
[FYI: chapter kali ini memiliki alur maju mundur dan setting tempat yang berpindah-pindah, tanda ** adalah batasan yang mengakhiri cerita dan menandakan perpindahan tempat,waktu atau alur ke cerita yang lainnya.]
—————————
Lavia Lumiere Rouge, bila kata ‘MI’ dalam ‘MIERE’ dan ‘GE’ dalam ‘ROUGE’ dipisahkan, maka akan membentuk sebuah kata baru yang lebih pendek, yaitu Lavia ‘Mirage’ yang jika diterjemahkan dalam bahasa Inggris berarti fatamorgana.
La Via berasal dari kata dalam Bahasa France, La Vie yang berarti kehidupan, sedangkan Lumiere Rouge berarti cahaya terang. Bila digabungkan, Lavia Lumiere Rouge/Lavia Mirage berarti Kehidupan cahaya terang/Kehidupan Fatamorgana.
Konon, dalam garis keturunan Tsukiyama beredar kabar tentang keberadaan seorang gadis yang mampu menciptakan fatamorgana yang terasa sangat nyata.
Jika ia menciptakan matahari, maka panasnya akan terasa hingga menembus permukaan kulit, jika ia menciptakan salju, maka dinginnya akan terasa menusuk hingga ke tulang leher.
Gadis itu dalam kabar tersebut bernama Tsukiyama Lavia Lumiere Rouge atau lebih dikenal sebagai Lavia Mirage si gadis fatamorgana.
Menurut kabar, usianya berkisar antara 17-18 tahun.
Ia tak pernah menampakkan wajahnya ke dunia luar, keberadaannya bagai sebuah oasis diantara gurun pasir yang tertutup oleh badai debu.
Keberadaannya yang samar-samar itu pun pada akhirnya membuat eksistensinya sebagai anggota keluarga Tsukiyama hanya dapat diasumsikan melalui perkiraan dan cerita dari mulut ke mulut.
Nama Lavia Mirage sangat samar, bagai sebuah fatamorgana.
Belakangan sebuah fakta tentang Lavia Mirage telah tersebar hangat diantara garis keluarga Tsukiyama lainnya.
'Lavia adalah gadis yang sengaja diasingkan dari dunia luar..'
Menurut cerita, suatu ketika Lavia pernah membuat 2 orang maid keluarga yang bekerja di rumahnya kehilangan akal sehatnya, padahal apa yang dilakukan 2 orang maid tersebut hanya masuk ke dalam kamar milik Lavia untuk meletakkan sarapan pagi miliknya disana
Tidak lebih..
Entah apa yang telah diperbuat Lavia pada dua orang maid tersebut sehingga mereka kehilangan akal sehatnya.
Semenjak kejadian itu, Ayah dan Ibu Lavia memutuskan untuk mengunci erat pintu kamar miliknya dan tak memberikan akses kepada siapapun untuk masuk kedalam, bahkan untuk diri mereka sendiri.
Kedua orang tua Lavia menutup erat keberadaan Lavia dan menjauhkannya dari dunia luar.
**
*1 bulan berlalu..
Lavia masih terkunci erat dibalik pintu kamarnya. Ia tidak merasakan lapar meskipun telah berada di dalam kamarnya selama 1 bulan tanpa makanan sedikitpun.
Ia juga tidak merasakan haus ataupun kesepian, Ia sama sekali tidak merasakan penderitaan.
Dan yang lebih buruknya..
‘Keadaan semacam itu tidak membuatnya mati..’
Hal ini pada akhirnya benar-benar meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa Lavia bukanlah seorang gadis yang terlahir sebagai manusia, keberadaanya benar-benar harus ditutup rapat dari dunia luar dan dirahasiakan.
*1 1 bulan berlalu..
Hari ini adalah hari yang sakral bagi seluruh garis anggota keluarga Tsukiyama. Setiap bulan November menuju akhir tahun, seluruh Garis Keluarga Tsukiyama akan melaksanakan pertemuan yang tentunya wajib diikuti seluruh anggota keluarga.
Anggota keluarga Lavia termasuk yang akan hadir disana.
Pertemuan keluarga ini dihadiri oleh para tetua Tsukiyama pendahulu, sifatnya sangat sakral dan sarat akan persaingan.
Dalam pertemuan ini para tetua akan membahas tentang calon penerus yang akan memimpin garis keturunan Tsukiyama di masa depan.
Ayah dan ibu Lavia meninggalkan kediaman mereka bersama dua orang Butler keluarga untuk turut hadir dalam pertemuan tahunan tersebut, mereka meninggalkan Lavia seorang diri dibalik pintu kamarnya yang terkunci rapat.
Pada hakekatnya, dalam usianya yang masih muda, seharusnya Lavia menjadi salah satu kandidat penerus yang mungkin saja akan memimpin garis keturunan Tsukiyama di masa depan. Tetapi, kedua orang tua Lavia benar-benar meniadakan keberadannya.
__ADS_1
**
Tidak terasa 11 bulan telah berlalu semenjak pertemuan itu..
Rambut Abu-abu Lavia tumbuh memanjang hingga hampir menyentuh permukaan lantai, kukunya yang tidak dirawat 11 bulan belakangan kini telah menjelma layaknya kuku binatang liar, matanya agak terlihat kering dan sedikit menghitam.
Jika dirawat, mungkin bola mata milik Lavia akan memancarkan warna merah yang indah seperti warna merah delima. Namun, merah yang tersisa dimatanya kini hanyalah warna yang padam, merah yang menandakan kebingungan dan keputusasaan.
**
“Aneh sekali, kemampuan GIVEN Seek milikku bisa digunakan untuk menemukan apapun di dunia ini, tapi aku sama sekali tidak bisa menemukan jalan keluar dari pulau ini.”ucap Charle sembari membentuk portal cahaya menggunakan tangannya.
“Tidak salah lagi, ini adalah kemampuan gadis itu.”balas salah seorang anggota keluarga Tsukiyama yang belakangan dipanggil dengan sebutan paman oleh Charle dan Sheele.
“...”Charle menanggapi ucapan sang paman dengan tatapan tidak mengerti.
“Lavia Lumiere Rouge, si gadis fatamorgana.”paman Tsukiyama itu tampak mengerutkan dahinya.
Nampaknya ia baru saja mengingat seseorang yang sangat merepotkan.
“Eh.. jadi Pulau ini adalah kemampuan GIVEN ya ? Aku tidak tau kalau ada GIVEN semacam ini.”balas Charle, namun ia menanggapinya dengan santai.
“Pulau ini adalah fatamorgana, keberadaannya tidak nyata dan hanya sebuah khayalan, namun semua orang yang terperangkap didalamnya merasakan keberadaan pulau ini sebagai sesuatu yang nyata."
"Seperti itulah cara kerja kemampuan GIVEN milik Lavia si gadis fatamorgana.”
“Kemampuan GIVEN milik Charle hanya mampu menemukan sesuatu yang memiliki wujud, dan tidak dapat digunakan untuk menemukan sesuatu yang keberadaannya tidak nyata, seperti pulau ini."sambung sang paman keturunan Tsukiyama tersebut menjelaskan pada Charle.
“Hee.. Kemampuan yang luar biasa.”balas Charle, lagi-lagi dengan nada yang santai.
“Kelembaban tanah dan rasa asin dari air lautnya terasa benar-benar nyata.”ucap Sheele sembari mengukur kelembaban tanah dikedua tangannya.
“Kemampuan GIVEN milik Lavia menciptakan hayalan yang tidak nyata, namun keberadaannya benar-benar nyata ."
"Bahasa ini mungkin sulit dimengerti oleh anak-anak seperti kalian, tanah yang dipegang oleh Sheele adalah tanah yang terasa lembab dan nyata, air laut yang mengalir disini juga terasa asin dan dingin, tetapi sebenarnya mereka tidak nyata. Hanya kita yang terperangkap di pulau ini yang dapat merasakan unsur keduanya.”ucap sang paman kembali menjelaskan.
“Duh.. Kalian memang masih anak-anak sih.”ucap sang paman sembari menepuk wajahnya dengan dahi yang mengkerut.
“...”Charle menoleh kearah tubuh Amane yang sedari tadi masih tergeletak tak sadarkan diri, ia nampak menyadari sesuatu.
“Paman! Dia bergerak”teriak Charle sembari menunjuk tubuh Amane.
Charle berlari mendekati tubuh Amane dan spontan menepuk-nepuk pipi Amane dengan polosnya.
“Ayo bangun, bangun-bangun”ucap Charle menepuk pipi Amane secara bergantian.
*GRAPP* dengan cepat tangan Amane mencengkram wajah Charle hingga membuat Charle berteriak. “ARGHH !! A-Aku minta maaf, tolong lepaskan aku!”teriak Charle kesakitan setelah Amane mencengkram wajahnya.
“...”Amane menatap Charle dengan pandangan mata yang sayu, pandangannya masih terasa kabur, tapi perlahan-lahan ia mulai dapat menyesuaikan diri.
“Cuma bocah nakal ya.”gumam Amane, tangannya masih erat mencengkram wajah Charle.
“Siapa yang kau panggil bocah nakal hah?! Aku ini orang yang menyelamatkan mu tau, berterima kasihlah sedikit! Dasar tidak tau malu.”balas Charle dengan tangan Amane yang masih mencengkram wajahnya, pipinya nampak merah.
“Aaaaa, Charle bisa mati..”ucap Sheele dengan wajah panik.
“Eh ? Ada satu lagi yang wajahnya mirip, kembar ya.”gumam Amane sembari mengalihkan pandangannya pada Sheele.
Sheele nampak bersembunyi dibalik tubuh paman Tsukiyama, ia nampak khawatir dengan Charle, tapi ia tidak berani mendekati Amane yang seperti ingin mencengkram nya dari sana.
“Gorilla.”gumam Sheele sembari menjulurkan lidahnya dari balik tubuh sang paman.
“Ha?! Kau bilang apa barusan gadis kecil.. Aku tidak dapat mendengar dengan jelas.”ucap Amane dengan tatapan kesal serta dahi super mengkerut setelah mendengar ejekan Sheele.
__ADS_1
“Lepaskan aku gadis Gorilla!!”teriak Charle.
Amane semakin memperkuat cengkramannya hingga membuat wajah Charle menggelembung seperti balon udara.
“Duh, sepertinya ini akan berakhir merepotkan.”gumam sang paman sembari menepuk wajahnya.
**
“Jadi begitulah situasinya.”sang paman yang berasal dari keluarga Tsukiyama tersebut menuangkan segelas air hangat dan menawarkannya pada Amane.
Sebelumnya ia telah menjelaskan situasi kudeta yang telah terjadi digaris keturunan Tsukiyama, dan sebab mengapa mereka berakhir di pulau ini.
“Hanya air laut yang disuling secara manual dan dihangatkan.”jelas sang paman pada Amane.
“Kau mungkin belum mempercayai kami sepenuhnya, tapi ini tidak beracun.”sang paman menuangkan air yang sama pada gelas kayu miliknya dan meneguk air hangat tersebut dihadapan Amane.
“Jadi, kalian bertiga adalah kerabat Koharu-sama ya ?”Amane meneguk air hangat tersebut sembari mengajukan pertanyaan pada sang paman serta Charle dan Sheele yang berada dihadapannya.
“Secara teknis, kami diasingkan karena kami lemah, anggota keluarga lain yang berusaha melindungi Koharu mungkin sudah dihabisi. Tapi jangan khawatir, kami ada dipihak Koharu.”jelas sang paman berusaha meyakinkan Amane.
“Terima kasih..”
“Mungkin agak telat mengucapkannya, tapi terima kasih karena telah berada disisi Koharu-sama”Amane menundukkan wajahnya dihadapan paman Tsukiyama tersebut serta Charle dan Sheele.
Wajahnya nampak memerah, mungkin akibat dari hangatnya air sulingan yang baru saja ia teguk perlahan.
Sesekali matanya nampak sembab, meskipun ia berusaha menutupinya dengan gelas kayu yang sedari tadi dipegangnya, namun sangat jelas terlihat kalau Amane sedang berusaha menyembunyikan rasa bersyukur nya.
“....”Semua akan baik-baik saja.
Sheele mendekati Amane dan menepuk lembut rambut kemerahannya.
“Semua akan baik-baik saja.”ucap Sheele untuk kedua kalinya.
“Yosh, kalau begitu saatnya memulai misi pelarian dari pulau ini.”ucap Charle dengan nada semangat serta senyum yang dibuat-buat, sepertinya ia juga ingin menghibur Amane tapi ia terlalu gengsi untuk menunjukkannya.
**
“Siapa itu ?”
“Aku tidak pernah melihatnya.”
“Apa dia anggota keluarga ?”
Hari itu, tepatnya dibulan November mendekati penghujung tahun. Seperti biasanya, pertemuan tahunan anggota keluarga Tsukiyama dilaksanakan dan dihadiri oleh para tetua.
Namun, kala itu semua orang yang berada di pertemuan itu dikejutkan dengan kedatangan seorang gadis berambut abu-abu dengan mata kemerahan yang tak pernah menampakkan diri sebelumnya.
Ini bukanlah cerita klasik tentang Cinderella dan sihir ajaibnya. tetapi, gadis dengan bola mata kemerahan itu datang bersama angin, dengan mengenakan sepatu kaca yang berkilauan, diiringi dengan suara hentakannya yang keras dan seolah mengisi seluruh sudut ruangan.
Gadis itu menatap orang-orang disekeliling dengan bola matanya yang merah padam.
“Hey...”
“Apa kalian semua nyata ?”ucap gadis itu pelan dan sesaat diiringi oleh kepulan kabut yang menyapu habis seluruh orang-orang dipertemuan kala itu.
**
Hari itu..
Di bulan November, menuju penghujung akhir tahun..
Tsukiyama Lavia Lumiere Rouge dengan GIVEN miliknya yang dikenal sebagai Mirage atau fatamorgana hadir dalam pertemuan tersebut.
__ADS_1
Lavia melepaskan kemampuan GIVEN miliknya dan menghapus keberadaan orang-orang yang hadir dipertemuan itu, mereka semua melebur dan menghilang bagai fatamorgana yang keberadaannya hanya sebatas hayalan.
‘Ia membantai orang-orang yang hadir dipertemuan kala itu, tanpa menciptakan rasa sakit.’