
"Kamu sudah gila!" pekik Faisal marah.
Aku terduduk lemas di bangkuku, tidak berani menatap Faisal yang sedang meledak-ledak. Sementara itu Bapak dan Ibu Iskandar, Mas Boby dan Wak Ipah duduk diam di depanku. Saat ini aku merasa seperti seorang anak yang telah melakukan kesalahan dan harus dimarahi agar jera. Semua mata tertuju padaku membuatku kikuk dan serba salah.
"Sal, biarkan dulu Ani bicara," ujar Wak Ipah tenang. Suaranya terdengar berwibawa.
"Memangnya apa lagi yang bisa dia katakan, bu? Dia benar-benar bodoh! Saya tidak menyangka kalau dia mau dihina dan direndahkan seperti ini. Dia boleh seribu kali bilang cinta, tapi tetap saya tidak bisa terima keputusannya itu," sahut Faisal dengan mata berkilat-kilat tertuju padaku yang masih terduduk lesu.
"Aku cuma berusaha memberi jalan keluar yang terbaik," kataku sambil terisak pelan.
"Jalan keluar yang terbaik? Hah, yang terbaik untuk siapa? Untuk manusia brengsek itu?" tanya Faisal dengan suara meninggi.
"Sal!" bentak Wak Ipah. Lalu dengan wajah kikuk melirik sekilas pada kedua mertuaku yang sampai saat ini masih tetap diam tak bersuara.
Tapi Faisal tampaknya tak peduli dengan bentakan Wak Ipah itu. Dengan wajah penuh kemarahan dia menatapku dan melanjutkan ucapannya, "Kau telah melakukan satu kesalahan besar yang akan kau sesali seumur hidupmu. Seharusnya kau minta cerai saja secepatnya. Tinggalkan dia. Heran aku, laki-laki brengsek seperti itu masih juga kau cintai. Kamu ini bodoh atau gila?!"
"Jangan begitu, Sal," rintihku.
"Ani, kamu harus berani untuk menuntut cerai padanya. Biar dia tahu kalau dia tidak bisa memperlakukanmu seenak jidatnya. Apa dia pikir, mentang-mentang kau sudah tidak memiliki orangtua, maka dia bisa memperlakukanmu seenaknya? Masih ada aku dan ibu yang akan selalu menjaga dan melindungimu, Ani. Dan dia harus ingat itu!"
"Kalau kau terus emosi seperti ini, mana bisa masalah ini selesai?" keluh Wak Ipah pada Faisal.
"Tapi masalah ini memang sudah selesai, Wak," kataku lirih.
"Nah, ibu dengar itu?" ucap Faisal kesal.
Wak Ipah menghela nafas panjang. Tak tampak sedikit pun amarah pada wajah tuanya itu. Dengan suara yang sangat tenang, Wak Ipah bicara padaku. "kau boleh menganggap masalah ini sudah selesai, Ani. Tapi demi tuhan kami semua masih belum mengerti dengan keputusan yang kau ambil ini. Ini keputusan besar yang sangat mengejutkan. Dan ini bukan main-main. Tahukah kamu betapa sakitnya dimadu? Kau harus membagi suamimu dengan perempuan lain dalam segala hal. Hartanya, kasih sayangnya, cintanya, perhatiannya, waktunya... Pikirkanlah lagi, Ani. Apa benar kau sanggup menjalaninya?"
"Iya, nak. Berpikirlah lagi dengan jernih," pinta ibu mertuaku ikut menasihati.
"Tapi Mas Dudy benar-benar mencintai Ika, bu. Saya tidak bisa memisahkan mereka," jawabku menangis.
"Tapi Dudy tidak boleh berbuat seenaknya seperti ini. Ibu tidak rela dia menyakiti hatimu."
"Ya, kami semua tidak rela Dudy menyakiti hatimu, Ani." Kali ini Mas Boby yang bicara.
"Jadi apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanyaku bingung.
"Ya, bercerai! Tinggalkan dia secepatnya. Biar dia rasakan kehilangan istri sebaik kamu. Apa dia pikir Ika bisa jadi istri yang sempurna seperti kamu? Hah, perempuan murahan itu bisa apa selain merayu?" Faisal bicara masih dengan emosi yang menggebu.
"Bercerai? Lalu bagaimana dengan nasib anak-anakku, Sal?"
"Kau kan bisa mencarikan papa baru buat mereka."
"Sal!" Wak Ipah membentak, terkejut mendengar kata-kata Faisal.
Faisal cemberut tapi tak menyahut. Dia diam sambil menahan perasaan kesal di hatinya.
__ADS_1
"Kenapa tak kau pertahankan suamimu, An? Dia milikmu. Kenapa kau biarkan dia dimiliki oleh perempuan lain?" tanya bapak mertuaku.
"Saya sudah coba mempertahankan Mas Dudy, pak. Sesungguhnya saya sangat terluka karena dia tega membagi cintanya pada Ika. Tapi saya tidak bisa... Cinta telah membutakan mata Mas Dudy. Dia bahkan rela untuk berbuat dosa," jawabku menerangkan.
"Biarkan saja dia berbuat dosa. Toh, kau tidak menanggung dosanya itu," sambar Faisal cepat.
Aku menggeleng pelan. "Aku mencintai Mas Dudy, Sal. Dia suamiku. Aku tak mau dia terus tenggelam dalam dosanya."
"Kenapa begitu? Dosa itu hasil dari perbuatannya sendiri, kan?" tanya Faisal dengan sikap sinis.
"Ah, mengertilah, Sal...," rintihku.
Tak akan ada orang yang bisa mengerti dengan perbuatan bodohmu ini, An. Bahkan bapak dan ibu Iskandar pun pasti tak bisa mengerti," sahut Faisal.
Aku segera menoleh pada kedua mertuaku itu. Mereka mengangguk. "Ya, Ani, keputusanmu ini benar-benar mengejutkan. Mestinya kau bicara dulu dengan kami sebelum kau mengambil keputusan seperti ini. Menyembunyikan perbuatan Dudy dari kami adalah perbuatan yang salah. Toh, pada akhirnya kami tetap mengetahuinya juga," kata bapak mertuaku.
"Maafkan saya, pak. Sebetulnya saya cuma takut kalian semua marah pada Mas Dudy," kataku menyahuti.
"Sekarang pun aku marah pada suamimu itu. Bahkan membencinya," Lagi-lagi Faisal berkata penuh emosi.
"Tidak. Saya mohon kalian jangan membenci Mas Dudy. Dia menikahi Ika atas permintaan saya," kataku segera.
"Bapak akan bicara dengan Dudy secepatnya. Dia harus mau membatalkan pernikahannya dengan perempuan penggoda itu," kata bapak mertuaku dengan tegas.
Sebersit harapan pun tumbuh dalam hatiku. Aku mendesah lega. "Semoga Mas Dudy mau mendengarkan kata-kata bapak," kataku penuh harap.
"Pak!" pekikku terkejut. Ibu mertuaku pun menangis.
"Biar saja. Dia boleh memilih antara orangtuanya atau perempuan penggoda itu," kata bapak mertuaku berkeras.
"Tapi bukan penyelesaian yang seperti ini yang saya inginkan, pak. Mas Dudy sedang tersesat. Tolong jangan musuhi dia," ratapku menangis.
"Jadi kau ingin kami semua menerima pernikahannya itu?" tanya Mas Boby.
"Kita harus bisa menerima kenyataan, kan?" aku balik bertanya.
"Tapi bapak tidak sudi menerima perempuan itu sebagai menantu. Bapak tidak rela dia masuk menjadi anggota keluarga Iskandar Danutirta!" seru bapak mertuaku terbawa emosi.
Aku menangis lagi. Amarah bapak mertuaku itu membuat hatiku jadi semakin tak karuan. Dengan menikahi Ika memang akan melepaskan Mas Dudy dari dosa. Tapi sekaligus menghempaskannya ke permasalahan baru yang tak kalah buruknya. Apa jadinya jika Mas Dudy terbuang dari keluarga besar Iskandar Danutirta? Ah, aku bahkan tak sanggup untuk membayangkannya.
Tiba-tiba tangis Resa terdengar nyaring hingga perdebatan kami terhenti. Aku segera berlari ke kamar menghampirinya. Bungsuku itu ternyata sudah duduk di ranjangnya. Dan begitu melihatku dia langsung mengangkat kedua tangannya minta digendong.
"Sudah bangun, nak?" kataku sambil menggendongnya dan membawanya ke ruang depan dimana semua orang sedang berkumpul.
"Kesinikan cucuku," pinta bapak mertuaku.
Ku serahkan Resa pada kakeknya yang segera saja menciuminya dengan sayang. Tangis Resa pun terhenti sebentar. Tapi kemudian dia mulai menangis lagi. Dia haus, pikirku. Segera saja aku pergi ke dapur dan membuatkan susu untuknya.
__ADS_1
"Haus, sayang?" tanyaku sambil menyerahkan botol susu pada Resa. Tangis Resa terhenti. Sambil asyik menyusu disandarkannya kepalanya ke dada kakeknya yang tak henti membelainya. Bocah itu pun tampak senang.
"Apa Dudy tak merasa kasihan pada anak-anaknya? Tega benar dia mengkhianati keluarganya. Padahal hidupnya sudah begitu sempurna," kata bapak mertuaku dengan emosi yang sudah mulai mereda.
"Tapi disatu saat nanti, disaat mereka sudah bisa mengerti tentang pengkhianatan papanya, hati mereka pasti terluka, Ani. Sebab semua anak di dunia ini pasti ingin bisa memiliki kedua orangtuanya secara utuh. Mereka tak akan rela membagi Dudy dengan siapa pun juga. Ikatan batin mereka pada papanya akan menimbulkan perasaan cemburu yang lebih besar dari yang kau punya. Kau tahu itu?"
"Semoga mereka bisa menerima kenyataan ini dengan lapang dada," doa ku cemas.
Faisal mendengus sebal. "Kenapa kau mengharapkan anak-anakmu jadi manusia bodoh seperti kau, Ani?" tanyanya sinis.
"Ah, Wak Ipah mendesah pelan. "Janganlah kau pojokkan Ani terus, Sal. Kenyataan ini sudah terlalu berat buat dia."
"Saya tidak bermaksud untuk memojokkan dia. Saya cuma kesal dengan kebodohannya. Harusnya dia bisa bersikap tegas pada Dudy agar Dudy sadar kalau dia tidak bisa mendapatkan semua yang dia inginkan," katanya dengan nada kecewa.
"Ya, tapi Ani telah memilih jalan keluar yang terbaik menurut dia. Tak ada lagi yang bisa kita lakukan sekarang. Mungkin kita cuma bisa berharap semoga Dudy mau mendengarkan nasihat Pak Iskandar dan membatalkan pernikahannya dengan Ika."
Mas Boby mengangguk. "Ya, kami akan bicara dengan Dudy secepatnya," janjinya.
"Kami juga minta maaf, Bu Ipah. Kami minta maaf karena Dudy telah menyakiti Ani. Sungguh kami malu atas perbuatannya ini," kata ibu mertuaku pada Wak Ipah.
Wak Ipah menggeleng pelan. "Semua ini bukan kesalahan ibu dan bapak. Cinta memang bisa menguasai hati siapa saja."
"Tidak ada manusia yang sempurna. Tidak Mas Dudy dan juga saya," lanjutku.
"Tapi kau mampu berkorban sedemikian besarnya untuk Dudy, An. Demi menghindari Dudy dari dosa, kau rela dimadu. Tidak semua perempuan bisa melakukan itu," puji ibu mertuaku.
"Perempuan lain bertindak pintar. Mereka minta cerai," cetus Faisal sambil melirik kearahku.
Aku diam, tak ingin lagi berdebat dengan Faisal.
Setelah itu pembicaraan selesai. Semua tetap pada pendirian masing-masing. Aku dengan kepasrahanku, Faisal dengan amarahnya dan bapak mertuaku dengan kekerasan hatinya. Aku tak menyalahkan siapa-siapa atas semua ini. Mereka menyayangiku. Mereka berhak marah melihat aku disakiti. Aku hanya berharap semoga besok keadaan tak jadi lebih buruk dari sekarang.
***
Pernikahan itu akhirnya berlangsung juga di sebuah rumah kenalan Mas Dudy di luar kota. Mereka menikah di bawah tangan. Toh, yang penting hubungan mereka sah di mata tuhan seperti yang ku mau, begitu alasan Mas Dudy. Dan alasan lainnya agar hanya aku istri satu-satunya yang tercatat secara resmi. Ika pun setuju saja dengan keputusan Mas Dudy itu. Sedangkan aku, ku pikir itu baik juga buatku.
Aku menghadiri pernikahan itu didampingi oleh Prita. Air mata tak henti-hentinya mengalir di pipiku. Terlebih ketika ku lihat Mas Dudy berdampingan dengan Ika di depan penghulu. Hatiku rasanya hancur dan tak berbentuk lagi. Dia, yang sedang duduk bersanding di sana itu adalah suamiku. Dan kini dia sedang mengucap janji setia untuk perempuan lain. Itu berarti besok malam bukan aku yang berada dalam dekapnya. Bukan bersamaku dia membagi hangatnya. Ah...
Ika terlihat begitu bahagia. Tak lepas tangannya memeluk lengan Mas Dudy. Dia mungkin sedang menikmati kemenangannya. Tapi tak tahukah dia betapa sakitnya hatiku melihat kemanjaannya itu? Andai dia ingin bermanja-manja dengan Mas Dudy, ku mohon jangan lakukan itu di hadapanku. Tapi syukurlah sepanjang perjalanan pulang ke Jakarta, Mas Dudy terus memelukku. Dibawanya aku dalam kehangatan dadanya. Dan betapa pelukan hangat itu memberiku sedikit kekuatan.
Tapi pernikahan itu harus dibayar mahal oleh Mas Dudy. Bapak mertuaku mewujudkan ucapannya dan kini beliau tak lagi menganggap Mas Dudy sebagai anaknya. Aku sedih bukan kepalang. Apa lagi ketika ku lihat Mas Dudy tak peduli dengan semua itu. Agaknya cinta Mas Dudy pada Ika kelewat besar hingga dia tak peduli lagi pada apa pun juga.
Satu minggu setelah pernikahan itu Ika pindah dari rumah kontrakannya ke rumah yang agak besar dan tak terlalu jauh dari rumahku. Biar gampang Mas Dudy mengunjungi kami, alasan Mas Dudy waktu itu. Aku dan Ika setuju-setuju saja.
Kini hari-hari sepi mulai kujalani. Mas Dudy tak lagi selalu ada di sampingku dan menemaniku lewati malam. Aku harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan ini walau kurasakan teramat berat. Sering aku terjaga di tengah malam dan mendapati diriku kedinginan dan kesepian. Tak ada Mas Dudy di sampingku. Tempatnya kosong. Selalu kuraba tempat yang kosong itu dengan penuh kasih. Tapi Mas Dudy tidak pernah tahu akan semua itu. Dia pasti tengah bahagia mendekap Ika di sana. Di kamar ini aku cuma sendiri. Menikmati sepiku sambil membayangkan dia ada di sampingku dan membisikan kata-kata cinta di telingaku. Suaranya begitu mesra hingga aku terlena mendengarnya. Aku mencintaimu, Ani... Aku menyayangimu...
Ah, Mas Dudy, hatiku perih setiapkali kau sedang bersamanya di sana. Seharusnya cintamu sebesar cintaku. Mestinya pengorbananku membuatmu sadar dan tak lantas menari di atas lukaku...
__ADS_1