
Merah seperti terbakar api..
Biru seperti kilauan laut..
Meski bercampur dan saling mendominasi satu sama lain, tetap saja langit yang memudar dikala senja selalu memberikan keindahannya.
Tetapi..
Di pulau yang sebenarnya tidak nyata ini aku benar-benar tidak menyangka, jika langitnya lebih didominasi oleh warna merah, seperti menggambarkan keputusasaan.
Bahkan ketika senja, langit disini tidak menunjukkan keindahannya, awan-awan diatas sana seperti sedang menderita, matahari yang tenggelam dari arah barat terkesan palsu, air laut yang memantulkan cahaya kilauan senja lebih menyerupai laut yang mati.
Seluruh unsur alam yang tercipta di pulau fatamorgana ini benar-benar menggambarkan raut keputusasaan.
**
Garis keturunan Tsukiyama dianugerahi dengan kemampuan GIVEN yang beraneka macam.
Sejak garis keturunan pertama terlahir, mungkin sudah ratusan atau mungkin ribuan GIVEN yang mengalir secara turun-temurun dalam garis keluarga Tsukiyama.
Misalnya saja..
Tsukiyama Hana Vermillia..
Hana Vermillia, Hana berarti bunga, sedangkan Vermillia berasal dari kata Vermillion yang berarti merah terang. Jika disatukan, Hana Vermillia memiliki makna sebagai bunga merah terang.
“Apa nama ku tidak terlalu panjang ? Teman-teman ku kadang kebingungan harus memanggilku dengan sebutan Hana, Lia, atau Via.”seorang gadis dengan potongan rambut pendek sepundak berwana kebiruan nampak sedang bersandar dipangkuan ibunya.
“Tsukiyama adalah marga ayah, sedangkan Vermillia adalah marga ibu. Seluruh anggota keluarga ayah memiliki cara penamaan yang sama, meletakkan marga keluarga ayah diawal, dan marga ibu diakhir.”balas sang ibu sembari membelai-belai lembut rambut anaknya tersebut.
“Tapi namaku menjadi sangat panjang, kadang aku juga sampai kerepotan menulisnya.”balas sang anak dengan raut wajah sedikit kesal.
“Hana...”
Sang ibu melempar senyum kecil sembari menepuk pelan rambut sang anak yang belakangan diketahui bernama Hana tersebut.
“Ketika gajah mati, ia akan meninggalkan gadingnya, lalu ketika Harimau mati ia juga akan meninggalkan belangnya.”
“Saat manusia mati, ia akan meninggalkan namanya.”jelas sang ibu pada Gadis kecil bernama Hana tersebut.
“Aku tidak mengerti.”balas Hana dengan dengan tatapan polos, ia tidak mengerti dengan makna dari ucapan sang ibu.
“Saat dewasa, manusia akan pergi menjalani kehidupan dan mengukir namanya dikehidupan orang lain, tergantung seperti apa kehidupan yang akan Hana jalani, dan sejauh apa nama Hana akan tinggal dihati orang-orang. Semuanya Hana sendiri yang menentukan.”jelas sang ibu pada Hana.
“Kalau begitu, Hana akan membuat marga ibu dan ayah dikenang oleh banyak orang, supaya Hana tidak merasa kerepotan lagi kalau harus menulisnya.”
“Jika marga ibu dan ayah telah dikenang oleh banyak orang, maka mereka hanya perlu menambahkan nama Hana diantara marga ayah dan ibu, dengan begitu semua orang akan mudah menulisnya.”balas Hana pada sang ibu
“Marga ayah berada dibelakang nama Hana, dan marga ibu berada diakhir, kemudian nama Hana akan berada ditengah-tengah marga ayah dan ibu, dengan begitu Hana tidak akan merasa kesepian, Hana akan selalu berada diantara ayah dan ibu selamanya.”
“Seperti apapun kehidupan yang akan Hana jalani saat dewasa, ayah dan ibu akan selalu ada bersama Hana.”ucapnya sembari memeluk erat sang ibu.
**
Tsukiyama Hana Vermillia, hari ini entah sudah yang keberapa kalinya ia menghadiri pertemuan keluarga yang rutin diadakan pada bulan ke 11 setiap tahunnya.
Sejak masih kecil, ayah dan ibu nya selalu mengatakan jika pertemuan ini adalah bentuk dari persatuan keluarga, sang Ayah telah melakuannya secara turun-temurun, begitu pula kakeknya dan seterusnya. Mereka juga mengatakan kepada Hana bahwa kelak tradisi ini juga harus diwarisi pada anak yang dilahirkannya.
Saat ini, usianya beranjak 10 tahun. Seperti yang Hana katakan sebelumnya, entah sudah berapa kali ia menghadiri pertemuan keluarga ini. Satu hal yang selalu diingat, pertemuan ini selalu diadakan pada bulan November setiap tahunnya.
Sang ayah mengatakan kalau pertemuan ini adalah bentuk dari persatuan keluarga. Tetapi Hana sepertinya sama sekali tidak merasakan persatuan dalam pertemuan keluarga ini.
Tidak sama sekali..
Mungkin jumlahnya ratusan, jika dilihat sejauh mata memandang, tempat ini sangat penuh sesak oleh orang-orang dengan setelan jas kehitaman dan gaun mewah nan elegan.
Jika dipikir-pikir, hal ini memang sudah seharusnya sih. Berkaca pada sang ayah yang merupakan pengusaha bahan bakar ramah lingkungan yang sangat disegani oleh orang-orang diwilayah tempat tinggalnya.
Jadi tidak heran kalau orang-orang yang berada di tempat ini bukanlah orang sembarangan.
‘Ah, mungkin aku bisa menemukan anak-anak lain se-usia ku dan menjalin hubungan pertemanan dengan mereka.’pikir Hana kala itu.
Hana melangkah perlahan melewati kerumunan orang-orang yang hadir di pertemuan itu. Langkah nya agak sedikit pelan karena ia belum terlalu terbiasa menggunakan sepatu yang memiliki jarak dengan permukaan tanah.
Ia mengangkat sedikit rok kehitamannya agar tak terinjak oleh kerumunan orang-orang yang ia lewati, sesekali ia menatap kearah depan sembari membelah kerumunan.
Meskipun telah memperhitungkan langkah kakinya dengan sangat hati-hati, Hana masih menyimpan keraguan dalam hatinya saat melangkah, hal itulah yang pada akhirnya membuat Hana selalu menatap kebawah saat berjalan diantara orang-orang.
Sebagai seorang gadis yang terlahir dari keluarga berada, Hana Vermillia memiliki kelas tata krama dan kepribadiaannya sendiri. Terkadang guru kelas kepribadiannya memarahi Hana karena ia tidak bisa menghilangkan kebiasaan menatap kebawah saat sedang berjalan.
Meskipun Hana selalu mengulangi kebiasannya, tetapi ia meyakini kalau sebenarnya kepribadiaan seseorang itu pada dasarnya dibentuk oleh diri sendiri, dan tidak akan mudah untuk diubah hanya dengan mengikuti kelas tata krama dan kepribadiaan.
“Yosh.. berhasil menembus kerumunan dengan selamat.”ucap Hana tersenyum puas.
“Kalau dipikir-pikir, tempat ini hanya menyajikan anggur dan alkohol, apa mereka tidak memikirkan minuman untuk anak-anak ya..”gumam Hana sembari memperhatikan pria dewasa yang sedang meneguk anggur didekatnya.
“Bau nya tidak enak..”pikir Hana, ia menutup hidungnya dan bergerak menjauhi pria itu.
__ADS_1
“Tetua telah tiba, harap seluruh anggota keluarga mengambil tempat yang telah disediakan.”ucap salah seorang pria yang bertugas sebagai pembuka acara pertemuan tersebut.
3 orang pria yang nampak sudah tua renta bergerak perlahan menuju kursi-kursi besar berukir emas yang letaknya berada di panggung yang tinggi dihadapan para hadirin.
“Eh.. Merepotkan, aku kabur saja ah.”gumam Hana sembari mengabaikan kerumunan tersebut.
“Hari ini aku mengusulkan 3 nama sebagai calon penerus yang akan memimpin keluarga Tsukiyama.”ucap salah seorang tetua yang duduk di kursi berukir emas itu.
“Tsukiyama Koharu.”
“Tsukiyama Aldera Gardner.”
“Tsukiyama Hana Vermillia.”
Para Tetua mulai menyampaikan nama kandidat yang menjadi pilihan sebagai penerus keluarga Tsukiyama.
Pada awalnya semua orang yang hadir dalam pertemuan terdengar hening, sebagian dari mereka merasa tidak terlalu peduli dengan nama-nama yang telah disebutkan dan memutuskan menerima begitu saja, namun beberapa diantara anggota keluarga lainnya mengajukan keberatan.
“Kenapa? Ada apa dengan nama-nama itu? Putra ku jauh lebih baik dari mereka bertiga.”
“Aku tidak terima, keluarga Tsukiyama tidak mungkin dipimpin oleh seorang perempuan!”
“Apa maksudmu? Perempuan juga memiliki hak untuk memimpin!”
“Pencalonan ini konyol! Aku tidak mau dipimpin oleh anak-anak yang lebih lemah dari ku!”
“Keluarga ku lebih kaya! Seharusnya anakku mendapatkan posisi itu!”
Keributan mulai terjadi, anggota keluarga yang merasa tidak terima dengan 3 nama calon penerus yang telah diumumkan para tetua menyuarakan kekecewaan mereka.
Seperti yang dikatakan oleh Hana sebelumnya, pertemuan ini sama sekali tidak mencerminkan persatuan keluarga. Mereka hanya bersaing untuk merebut kursi pemimpin, bertaruh tentang siapa yang paling kaya, paling pintar, paling kuat, dan yang paling memiliki pengaruh dalam garis keluarga.
Entah sudah berapa kali pertemuan ini dilakukan, kepastian tentang calon pemimpin keluarga Tsukiyama di masa depan pada akhirnya tidak pernah diputuskan.
“Siapa itu ?”
“Aku tidak pernah melihatnya.”
“Apa dia anggota keluarga ?”
Keributan yang sebelumnya terjadi mendadak hening, seorang gadis berambut abu-abu yang nampak asing tiba-tiba saja berada diantara mereka.
Gadis itu mengeluarkan aura yang hangat, namun bagi sebagian orang lebih terasa seperti hangat yang membakar hingga ke permukaan kulit.
Kehadiran gadis itu mendadak membuat suasana pertemuan menjadi sedikit lebih tenang, namun para maid dan butler yang mengawal tuan mereka dalam pertemuan mulai bergerak karena merasakan ancaman.
“Berhati-hatilah tuan, aura yang keluar dari tubuhnya terasa tidak wajar.”ucap salah seorang maid yang mengawal tuannya.
Para tetua yang sebelumnya berada dikursi berukir emas yang terletak menghadap kerumunan mendadak menghilang.
“Kemana para tetua ?”tanya salah seorang anggota keluarga yang hadir di pertemuan tersebut.
“Eh? Sejak kapan para tetua turun dari kursinya ?”
Salah seorang peserta pertemuan menyadari sesuatu yang tidak biasa, para tetua yang sebelumnya duduk dan berada jauh dari kerumunan nampak telah berdiri dihadapan gadis berambut abu-abu misterius yang hadir dalam pertemuan itu.
“Kau nampak sangat kesakitan ya.”ucap salah seorang tetua sembari memegangi pundak gadis berambut abu-abu misterius tersebut.
“Hey...”ucap gadis berambut abu-abu itu pelan
“Apa kalian semua nyata ?”sambungnya masih dengan nada yang sama.
Salah seorang tetua nampak tersenyum sesaat setelah mendengar pertanyaan gadis misterius berambut abu-abu tersebut.
Sesaat kabut tebal menyeruak dan menyelimuti tempat pertemuan seiring dengan kehadiran gadis misterius tersebut.
“GIVEN yang luar biasa.”ucap para tetua sebelum akhirnya memudar tersapu oleh tebalnya kabut.
Hana masih belum mengetahui apa yang terjadi pada orang-orang dipertemuan dan gadis misterius berambut abu-abu, sampai pada akhirnya kabut tebal yang diciptakan dari teknik GIVEN milik gadis misterius itu terlihat oleh nya.
“Kabut apa itu ?”pikir Hana sesaat setelah menyadari keanehan pada kabut tebal yang tiba-tiba saja terlihat tak jauh dari tempatnya berada.
Awalnya ia mengira telah terjadi kebakaran kecil, orang-orang harus segera diperingatkan agar kebakaran tidak meluas. Begitu pikirnya kala itu.
Hana berlari dengan melihat kedepan, tanpa sadar ia melupakan kebiasaannya yang selalu melihat kebawah saat berlari. Ia tidak memedulikan lagi rok kehitaman yang sesekali menghalangi langkah kakinya.
Ia berlari dengan cepat untuk kembali ke tempat pertemuan sembari melepas kedua sepatu yang memperlambat langkah kakinya.
Ia tidak memikirkan apapun tentang tata krama dan kepribadiaan saat itu, yang hanya ada dipikirannya kala itu adalah.
“Ayah..Ibu!!”teriak Hana dengan begitu kerasnya.
Hana tersapu oleh tebalnya kabut yang memenuhi seluruh wilayah pertemuan itu.
**
*Sementara itu di tempat lain, beralih pada Amane dan orang-orang yang masih terjebak di pulau fatamorgana ciptaan Lavia Mirage.
__ADS_1
“Yosh, kalau begitu saatnya memulai misi pelarian dari pulau ini.”ucap Charle bersemangat.
“Tunggu dulu..”
“Apa hanya perasaan ku saja, atau memang udara disini menjadi lebih hangat ya..”ucap Charle sesaat setelah merasakan perubahan suhu yang terjadi di pulau tersebut.
“Paman.. Paman.. Lihat!”Sheele menengadahkan telunjuknya kearah langit yang diselimuti oleh kabut merah pekat.
Jauh dari tengah laut terlihat gelombang yang bergerak begitu cepat menuju daratan.
“Ada yang mendekat!”teriak Charle.
“Tidak masuk akal! Ini benar-benar tidak masuk akal! Bagaimana bisa air dan api menyatu seperti itu!”teriak sang paman setelah melihat fenomena tidak masuk akal dihadapannya.
Dihadapan mereka kini telah terbentang gelombang laut yang bercampur dengan kobaran api membara, tingginya mungkin berkisar antara 7 meter dan hampir menyerupai gelombang tsunami.
Sang paman dengan sigap menggendong tubuh kecil Charle dan Sheele dan bersiap untuk berlari dari tempat itu.
“Kau bisa lari sendiri kan ?”tanya sang paman pada Amane yang nampaknya masih terdiam mematung setelah menyaksikkan gelombang api yang menuju kearah mereka.
“Aku baik-baik saja.”balas Amane.
10 menit sebelum gelombang laut bercampur kobaran api tersebut menyapu daratan. Amane dan yang lainnya berlari sekuat tenaga untuk menghindari sapuan gelombang, mereka menuju ketidakpastiaan.
Rasanya tidak mungkin ada yang bisa selamat dari sapuan gelombang sebesar itu. Meskipun sudah berlari sejauh apapun, gelombang sebesar itu tidak akan memberi ampun pada apapun yang menghalangi jalannya.
“WAAAA! Gelombangnya semakin dekat paman!”teriak Charle panik.
“Sheele, gunakan kemampuan Hide milikmu.”perintah Charle yang panik pada Sheele.
“Hide.”teriak Sheele sembari mengkonsentrasikan telunjuknya.
“Eh..”
“Tidak bisa.”GIVEN milik Sheele tidak bekerja.
“Paman lebih cepat!”teriak Charle sembari menepuk keras punggung sang paman.”
“Mu-Mudah mengatakannya kalau kalian bisa lari sendiri.”balas sang paman dengan nada kesal serta nafas yang terengah-engah.
“Gadis itu cepat sekali, dia berlari seperti iblis saja.”ucap sang paman sesaat setelah menyadari Amane yang telah membuat jarak yang lumayan jauh dengannya.
“WAAA! Kita bakal mati nih!”teriak Charle semakin membuat panik sang paman.
Gelombang laut setinggi 7 meter tersebut semakin mendekati mereka, daratan yang tersapu habis olehnya nyaris tak bersisa. Sang paman menggunakan sisa-sisa tenaga terakhirnya untuk berteriak memanggil Amane.
“Setidaknya selamatkan mereka.”ucap sang paman pada Amane.
“Aku sudah tidak kuat lagi, tinggalkan aku.”sambungnya dengan nafas terengah-engah.
“Tidak! Paman harus ikut!”bentak Charle, ia nampak berusaha menyembunyikan tangisnya.
“Hide! Hide! Kenapa tidak bekerja.”Sheele terus berteriak dengan tangisan putus asa.
“Sudah tidak ada waktu! Bawa mereka!”Perintah sang paman pada Amane.
Amane dengan sigap menyergap kedua tubuh kecil Charle dan Sheele dan membawanya berlari sejauh mungkin dari hempasan gelombang.
“Paman!!”Charle dan Sheele berteriak bersamaan diiringi tangisan yang menutupi wajah mereka.
Gelombang tersebut melaju deras menuju daratan tempat sang paman yang telah memasrahkan hidupnya.
“Hide! Hide!”Sheele menangis sejadi-jadinya, ia menyalahkan dirinya sendiri karena tidak mampu berbuat apa-apa dengan kemampuan GIVEN miliknya.
Biru dan merah yang bercampur menghasilkan kilauan cahaya yang terang, begitu menyilaukan hingga terasa sedikit sakit saat cahaya-cahaya tersebut terserap oleh bola mata.
Cahaya yang menyakitkan hati, seolah menggambarkan keputusasaan yang sudah berada didepan mata.
“Lavia Mirage !! Aku tidak akan memaafkanmu !!”teriak Charle dengan begitu kerasnya.
Gelombang tersebut kini hanya berjarak beberapa centimeter dari mereka, kecepatan Amane tak mampu menyelamatkan keadaan kala itu.
Charle masih berteriak mengutuk tindakan Lavia Mirage yang telah menyebabkan sang paman kehilangan nyawanya, Sheele masih terkurung dalam penyesalan karena tak mampu berbuat apa-apa dengan kemampuannya.
Dan Amane..
Ia hanya berlari tanpa tau arah dan tujuan..
Sampai pada akhirnya..
“GIVEN, Red flower.”
Seorang gadis dengan rambut biru sepundak menciptakan sebuah pohon berdaun merah yang sangat besar, bahkan nyaris 2 kali lipat besarnya dari gelombang yang diciptakan oleh Lavia Mirage.
Pohon besar itu berdiri kokoh dan membelah gelombang tersebut hingga lenyap tak bersisa.
TSUKIYAMA HANA VERMILLIA telah memasukki pulau fatamorgana.
__ADS_1