
'Pesawat dengan rute penerbangan menuju Roma Italia akan segera lepas landas dalam 30 menit, diharapkan kepada para penumpang agar segera bersiap'
Desah nafas berat terdengar dari kejauhan, suara mesin pesawat seolah berpadu dengan langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang, layaknya nada yang beresonansi.
Amane yang saat itu berusia 6 tahun berada dalam penerbangan menuju Roma Italia, bersama Ibu nya.
Terlahir dari Ibu yang berprofesi sebagai seorang Diplomat membuat Amane terbiasa dengan hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam waktu yang singkat.
Menara Eiffel di Paris, Piramida di Mesir, Tokyo Tower di Jepang, hingga Candi Borobudur di Indonesia, rasanya tak ada tempat di dunia ini yang tak pernah ia kunjungi. Ditambah lagi, pekerjaan Ibunya sebagai seorang Diplomat juga mempermudah keluarga Amane untuk mendapatkan liburan gratis sepanjang tahun.
Namun, dilain sisi Amane tak sepenuhnya merasa sebagai anak paling beruntung meskipun dapat menjelajahi berbagai tempat di penjuru dunia dalam usia yang sangat muda.
Misalnya saja…
Berpindah dari satu Negara ke Negara lainnya dalam tempo yang singkat membuat Amane menjadi seorang gadis penyendiri, ia tidak memiliki teman dekat seperti anak-anak lain seusianya.
Ia kesulitan untuk menjalin hubungan pertemanan , umumnya ikatan pertemanan yang ia jalin dengan orang-orang yang ia temui hanyalah sebatas berkenalan, mempelajari bahasa mereka dan beradaptasi dengan cepat, lalu pergi meninggalkan mereka dibulan berikutnya tanpa meninggalkan kesan apapun.
Amane bahkan tidak memiliki kontak maupun alamat surel selain milik sang ibu dalam telepon genggam miliknya.
**
“Tsukiyama Koharu..”Seorang gadis kecil dengan rambut terurai keemasan mengulurkan tangannya pada Amane.
“Tsukiyama Koharu.”ucapnya dengan wajah yang berbinar-binar.
Koharu menjabat tangan Amane secara spontan hingga membuat Amane sedikit terkejut. Amane sama sekali tidak mengenal gadis asing bernama Tsukiyama Koharu yang berdiri dihadapannya kala itu.
“Dengan ini kau resmi menjadi teman kedua ku, hehe”ucap Koharu tersenyum puas.
Amane menatap Koharu datar, ia sama sekali tidak mengerti dengan sikap orang asing yang tiba-tiba saja menjabat tangannya dan terkesan memutuskan seenaknya tersebut.
Saking kebingungannya Amane sampai menggaruk-garuk kepalanya. “Anu… Apa kita pernah bertemu sebelumnya ?”tanya Amane dengan wajah bingung.
“Tsukiyama Koharu, namaku Tsukiyama Koharu.”balas Koharu masih dengan wajah berbinar-binar seperti sebelumnya.
“Dia sudah mengatakan namanya dua kali lho.”pikir Amane sembari menatap kecut pada Koharu.
“Ya sudahlah, mungkin dia pernah satu Sekolah dengan ku sebelumnya, lebih baik kalau aku tidak bertanya.”lanjut Amane yang nampak tak begitu ingin akrab dengan gadis asing bernama Koharu tersebut.
“Kamwu mwau kew Iwtalia jwuga ?”Koharu mengajukan pertanyaan pada Amane dengan mulut yang penuh dengan permen, hingga membuatnya kesulitan mengatur ucapannya.
“Woii Telan dulu dong”balas Amane sembari menepuk pelan punggung Koharu.
GLEKK ! “Sudah kutelan semuanya”Koharu tersenyum lebar
“Apa-apaan anak ini.”Pikir Amane setelah melihat tingkah Koharu tersebut.
“Jangan panggil aku dengan sebutan “KAMU” aku punya nama tau, Chifuyu Amane.”ucap Amane dengan nada sedikit kesal pada Koharu, ia nampak kehilangan moodnya karena sedari tadi harus menunggu jadwal keberangkatan yang mengalami penundaan cukup lama.
“Roma, keluarga ku akan pindah ke Roma, Italia”lanjutnya pada Koharu.
“Yeayy!! tujuan kita sama, kalau begitu kita bisa menjadi teman dekat”balas Koharu bersemangat.
“Jangan memutuskan seenaknya, lagipula aku belum bilang setuju mau menjadi temanmu.”balas Amane datar.
“Lagipula bukan begitu caranya jika ingin berteman.”lanjutnya pada Koharu.
“Kau pergi ke Italia dengan siapa ?”Tanya Amane berusaha memecah suasana yang mulai terasa canggung.
“Seharusnya aku pergi dengan Ayah, tapi dia itu orang yang sibuk lho, jadi dia Cuma mengirimkan pengawal pribadinya untuk pergi bersama ku dan menyusul minggu depan”balas Koharu.
“Ho’oh, orang kaya.”pikir Amane spontan.
Amane mengangguk-angguk kan kepalanya
“Lalu Ibumu ?”Tanya Amane penasaran.
__ADS_1
“Kalau itu, aku sudah lama tidak bertemu, dan lagi mereka juga sudah berpisah.”Balas Koharu tersenyum, namun senyum itu sangat jelas dibuat-buat.
“Maaf.”jawab Amane sesaat setelah mendengar penjelasan Koharu, ia agak merasa bersalah setelah membuat Koharu menceritakan hal yang menyinggung perasaannya.
**
“Koharu-sama, sepertinya penerbangannya akan ditunda sampai 45 menit kedepan, cuaca kota ini menjadi semakin buruk.”ucap salah seorang pria dengan setelan kehitaman yang mengawal Koharu.
Amane menengadahkan wajahnya, menatap langit-langit bandara yang dihiasi oleh lampu berkilauan, sesaat ia memejamkan matanya, menikmati kilauan cahaya yang seolah memantul melalui bola matanya.
“Ditunda lagi ya…”pikirnya kala itu dengan perasaan sedikit kecewa.
“Amane mau permen ?”Koharu menawarkan beberapa permen ditangannya pada Amane yang nampak kehilangan moodnya.
“Aku mau permen karet”balas Amane sembari menerima permen tersebut dari Koharu.
“Permen cinta !”ucap Koharu spontan.
Koharu memberikan sebuah permen karet pada Amane sembari berucap spontan.
“Cinta itu seperti permen karet yang menempel di alas sepatu, karena sejauh apapun kau melangkah, ia akan terus mengikutimu.”lanjut Koharu menjelaskan pada Amane, namun Amane agaknya tidak terlalu mengerti.
“Aku gak ngerti.”balas Amane sembari membuka bungkusan permen karet ditangannya, ia mengabaikan penjelasan Koharu yang menurutnya tidak masuk akal.
**
Waktu perlahan berlalu, setelah beberapa waktu mengalami penundaan, pada akhirnya penerbangan menuju Roma akan segera lepas landas, entah bagaimana tiba-tiba saja Koharu dan Amane berada di kursi pesawat yang saling berdekatan.
(Sebenarnya Koharu secara rahasia meminta pada pengawalnya untuk mengatur tempat duduk yang bersebelahan dengan Amane, entah cara seperti apa yang dilakukan oleh pengawalnya, tetapi sepertinya orang yang seharusnya menempati kursi disebelah Amane baru saja mendapatkan uang dalam jumlah besar)
Amane memejamkan matanya, merasakan dinginnya udara air conditioner yang sesekali terasa menembus permukaan kulit. Meskipun sering bepergian menggunakan pesawat, Amane masih memiliki ketakutan saat pesawat pertama kali lepas landas menuju permukaan.
“Rasanya, dia memiliki sesuatu yang unik. Kemampuan untuk berteman dengan semua orang, andai aku juga memilikinya.”pikir Amane sembari menatap Koharu yang berada bersebelahan dengannya.
Waktu menunjukkan pukul 20.00 malam, pesawat yang membawa mereka telah menyelesaikan setengah rute perjalanannya menuju Italia, pada awalnya semua berjalan baik-baik saja, sampai pada akhirnya getaran hebat dari dalam pesawat menyadarkan Amane yang sedari tadi tertidur pulas.
Pesawat yang membawa Amane mengalami turbulensi hebat, getaran yang ditimbulkan begitu besar, bahkan mampu membuat badan pesawat sekelas air bush ini bergetar.
Amane menutupi wajahnya, rasanya sepeti ingin menangis, dari kursi belakang sang ibu berusaha menenangkan nya, namun rasa takut ini seolah mencekik leher dan membuatnya kesulitan bernafas.
"Aku takut.."gumam Amane sembari menutupi kedua matanya.
Getaran yang merambat melalui badan pesawat semakin kuat terasa hingga membuat pramugari yang berdiri diantara para penumpang kehilangan keseimbangannya dan terjatuh membentur lantai pesawat.
Apa yang ada dipikiran Amane saat ini ? mata nya masih tertutup, semua terasa gelap dan dingin. Pikiran nya seolah menjelma layaknya alat pemutar film, entah mengapa seluruh kejadian-kejadian yang ia alami selama beberapa tahun terakhir kini kembali tergambar dalam ingatan seperti menonton film.
Bunga sakura yang mekar di Jepang, Angin sejuk yang berhembus dari menara Eiffel, Senyum dari pemandu wisata yang ia jumpai di Indonesia, semua kepingan-kepingan kenangan itu terputar kembali dalam ingatannya.
Tangan kecilnya gemetaran, semua terasa dingin, suara dari Pramugari yang sebelumnya berusaha menenangkan para penumpang kini berubah menjadi suara yang putus asa.
Amane mengalihkan perhatiannya pada orang-orang disekitar yang putus asa, mereka berteriak, memanggil nama tuhan mereka, memohon ampun seperti orang kesetanan.
Sesaat ia berpikir, kenapa orang-orang hanya mengingat tuhan disaat mereka berada dalam kondisi yang sulit saja ?
Amane mengalihkan wajahnya pada Koharu, ia tampak begitu tenang, seolah tak ada apapun yang terjadi kala itu. ia membalas pandangan Amane sembari tersenyum polos yang bahkan membuat Amane semakin tidak mengerti.
Sesaat kemudian kilauan cahaya yang begitu kuat menyeruak diantara pantulan bola mata Koharu bersamaan dengan suara ledakan yang begitu dahsyat.
Pesawat berjenis airbush dengan rute penerbangan menuju Roma Italia yang membawa Amane mengalami kecelakaan hebat. Hampir keseluruhan penumpang yang berada dalam pesawat naas itu kehilangan nyawanya, hanya menyisakan dua orang yang selamat, gadis berusia 6 tahun bernama Chifuyu Amane dan Tsukiyama Koharu.
Amane mengalami koma selama 5 tahun lamanya setelah musibah kecelakaan pesawat tersebut. Ia dirawat secara langsung oleh rumah sakit dengan penanganan khusus dibawah pengawasan keluarga Tsukiyama.
“Ini adalah suatu keajaiban” Berita mengenai terbangunnya seorang gadis yang telah koma selama 5 tahun menyebar hingga ke seluruh pelosok Italia, gadis itu masih tampak bingung ketika melihat orang-orang disekitar, ia menatap telapak tangannya yang kurus kering setelah sekian lama tertidur.
Di tahun ke 5 setelah kecelakaan pesawat dengan rute penerbangan Italia tersebut, Amane terbangun dari masa koma nya dan membuat gempar seluruh stasiun berita Italia kala itu.
Keluarga Tsukiyama secara sah mengadopsi Amane menjadi bagian dalam keluarganya, Amane dilatih untuk menjadi pelayan professional yang bekerja pada keluarga Tsukiyama, Koharu menjadikan Amane sebagai pengawal yang paling dekat dengannya.
__ADS_1
Hal ini pula yang pada akhirnya membawa Amane menemukan kebenaran dibalik kecelakaan pesawat yang dialami oleh dirinya 5 tahun yang lalu.
Koharu dan keluarga Tsukiyama memiliki rahasia yang disembunyikan.
5 tahun yang lalu, saat pesawat airbush dengan rute penerbangan menuju Roma, Italia mengalami kecelakaan hebat, dalam kenyataan yang sebenarnya Amane tak mungkin selamat dari kecelakaan itu.
Tubuh pesawat nyaris menjadi debu, bahkan serpihan-serpihannya pun ditemukan dalam kondisi yang sangat kecil setelah mengalami ledakan dan terbakar di udara.
Tetapi…
Sesaat sebelum pesawat airbush itu meledak, Amane mengingat kembali Koharu yang tersenyum menatapnya kala itu, serta kilauan cahaya yang memantul dari bola matanya.
Tsukiyama Koharu, dia bukan anak biasa
Koharu pasti melakukan sesuatu padaku..
Hal itulah yang dipikirkan oleh Amane.
Tsukiyama Koharu, adalah seorang anak yang dianugerahi keistimewaan yang disebut sebagai GIVEN, bukan hanya Koharu, tetapi seluruh garis keturunan keluarga Tsukiyama dianugerahi kemampuan tersebut.
GIVEN yang terlahir dari keturunan Tsukiyama memiliki jenis yang beraneka ragam.
Misalnya saja Dokter Tsukiyama/Ayah Koharu, GIVEN yang ia miliki berupa kemampuan mengobati berbagai macam penyakit, kemampuannya tidak terbatas pada sesuatu apapun, bahkan untuk penyakit yang belum ditemukan obatnya dapat dengan mudah disembuhkan.
Ia menutupi kemampuan GIVEN miliknya dengan berprofesi sebagai seorang Dokter, dengan begitu ia dapat membantu orang-orang menyembuhkan penyakitnya tanpa harus dicurigai memiliki kemampuan tertentu.
Untuk kasus Koharu yang baru saja membangkitkan GIVEN miliknya, tetua dari garis keturunan Tsukiyama menemukan fakta bahwa kemampuan Koharu adalah kekuatan yang dapat merubah kenyataan, tetapi GIVEN miliknya hanya aktif pada orang-orang yang memiliki kedekatan dengannya.
Diwaktu terjadinya kecelakaan pesawat yang membawanya 5 tahun yang lalu, Koharu sendiri sebenarnya belum mengetahui cara kerja dari kemampuan miliknya, namun GIVEN miliknya benar-benar aktif dan menyelamatkan nyawa mereka.
Koharu telah mengubah kenyataan dalam kecelakaan pesawat kala itu menggunakan GIVEN miliknya, meskipun ia melakukannya secara tidak sadar.
Bila mengacu pada takdir yang sebenarnya, saat itu seharusnya tak ada satupun penumpang yang selamat dari kecelakaan, namun GIVEN mengubahnya menjadi kebalikan, dan menciptakan kenyataannya sendiri.
Kenyataan menjadi berubah, takdir yang menyatakan bahwa seluruh penumpang pesawat tersebut tewas berubah menjadi fakta yang tidak nyata, dan GIVEN menuliskan kenyataan yang baru dimana Koharu dan Amane selamat dari kecelakaan tersebut.
GIVEN milik Koharu tergolong sangat luar biasa dan berharga karena dapat merubah hal yang nyata menjadi tidak nyata dan hal yang tidak nyata menjadi nyata.
Guncangan hebat mulai terjadi pada garis keluarga Tsukiyama sejak Koharu membangkitkan GIVEN miliknya, anggota keluarga Tsukiyama yang lain menganggap Koharu dianugerahi kemampuan terkuat dari GIVEN dalam sejarah keluarga, masing-masing dari mereka mulai berpikir untuk menguasai kemampuan Koharu dan memanfaatkan kemampuan GIVEN miliknya demi keuntungan sendiri.
Persatuan dalam garis keluarga Tsukiyama terpecah, para tetua yang seharusnya menjadi penengah konflik dalam garis keluarga tidak lagi diperhitungkan.
Dokter Tsukiyama berusaha melindungi Koharu dari orang-orang yang menginginkan kemampuan GIVEN miliknya, namun ia disingkirkan oleh anggota keluarga lain yang menyimpang.
Anggota keluarga Tsukiyama yang telah dikuasai keserakahan berusaha menciptakan situasi untuk menekan Koharu agar menggunakan GIVEN miliknya sebagai keutungan mereka.
Amane yang saat itu berada ditengah-tengah konflik memutuskan untuk menemui Koharu.
Sebagai satu-satunya pelayan yang paling dekat dengan dengannya, Koharu mempercayai Amane untuk mengetahui kebenaran tentang Hikasa.
Seorang bocah 6 tahun yang memiliki ikatan terkuat dengannya.
“GIVEN milikku hanya aktif pada orang-orang yang memiliki kedekatan dengan ku. Saat berusia 6 tahun, seorang anak laki-laki bernama Akira Hikasa membuat janji untuk menikah dengan ku dimasa depan, Hikasa adalah orang yang memiliki hubungan paling dekat denganku."
“Untuk menghindari konflik, Aku akan membagi setengah dari kekuatan GIVEN milikku pada Hikasa.”ucap Koharu pada Amane.
“Jika perkiraan ku benar, saat GIVEN milikku hanya memiliki 50% dari 100% kemampuannya, maka akan terjadi perubahan besar pada kenyataan dimasa lalu yang sebelumnya ditulis oleh GIVEN.
“Termasuk kenyataan yang terjadi saat kecelakaan pesawat yang menimpa kita berdua.”lanjut Koharu dengan pandangan serius pada Amane.
“Saat kecelakaan pesawat itu terjadi, GIVEN milikku memiliki 100% kekuatannya, 50% kemampuan GIVEN milikku menyelamatkan nyawamu dan merubah kenyataan dimana dirimu yang seharusnya mati dalam kecelakaan itu menjadi hidup dan selamat, dan 50% lagi menyelamatkan nyawaku sendiri.”
“Jika aku memberi setengah kemampuan GIVEN pada Hikasa, maka salah satu dari kenyataan yang ditulis GIVEN untuk kita berdua akan lenyap, salah satu dari kita benar-benar akan mati dalam kecelakaan pesawat itu.”ucap Koharu menjelaskan.
"Diantara kita berdua, siapapun yang selamat nantinya harus menemui Hikasa dan membimbingnya untuk menggunakan 50% kemampuan GIVEN yang ada pada dirinya."
"Ia harus menulis kenyataan baru menggunakan kemampuan itu, sebuah kenyataan dimana GIVEN itu sendiri tidak pernah bangkit dalam garis keturunan Tsukiyama."
__ADS_1
**