
Siang ini cuma ada aku dan Mas Dudy di rumah. Kami sedang bersantai sejenak setelah makan siang. Aku hendak istirahat barang sejenak setelah sejak pagi buta tadi sibuk mengurusi pesanan katering untuk hari ini. Mas Dudy pun hendak bersantai sambil menemaniku. Toko alat tulisnya sementara dijaga oleh Bik Mur.
Kami sedang asyik menonton televisi ketika bel berbunyi. Dengan malas aku berdiri dan berjalan menuju pintu.
Siapa sih, siang-siang begini bertamu?" gerutuku.
"Mungkin tamu istimewa," canda Mas Dudy menyahuti.
Aku segera membuka pintu dan melangkah keluar hendak membuka pagar. Tapi baru dua langkah aku berjalan, langkahku langsung terhenti. Aku tersentak kaget melihat tamuku yang sedang berdiri di depan pintu pagar rumah.
"Selamat siang, Ani," sapa tamu itu dengan sikap sopan.
"Kau...? Mau apa lagi kau datang kemari?!" tanyaku diantara rasa marah dan terkejut.
Ika berdiri menatapku dengan wajah yang memelas. Ku lihat dia tak lagi secantik dulu. "Maaf, Ani, aku tak bermaksud mengganggumu," sahutnya.
"Lantas apa maksudmu datang lagi kemari? Apa belum puas kau hancurkan hidupku dulu?" tanyaku dengan emosi yang hampir memenuhi dada.
Ika menggeleng pelan. "Aku datang ingin minta maaf, Ani. Aku tahu sudah terlalu besar dosaku padamu dan Mas Dudy," ucapnya sendu.
Aku melangkah gusar mendekatinya. Lalu dengan penuh kebencian kutatap dia. "Pergi kau dari sini dan jangan pernah kau ganggu kami lagi!"
" Tapi aku harus bertemu dengan Mas Dudy."
"Untuk apa? Untuk merayunya lagi?"
"Tidak, Ani. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengannya."
"Oh ya? Tentang apa itu?"
"Izinkanlah kami masuk dulu...," pinta Ika memohon.
Aku menoleh pada bocah lelaki yang berdiri di samping Ika. Baru ku sadari kalau ternyata Ika tidak sendiri. Ada bocah lelaki yang berdiri di sampingnya dengan keringat yang membasahi keningnya. Dia tampak lelah dan kehausan. Tampak beberapakali dia menelan ludah. Dia pun memandangku seakan memohon agar diizinkan masuk supaya bisa beristirahat barang sejenak. Aku jadi kasihan melihatnya. Dan dengan terpaksa akhirnya kupersilakan juga mereka untuk masuk.
__ADS_1
"Sekarang cepat katakan hal apakah yang ingin kau bicarakan dengan suamiku. Maaf, Mas Dudy sedang istirahat jadi dia tidak bisa diganggu," kataku ketika kami sudah berada di ruang tamu.
"Tapi aku harus bertemu dengan Mas Dudy, Ani," kata Ika lagi.
"Tidak," tolakku tegas.
"Ku mohon, Ani..., izinkan aku untuk bertemu dengan Mas Dudy. Aku berjanji setelah itu aku akan benar-benar pergi dari kehidupan kalian."
Aku memandang curiga pada Ika. Ku pikir, perempuan jahat itu saat ini sedang memainkan tipu muslihatnya untuk menghancurkan aku lagi. Akting Ika sangat sempurna dalam memainkan peran sedihnya. Ekspresi wajahnya benar-benar terlihat sendu dan putus asa. Huh, rasanya aku ingin mengusirnya kalau saja tatapan bocah lelaki yang bersamanya itu tidak menggelitik rasa ibaku. Akhirnya aku cuma menanggapi permintaan Ika itu dengan sikap acuh. Aku tidak mengusirnya, juga tidak mengiyakannya.
"Ku mohon, Ani, sebentar saja," pinta Ika masih memohon.
"Tidak, Ika. Lagi pula ku rasa Mas Dudy sudah tidak ingin lagi bertemu denganmu. Tahukah kau setelah kepergianmu itu dia sangat membencimu? Bagi Mas Dudy, kau sudah mati," sahutku pedas.
"Oh," rintih Ika lirih. Lalu dia terisak pelan.
"Sebaiknya kau pulang saja sekarang. Jangan tunggu sampai Mas Dudy mengusirmu," kataku dingin.
"Tapi aku tidak mau kau bertemu dengannya!" ucapku jengkel.
Bocah lelaki yang bersama Ika itu tampak ketakutan. Dia memeluk tangan Ika erat-erat. Ika pun menoleh padanya dan kemudian memeluknya dengan penuh kasih sayang.
"Siapa dia? Anakmu?" tanyaku tersulut rasa ingin tahu.
Ika mengangguk. "Namanya Faris," jawabnya.
"Oh, dimana bapaknya? Kenapa tidak kau ajak kemari sekalian?" tanyaku dengan rasa penasaran yang makin besar.
"Justru karena itulah aku mengajak Faris kemari. Biar Faris bisa bertemu dengan bapaknya, An," jawab Ika mengejutkan.
"Maksudmu?" tanyaku tercekat.
Ika menatapku dengan wajah yang teramat sedih. Lalu dengan suara lirih dia berkata, "Faris anak Mas Dudy, An. Dia darah daging Mas Dudy."
__ADS_1
"Tidak!" pekikku tertahan.
"Demi tuhan, An, aku tidak bohong. Aku sedang mengandung ketika aku pergi meninggalkan Mas Dudy dulu. Saat aku menyadarinya, aku terlalu takut untuk pulang."
"Bohong! Kau penipu! Dasar manusia berhati busuk!" seruku nyaring. Aku tak bisa menutupi rasa terkejutku.
"Percayalah, aku tidak berbohong. Aku tahu semua ini pasti mengejutkan untuk kamu dan Mas Dudy. Tapi Faris...."
"Tidak! Jangan lagi kau teruskan tipu muslihatmu ini, Ika! Cukup sudah kau hancurkan aku dulu. Jangan lagi kau ganggu kami!" seruku dengan amarah yang tak dapat lagi kubendung.
Bocah bernama Faris itu semakin nampak ketakutan. Dia seolah ingin bersembunyi di balik tubuh Ika. Kedua matanya takut-takut mencuri pandang padaku. Sementara Ika menatapku dengan wajah memohon. Dia tampak gelisah merangkul Faris
"Ada apa, Ani?" tanya Mas Dudy dari dalam. Rupanya dia mendengar teriakanku tadi.
"Demi tuhan, An, ku mohon," pinta Ika lagi.
Aku cuma terdiam di tempatku sambil tak lepas memandangi Faris. Ku coba mencari bayang-bayang Mas Dudy dalam diri bocah laki-laki itu. Faris bertubuh kurus. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Kedua matanya begitu jernih dan indah dinaungi alis yang cukup tebal.
Kupandangi dan terus kupandangi hingga aku dapat meyakinkan hatiku kalau Faris memiliki wajah yang sangat mirip dengan Mas Dudy. Dan demi tuhan, aku bisa melihat bayang-bayang Mas Dudy terbiasa di wajahnya. Bahkan baru ku sadari kalau ternyata Faris begitu mirip dengan Resa, putraku. Seketika itu juga aku merasa tubuhku mendadak lemas. Aku pun duduk bersandar pada sofa tanpa bisa berkata apa-apa.
"Ika?!" seruan Mas Dudy membuatku cepat menoleh ke belakang. Ternyata Mas Dudy telah ada di belakangku dengan wajah tegang menahan marah.
"Dasar perempuan tidak tahu malu! Beraninya kau datang kemari menemui kami. Pergi kau! Kedatanganmu ini membawa sial! Dasar istri durhaka! Manusia pengkhianat!" maki Mas Dudy seolah ingin melepaskan dendam di hatinya.
"Maafkan aku.... Aku datang hanya untuk bicara. Aku tidak bermaksud mengganggu kalian...," ucap Ika lirih.
"Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Dan kami pun tidak berminat untuk mendengarkan apa yang akan kau katakan. Jadi pulanglah dan jangan pernah lagi kau datang kemari," ucap Mas Dudy tegas.
"Tapi, mas, dengarkan dulu...."
Mas Dudy menggeleng tanda dia tak mau lagi mendengarkan kata-kata Ika. "Jangan kau datang dan pergi sesuka hatimu. Aku dan Ani punya perasaan. Dan ku pikir, pasti kau juga masih punya sedikit perasaan untuk bisa merasa. Atau perasaanmu sudah mati? Seperti aku menganggapmu sudah mati selama ini?"
Setelah itu Mas Dudy membuka pintu lebar-lebar dan menggerakan tangannya menyuruh Ika untuk keluar.
__ADS_1