
Lima buah batang coklat jatuh dari dalam tas Ayala. Segera kupungut dan kuletakan di atas meja belajarnya. Ini coklat mahal. Jadi tak mungkin jika Ayala membelinya sendiri. Tapi siapa yang telah memberikan coklat ini padanya? Kalau Mas Dudy rasanya tak mungkin. Bukan kebiasaan Mas Dudy membelikan anak-anak coklat. Dan lagi Mas Dudy masih berada di rumah Ika. Ah, pasti Oscar.
Tiba-tiba Ayala masuk dan tampak terkejut melihat coklatnya sudah berpindah tempat. Dan seperti ingin menghindariku, dia segera kembali melangkah keluar.
"Aya!" panggilku cepat.
Ayala menghentikan langkahnya dan membalikan badan menghadap padaku.
"Kemari, mama mau tanya. Ini coklat Aya?"
Ayala mengangguk.
"Siapa yang beri?"
Ayala menggeleng. "Engga boleh bilang."
"Loh, kenapa? Siapa yang melarang Aya untuk bilang sama mama?"
Sekali lagi Ayala menggeleng hingga membuatku penasaran.
"Ayo dong, Aya. Aya harus jujur sama mama. Mama engga marah kok," bujukku.
"Tapi tante Ika nanti marah," sahut Ayala polos.
"Oh, jadi yang membelikan coklat ini Tante Ika?"
Ayala mengangguk.
"Kapan?"
"Tadi pagi di sekolah."
"Kenapa Aya engga bilang sama mama kalau Tante Ika kasih coklat buat Aya? Kenapa Aya sembunyi-sembunyi dari mama?"
"Habis Tante Ika pesan engga boleh bilang sama mama, nanti mama marah."
"Mama engga akan marah, Aya. Asal Aya jujur sama mama. Nah, sekarang coba Aya cerita sama mama, apa Tante Ika sering kasih coklat seperti ini sama Aya?"
Ayala mengangguk lagi. "Iya, ma, tapi kadang permen atau roti. Tante Ika baik deh, ma. Tante Ika sering datang ke sekolah Aya. Sering bawa oleh-oleh buat Aya."
Mendengar cerita Ayala, aku jadi semakin penasaran untuk mengorek keterangan tentang sepak terjang Ika di belakangku. Perempuan satu itu sepertinya benar-benar mengajakku untuk berperang. Dengan segera ku ajak Ayala untuk duduk di atas ranjangnya. Gadis kecilku itu pun dengan lancar menjawab semua pertanyaanku dengan gayanya yang polos.
"Kalau Aya sedang bertemu Tante Ika, apa saja sih yang dibicarakan?"
__ADS_1
"Tante Ika sering tanya apa Aya mau tinggal di rumah Tante Ika? Tante Ika bilang di sana juga ada papa."
"Terus Aya jawab apa?"
"Aya bilang, Aya mau tinggal sama mama aja."
"Apa Tante Ika marah mendengar jawaban Aya?" kejarku.
"Engga," geleng Ayala. "Tapi besoknya Tante Ika tanya begitu lagi sama Aya. Aya sampe bosen, deh, mendengarnya."
Oh, jadi begitu caranya dia merayu Ayala? Dia pikat anakku dengan makanan-makanan pemberiannya untuk kemudian dibujuknya pelan-pelan. Tapi kali ini Ika harus tahu kalau aku tak akan menyerah kalah karena aku akan mempertahankan anak-anakku sampai titik darah penghabisan.
"Mama senang kalau Aya menolak ajakan Tante Ika untuk tinggal di rumahnya. Karena kalau Aya tinggal di sana, nanti mama kangen sama Aya. Kakak dan adik juga nanti kangen sama Aya. Kami semua pasti sedih. Aya kan anak mama. Mama sayang sekali sama Aya."
Ayala tersenyum manis padaku. "Aya juga sayang sama mama," katanya.
"Kalau begitu Aya jangan sembunyi-sembunyi lagi dari mama. Aya harus jujur. Kalau Tante Ika membawakan Aya oleh-oleh, Aya jangan mau, ya. Biar nanti mama saja yang belikan Aya coklat yang banyak."
Ayala bersorak senang. Lalu kubiarkan dia berlari kembali keluar dan kembali bermain bersama teman-temannya di teras depan.
Aku jadi teringat lagi percakapan dengan Wak Ipah ketika kami rekreasi tempo hari. Ternyata benar Ika tidak puas cuma dengan merebut suamiku saja. Dia benar-benar keterlaluan!
***
Ketika Mas Dudy datang sore itu, segera kuceritakan semua itu padanya. Tapi reaksi Mas Dudy kali ini benar-benar di luar dugaanku. Mas Dudy tampak dingin menanggapi. Malah terkesan kalau dia sedikit membela Ika.
"Ya, memang tidak salah kalau Ika membelikan Ayala coklat atau permen, mas. Tapi caranya itu yang aku tidak suka. Kenapa dia harus sembunyi-sembunyi seperti itu?" kataku jengkel.
"Mungkin Ika takut untuk datang kemari. Kau kan pernah mengusirnya dulu," lagi-lagi Mas Dudy membela Ika.
"Tentu saja waktu itu ku usir dia. Dia datang ingin mengambil Ayala dariku!"
"Ah, kau berlebihan. Bukan mengambil tapi cuma ingin mengasuh saja. Masa tidak boleh kalau dia ingin mengasuh anakku?"
"Mas!" Aku terkejut mendengar kata-kata Mas Dudy. Demi tuhan dia telah berubah.
"Sudahlah, An, jangan suka meributkan hal-hal yang sepele seperti ini. Aku tidak mau kalau kau terus mencurigai Ika," kata Mas Dudy cemberut.
Emosiku terpancing. Bagaimana mungkin dia malah menyalahkan aku? Sudah jelas-jelas Ika ingin merebut semua milikku. Tidak bolehkah jika aku menaruh rasa curiga padanya? Oh, tuhan, Wak Ipah benar. Ika telah berhasil menguasai suamiku!
"Kenapa kau malah menyalahkan aku, mas? Apa masih kurang pengorbananku untuk kau dan Ika? Apa masih harus juga kuserahkan anakku padanya? Demi tuhan aku tidak rela anakku diasuh olehnya. Dan aku tidak suka kalau diam-diam dia mendekati Ayala dan mengajarkannya untuk berbohong padaku!"
Mas Dudy mengangkat kepalanya dan dengan pandangan tajam menatapku. "Oh, ya? Tapi kau jangan lupa kalau mereka juga anak-anakku! Dan aku lebih suka kalau mereka diasuh oleh Ika dari pada oleh pacar gelapmu itu!" seru Mas Dudy dengan emosi yang meluap.
__ADS_1
Sekali lagi Mas Dudy membuatku terkejut. Aku bahkan hampir tidak mempercayai pendengaranku. Tapi wajah marah Mas Dudy membuatku percaya kalau seruan marah suamiku itu memang nyata.
"Pacar gelap? Mas menuduhku punya pacar gelap?" seruku seperti tercekik.
"Itu bukan tuduhan! Aku tahu kau selingkuh!" serunya lagi.
"Apa? Aku selingkuh?" kataku dengan mata terbelalak. "Mas, apa-apaan ini? Bisa-bisanya kau menuduhku seperti itu! Dari siapa fitnahan ini kau dengar, mas? Dari Ika?"
"Jangan lagi kau tuduh Ika yang bukan-bukan. Ika tidak sejahat itu! Setidaknya Ika tidak pernah mengkhianatiku dengan bercinta dengan laki-laki lain selagi aku sedang tidak ada di rumah!"
Aku ternganga mendengar ucapan Mas Dudy. Tak pernah ku sangka kalau dia akan menuduhku seperti itu. Hatiku sakit. Tapi aku masih bisa menguasai diri.
"Tega kau tuduh aku serendah itu, mas. Demi tuhan aku tidak pernah mengkhianatimu. Apa lagi sampai membawa laki-laki ke rumah ini selagi kau tidak ada, mas. Kau pasti mendengar cerita bohong," kataku mencoba mendinginkan hati Mas Dudy.
"Oh, begitu? Jadi laki-laki bernama Oscar itu tidak pernah masuk ke rumah ini selagi aku tidak ada? Lantas kenapa Tassa dan Ayala begitu mengenal dia? Jawab, Ani, kenapa?!"
Tangisku pecah. Jadi semua ini tentang Oscar? Rupanya selama beberapa hari ini Mas Dudy mencari tahu tentang Oscar dan dia salah memahami pertemananku dengan Oscar selama ini. Rasa cemburunya membuat dia tak lagi dapat menerima penjelasanku. Matanya tajam berkilat-kilat menatapku. Sedang wajahnya begitu dingin dan menyeramkan.
Sejak menikah dengannya belum pernah ku lihat Mas Dudy semarah ini padaku. Bahkan pada setiap pertengkaran kami, aku masih bisa melihat kelembutan di wajahnya. Tapi kali ini amarah Mas Dudy membuatku gemetar ketakutan. Aku pun menangis dengan dada yang berdebar kencang.
"Ku pikir kau perempuan yang setia, Ani. Ku pikir aku bisa mempercayaimu. Tapi ternyata aku salah. Ternyata kau perempuan pengkhianat yang pandai bersandiwara!"
"Tapi Oscar itu cuma teman, mas. Tidak pernah ada yang terjadi antara aku dan dia," kataku mencoba menjelaskan.
"Hah!" Mas Dudy membentak marah. "Kalau hanya teman kenapa kau sembunyikan dia dariku? Kenapa dia harus datang diam-diam ke rumah ini selagi aku tidak ada? Dia laki-laki dan kau perempuan yang bersuami, Ani. Kau pikir pantas membawanya masuk kemari seperti itu? Kau taruh dimana otakmu, hah?!"
Aku segera meraih tangan Mas Dudy dan menciumnya dengan hormat. Tapi dengan kasar Mas Dudy menepiskan tanganku.
"Maafkan aku, mas. Memang aku salah telah menerima kedatangannya kemari. Tapi Oscar datang kemari hanya untuk bermain bersama Tassa dan Ayala."
"Oh ya? Baik sekali dia mau meluangkan waktunya untuk bermain bersama anak-anakku," sindir Mas Dudy dengan nada yang tajam.
"Itu benar, mas. Oscar tidak datang untukku."
"Kau pikir untuk apa dia mendekati Tassa dan Ayala kalau bukan untuk memikat hatimu? Kau pasti tahu itu, kan? Aku tahu kau tidak sebodoh itu, Ani. Kau pasti tahu kalau laki-laki itu telah jatuh hati padamu dan kau senang menanggapinya. Atau dia telah mengucapkan kata-kata cinta itu padamu?"
"Demi tuhan, mas, tuduhan itu tidak pernah terjadi. Aku tidak pernah mengkhianatimu. Aku tidak pernah mencintai laki-laki lain selain kamu."
"Jangan kau bawa-bawa nama tuhan untuk menutupi kebohonganmu. Kau biarkan dia masuk ke rumah ini dan mendekati anak-anakku. Kau ajak dia berekreasi dan bergembira bersama anak-anakku! Apa maksudmu melakukan semua itu kalau bukan karena kau juga mencintainya? Jangan kau bodohi aku seperti itu, Ani, karena aku tidak sebodoh yang kau kira!"
"Tapi aku tidak sedang membodohimu. Aku juga tidak pernah mengajak Oscar untuk berekreasi bersama anak-anak. Oscar kebetulan datang ketika kami mau berangkat dan anak-anak memintanya untuk ikut. Aku tidak mungkin mengusirnya, kan? Lagi pula saat itu kami berekreasi bersama Faisal dan Wak Ipah. Kami tidak hanya berdua-dua, mas."
"Tapi perbuatanmu itu tetap salah. Apa pun alasanmu untuk membela diri, kau tetap salah. Dan satu hal yang harus kau ingat, aku tidak mengizinkan anak-anakku untuk bertemu lagi dengannya, apa lagi di rumahku! Kau mengerti itu?!"
__ADS_1
"Ya, maafkan aku," ratapku. Tak ada lagi yang dapat ku katakan untuk membuat Mas Dudy percaya bahwa aku tidak pernah mengkhianatinya. Mas Dudy begitu yakin akan prasangkanya itu hingga tak ada celah bagiku untuk membela diri. Mungkin kini aku teramat buruk di mata Mas Dudy.
Pada Oscar kuceritakan semuanya. Mungkin ini yang terbaik agar dia mengerti kalau dia harus menjauh dari aku dan anak-anakku. Syukurlah Oscar dapat mengerti. Kini dia tak lagi pernah lagi datang atau menghubungiku. Mula-mula anak-anakku merasa kehilangan dan terus bertanya tentang dia. Tapi lama-kelamaan akhirnya mereka bisa melupakan Oscar juga. Kehidupan kami pun kembali berjalan seperti dulu. Oscar seakan terlupakan. Namanya hilang seiring waktu yang berlalu.