
Tiga hari telah berlalu. Tassa dan Ayala tak juga memberikan suaranya padaku. Sedang si bungsu Resa telah menyatakan setuju dan mengharapkan kehadiran Faris di rumah ini. Aku jadi bingung menghadapi sikap diam kedua putriku itu. Padahal Ika kemarin telah meneleponku dan kembali memohon padaku. Dia bilang sakitnya bertambah parah dan umurnya tak lagi bisa menunggu. Duh, aku jadi serba salah.
"Tolonglah, An. Berilah aku jawaban sebelum ajalku datang agar aku dapat pergi dengan tenang. Aku tak ingin memaksa kalian. Tapi demi tuhan aku merasa umurku semakin dekat," ratap Ika di telepon.
Aku pun tak bisa memberikan jawaban apa-apa selain janji untuk menghubungi dia secepatnya. Ku harap saja Ika bisa menunggu sampai kedua putriku siap memberikan jawaban.
Dan akhirnya, di hari kelima mereka datang padaku dengan raut wajah yang tenang. Tak ada pancaran emosi walau mereka tampak serius. Keduanya duduk sopan dihadapanku. Dengan tidak sabar aku pun segera membuka percakapan dengan mereka.
"Bagaimana? Sudah kalian dapatkan keputusan yang terbaik untuk Faris? Ini sudah hari kelima. Dan Tante Ika sudah dua kali menelepon mama. Kasihan, dia bilang sakitnya semakin parah. Dan dia merasa kematiannya semakin dekat. Tante Ika membutuhkan jawaban dari kita secepatnya supaya dia bisa pergi dengan tenang. Keputusan apa pun bagi Tante Ika tidak masalah. Yang Tante Ika inginkan hanyalah mengetahui bagaimana nasib Faris sepeninggalnya nanti. Dia ingin tahu siapa yang akan mengasuh Faris nanti."
"Oh, jadi cuma itu yang Tante Ika inginkan? Mengetahui siapa yang akan mengasuh Faris sebelum dia pergi? Jadi Tante Ika tidak berharap Faris dapat tinggal di sini bersama kita?" tanya Tassa.
"Tentu saja Tante Ika berharap agar Faris dapat tinggal di sini bersama kita, Sa. Hanya saja Tante Ika tak mau memaksa. Dia hanya memohon kebesaran hati kita untuk bisa menerima Faris," jawabku.
"Tassa pikir hati mama terlalu luas," ucap Tassa pelan.
"Ya, seluas samudera," sambung Ayala.
Aku jadi tersenyum mendengarnya. Pujian itu pun dilontarkan Mas Dudy semalam. Hatiku seluas samudera katanya. Ah, aku jadi berbunga-bunga. Dan rasanya hatiku semakin mantap untuk memaafkan Ika dan menerima Faris sebagai anakku.
__ADS_1
"Apa benar Tante Ika akan segera meninggal, ma?" tanya Ayala.
"Mama tidak tahu, sayang. Cuma tuhan yang tahu tentang umur seseorang. Tapi menurut cerita Tante Ika, sakit yang dideritanya itu telah semakin parah dan mungkin tubuhnya tidak akan kuat untuk bertahan lebih lama lagi. Sebaiknya sekarang kita sama-sama banyak berdo'a untuk kebaikan Tante Ika. Maafkanlah semua kesalahannya agar beban hatinya berkurang. Mama rasa, mendendam sudah tidak ada gunanya lagi sekarang. Tak ada yang bisa kita rubah dengan dendam kita itu. Kenyataan kalau Tante Ika pernah hadir dalam kehidupan kita tidak bisa kita hapus dengan dendam. Apa lagi kenyataan bahwa selain kalian, papa juga punya seorang anak bernama Faris yang terlahir dari rahim Tante Ika. Faris bukan sekadar kenangan. Tapi dia nyata, ada di depan kita sekarang. Jadi kenapa kita harus lari dari kenyataan cuma karena memiliki dendam terhadap Tante Ika? Mama lebih memilih memberi maaf dan ikhlas. Karena cuma rasa ikhlas yang membuat hati kita menjadi damai."
Tassa dan Ayala memandangku sambil tersenyum manis. "Ya, mama benar. Dendam itu memang tak guna lagi sekarang. Karena kenyataannya sekarang Tante Ika sedang sakit parah. Dan Faris pun sudah terlanjur terlahir ke dunia ini. Jadi mungkin yang terbaik memang memaafkan Tante Ika dan menerima kehadiran Faris di tengah-tengah kita," kata Tassa dengan suara yang jernih.
"Ya, kami ingin menjadi orang yang ikhlas seperti mama. Menjadi perempuan yang tegar dan memiliki hati yang seluas samudera," sambung Ayala dengan kerlipan mata indahnya.
Segera ku peluk mereka dengan penuh kebanggaan. Ternyata aku telah berhasil mendidik mereka jadi perempuan yang berhati emas. Dendam itu kini telah sirna dari hati mereka. Mereka telah mampu untuk memaafkan dan menerima kenyataan dengan ikhlas. Semoga tanpa dendam di hati, hidup kami akan terasa lebih indah.
***
"Jadilah anak yang baik, nak. Jadilah anak yang soleh dan berbakti," pesan Ika seraya memeluk Faris. "Mama sayang sama Faris. Tapi mama tidak bisa menemani Faris lebih lama lagi. Maafkan mama, mama harus pergi...."
"Biarkan aku merawatmu, Ika," pintaku tulus.
Ika menggeleng pelan. "Aku tak ingin lagi merepotkanmu, Ani. Biarkan aku dengan takdirku," tolak Ika. Lalu dengan susah payah dia mencoba untuk tersenyum padaku.
"Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih untuk semua kebaikanmu. Aku bangga pernah jadi sahabatmu. Karena kamu adalah manusia paling baik yang pernah aku kenal. Aku menyesal telah menyakitimu...
__ADS_1
"Lupakan semua itu, aku telah memaafkanmu," ucapku sedih.
Mendengar ucapanku itu Ika pun tersenyum manis padaku. Senyuman terakhir yang Ika beri. Karena setelah itu Ika berpamitan pulang dan tak mau lagi kutemui.
***
Kami bersimpuh di atas pusara Ika. Do'a tulus terucap penuh khidmat. Ada kesedihan merasuki hatiku saat ku kenang dia. Ika yang dulu pernah jadi sahabatku dan pernah menjadi musuh terbesarku, kini terbujur kaku di dalam sana. Kematian telah membawanya pergi satu bulan yang lalu. Ika pergi meninggalkan kenangan untukku. Segores kenangan manis, juga segores kenangan pahit. Kenangan yang akan selalu ada di hatiku selamanya.
Tak pernah kubayangkan sebelumnya kalau aku akan berdiri di depan makam Ika dan mengucapkan do'a tulus untuknya. Masih jelas terekam dalam ingatanku ketika dulu dia merebut suamiku. Bagaimana dia tega mengkhianatiku dan mengucapkan kata-kata yang begitu pedih menyayat hatiku. Semuanya masih ku ingat dengan jelas. Juga kejadian saat dia datang meminta Ayala padaku. Dulu aku begitu membencinya. Tapi sekarang rasa benci itu telah berganti dengan kata maaf yang tulus. Aku ingin Ika dapat beristirahat dengan tenang di sana. Dan semoga maaf dariku bisa meringankan langkahnya menghadap Ilahi.
"Ma, sudah selesai berdo'anya?" tanya Faris padaku.
Aku menoleh. "Sudah, sayang. Mari kita pulang."
Faris mengangguk lalu mengucap pamit pada pusara Ika." Faris pulang dulu, ma. Mama engga usah khawatir lagi. Sekarang Faris punya papa dan mama yang sayang sama Faris. Juga kakak-kakak yang baik. Mama tidur saja yang tenang di sini. Besok kalau Faris libur sekolah lagi, Faris pasti akan datang ke sini dan berdo'a untuk mama."
Aku tersenyum kecil mendengar kata-kata Faris. Dengan penuh kasih ku belai rambut hitamnya.
"Mama Faris pasti bahagia sekarang," ucapku tulus.
__ADS_1
Faris menatapku sambil tersenyum lebar. Setelah itu kami melangkah pergi meninggalkan Ika sendirian. Tapi sebelum meninggalkan kompleks pemakaman ini, aku sempat menoleh sekali lagi. Dari kejauhan makam Ika terlihat sunyi. Ah, beristirahatlah dengan tenang, Ika. Aku berjanji akan menyayangi Faris seperti anakku sendiri.
Dan kami pun melangkah pulang.