Complexity

Complexity
BAB I CHAPTER 9.2: Gadis dan Pengagum Masa Kecilnya Bagian ke 2


__ADS_3

‘Kuharap, semuanya akan berubah…’


Tentang gemersik air laut saat menerpa Dermaga, tentang seberapa dalam jangkar kapal saat tenggelam menuju dasar laut, tentang ombak yang saling mengejar satu sama lain, tentang batu karang, dan seluruh unsur hidup maupun benda mati yang ada di Dermaga. Dan juga tentang seorang anak laki-laki…


‘Joel, Julius Alexandre…’


Namaku Tsukiyama Theresia Iris, hari ini aku berlari. Berlari dari kenyataan, berlari melampaui bayangan dikaki ku, dan juga berlari dari seseorang.


Berlari bagai seorang pengecut…


Seorang anak laki-laki baru saja menyatakan perasaannya secara spontan dihadapanku, bukan hanya sekedar perasaan belaka, tetapi anak laki-laki ini pulalah orang pertama yang secara tegas mendukung segala tindakan ku yang ke kanak-kanakan.


Jika diingat-ingat, rasanya seperti ingin mati saja. Kenapa aku harus berlari saat itu? Kenapa aku tidak menghadapinya? kenapa aku tidak kembali kesana dan memberikan jawaban?


Dan kenapa aku…


Berlari bagai seorang pengecut…


Kuharap semuanya akan berubah, suatu hari nanti saat kau kembali ke Desa ini, kuharap semuanya akan berubah.


Kuharap dirimu yang sudah dewasa akan melupakan hari ini dan tidak membenci ku. Kuharap suatu saat kita yang telah beranjak dewasa dapat berbicara lagi satu sama lain tanpa harus meninggalkan kesan apapun didalam hati kita.


‘Dan kuharap…’


‘Semuanya akan berubah…’


Seandainya manusia memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu dengan mengorbankan setengah umur mereka di masa depan, kupikir aku akan melakukannya. Kuharap aku dapat kembali kesana dan memberikan jawaban, sehingga aku tetaplah menjadi aku yang seperti biasanya, bukan aku yang berlari bagai seorang pengecut.


“Aku bisa menulisnya dengan benar…”


Theresia menurunkan pena bulu miliknya, sesekali ia mengangkat kedua tangannya untuk meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah berjam-jam menghabiskan waktu untuk  menulis  sebuah surat.


“Sudah 5 tahun ya…”ucap Theresia sembari menatap cahaya remang dari lilin yang ia letakkan di mejanya sebagai penerangan.


Theresia dengan cepat mengambil surat yang telah ia tulis selama berjam-jam tersebut dan meremasnya, kemudian ia menutupi wajahnya sendiri karena menahan rasa malu.


“Joel, bodoh.”gumam Theresia sembari menutupi wajahnya, ia mengingat kembali pernyataan spontan Joel 5 tahun yang lalu.


**


Namaku Tsukiyama Theresia Iris, hari ini adalah hari ulang tahun ku yang ke 15 tahun. Tidak terasa, 5 tahun berlalu semenjak Joel menyatakan perasaannya kepada ku. Karena terlalu sibuk membantu Ayah dan Ibu dengan pekerjaan rumah, aku sampai lupa dengan hari ulang tahun ku sendiri.


Aku dapat dengan mudah melupakan segalanya termasuk hari ulang tahun ku, tetapi entah mengapa, aku tidak pernah berhasil melupakan anak laki-laki bodoh dalam ingatan ku 5 tahun yang lalu kala itu.


Dia bahkan tidak berpamitan, apa mungkin dia menganggap kami sebagai temannya? Kenapa dia tidak berpamitan sebelum pergi? Padahal aku…


‘Ah, benar…’


‘Dia pasti sangat membenci ku…’


**


“Semuanya harap berkumpul, Kepala suku akan memberikan pengumuman!”ucap salah seorang pria sembari memanggil warga Desa untuk berkumpul.


Theresia berjalan meninggalkan kamarnya setelah mendengar pengumuman itu. “Tidak biasanya kepala suku mengumpulkan orang-orang sampai sesering ini.”


“Mungkin ada hal penting yang berhubungan dengan  Desa.”pikir Theresia kala itu.


“Aku mendapatkan gambaran dalam mimpiku, Desa ini akan menemui kehancuran.”ucap kepala suku tersebut kepada seluruh warga Desa yang berkumpul disana.


“Dewa laut yang selama ini menjaga Desa Tsukiyama murka karena ada kekuatan lain yang berada di Desa ini”lanjut sang kepala suku menjelaskan.


Ucapan sang kepala suku perlahan membawa kepanikan, warga Desa yang mendengarnya mulai gelisah, mereka merasa khawatir dengan keadaan apa yang menanti mereka dikemudian hari.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang?”tanya salah seorang warga Desa kepada sang kepala suku.


“Kita akan melakukan pengorbanan, mengorbankan sumber kekuatan yang dibenci kehadirannya oleh Dewa laut.”jawab sang kepala suku.

__ADS_1


“Sudah diputuskan, kita akan mengorbankan sumber masalah ini dan mempersembahkannya kepada lautan, aku akan memulai ritualnya dalam 7 hari kedepan.”sambung sang kepala suku pada warga Desa.


Hari itu, semuanya mengikuti keputusan yang telah dibuat oleh pemimpin Desa Tsukiyama. Setiap orang bekerja keras mengumpulkan bahan guna mempersiapkan ritual persembahan yang akan dilakukan kepada Dewa lautan.


7 hari dimulai dari sekarang, warga desa bahu-membahu mengumpulkan segala hasil perkebunan, hasil melaut, dan hasil bumi guna dipersembahkan bersama seseorang yang menjadi sumber kemarahan Dewa penguasa lautan. Namun hingga hari terakhir menuju ritual, kepala suku tak kunjung memberitahukan siapa sebenarnya sosok yang telah membuat murka sang Dewa lautan.


“Seluruh warga Desa silahkan gunakan penutup mata kalian, aku tidak ingin kalian mengetahui siapa yang akan dikirim sebagai persembahan.”


“Dan setelah semua ini selesai, aku harap kalian tidak akan membenci siapapun sosok yang hilang dari Desa.”ucap sang kepala suku kepada warga Desa.


Seluruh warga Desa Tsukiyama menutup mata mereka dengan gulungan kain, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui siapa yang akan dikirim menuju lautan. Anak-anak dipisahkan dari pelukan ibunya, pasangan suami istri dipisahkan dari pelukan mereka satu sama lain.


Suasananya terasa sangat hening, samar-samar terdengar suara orang-orang yang menangis, namun mereka menahannya dengan sekuat tenaga.


Mereka menangis bukan karena takut akan terpilih sebagai persembahan, mereka menangisi keadaan dimana mereka akan kehilangan seseorang yang menjadi bagian dari Desa.


‘…’sang Kepala suku menarik tangan seseorang dan membawanya berjalan memisahkan diri dari warga Desa lainnya yang berdiri mematung tanpa mengetahui keadaan kala itu.


Tangannya terasa sangat dingin, kulitnya putih pucat, dan rambut hitam sebahunya nampak berayun pelan seiring langkah kakinya saat membelah kerumunan.


Ia adalah seorang gadis, sang kepala suku menarik tangan seorang gadis melewati kerumunan. Sesekali tubuh gadis itu bersenggolan dengan warga Desa yang ditutup kedua matanya hingga membuat tubuh mereka gemetaran.


“Kita sudah sampai, sekarang silahkan buka penutup mata mu.”pinta sang kepala suku pada gadis terpilih itu.


“Ah, ternyata aku.”gumam gadis itu pelan.


Theresia menjadi gadis yang terpilih…


Sang kepala suku membuang pandangannya dari wajah Theresia, ia tidak ingin memandang gadis itu. Namun, sangat jelas dari kerutan wajah tuanya yang perlahan terlihat tajam, ia sedang menangis dibalik wajahnya meskipun sekeras apapun ia mencoba menyembunyikannya.


“Ah, seharusnya aku mengirimkan surat itu.”pikir Theresia setelah mengingat kembali surat yang ia tulis hari ini.


[Kepada: Julius Alexandre


Dari: Tsukiyama Theresia Iris


Kuharap semuanya akan berubah, suatu hari nanti saat kau kembali ke Desa ini, kuharap semuanya akan berubah.


‘Dan kuharap…’


‘Semuanya akan berubah…


‘Joel…’]


Theresia mengingat kembali setiap kalimat yang ia tulis dalam surat tersebut, ia menyesalinya.


“Ini adalah perpisahan yang buruk, aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada Ibu dan Ayah, kepada teman-teman, dan juga kepada…”


“Joel.”ucap Theresia pelan, ia mengepalkan tangannya sembari menahan segala perasaanya yang campur aduk, ia sungguh menyesali waktu-waktu yang telah ia sia-siakan.


Hari itu, di bulan Februari tepatnya di hari ke 29, Tsukiyama Theresia Iris dipersembahkan kepada Dewa penguasa lautan.


**


“Jadi kurang lebih seperti itu, aku sudah mati.”ucap Theresia menjelaskan pada Julius.


“Tetapi jiwa ku tetap hidup di tanggal 30 bulan Februari berkat kekuatan ini.”lanjutnya pada Julius.


“Kemampuan mu yang semacam ini, apa ini sejenis sihir atau semacamnya?”tanya Julius pada Theresia.


“Entahlah, saat aku mati aku sempat bertemu dengan Dewa laut yang selama ini menjaga Desa Tsukiyama, dia sangat membenciku dan mengatakan jika aku adalah reinkarnasi dari Dewi yang sangat dekat dengan tuhan.”


“….”Julius sedikit terkejut setelah mendengar penjelasan itu.


“Saat masih hidup, aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang diriku yang lahir sebagai reinkarnasi seorang Dewi, namun saat jiwaku telah bertemu dengan Dewa laut itu, tiba-tiba saja seolah tubuh dan jiwa ku mengingat semuanya termasuk cara menggunakan kekuatan ini dan darimana ia berasal.”ucap Theresia pada Julius.


“Karena kekuatan ini tidak memiliki nama, jadi aku memutuskan untuk memberikannya sebuah nama, sebuah kekuatan yang merupakan pemberian dan juga menjadi sumber masalah bagi warga Desa, maka aku menyebutnya sebagai GIVEN: COMPLEXITY.”ucap Theresia sembari tersenyum pada Julius.

__ADS_1


“Setelah melalui semuanya sendirian, dia masih bisa tersenyum seperti itu.”pikir Julius sesaat setelah melihat senyum Theresia.


“Aku bersyukur…”ucap Theresia pelan.


“Bulan Februari hanya memiliki hari sebanyak 28, dan 29 hari muncul dalam 4 tahun sekali. Hari ke 30 tidak akan pernah ditemukan dalam bulan Februari.”


“Kupikir aku akan menghilang selamanya disini dengan meninggalkan penyesalan, tetapi kau kembali kesini…”sambung Theresia dengan suara lirih pada Julius.


“Kau kembali, Joel…”


Theresia menatap wajah Julius dengan pandangan berkaca-kaca, dalam hatinya ia merasa bersyukur karena telah bertemu dengan seseorang yang selama ini meninggalkan rasa penyesalan di dalam hatinya.


Tubuh Theresia perlahan memancarkan cahaya keemasan, hingga membuat Julius mengalihkan pandangannya sesaat.


Julius kembali menatap Theresia, namun kini Theresia yang sebelumnya memiliki sosok sebagai Theresia yang berusia 10 tahun berubah menjadi sosok Theresia yang telah berusia 15 tahun, begitu pula dengan Julius, tubuhnya berubah menjadi Julius ketika berusia 15 tahun lengkap dengan pakaian yang ia kenakan saat mengikuti ujian di Kerajaan.


“Saat ulang tahun ku yang ke 15, panjang rambutku masih sama seperti terakhir kali kita bertemu. Kupikir aku akan memanjangkan rambutku, jika suatu saat nanti kau kembali ke Desa aku akan menunjukkannya kepadamu sebagai kejutan, Rambut hitam sebahu yang berkilauan.”


“Aku sangat penasaran seperti apa diriku di usia ke 20, aku sangat ingin menunjukkannya kepadamu, Theresia dan Joel saat berusia 20 tahun. Tapi aku bahkan tidak hidup sampai usia ke 20.”ucap Theresia sembari membelai rambut kehitaman miliknya yang telah tumbuh hingga sepunggung berkat kemampuannya.


“…”Joel menundukkan wajahnya.


“Tsukiyama Theresia Iris…”


“Aku menyukaimu! Sejak hari itu aku sama sekali tidak pernah menyesal pernah mengatakannya, bahkan saat ini aku akan mengatakannya lebih keras dari waktu itu!”


“JOEL MENYUKAI THERESIA!”teriak Julius dengan begitu kerasnya.


Saat usiamu 10 tahun, saat usiamu 15 tahun, bahkan jika dirimu tidak mencapai usia yang ke 20! aku selalu… selalu… selalu mencintaimu!”teriak Julius dengan begitu kerasnya dihadapan Theresia.


Theresia menjentikkan jarinya, dalam hitungan sekejap mata, suasana di tempat itu berubah kembali menjadi gambaran Desa Tsukiyama 10 tahun yang lalu, lengkap dengan Theresia yang berdiri diatas sebuah batu besar dan dikelilingi oleh anak-anak lainnya.


Theresia membawa Julius kembali pada hari dimana ia menyatakan perasaannya, ia menarik nafas panjang sembari berdiri dihadapan Julius.


Hari itu aku berlari bagai seorang pengecut, aku selalu menyesali hari dimana aku berlari tanpa memberikan jawaban apapun untuk anak laki-laki bodoh yang menyatakan perasaannya kepadaku.


Tetapi hari ini...


“JOEL, AKU JUGA!”teriak Theresia begitu keras dihadapan Julius.


**


Pada akhirnya…


Julius Alexandre menikahi jiwa Tsukiyama Theresia Iris dan hidup bahagia didalam dimensi yang tak pernah ditemukan.


Mereka dianugerahi sepasang anak laki-laki dan perempuan, saat usia anak mereka menginjak angka 17 tahun, mereka mengirim anak-anak itu kembali ke Desa Tsukiyama agar dapat melanjutkan kehidupan selayaknya manusia normal. Sementara Julius dan Theresia melanjutkan kehidupan mereka didalam dimensi 30 februari hingga mereka berusia 70 tahun.


Anak-anak dari Julius dan Theresia membuka lembaran baru dalam garis keturunan Tsukiyama dan menikah dengan penduduk Desa, mereka melahirkan anak-anak yang dianugerahi kemampuan GIVEN yang bermacam-macam.


Makam Julius dan Theresia dapat ditemukan bagi siapapun yang mampu mengunjungi dimensi 30 februari, Julius telah membangun makam Theresia jauh-jauh hari sebelum dirinya meninggal, memang terlihat lucu tetapi kedua pasangan ini menikmatinya dengan tertawa bersama sepanjang waktu saat melihat makam itu.


Di hari-hari berikutnya, kerajaan yang ditinggalkan oleh Julius menjadi gempar, Raja yang memiliki kedekatan dengan Julius memerintahkan seluruh pasukan terbaiknya untuk menemukan keberadaan Julius dan membawanya kembali.


Seluruh penyihir dan peramal terbaik dikumpulkan dalam sayembara kerajaan guna menemukan keberadaan Julius yang menghilang, namun mereka tak pernah berhasil menemukan apapun selain kuda dan pedang milik Julius.


Setelah Julius meninggal di usianya yang ke 70 tahun, Theresia menghadapi Dewa penguasa lautan dan mengurung nya agar tidak lagi menimbulkan masalah bagi warga Desa dikemudian hari menggunakan kemampuan GIVEN: COMPLEXITY miliknya, ia menciptakan dimensi baru, yakni dimensi Februari hari ke 31 dan mengurung Dewa penguasa lautan disana selamanya. Kemudian ia memutuskan untuk keluar dari dimensi 30 februari menuju dunia nyata, jiwa Theresia lenyap disana karena ia tak bisa hidup diluar dari dimensi 30 februari.


Jiwa Theresia dan Julius bereinkarnasi menjadi ombak lautan yang setiap hari saling mengejar satu sama lain tanpa pernah menemukan tujuan.


Theresia dan Julius hidup bahagia bersama hingga akhir hayatnya didalam dimensi 30 februari yang tak pernah dtemukan, bersama kenangan mereka disana selamanya.


**


Konon, dalam garis keturunan Tsukiyama telah lahir seseorang yang dianugerahi kemampuan GIVEN yang mampu membuka dimensi 31 februari milik Theresia yang berisikan kekuatan Dewa penguasa lautan.


GIVEN yang mampu memanipulasi kenyataan, dengan penggunanya…

__ADS_1


‘Tsukiyama Koharu’


**


__ADS_2