
“Bayinya sudah lahir!”
“Selamat atas kelahiran putri pertama anda tuan.”
“Bayi anda terlahir sehat, ini adalah pertanda baik untuk keluarga anda.”
Ucap seorang wanita tua yang sedari tadi membantu proses melahirkan dari sepasang suami istri dari keluarga jelata.
Wanita tua itu nampak lelah, sesekali ia menyekah tetesan keringat yang membasahi keningnya. Kerutan serta garis penuaan diantara wajahnya kini semakin tajam seiring rasa gelisah yang sedari tadi menghantui pikirannya.
“Syukurlah, ibu dari bayi ini dapat melaluinya dengan selamat.”pikir wanita tua itu dengan perasaan lega.
1000 tahun yang lalu, manusia pertama yang dianugerahi kemampuan GIVEN terlahir ke dunia, seorang anak perempuan dengan GIVEN pertama yang dikenal sebagai COMPLEXITY.
**
****Tsukiyama Hana Vermillia telah memasukki pulau fatamorgana****
“GIVEN, RED FLOWER.”ucap Hana sembari berkonsentrasi penuh pada telunjuknya.
Seorang pria tua yang nampak tidak asing berjalan pelan mengiringi langkah Hana, ia berdiri tepat dibelakang punggung gadis itu.
Ia adalah satu dari tiga tetua pemimpin garis keluarga Tsukiyama yang hadir dalam pertemuan sebelumnya.
“Terima kasih bantuannya, kakek.”
“Tolong jangan berada terlalu jauh dariku.”pinta Hana pada tetua garis keluarga Tsukiyama itu.
Sang tetua menatap punggung Hana sembari tersenyum pelan, sesekali helai dari janggutnya yang tak beraturan bergerak perlahan akibat sapuan angin laut yang menyapu kala itu.
“Syukurlah…”pikir sang tetua, sesaat ia teringat kembali akan gambaran dirinya dikala muda.
“Gadis ini telah mencapai potensi terkuat dari GIVEN miliknya.”
“Setelah melaluinya selama bertahun-tahun, aku bersyukur dapat melihatnya sekali lagi.”
‘Kebangkitan GIVEN’
“Aku tidak tau bagaimana cara menjelaskan fenomena ini, tubuhku menjadi lebih tinggi, kulitku menjadi lebih kencang, dan kaki ku dapat mencapai jarak yang lebih jauh saat aku berjalan, tapi sayang sekali ukuran ku yang disini nampaknya tidak terlalu berkembang.”ucap Hana sembari meraba-raba dada milik nya.
“Selamat ulang tahun.”ucap sang tetua Tsukiyama pada Hana, namun Hana tidak memperhatikan. Ia nampak belum memahami perubahan yang terjadi pada dirinya.
“Eh?”Hana merespon dengan wajah bingung.
“Kemampuan ku memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk melompati usianya lebih cepat dari semestinya, saat ini kau telah melompat dari usia mu yang ke 10 menuju usiamu yang ke 17 tahun.
“Masa keemasan dari kemampuan GIVEN adalah ketika pemiliknya berusia 17 tahun, untuk itulah aku mengirimmu lebih cepat menuju kesana.”
“GIVEN: SWEET SEVENTEN, seperti itulah kemampuan milikku.” jelas sang tetua pada Hana.
Hana dengan seksama memperhatikan perubahan yang terjadi pada tubuhnya, baik dari ujung rambut hingga ke ujung kaki kini telah benar-benar sepenuhnya bertransformasi layaknya gadis berusia 17 tahun sepenuhnya.
Hana yang sebenarnya masihlah seorang anak-anak, kemampuan GIVEN miliknya dikenal sebagai RED FLOWER, suatu keadaan dimana ia dapat menciptakan bunga berwarna merah yang kelopaknya menyerupai burung Flamingo, sejujurnya ia sendiri tidak mengetahui manfaat dari GIVEN miliknya tersebut saat pertama kali ia membangkitkannya.
Saat usianya menginjak angka 7 tahun, ia dapat menumbuhkan bunga merah dengan kelopak berbentuk burung Flamingo itu setinggi 7cm, ia sering memberikan bunga itu sebagai hadiah pemberian untuk sang ibu, meskipun sang ibu seringkali mengalami iritasi mata ringan saat berdekatan dengan bunga itu.
Namun kini semuanya berbeda, Hana yang telah melompati usianya menuju 17 tahun telah mencapai masa keemasan dari kemampuan miliknya, GIVEN miliknya berkembang berkali-kali lipat dibandingkan saat terakhir kali ia menggunakannya, bunga merah setinggi 7cm itu kini dapat ia tumbuhkan berkali-kali lipat besarnya.
“Ini..”Amane nampak memperhatikan bunga merah raksasa yang berdiri kokoh dihadapannya.
“Aduh, mataku perih.”
Charle mengusap kedua matanya dengan lengan baju, nampaknya ia mengalami iritasi mata ringan setelah berdiri dalam jangkauan bunga merah raksasa itu.
__ADS_1
“Bunga merah raksasa ini, tidak salah lagi.. Ini adalah jenis dari Anthurium Scherzerianum, atau juga dikenal sebagai bunga Flamingo Lily, aku pernah membacanya dalam ensiklopedia di perpustakaan milik kediaman Koharu-sama.”pikir Amane setelah memperhatikan dengan jelas tanaman raksasa dihadapannya kala itu.
“Oh, syukurlah kalian selamat..”sang tetua dari garis keluarga Tsukiyama yang sebelumnya berada bersama Hana menghampiri Amane dan yang lainnya, ia melambaikan tangan sembari menyapa dari kejauhan.
“Uhuk…”
Amane tiba-tiba saja merasakan sensasi pedih pada tenggorokannya, tidak diketahui pasti namun tenggorokannya kini terasa benar-benar kering hingga membuatnya batuk.
“Kau meminumnya?”tanya sang tetua sembari menepuk-nepuk punggung Amane
“Pulau ini memiliki air yang diciptakan dari kemampuan GIVEN milik seseorang, jika telah terlanjur masuk kedalam tubuh maka air ini akan menjadi racun bagi siapapun yang meminumnya, meskipun efeknya ringan.”
“Bunga merah raksasa ini memiliki kemampuan alamiah untuk menetralisir racun di udara, saat ini seluruh pulau adalah perwujudan dari racun yang sangat besar, dan hanya orang-orang yang berada dibawah kelopak bunga ini yang terlindung dari racunnya.”
“Air dari pulau fatamorgana yang mengalir dalam tubuhmu telah dinetralisir oleh keberadaan bunga ini, singkatnya kemampuan dari GIVEN RED FLOWER telah mengalahkan segala unsur negatif yang diciptakan oleh pulau. Oleh sebab itu tenggorokanmu menjadi kering.”jelas sang Tetua pada Amane.
“Te..terima kasih, aku sudah agak baikkan.”balas Amane sembari berusaha mengatur nafasnya.
‘…’Amane menatap Charle dengan agak sedikit khawatir, ia menyadari bahwa sebelumnya Charle dan Sheele telah meminum air yang sama.
“Aku tidak apa-apa.”Charle menengadahkan jempolnya sebagai pertanda ia baik-baik saja.
“Aku juga.”sambung Sheele bersamaan.
“Kemampuan HIDE milik Sheele sebelumnya tidak bisa digunakan, tapi sekarang semuanya kembali normal. Sheele telah menyembunyikan air dalam tubuh ku dengan kemampuan miliknya.”ucap Charle pada Amane.
Pulau fatamorgana diciptakan dari kemampuan GIVEN milik seseorang, segala sesuatu yang berada didalamnya dibuat mengikuti aturan dari pemilik GIVEN itu sendiri. Jika pulau ini tidak menginginkan ada pengguna GIVEN lain di wilayah kekuasaanya, maka itu akan berjalan sesuai kehendaknya.
Hanya saja…
Semua aturan itu tidak berlaku bagi siapapun yang berlindung dibawah kelopak raksasa flamingo lily…
Tanahnya menjadi berlubang, tanaman raksasa itu seperti melayang layaknya dinding kokoh yang tak tertembus, meskipun pada dasarnya ia masih menapak diatas permukaan.
Namun karena pulau ini dirancang untuk tidak dapat ditemukan, maka perwujudan tanah dari dunia luar menjadi tidak kelihatan dan hanya meninggalkan lubang transparan jika dilihat dari dalam pulau, namun lubang ini tidak membuat siapapun yang berdiri diatasnya terjatuh.
“Waah, kita seperti melayang di udara.”ucap Charle sembari sesekali melompat-lompat diatas permukaan transparan tersebut.
“Sudahlah, Sheele…Semuanya akan baik-baik saja.”
Charle nampak berusaha menghibur saudara kembarnya, ia masih nampak murung setelah sebelumnya gagal menyelamatkan sang Paman yang mengorbankan hidupnya untuk mereka.
“Semua akan baik-baik saja…”Amane dengan spontan merangkul kepala Sheele untuk membuatnya sedikit lebih tenang.
“Tidak perlu menangis seperti itu, Sheele.”dari arah kejauhan, suara seseorang terdengar memecah keheningan.
Tidak hanya satu, langkah kakinya terdengar cukup rapat meskipun wujudnya masih diselimuti oleh kabut yang menutupi pulau.
Terdengar sangat ramai, mungkin puluhan, atau mungkin juga ratusan, langkah kaki itu semakin dekat berjalan menuju Amane dan yang lainnya.
“Aku masih hidup kok.”ucap seseorang yang tentunya tak asing bagi Charle dan Sheele, ia adalah paman dari keluarga Tsukiyama yang sebelumnya tersapu oleh ombak.
Ia muncul bersamaan dengan ratusan anggota keluarga Tsukiyama yang sebelumnya hilang tersapu kabut dalam pertemuan, Dan yang paling mengejutkan adalah…
Dua dari tiga tetua pemimpin keluarga Tsukiyama juga berada disana, bersama rombongan itu.
“Dua dari tiga pempimpin, dan 50 persen dari anggota keluarga Tsukiyama menginginkan Tsukiyama Aldera Gardner menjadi pemimpin baru.”ucap pria tersebut dengan angkuh pada sang tetua dari pihak Hana.
Pria itu memiliki suara dari dua orang tetua untuk menjadikan Tsukiyama Aldera Gardner menjadi pemimpin yang baru, sementara dari sisi Tsukiyama Hana Vermillia hanya memiliki satu suara dari tetua lama.
Dua melawan satu, siapapun yang menolak penetapan Tsukiyama Aldera Gardner sebagai pemimpin yang baru akan disingkirkan.
“Paman, apa maksudnya ini?”
__ADS_1
Sheele bertanya dengan agak sedikit gemetaran, meskipun begitu ia masih berusaha untuk mendekat ke arah sang paman, namun Charle dan Amane menghalangi langkah nya.
Sang tetua dari sisi Hana Vermillia berjalan perlahan menuju pria yang baru saja membuat keputusan sepihak tersebut, ia nampak menahan perasaan campur aduk dalam dirinya.
“Tuan Johannson, aku sungguh penasaran dengan apa yang kau lakukan pada anggota keluarga lainnya dalam pertemuan yang tidak setuju pada pilihanmu.”tanya sang tetua pada pria yang belakangan diketahui bernama Johansson itu.
“Aku ini juga anggota keluarga lho, tetua. Jadi tolong jangan hilangkan marga dibelakang nama ku.”balas pria itu dengan nada sedikit meremehkan pada sang tetua.
“Hey… Kemarilah.”pria bernama Johansson itu nampak memanggil seseorang, tak lama kemudian diiringi oleh kedatangan seorang gadis dengan mata kemerahan yang berjalan membelah kerumunan. Ia adalah Tsukiyama Lavia Mirage.
“Pulau ini adalah kemampuan dari GIVEN milik nya, sungguh sangat menyedihkan. Ia bahkan tidak bisa membedakan mana yang nyata dan yang tidak nyata, mungkin saja dia tidak sadar kalau dia sudah menghabisi orang-orang dalam pertemuan ahahaha…”ucap Johansson diiringi oleh tawa anggota keluarga lainnya.
Lavia tidak mengerti dengan apa yang ia lakukan, semua perbuatannya lebih terlihat seperti hasil manipulasi seseorang. Ia dimanfaatkan oleh Johansson untuk menghabisi anggota keluarga yang kontra terhadap pemilihan Tsukiyama Aldera Gardner sebagai pemimpin yang baru.
“Hey, apa kalian semua nyata?”ucap Lavia pelan dengan tatapan yang kosong.
Semakin keras, tawa dari anggota keluarga Tsukiyama di pihak Johansson yang merasa puas setelah memperalat Lavia untuk menghabisi anggota keluarga lainnya terdengar semakin keras hingga terasa hampir memenuhi seluruh pulau.
Mereka tidak memedulikan apapun selain kekuasaan, bahkan untuk memperalat seseorang yang tidak berdosa untuk menyingkirkan sesama anggota keluarga pun terasa bagai sebuah permainan yang menyenangkan.
“Ah, aku berterima kasih pada siapapun pemilik pohon raksasa ini, sekarang aku telah mendapatkan kembali seluruh kemampuan GIVEN milikku yang telah dihilangkan oleh anak itu.”ucap Johansson sembari tersenyum puas pada Charle.
“Gadis yang menciptakan pohon ini, dia adalah salah satu kandidat pemimpin yang baru kan?”sambung Johansson dengan tawa yang begitu lepas.
“Memikirkan bagaimana anak yang masih kecil harus hidup sendirian di dunia tanpa kedua orang tuanya membuatku merasa sedikit sesak, mungkin aku akan mengirimnya kepada orang tuanya di akhirat setelah ini.”
“Tapi tidak perlu terlalu terburu-buru, pertunjukkan yang sebenarnya baru saja dimulai.”ucap Johansson dengan wajah menyeringai.
“Jadi…”
“Apa keputusan mu kali ini, tetua?
Johansson mencengkram erat pundak sang tetua dengan nada yang terdengar mengintimidasi.
“Keputusan ku adalah…”sang tetua menatap tajam pada Johansson.
****1000 Tahun yang lalu…****
“Namaku Tsukiyama Theresia Iris!”teriak seorang anak perempuan dengan rambut hitam sebahu sembari bersuara lantang dihadapan anak-anak lainnya.
“Hei, Theresia.. Kau kan tidak berasal dari keluarga kepala suku, jangan pakai marga kepala suku kita dibelakang namamu seenaknya.”balas seorang anak laki-laki dengan nada protes pada Theresia yang berdiri dihadapannya.
“Desa tempat kita tinggal bernama Desa Tsukiyama, dinamai dengan nama marga kepala suku, jadi kupikir tidak masalah jika siapapun ingin membawa marga Tsukiyama dibelakang nama mereka, ini adalah bukti kalau kita adalah bagian dari desa ini.”balas Theresia bersemangat.
“Mulai sekarang aku akan membawa nama Tsukiyama didalam hatiku selamanya!”sambung Theresia pada teman-temannya
“Dia mulai lagi, memutuskan seenaknya.”pikir anak-anak lain yang mendengar ucapan Theresia kala itu.
****FLASHBACK END****
“Leluhurku, Tsukiyama Theresia Iris, telah menjaga ikatan dalam keluarga ini selama ribuan tahun.”sang tetua dengan cepat menyilangkan kedua jari tangannya dihadapan Johansson.
"Dan setiap orang yang terlahir dalam garis keluarga ini akan membawa nama Tsukiyama didalam hati mereka selamanya, meskipun mereka telah tiada!"
"Orang-orang busuk seperti kalian tidak akan pernah mengerti..."
Kilauan cahaya menyeruak sejalan dengan apa yang ia lakukan, semua orang yang berada disana menutupi mata mereka, cahaya nya begitu menyilaukan hingga membuat siapapun yang berada disana tak sanggup untuk membuka mata mereka.
“GIVEN: SWEET SEVENTEEN.”
Charle, Sheele, dan Amane telah melompati usia mereka menuju angka 17 tahun, bersama dengan Hana.
__ADS_1
***