai lidahnya.
"Kalau tidak segera bersiap, kita akan terlambat lho."ucap seorang perempuan paruh baya yang sedari tadi berusaha membangunkan Amane dari tidurnya.
Amane mengalihkan tatapan matanya pada langit-langit kamarnya yang berwarna kuning keemasan.
"Kuning melambangkan matahari.."pikir Amane sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Pokoknya segera bersiap ya.."ucap perempuan paruh baya yang belakangan diketahui adalah Ibu Amane tersebut sembari menutup pintu kamar dan pergi meninggalkannya.
"Seperti biasa, ya..."gumam Amane pelan.
Amane melangkah perlahan meninggalkan tempat tidurnya, ia masih mengenakan piyama merah muda, tentunya dihiasi dengan wajah dan rambut yang kusut khas seorang gadis yang baru saja bangun dari tidurnya.
Perlahan ia bergerak menuju cermin yang terletak diantara meja belajar miliknya.
"Rasanya aku melupakan sesuatu."
"Sesuatu yang penting, tapi apa ya.."
Amane mengerutkan dahinya, sesekali ia menyisir rambutnya yang nampak berantakan sembari berusaha mengingat-ingat sesuatu yang sedari tadi menganggu pikirannya.
**
Hari ini ibu memanggang roti dengan mentega, dan menyeduh teh hangat sebagai menu sarapan.
Seperti biasa...
Sang ibu lupa kalau Amane tidak bisa sarapan saat akan bepergian menggunakan pesawat, ini adalah kebiasaan nya sejak lama.
"Padahal aku berencana untuk tidak sarapan pagi ini. Ibu tau kan? aku sering gugup saat naik pesawat, aku takut sarapannya nanti keluar semua."ucap Amane pada sang ibu.
"Ah, ibu lupa... padahal ibu sudah memanggang lebih, duh gimana nih."balas sang ibu dengan nada panik.
Amane menghela nafas panjang. "Gak ada pilihan lain."sambungnya sembari mengambil roti panggang mentega tersebut dari piringnya dan mulai menyantapnya.
"Bagaimana ?"tanya sang Ibu pada Amane sembari tersenyum.
"Uhm, ini enak."balas Amane
"Roti panggang ya..."gumamnya sembari menatap sebagian lembaran roti yang telah ia gigit.
"Apakah ada sesuatu yang penting yang mungkin aku lupakan ?"tanya Amane pada sang ibu
"Sesuatu yang penting, ya.."sang ibu nampak berpikir.
"Ah, siang ini kita akan terbang menuju Roma, Italia, kamu sudah memilih barang-barang yang ingin kamu bawa ?"tanya sang ibu pada Amane.
"Kalau itu sih, rasanya sudah kulakukan semalam. Tidak, tidak... Kayaknya aku melupakan sesuatu yang lebih penting dari itu."pikir Amane sembari berusaha mengingat kembali hal yang harus dilakukan.
Amane melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan, ia berjalan pelan menuju arah kamar mandi.
"Rasanya aku benar-benar melupakan sesuatu yang penting, mungkin setelah membasuh wajah dan menyegarkan pikiran membuatku bisa mengingatnya."gumam Amane sembari menutupi rambutnya yang kusut dengan handuk berwarna merah muda.
Amane perlahan memutar knop pintu kamar mandi dihadapannya, namun agaknya ia merasa sedikit kesulitan melakukannya dengan satu tangan.
"Knop nya macet lagi."ucap Amane sembari mengerutkan wajah.
Amane mengikat kuat handuk merah merah muda tersebut diantara kepalanya, kali ini ia memutuskan memutar knop pintu yang macet itu menggunakan kedua tangannya.
"Berhasil."ucap Amane tersenyum lebar.
"Eh..."
__ADS_1
"Lho..."
"Apa..."
"IBU !!"teriak Amane sontak.
Sekelebat kilatan cahaya menyeruak dari balik pintu kamar mandi yang terbuka, kilatan cahaya itu menarik tubuh Amane hingga membuatnya hilang begitu saja.
"Amane, jangan main air ya, gak baik lho menghabiskan banyak air."ucap sang Ibu yang agaknya mendengar teriakan Amane sebelumnya.
**
*PUKUL 14.00
Gelap...
Rasanya sedikit kabur dan berbayang...
Tempat ini dingin, udaranya menusuk kulit dan terasa seperti menari-nari diantara pori-pori yang kering.
Amane membuka kedua matanya, ia menatap kedua tangannya yang ditutupi oleh sarung tangan kusut berwarna merah muda.
"Lho, ini pakaian yang seharusnya aku pakai untuk penerbangan ke Italia hari ini."ucap Amane sembari menatap sarung tangan yang menyelimuti telapak tangannya.
"Penerbangan kita ditunda sampai 45 menit kedepan, kalau kamu masih mau tidur, nanti akan ibu bangunkan."ucap sang Ibu yang duduk bersebelahan dengan Amane.
"Aku tertidur ya..."
"Rasanya aku baru saja selesai sarapan dan mau membasuh wajah."pikir Amane kala itu.
"Ramai sekali, bagaimana aku bisa tidur dengan suasana seperti ini, mungkin aku harus memperhatikan lagi jadwal tidur ku."pikir Amane sembari memperhatikan keadaan disekitarnya.
"Nih."sang Ibu menyodorkan sesuatu pada Amane. Amane menyambut pemberian sang Ibu dengan tatapan yang masih mengantuk.
"Permen karet.."ucap sang Ibu pada Amane
"Permen karet Bubble Candy sedang populer lho, kamu bisa menemukan pesan misterius di dalam kemasannya."jelas sang Ibu pada Amane, namun Amane agaknya tidak tertarik.
Amane perlahan membuka bungkusan permen karet yang baru saja ia terima, meskipun ia mengatakan tidak tertarik sebelumnya, namun rasa penasaran pada akhirnya membuatnya memutuskan untuk menemukan pesan misterius dalam bungkusan permen karet tersebut.
'Cinta itu seperti permen karet yang menempel di alas sepatu, karena sejauh apapun kau melangkah, ia akan terus mengikutimu'
Begitulah pesan singkat yang tertulis didalam kemasan permen karet itu.
"Aku gak ngerti."pikir Amane sesaat setelah membaca pesan dalam bungkus permen karet tersebut.
"Rasanya aku benar-benar melupakan sesuatu yang penting."
Amane menengadahkan kepalanya.
Kilau lampu dari langit-langit bandara sesaat memantul diantara kedua bola matanya.
Rasanya sangat hangat dan menyilaukan, tetapi, entah mengapa ia tidak ingin memalingkan wajah ataupun mengedipkan matanya.
Kilauan cahaya dari langit-langit bandara tersebut menyeruak hingga memecahkan lampu-lampu yang menjadi pemancarnya.
Cahaya kemilauan itu nampak hilang kendali dan memancar dengan begitu cepat menuju bola mata Amane, hingga membuatnya terkejut dan seketika menutup kedua matanya.
**
*PUKUL 20.00
Pesawat dengan rute penerbangan menuju Roma, Italia telah menyelesaikan setengah rute perjalanannya.
Amane perlahan membuka kedua matanya, ia melihat keadaan disekeliling dan menemukan sang ibu yang tertidur pulas tepat dikursi bersebelahan dengan dirinya.
Amane telah berada dikursi pesawat dengan penerbangan menuju Roma, Italia.
"Apa yang terjadi.."pikir Amane kala itu.
Ia mulai menyadari hal-hal ganjil dan tak masuk akal yang sedari tadi menimpa dirinya.
Amane merasa seperti telah melompati celah-celah paradoks waktu.
Ia terus menerus berpindah dari satu tempat menuju tempat lainnya tanpa tau bagaimana dan siapa yang telah melakukannya.
"Kak Amane..."terdengar suara pelan memanggil Amane, suaranya terdengar pelan, namun tak tau pasti dari mana arah datangnya.
Terdengar seperti suara anak-anak, mungkin lebih dari satu orang.
"Siapa?"ucap Amane sembari berusaha menemukan sumber suara tersebut, namun ia tak dapat menemukannya.
Amane mengalihkan pandangannya pada kursi yang ditempati oleh sang ibu. Namun, kursi itu kini menjelma menjadi serpihan debu, tubuh sang ibu yang sebelumnya tertidur pulas bersebelahan dengannya nampak terbakar dan hancur sedikit demi sedikit.
Amane memeganggi kepalanya, matanya terbelalak sesaat setelah meratapi tubuh sang ibu yang musnah menjadi debu, ia ketakutan. Nafasnya terengah-engah, lehernya seperti tercekik oleh benda yang sangat berat, namun ia sama sekali tidak dapat lepas dari perasaan-perasaan itu.
"Kak Amane..."suara-suara misterius tersebut kembali memanggil Amane, kini ia menyadari bahwa suara itu berasal dari dalam kepalanya.
Amane menatap langit-langit pesawat yang perlahan melebur dan menghilang di angkasa.
__ADS_1
Tubuh Amane terhempas diantara gelapnya langit malam, sesaat matanya memantulkan cahaya dari kilauan bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.
"Koharu-sama"gumam Amane pelan.
Amane pada akhirnya mengerti, ia telah kembali pada waktu dimana pesawat yang ditumpangi nya bersama Koharu mengalami kecelakaan.
Tentunya berkat Koharu yang telah mengaktifkan kemampuan GIVEN miliknya.
Tetapi...
Koharu tidak ada disana, tidak saat di Bandara, dan tidak duduk bersebelahan dengannya seperti yang terjadi 5 tahun yang lalu...
Koharu benar-benar tidak disana...
"Jadi, aku yang terpilih ya..."pikir Amane kala itu.
Tubuh Amane jatuh dengan begitu cepat menembus awan, air matanya jatuh dan terhempas oleh kuatnya angin, membuatnya tampak begitu berkilauan ketika berpadu dengan terangnya cahaya bintang-bintang yang memantul diantara kedua bola matanya.
"Hari ini adalah 5 tahun yang lalu."
"Hari dimana, aku seharusnya mati bersama penumpang lainnya dalam kecelakaan itu."pikir Amane.
Tubuh Amane perlahan memudar dan menghilang diantara tumpukan awan, bersamaan dengan ledakan besar dari tubuh pesawat yang terdengar diantara gelapnya langit malam.
**
"Charle..."
"Charle.."terlihat seorang bocah perempuan menarik-narik lengan baju seorang bocah laki-laki didekatnya.
"Diamlah sedikit Sheele, aku tidak bisa konsentrasi kalau kau terus menempel padaku."ucap bocah laki-laki bernama Charle tersebut.
"Apa kau berhasil menariknya, Charle?"tanya seorang pria yang sedari tadi mengamati Charle dan Sheele.
"Sedikit lagi."balas Charle sembari mengerutkan dahinya, ia nampak tengah berkonsentrasi.
"Paman, gadis ini terjebak dalam kekuatan GIVEN milik Kak Koharu, aku harus mencari celah untuk menariknya kembali ke waktu kita."jelas Charle
Bocah laki-laki yang nampak berkonsentrasi tersebut bernama Tsukiyama Charle.
Charle memiliki seorang kembaran perempuan bernama Sheele, Sheele selalu menempel pada Charle kemanapun ia berada. Bahkan kadang-kadang Charle agak sedikit terganggu dengan sifat kembarannya tersebut.
Sebagai anak yang terlahir dari garis keturunan Tsukiyama, Charle dan Sheele memiliki kemampuan GIVEN mereka sendiri.
GIVEN milik Sheele dan Charle dikenal sebagai Hide and Seek, Charle dianugerahi kemampuan SEEK, dimana ia dapat mencari dan menemukan benda atau wujud apapun yang ia inginkan, sementara Sheele memiliki kemampuan HIDE, yaitu kemampuan untuk menyembunyikan benda atau wujud apapun yang ia inginkan.
Kedua bocah kembar ini adalah korban dari konflik yang terjadi dalam garis keturunan Tsukiyama. Karena kedua orang tua mereka berada pada faksi yang melindungi Koharu, maka anggota keluarga lain yang menyimpang melenyapkan mereka.
Kedua orang tua mereka dibunuh karena dianggap sebagai ancaman, kemudian Charle dan Sheele dikurung bersama seseorang keturunan Tsukiyama lainnya dalam sebuah pulau yang diciptakan oleh kemampuan GIVEN.
"Dapat."teriak Charle sumringah.
Charle bergerak perlahan, ia nampak membentuk sesuatu menggunakan tangannya.
Sebuah lubang bercahaya muncul perlahan, seiring dengan pola yang dibentuk oleh pergerakan tangan Charle, mungkin bisa disebut sebagai portal atau pintu dimensi.
"Aku akan menariknya sekarang."lanjut Charle sembari memasukkan kedua tangannya pada portal cahaya tersebut.
"Charle, aku mau bantu."ucap Sheele sembari membantu Charle menarik sesuatu dari portal cahaya tersebut.
"1..2..3"teriak Charle dan Sheele bersamaan hingga membuat tubuh kecil mereka terjungkal kebelakang.
Mereka berhasil menarik tubuh seorang gadis dari portal cahaya tersebut, gadis itu adalah Amane.
"Apa benar gadis ini bisa dipercaya ?"tanya Charle pada salah seorang laki-laki keturunan Tsukiyama lainnya yang diasingkan bersama mereka di pulau tersebut.
"Tidak salah lagi, aku bisa melihat dengan jelas hubungannya dengan Koharu dimasa lalu."balas pria keturunan Tsukiyama tersebut pada Charle.
"Paman, kemampuan GIVEN milikmu itu bisa digunakan untuk melihat masa lalu ya?"tanya Charle kembali.
"Bisa dibilang seperti itu sih."jelas laki-laki tersebut pada Charle dan Sheele.
"Anggota keluarga yang menyimpang berusaha untuk membunuh dan menyingkirkan para tetua serta anggota keluarga yang melindungi Koharu."
"Hari itu seharusnya aku sudah mati disana, tetapi Sheele menyembunyikan kemampuan GIVEN milikku dengan kemampuan hide miliknya."
"GIVEN milikku menjadi hilang kehilangan sebagian kekuatannya dan membuatku terlihat seperti seseorang dari garis keturunan Tsukiyama yang terlahir cacat karena kemampuan yang lemah."
"Mereka tidak membunuh ku karena kemampuan GIVEN milikku terlihat lemah dan bukan merupakan sebuah ancaman, sama hal nya dengan kalian berdua yang masih anak-anak, kalian bukan ancaman."lanjutnya pada Charle dan Sheele.
"Aku berterima kasih, kehadiran ku disini adalah berkat kalian berdua."ucap pria keturunan Tsukiyama itu pada Charle dan Sheele.
"Ti-tidak masalah, Sheele akan berusaha melindungi orang-orang."balas Sheele pelan, tangannya masih tampak memegangi lengan baju Charle, ia benar-benar tidak ingin menjauh dari kembarannya tersebut.
"Gadis ini terjebak dalam kemampuan GIVEN milik Koharu, Koharu pasti pernah melakukan sesuatu pada dirinya di masa lalu sehingga kenyataan dan aliran waktu nya menjadi berubah."
"Syukurlah kemampuan SEEK milik Charle dapat dengan mudah menemukannya dan menariknya kembali menuju waktu di masa ini."
"Bagaimanapun juga, kita harus melindungi hal yang dipercayakan Koharu pada gadis ini."
__ADS_1
"Kita akan melindunginya meskipun harus mengorbankan nyawa."lanjut pria tersebut pada Charle dan Sheele.
**