Complexity

Complexity
BAB I CHAPTER 3: Gadis Pindahan Ini Ingin Menantang 300 Orang Sekaligus ?


__ADS_3

Beberapa hari berlalu semenjak tragedi penyerangan misterius yang menimpa Hikasa dan Amane.


Setelah kejadian tersebut, Hikasa dan Amane memutuskan untuk bergabung dengan sebuah klub yang berada di SMA mereka, tentunya dengan tujuan tertentu.


Klub tersebut bernama Klub Supranatural.


Klub supranatural adalah sebuah klub yang dibentuk dengan tujuan untuk menarik rasa penasaran orang-orang akan sesuatu yang berhubungan dengan dunia mistis. Seperti hantu, yokai, roh penasaran, serta berbagai hal-hal yang keberadaanya berada diluar nalar Manusia.


Klub ini diketuai oleh seorang pria dengan bingkai kacamata bulat bernama Akihisa Yoshifumi (kelas dua), dan seorang gadis sekretaris klub berambut ponytail keemasan bernama Arata Hikari (kelas dua).


Sebelum kedatangan Hikasa dan Amane, Klub ini hanya memiliki dua orang anggota saja, bahkan menurut kabar yang beredar, klub ini akan segera dibubarkan karena tak lagi memenuhi syarat keanggotaan.


Namun, keberadaan klub supranatural agaknya tertolong berkat kehadiran Hikasa dan Amane. Setelah mereka memutuskan untuk bergabung, kini klub supranatural memiliki empat orang anggota aktif didalamnya.


“Kau yakin ingin bergabung dengan klub ini?”tanya Hikasa pada Amane.


“Aku memiliki tujuan.”balas Amane.


“Duit kan.”potong Hikasa dengan pandangan kecut.


“Itu salah satunya.”balas Amane spontan.


“Sejak pindah kesini, aku sangat miskin bahkan sampai-sampai aku tidak punya uang untuk bayar sewa.”lanjutnya pada Hikasa dengan nada lesu.


“Memangnya Gadis macam apa yang tidak bisa mengatur keuangannya.”gumam Hikasa setelah mendengar pengakuan Amane.


Hikari datang sembari membawa 3 buah cangkir berisi teh hangat  dan meletakkannya diantara meja tempat Hikasa dan Amane mengobrol.


“Terima kasih, Hikari-san."ucap Hikasa.


“Sama-sama.”balas Hikari tersenyum.


“Anu, sebenarnya masih ada hal yang membuatku penasaran.”ucap Hikari menyela obrolan.


“Orang-orang yang menyerang Chifuyu-san sebelumnya, mereka itu siapa ?”tanya Hikari dengan rasa penasaran.


“Amane.”potong Amane.


“Panggil Amane saja.”pintanya pada Hikari.


“Ba-baik, Amane.”


Hikari merasa agak canggung setelah Amane memintanya untuk memanggilnya dengan nama depan.


“Mereka adalah pelayan yang bekerja pada keluarga Koharu-sama, sama seperti ku.”ucap Amane menjelaskan.


“Mereka salah satu dari pelayan seperti Amane tapi kenapa mereka menyerang rekannya sendiri? Ini agak membingungkan."pikir Hikasa.


“Submachine gun dan granat asap yang mereka gunakan sebelumnya berasal dari sini.”


Amane mengeluarkan sesuatu dari kantung tas miliknya, benda itu adalah sebuah kartu berwarna merah dengan garis kehitaman yang didominasi oleh angka-angka pada permukaannya.


“CREDIT CARD?!”Hikasa terkejut.


“Dia punya kartu kredit tapi masih gak bisa bayar sewa?”Hikasa agak kesal setelah mengingat kembali pengakuan Amane sebelumnya.


“Bukan Credit Card biasa, ini adalah Unlimited Credit Card, kartu ini bisa membeli apapun tanpa terbebani oleh limit.”


“Kartu ini hanya diberikan pada orang-orang yang berhubungan dengan keluarga Tsukiyama Koharu-sama, tiga orang butler sebelumnya memanfaatkan kartu ini untuk membeli  submachine gun dan granat asap dari pasar gelap.”terang Amane menjelaskan.


“Kalau begitu kedudukan kita saat ini sama.”potong Hikasa menimpali penjelasan Amane.


“Jika mereka menggunakan uang yang tak terbatas untuk menyerang, maka kita akan menggunakan uang tak terbatas untuk membeli pertahanan.”


“Kita bisa menyewa jasa perlindungan dari kepolisian atau gangster setempat dengan kartu itu.” lanjut Hikasa.


“A..anu, aku gak mengerti nih.”ucap Hikari menanggapi obrolan Hikasa dan Amane.


Amane berdiri dari kursinya sembari memandang Hikasa dengan pandangan serius.


"Kau pikir uang dapat melindungimu?"ucap Amane dengan tatapan dingin pada Hikasa.


"Jika kartu itu benar-benar bisa membeli apapun, maka kita dapat membangun pertahanan yang kuat dan menekan mereka dengan jumlah yang kita miliki. Orang-orang kuat yang berkuasa juga menggunakan kekuatan uang untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh mereka."balas Hikasa.


"Hikasa, akan kuberi tahu sesuatu."


"Sesuatu yang mungkin tak dimengerti oleh orang sepertimu."


Aura yang menyelimuti ruangan itu mendadak berubah, nada bicara Amane yang dingin terasa menembus permukaan kulit, hingga membuat Hikari mengurungkan niatnya untuk menyela pembicaraan mereka.


**


"A-anu, aku masih belum mengerti sih."


"Tapi kenapa aku harus mengantar kalian ke tempat kayak gini."tanya Hikari dengan wajah kebingungan.


Sesuai arahan Hikari yang mengenal wilayah ini lebih dari siapapun, Hikari mengantarkan Hikasa dan Amane ke sebuah tempat yang menyewakan jasa perlindungan dan bodyguard.


Amane bermaksud untuk membuktikan teori money power milik Hikasa, Hikasa beranggapan jika uang dapat digunakan untuk membangun pertahanan yang kuat dan melindunginya dari ancaman.


Tempat ini sangat terkenal akan jasanya yang professional, bahkan jasa perlindungan dari tempat ini telah digunakan oleh kaum kelas atas seperti Presiden dan pejabat-pejabat Pemerintahan.


Hikari memandu Amane dan Hikasa memasuki tempat itu, suasananya terasa sepi, ditambah lagi tak banyak orang yang melewati tempat itu, rasanya seperti berada disebuah tempat yang benar-benar terisolasi dari khalayak umum.


“Sebenarnya dia ini gadis macam apa sih.”pikir Hikasa pada Hikari.


Hikari mendapatkan akses yang sangat mudah untuk berhubungan secara langsung dengan perusahaan yang memberikan pelayanan dan perlindungan yang umumnya sangat sulit untuk diakses oleh penduduk sipil (biasanya harus menggunakan perantara tertentu)


“Dia memelihara dua ekor anjing khusus yang gak bisa didapatkan izinnya dengan mudah, dan sekarang dia dengan gampangnya dapat akses masuk ke tempat seperti ini ?!”Hikasa semakin dibuat takjub dengan koneksi kuat yang dimiliki Hikari.

__ADS_1


“Selamat datang.”sambut seorang pria dengan setelan jas kehitaman yang menjaga tempat tersebut.


“Pelayanan macam apa yang kalian inginkan ?”pria dengan setelan kehitaman tersebut mengajukan pertanyaan."


“Orang-orang kami terdiri dari mantan prajurit, anggota gangster aktif, dan mantan kriminal lintas Negara, tentunya mereka sangat professional.”sambungnya dengan nada agak menantang pada mereka bertiga.


“Apa diantara mereka ada penembak jitu?”tanya Amane.


“Kami memiliki pensiunan tentara penembak jitu professional. Meskipun sudah tidak aktif di militer, tapi kemampuan mereka masih terasa dengan tajam.”balas pria tersebut pada Amane.


“Aku ingin seratus orang pengguna senjata otomatis jarak dekat, seratus orang penembak jitu dengan silencer, dan seratus orang yang menguasai beladiri jarak dekat.”pinta Amane.


Pria dengan setelan kehitaman tersebut agak terkejut setelah mendengar permintaan Amane.


“Menarik…”ucap pria tersebut sembari memberikan sebuah selebaran dan pulpen pada Amane.


“Silahkan isi nama klien, jenis layanan yang dipesan, dan nama orang yang diprioritaskan.”jelas Pria tersebut pada Amane.


Amane mulai mengisi selebaran tersebut


"Jumlah pembayarannya satu milyar yen."ucap pria dengan setelan jas kehitaman tersebut.


“Hikasa-san, apa Amane akan baik-baik saja?”tanya Hikari dengan wajah khawatir pada Hikasa.


“Amane… Apa yang sebenarnya dia renacanakan?”pikir Hikasa.


Amane menghentikan gerak pulpennya, ia merobek selebaran tersebut hingga menjadi potongan kecil.


“Kliennya adalah aku, targetnya adalah aku.”ucap Amane pada pria dengan setelan kehitaman tersebut.


“HAAA!!”Hikasa dan Hikari terkejut bersamaan.


“Aku akan menyewa tiga ratus orang untuk memusnahkan ku.”sambungnya dengan nada dingin pada pria tersebut.


Pria dengan setelan kehitaman itu menyambut permintaan Amane dengan tersenyum puas.


“Benar-benar menarik.”pikir pria tersebut setelah mendengar permintaan Amane.


“Kalau begitu silahkan tanda tangani surat ini, klien yang telah meminta untuk dihabisi tidak diperkenankan mengambil tindakan hukum atas segala kemungkinan terburuk yang terjadi.”jelas pria tersebut pada Amane.


Amane menandatangani surat itu tanpa ragu sedikitpun.


“Silahkan bawa walkie talkie ini untuk berkomunikasi.”lanjut pria dengan setelan kehitaman tersebut memberikan sebuah walkie talkie pada Amane.


“A..Amane-san.”Hikari berusaha untuk menghentikkan niat Amane.


“Jangan khawatir.”ucap Amane tersenyum pada Hikari.


“Amane, sudah cukup ini terlalu berlebihan.”Hikasa berusaha menahan Amane dengan


memegang pundaknya.


“…”Hikasa agak terkejut setelah mendengar perkataan Amane.


“Memusnahkan berarti melindungi, melindungi sesuatu yang berharga bagi Koharu-sama, dan memusnahkan segala ancaman bagi sesuatu yang Koharu-sama ingin lindungi.”ucap Amane pada Hikasa.


Perkataan Amane itu mengingatkan kembali Hikasa saat Amane berusaha menyerangnya pertama kali diatap Sekolah.


“Kau akan dimusnahkan.”ucap Amane dalam ingatan Hikasa kala itu.


“Memusnahkan berarti melindungi.”pikir Hikasa.


“Melindungi sesuatu yang berharga bagi Koharu.”


“Yaitu…”


“AKU.”


Hikasa telah menyadari sebuah kebenaran dari gadis misterius yang tiba-tiba saja menyerangnya diatap sekolah.


**


Amane telah berada pada posisi yang ditentukan, tepatnya pada sebuah lapangan dengan rumput taktis yang menjadi fasilitas khusus yang dimiliki oleh perusahaan penyedia jasa perlindungan tersebut.


Amane memejamkan matanya, ia berusaha fokus untuk menciptakan level konsentrasi tertinggi dalam hati dan pikirannya.


Seratus orang penembak jitu dengan silencer telah tersebar acak disetiap sudut lapangan tersebut, tentunya tidak akan mudah untuk menebak keberadaan mereka akibat silencer yang berfungsi menghambat kerasnya suara yang ditimbulkan oleh senapan pembunuh jarak jauh.


Seratus orang penembak jitu yang telah tersebar acak tersebut melepaskan tembakannya, suara dari mulut senapan seolah menari-nari di udara dan saling bersautan satu sama lain.


Amane dengan cepat menarik dua buah bayonet yang terikat diantara setelan rok nya, tidak terlihat apa yang terjadi selanjutnya.


Beberapa peluru dari penembak jitu terlihat menghantam tanah disekitar Amane hingga menimbulkan kepulan debu yang cukup tebal dan menghalangi pandangan.


Suara tembakan dari seratus orang penembak jitu tersebut berakhir, kepulan debu yang sebelumnya melambung diudara dan menghalangi pandangan perlahan memudar.


Disana berdiri seseorang, dengan tatapan dingin serta aura membunuh yang sangat kental terasa, bahkan meskipun ia berdiri jauh dari orang-orang yang memperhatikannya.


Amane berdiri gagah diantara ratusan peluru yang bahkan nyaris menimbun sepatunya. Tatapannya sangat tajam, nafasnya pelan namun berirama, poni kemerahan dari rambutnya bergerak perlahan hingga nyaris menutupi matanya.


“Amane-san!!”teriak Hikari, matanya sembab akibat air mata yang sedari tadi ia tahan karena ke-khawatirannya pada Amane.


Setelah regu penembak jitu berakhir, kini giliran seratus orang dengan senjata semi otomatis  jarak dekat berdiri mengelilingi Amane.


Amane menyilangkan kedua bayonet ditangannya hingga membentuk posisi bertahan. Ia kembali memejamkan matanya hingga memasuki level konsentrasi tertinggi.


Seratus orang dengan senjata otomatis jarak dekat tersebut melepaskan tembakan. Kali ini suara yang ditimbulkan sangat bising, hingga terasa hampir memecahkan gendang telinga.


Rasanya tidak mungkin seseorang mampu bertahan dalam lingkup suara bising seperti itu tanpa bantuan alat pelindung telinga.

__ADS_1


Tapi disana…


Amane masih berdiri gagah dan bertahan tanpa luka sedikitpun…


Tumpukkan peluru semakin menggunung diantara sepatunya, Amane berdiri kokoh bak sebuah batu nisan diantara kuburan peluru.


“Sudah cukup hentikan!”pinta Hikasa pada pria dengan setelan kehitaman yang sedari tadi bertugas mengkomando pasukan yang menyerang Amane.


“Aku baik-baik saja.”ucap Amane dengan nafas terengah-engah, ia mendengar ucapan Hikasa tersebut dari walkie talkie yang telah diberikan padanya sebelumnya.


Tadinya walkie talkie ini digunakan sebagai tanda apabila Amane berubah pikiran dan berniat untuk berhenti.


“Bodoh!!”teriak Hikasa.


“Sudah cukup, Amane-san hentikan!”teriak Hikari.


Seratus orang dengan kemampuan bela diri jarak dekat kini telah membentuk posisi mengelilingi Amane. Hanya tinggal menunggu aba-aba untuk memulai pertarungan.


Amane menancapkan kedua bayonetnya ke permukaan tanah, ia menundukkan tubuhnya untuk memberi salam hormat.


“Terima kasih telah memberi kesempatan.”ucap Amane memberi salam hormat pada seratus orang petarung bela diri dihadapannya.


Perlahan ia membentuk posisi kuda-kuda bertarung, meskipun nafasnya tak lagi beraturan, ia tetap berusaha fokus untuk mencapai titik tertinggi konsentrasinya.


Pertarungan dimulai, ratusan orang petarung bela diri dari berbagai aliran tersebut menyerang Amane secara bersamaan. Rasanya memang tidak etis jika petarung bela diri mengeroyok seorang gadis sendirian.


Tetapi tetap saja…


Lagi-lagi…


Amane berhasil menumbangkan lima puluh orang dengan memberikan luka yang cukup fatal, dan lima puluh diantaranya memutuskan untuk mundur dari pertarungan.


Mereka menundukkan tubuh sembari membentuk posisi memberi hormat pada Amane. Mereka mengakui kekuatan Amane dan memutuskan untuk menyudahi pertarungan.


Amane berdiri disana sebagai seorang pemenang, mengalahkan tiga ratus orang tanpa tergores sedikitpun.


“Sekarang kau sudah mengerti, Hikasa?”


“Jika orang-orang ini tidak bisa membunuhku, maka mereka sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk melindungimu."Ucap Amane pelan pada Hikasa, Hikasa yang mendengar hal tersebut perlahan menundukan wajahnya dengan menampakkan raut putus asa.


“Bayonetnya hancur.”ucap Amane sembari menatap bayonetnya yang telah hancur sebagian.


“Aku gak punya uang untuk ganti yang baru.”


**


*Di ruangan klub*


Keesokan harinya..


“Sekarang aku sedikit mengerti keadaanya, situasinya benar-benar buruk.”ucap Hikari membuka obrolan, nampaknya Hikari telah mengerti dengan keadaan rumit yang dihadapi oleh Hikasa.


“Mereka tidak akan menyerang untuk seminggu kedepan.”ucap Amane.


“Kita tidak bisa memastikannya sembarangan kan? Mereka bisa menyerang kapanpun saat kita lengah.”balas Hikasa.


“Kita akan aman untuk seminggu kedepan.”Amane mengeluarkan ponsel miliknya, ia menunjukkan sebuah artikel berita dari sebuah media online pada Hikasa dan Hikari.


“Mereka kehilangan akses pasar gelap, polisi telah membongkar aktivitas terlarang yang terjadi di pasar gelap dan menangkap pelakunya. Mereka akan kesulitan untuk mendapatkan peralatan.”lanjut Amane menjelaskan.


“Ini keuntungan besar, kita dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk berlatih dan melakukan aktivitas klub.”sambungnya.


Tak jauh dari tempat mereka mengobrol, terdengar suara langkah kaki mendekat, langkah kaki tersebut berasal dari Yoshifumi yang merupakan ketua klub supranatural.


“Kalau begitu ini adalah waktu yang tepat untuk memulai tugas pertama kalian sebagai bagian dari klub.”ucap Yoshifumi memotong obrolan.


“Hikari.. Apa sudah disiapkan?”tanya Yoshifumi.


“Ah, yang itu.. Aku sudah mengumpulkan informasi dan mencetaknya.”balas Hikari sembari mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas nya.


“Seperti yang dijelaskan Hikari sebelumnya, klub supranatural menulis artikel berdasarkan pengalaman dan kunjungan asli dari penulisnya.”


“Tugas pertama kalian sebagai anggota klub adalah mengunjungi tempat ini.”


Yoshifumi menunjukkan selembar kertas bergambarkan sebuah bangunan tua yang dikelilingi oleh danau disekitarnya.


“Tempat ini terkenal dengan julukan ‘The Ghost after rain’ menurut penduduk setempat, akan ada arwah seorang gadis bergaun merah yang muncul dengan menggunakan payung saat tengah malam di danau dekat bangunan itu.”


“Menurut kabar yang beredar, gadis itu meninggal secara misterius saat hujan deras turun, ini adalah kesempatan yang bagus untuk membuat artikel dan memulai tugas pertama kalian sebagai anggota klub.”ucap Yoshifumi bersemangat.


“T..tunggu dulu, kita tidak bisa masuk kesana sembarangan kan?”balas Hikasa.


“Mengenai itu, aku sudah mengurus izin masuknya pada salah satu orang yang mewarisi bangunan, kita bisa memulai kegiatan kita malam ini.”balas Yoshifumi.


“Ini bagus sekali kan Hikasa-san, Amane-san, dengan ini kalian akan terbiasa dengan tugas sebagai anggota klub supranatural.”ucap Hikari menyemangati Hikasa dan Amane.


“Duh males banget.. Padahal aku mau main game saja malam ini.”pikir Hikasa dengan raut wajah malas-malasan.


“Aku harus bekerja…”ucap Amane datar.


“Jika aku menunggak sewa lagi maka aku benar-benar akan ditendang pemilik


bangunan.”sambungnya dengan raut panik.


“Hikasa ayo siap-siap!”ucap Amane yang tiba-tiba saja bangkit dari kursinya.


“E..eh.. Tu-tunggu dulu!”


Amane menarik lengan baju Hikasa dan membawanya meninggalkan ruangan klub, Yoshifumi dan Hikari hanya menatap mereka dengan pandangan kecut.

__ADS_1


**


__ADS_2