Complexity

Complexity
BAB I CHAPTER 1: Gadis Pindahan (REVISI UPDATE)


__ADS_3

"Hey sudah dengar belum? Katanya ada murid pindahan di sekolah kita."


"Dia cantik lho…"


"Sepertinya aku harus merubah penampilan agar tidak kalah bersaing.."


Tampak beberapa siswa sedang mengobrol satu sama lain dan membicarakan seseorang.


Kabar mengenai seorang gadis yang baru saja pindah ke sekolah ini menyebar begitu hangat. Bahkan, sepanjang jam pelajaran mayoritas siswa hanya membicarakan tentang gadis pindahan yang menurut kabarnya memiliki wajah yang cantik itu. Semua orang begitu penasaran dengan kelas mana yang akan dituju olehnya.


Hanya saja…


"Aku tidak tertarik."gumam Hikasa dengan nada datar.


****....TENG TENG....****


"Baiklah, sekian pelajaran hari ini."ucap seorang guru sembari mengakhiri pelajaran siang itu.


"Aah.. Akhirnya istirahat.."


"Hey.. katanya ada menu baru di kantin lho, mau coba gak?"ucap seorang siswi perempuan yang duduk tak jauh dari Hikasa.


"Aku titip dong.."balas siswi perempuan lainnya sembari memberikan selembar uang kertas.


Hikasa bergerak perlahan meninggalkan kursinya sembari membawa kotak bekal makan siang miliknya.


Akira Hikasa, 16 tahun. Kehidupan masa sma nya baru saja dimulai. Berawal dari keberhasilan Dokter Tsukiyama yang membawa dampak besar bagi desa tempat tinggal Hikasa, Desa Okanabe.


Sejak rumah sakit pertama berdiri di Desa Okanabe, infrastruktur-infrastruktur pendukung lain mulai dibangun bersamaan setelahnya, sehingga membuat Desa Okanabe kini bertransformasi menjadi tempat yang lebih modern.


Meskipun telah mendapat perhatian serius dari Pemerintah, sayangnya Desa Okanabe masih belum memenuhi kriteria untuk mendapatkan bangunan sekolahnya sendiri. Hal ini dikarenakan usia penduduknya yang didominasi oleh mayoritas orang-orang tua dan hanya menyisakan Hikasa sebagai satu-satunya anak yang memenuhi kriteria usia pendidikan dasar.


Pemerintah memberikan opsi alternatif bagi Hikasa untuk menempuh pendidikannya, dengan cara memberinya kesempatan untuk mengikuti kelas akselerasi guna mengejar ketertinggalan pendidikan.


Hikasa yang telah banyak menyerap ilmu dari kakek dan nenek yang merawatnya menyelesaikan kelas akselerasi tersebut dengan sempurna, hingga diusianya yang ke 16 tahun kini Hikasa telah berhasil duduk dibangku Sekolah Menengah Atas.


**


"Sekolah ini benar-benar membosankan."guman Hikasa dengan nada protes.


"Lwagi pwula Kwenapa sekolah ywang membwoswankan ini tidwak diserang wabwah zombie sawja sih, mungkwin akan lebih menarik."gerutunya dengan mulut yang penuh dengan kroket.


Kebiasaan mengomel sendirian dengan mulut penuh kroket seperti ini sudah menjadi rutinitas yang biasa ia lakukan dijam istirahat.


"Begitu ya... Aku juga berpikir seperti itu, sekolah yang membosankan ini seharusnya dimusnahkan saja."balas suara seseorang yang tiba-tiba saja menyela omelan Hikasa.


Entah sejak kapan ia berdiri disana. Mungkin sejak awal, hanya saja Hikasa tak menyadari keberadannya karena terlalu sibuk mengomel sendirian.


Sosok misterius itu memiliki rambut kecoklatan sepunggung dan poni yang panjangnya sepintas hampir menutupi kedua matanya, sehingga menimbulkan kesan manis bagi siapapun saat pertama kali bertemu dengannya.


Dia adalah gadis pindahan yang diceritakan banyak orang hari ini..


Seorang gadis pindahan berwajah cantik yang menjadi bahan pembicaraan banyak orang, dia adalah…


"Di..dia siapa ?!!"Hikasa terkejut setengah mati dengan kehadiran gadis pindahan yang datang secara tiba-tiba dihadapannya.


“Chifuyu Amane..”ucap gadis pindahan itu memperkenalkan diri.


“Hei..tunggu dulu…”pikir Hikasa dengan wajah canggung.

__ADS_1


“Keadaan beruntung macam apa ini.”


Hikasa merasa telah menemukan keberuntungan besar setelah gadis pindahan dengan wajah cantik yang dibicarakan banyak orang hari ini mengajaknya berkenalan.


“Pertama-tama perkenalkan, Namaku Chifuyu Amane. Aku adalah pelayan keluarga yang bekerja untuk Tsukiyama Koharu.”ucap Amane memperkenalkan diri.


“Beberapa bulan dari sekarang, Tsukiyama Koharu akan ditransfer dari Sekolah Khusus Wanita di Roma, ke sekolah rakyat biasa ini. Aku ditugaskan olehnya untuk menemuimu sebagai satu-satunya kenalan yang ia miliki di Negara ini.


“Sekolah rakyat biasa katanya.”pikir Hikasa dengan wajah yang kecut menanggapi perkataan gadis bernama Amane itu.


“Saat berada di Roma, Tsukiyama Koharu memberikan informasi tentang seorang anak laki-laki yang memiliki hubungan dengannya dimasa lalu. Dan laki-laki itu adalah dirimu, Akira Hikasa.”


Amane menatap Hikasa dengan pandangan tajam, nada bicaranya pun kini terdengar dingin dan berbeda dari sebelumnya.


'GLEG' Hikasa menelan ludahnya sesaat setelah melihat perubahan gaya bicara pada gadis bernama Amane tersebut.


“Nyawamu dalam bahaya.”sambung Amane pelan pada Hikasa.


Amane menyingkap sedikit bagian rok yang dikenakannya hingga memperlihatkan sebuah pisau jenis bayonet yang terikat diantara paha-nya. Ia menarik bayonet itu sembari membuat pergerakan untuk menyerang Hikasa.


“Oi, yang benar saja.”Hikasa yang mulai sadar akan situasinya berusaha untuk melarikan diri dari Amane.


Pergerakan bayonet milik Amane meleset beberapa centimeter dari tubuh Hikasa, hingga membuat Kroket dan bekal makan siang milik Hikasa yang sedari tadi dipegangnya tumpah berhamburan.


“Bukannya beberapa saat yang lalu kau bilang kalau kau ini pelayan teman masa kecilku, kenapa kau malah menyerangku!”teriak Hikasa dengan nafas terengah-engah.


“Aku bisa mati tau!”sambungnya dengan wajah yang panik setengah mati.


Ia berlari sejauh mungkin dari Amane yang berusaha menyerangnya.


“Jangan khawatir, ini hanya pisau mainan.”ucap gadis pindahan bernama Amane itu dengan santainya. Ia kembali menyimpan pisau bayonet mainan itu dibalik rok yang dikenakannya. Hikasa merespon ucapan santai Amane dengan tersenyum kecut. Sesaat kemudian, Amane mengacungkan jari telunjuknya dihadapan Hikasa sembari memberi peringatan.


“Mulai hari ini sampai seterusnya akan ada ratusan orang yang mengincarmu.”jelas Amane pada Hikasa.


“Diincar? Ta..tapi kenapa? aku tidak melakukan hal-hal yang melanggar hukum kan?”balas Hikasa setelah mendengar peringatan dari Amane.


“Aku akan menjelaskan detailnya sesegera mungkin, saat waktunya tepat. Untuk saat ini tugas pertama mu adalah mengantarku berkeliling sekolah ini.”balas pada Amane pada Hikasa sembari bergerak perlahan meninggalkan tempat itu.


“Menyebalkan...”


“Dia ini sepertinya tidak normal.” pikir Hikasa kala itu.


**


Terik matahari tidak seperti biasanya. Berkilauan dan panasnya seperti berada beberapa centi diatas kepala, aspal kehitaman tampak menguap seiring panas matahari yang membakarnya.


Rasanya begitu menyebalkan, jikalau dikala panas terik seperti ini harus mengayuh sepeda dengan seorang gadis yang menumpang dikursi belakang. Meskipun berboncengan dengan sepeda itu sudah jelas dilarang, tetapi ia tetap memaksa duduk disana.


Akira Hikasa, 16 tahun. Kisah masa mudanya dibangku sekolah menengah atas belum lama dimulai, awalnya semua berjalan dengan lancar, sampai hari dimana seorang gadis pindahan bernama Amane muncul dan menyerangnya secara tiba-tiba kala itu di atap sekolah.


“Sepi sekali...”ucap Amane sembari memperhatikan tempat itu.


Amane membuat gerakan pemanasan kecil untuk meregangkan ototnya yang kaku.


“Ini kan jam pulang sekolah, orang-orang sedang sibuk dengan aktivitas klub.”balas Hikasa sembari menuntun sepeda miliknya menuju ke sebuah parkiran yang tak jauh dari sana.


“Pijakan.”ucap Amane sembari menunjuk ke arah sepatu milik Hikasa.


“Ha?”Hikasa nampak tidak mengerti dengan ucapan Amane.

__ADS_1


“Tanah kering yang menjadi pijakanmu.”


“Apa kau mendengarnya? irama dari hentakan sepatu yang beradu dengan kerasnya tanah.”


Amane menghentakkan kakinya ke tanah hingga menimbulkan suara gertakan yang cukup keras.


”Ya, kurasa tanah disini memang cukup keras sih. Lagipula sekarang memang sedang musim kemarau.”balas Hikasa sembari menghentakkan sepatunya ke tanah mengikuti Amane.


Amane mengambil sesuatu dari kantong bajunya, Benda itu adalah sebuah jarum.


“Jarum?”Hikasa nampak bingung.


Amane menjatuhkan jarum tersebut hingga membentur tanah. ‘TING’ Jarum itu jatuh membentur tanah dan menimbulkan suara yang agak samar.


“Sekarang apa kau bisa mendengarnya ?”tanya Amane.


“Itu mustahil, sulit untuk mendengar suara sekecil itu dengan suara angin seperti sekarang.”balas Hikasa pada Amane sembari memperhatikan jarum yang dijatuhkan Amane sebelumnya.


Hikasa mengangkat wajahnya ke arah Amane sesaat setelah memperhatikan jarum yang tergeletak di tanah tersebut, namun Amane yang sebelumnya berdiri dihadapannya kini telah lenyap dari pandangan.


“Seni membunuh, kemampuan untuk melumpuhkan mangsa dalam kesunyian.”ucap Amane pelan.


“Eh?”Hikasa sedikit terkejut dengan pergerakan Amane yang datang secara tiba-tiba, ia tidak menyadarinya sama sekali.


Pisau bayonet milik Amane menghadap sejajar dengan leher Hikasa, posisi Hikasa benar-benar telah terkunci oleh bayonet milik Amane, bahkan jika ia melakukan pergerakan beberapa centi saja maka mata bayonet itu akan langsung menyentuh kulit lehernya.


Amane berdiri dengan posisi membelakangi Hikasa diikuti aura membunuh yang begitu mematikan.


“Se-sejak kapan.”pikir Hikasa.


“Suara jarum yang jatuh membentur tanah menggambarkan seberapa samar suara pergerakan yang dilakukan oleh musuh. Jika tidak bisa mendengarkan suaranya, maka kau tidak akan bisa menyadari pergerakan orang-orang yang akan menyerangmu secara tiba-tiba.”ucap Amane pada Hikasa.


Amane menurunkan bayonet yang sebelumnya membidik leher Hikasa.


“Seekor kalelawar memiliki penglihatan yang buruk, namun mereka dapat berburu pada malam hari dengan mengandalkan pendengaran mereka.”


“Kalelawar menggunakan teknik yang disebut dengan echolocation, kelelawar mendeteksi lokasi mangsa atau lawan dengan mengeluarkan suara khas mereka pada saat terbang atau saat diam, kelelawar bisa memperkirakan kondisi di sekitar mereka melalui pantulan suara yang masuk ke dalam telinga.“


“Jika indra pendengaran manusia meningkat seperti kalelawar, maka insting dan kesadaran untuk mengetahui posisi lawan akan semakin kuat.”


“Pergerakan ku barusan adalah gerakan yang suaranya jauh lebih tenang dibandingkan dengan suara jarum yang jatuh membentur tanah, tentunya orang-orang yang mengincarmu menguasai kemampuan yang sama."lanjut Amane menjelaskan.


Hikasa yang menyadari kelemahannya hanya diam sembari menundukkan kepalanya.


“Jika itu bukan seranganmu.”ucap Hikasa dengan nada sedikit gemetaran.


“Kau sudah mati satu kali.”balas Amane memotong ucapan Hikasa.


“Sepanjang waktu kedepan setelah pulang sekolah, aku akan melatihmu mendengarkan suara jarum yang jatuh.”ucap Amane pada Hikasa.


“Aku memang tidak mengerti situasinya, seperti apa orang-orang yang mengincar ku, dan kenapa orang-orang mengincar ku, tetapi…”


“Aku harus hidup untuk bertemu dengannya, Tsukiyama Koharu.”ucap Hikasa.


Hikasa berusaha membangkitkan kepercayaan dirinya, sesaat Amane nampak tersenyum pelan setelah mendengar perkataan itu.


“Ngomong-ngomong, bayonet ini benar-benar cuma mainan kok.”ucap Amane sembari memain-mainkan bayonet miliknya.


“…”Hikasa merespon ucapannya dengan wajah yang kecut.

__ADS_1


**


__ADS_2