
Ika menangis. Dia terlihat putus asa. Dengan berlinang air mata dia terus memandang Mas Dudy yang masih terus berada di depan pintu.
"Maafkan aku, Mas Dudy. Aku tahu, aku telah berdosa padamu dan Ani. Aku menyesal...," ratap Ika sedih.
"Aku dan Ani tidak bisa memaafkanmu. Dosamu itu terlalu besar dan menyakitkan," kata Mas Dudy dengan suara yang sangat jelas.
Tangis Ika semakin sedih. Wajahnya terlihat pucat. Sambil terisak dia terus memeluk Faris. Sementara Faris tampak gemetar menatap Mas Dudy.
"Aku tahu kalau dosaku terlalu besar pada kalian. Tapi ku mohon dengarkanlah dulu aku bicara. Ada sesuatu yang ingin kubicaran denganmu, mas. Dan ini bukan tentang aku," kata Ika kemudian.
"Oh ya? Jadi tentang siapa? Tentang aku? Aku baik-baik saja, Ika. Aku tidak pernah merasa bersedih atas kepergianmu. Aku malah berharap tak lagi bertemu denganmu seumur hidupku," kata Mas Dudy segera.
"Tenanglah dulu, mas. Ku mohon dengarkan dulu aku bicara." Ika terus memohon.
"Aku bilang tidak! Apa kau tuli, Ika? Aku sudah tidak mau lagi mendengarkan apa-apa darimu! Pergi kau sekarang! Pergi!" seru Mas Dudy lantang.
Faris terpekik pelan, lalu menatap wajah Ika. "Ma, Faris mau pulang," bisiknya pelan.
"Tapi Faris, kan, mau ketemu papa?" sahut Ika dengan suara yang juga pelan.
"Faris takut," bisik Faris lagi.
Melihat Faris yang ketakutan seperti itu, tiba-tiba saja aku ingat Resa. Jika Resa yang berada di posisi Faris sekarang, tentu hatiku akan hancur berkeping-keping. Sebagai seorang ibu, aku tersentuh membayangkan bagaimana perasaan bocah itu sekarang. Harapannya pasti terangkai indah saat dia berangkat tadi. Dia pasti ingin dipeluk, dipanggil sayang oleh laki-laki yang diimpikannya sebagai papa. Seperti Resa yang senang bermanja pada Mas Dudy. Faris juga pasti menginginkan kehangatan itu. Tapi kenyataan yang dia temui sekarang ternyata tak seindah mimpinya semalam. Dia bahkan gemetar ketakutan dan hampir menangis dalam pelukan Ika. Oh, tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?
"Sebaiknya kau pulang, Ika. Kasihan anakmu," kataku akhirnya.
"Tidak, ku mohon jangan usir kami, Ani. Ku mohon, demi Faris." Ika begitu berkeras.
Aku tak kuasa lagi memintanya untuk pergi. Mungkin sebaiknya memang kami dengarkan saja apa yang ingin Ika bicarakan itu. Sebab jika benar Faris adalah darah daging Mas Dudy, itu berarti aku harus memberi dia kesempatan untuk mengenal dan merasakan indahnya ikatan batin dengan papanya. Walau aku harus kembali dilanda perasaan cemburu dan takut kehilangan.
"Tenanglah dulu, mas. Mungkin sebaiknya kita dengarkan saja apa yang ingin Ika bicarakan," pintaku pada Mas Dudy.
"Untuk apa, Ani? Kenapa kau masih saja mau mendengarkan kata-kata perempuan jahat ini? Apa kau sudah lupa bagaimana kejamnya dulu dia mengkhianatimu? Dia cuma ingin mengatakan satu kebohongan pada kita. Sudahlah, suruh dia pergi secepatnya. Aku pun sudah muak melihat wajahnya," sahut Mas Dudy.
"Tidak, An, aku bersumpah semua ini bukan cerita bohong. Beri aku kesempatan sebentar saja dan aku akan benar-benar pergi dari hidup kalian selamanya," kata Ika memohon padaku.
"kemarilah, mas. Temani aku mendengarkan cerita Ika," kataku dengan sikap tenang.
Mas Dudy tampak ragu. Wajahnya cemberut. Tapi akhirnya dia mau juga mendekatiku dan menempatkan kursi rodanya tepat di sampingku.
Ika memperhatikan Mas Dudy seolah baru tersadar akan sesuatu. "Kamu sudah sembuh, mas?" tanyanya.
"Ya, Ani merawatku dengan penuh kasih hingga aku bisa sembuh seperti sekarang. Kau pasti berpikir kalau aku akan lumpuh selamanya, kan? Tidak, Ika. Tangan tuhan menyentuhku melalui Ani, istriku yang setia. Dia-lah pahlawanku. Malaikat penolong bagiku," jawab Mas Dudy sambil menggenggam tanganku.
Ika mengangguk pelan. "Ya, Ani memang seorang istri yang sempurna. Dan aku ikut senang dengan kesembuhanmu ini, mas. Kalian memang pantas mendapatkan kembali kebahagiaan kalian yang kuhancurkan dulu."
__ADS_1
Mas Dudy mendengus kesal." Sudah, tidak usah pakai basa-basi segala. Cepatlah katakan apa yang ingin kau katakan kepada kami. Setelah itu pergilah sejauh mungkin dari hidup kami dan jangan pernah kembali lagi," kata Mas Dudy kesal.
"Aku memang akan pergi jauh dari kalian semua dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku sakit. Umurku mungkin tinggal beberapa bulan lagi. Dan karena itulah aku terpaksa mengantarkan Faris kemari," kata Ika dengan wajah teramat sedih.
"Oh ya? Bagus sekali ceritamu ini. Tapi sayang, aku tidak menangis mendengarnya," cetus Mas Dudy sinis. Lalu sambil menunjuk Faris, dia bertanya "Lantas apa hubungannya anak itu harus kau bawa kemari? Kenapa tidak kau antarkan saja dia pada bapaknya?"
"Faris anakmu, mas. Karena itu aku membawa dia kemari," jawab Ika cepat.
"Apa?!" pekik Mas Dudy tak bisa menutupi rasa terkejutnya. Lalu sedetik kemudian dia tampak gusar. "Cerita bohongmu ini sudah keterlaluan. Rupanya kau belum puas mengganggu hidup kami. Demi tuhan aku tidak percaya kalau dia anakku. Kau perempuan mandul, Ika."
"Tidak, aku tidak mandul. Aku hanya sulit mendapatkan keturunan. Tapi ternyata aku sedang mengandung ketika aku meninggalkanmu dulu. Dan aku tidak berani untuk kembali," kata Ika menjelaskan.
"Lantas kenapa sekarang kau berani datang kemari? Apa kau pikir sekarang marahku sudah reda dan bisa kembali kau bohongi? Kau gila kalau berpikir aku percaya pada ceritamu itu," tukas Mas Dudy cepat.
"Tapi demi tuhan, mas, Faris anakmu!" seru Ika.
"Aku tidak percaya!" balas Mas Dudy.
Aku segera mengangkat tanganku meminta mereka untuk diam. "Bisakah kita bicara secara dewasa? Aku ingin kita duduk di sini untuk bicara, bukan bertengkar seperti ini."
Mas Dudy dan Ika pun terdiam. Sementara Faris terus memeluk Ika dengan wajah yang ketakutan.
"Apa benar kau sedang sakit, Ika?" tanyaku setelah keadaan tenang.
Ika mengangguk dan terisak pelan. "Umurku tak lama lagi, Ani. Entah besok atau lusa aku akan pergi."
"Faris akan sebatang kara sepeninggalku nanti, Ani. Keluargaku tak mau menerima dia karena mereka menganggap dia anak haram. Aku tak tahu lagi harus membawa Faris kemana. Harapanku satu-satunya cuma Mas Dudy...," jelas Ika sambil terus terisak.
"Tidak," potong Mas Dudy cepat. "Aku tidak percaya dia anakku. Jangan pernah berharap aku akan menerimanya."
"Percayalah kalau Faris adalah anakmu, mas. Janganlah kebencianmu padaku menutup mata hatimu dari kenyataan ini. Kasihanilah Faris. Dia tidak punya siapa-siapa lagi selain kamu, papanya."
"Benarkah kau tidak sedang berdusta, Ika? Rasanya aku sulit untuk mempercayai kata-katamu," kataku mulai disentuh perasaan iba dan sedikit rasa percaya.
"Ya, Ani. Faris adalah darah daging Mas Dudy. Semua ini bukan cerita bohong yang ku karang untuk menyakitimu. Aku pun datang kemari karena terpaksa, demi Faris. Bukan karena aku ingin mengganggu ketentraman kalian. Tolonglah, Ani, kau juga seorang ibu. Kau pasti bisa mengerti bagaimana perasaanku sekarang," kata Ika mengharap pengertian dariku.
Sekali lagi perasaanku tersentuh. Jika cerita Ika ini benar, sungguh betapa pedih perasaannya sekarang. Dia harus pergi meninggalkan buah hatinya sendirian. Sedang Faris hanyalah seorang bocah kecil yang masih sangat membutuhkan dirinya. Tak mungkin dia hidup sendirian. Faris memang membutuhkan sebuah keluarga untuk tempat dia bernaung.
"Jadi kau ingin kami mengasuh Faris?" tanyaku dengan sikap yang tenang.
"Ika mengangguk. "Maukah kalian mengasuhnya?" tanyanya penuh harap.
Aku tak bisa menjawab. Separuh hatiku ingin berkata iya. Tapi sisi hatiku yang lain masih ragu.
"Jangan lakukan ini demi aku. Tapi lakukanlah demi Faris. Dia tidak berdosa, Ani. Ku mohon jangan hukum dia atas dosa-dosaku. Setelah aku tak ada nanti, maukah kau jadi ibunya?"
__ADS_1
Aku tak bisa menjawabnya. Aku hanya duduk diam sambil menatap Faris dengan perasaan iba. Bocah itu kini tampak sedikit lebih tenang.
"Bagaimana kami bisa tahu kalau kau tidak sedang berbohong dan menipu kami?" tanya Mas Dudy dengan suara yang tak lagi terdengar tajam.
"Entahlah, saat ini aku tak bisa membuktikan apa-apa pada kalian. Tapi mungkin nanti kalian bisa mempercayainya kalau kalian sudah berdiri di atas makamku. Dan ku rasa itu tidak akan lama lagi...." Ika tak dapat melanjutkan kata-katanya. Dia tersedu sedih sekali. Sementara itu tangannya tak lepas mendekap Faris seolah-olah dia akan meninggalkan buah hatinya itu dengan hati yang tak rela.
"Aku tahu semua ini adalah hukuman atas dosa-dosaku padamu, Ani," kata Ika setelah dapat menguasai dirinya. "Dulu, bertahun-tahun lamanya aku memimpikan kehadiran seorang anak di dalam hidupku. Dan aku selalu berharap bisa mendapatkan hidup yang sempurna seperti kau, An. Punya suami dan anak yang selalu menyayangiku. Tapi kenyataan yang harus kuterima, aku melahirkan Faris sendirian. Dan membesarkan dia tanpa suami di sampingku. Dan besok aku harus meninggalkan dia untuk selama-lamanya. Hatiku hancur, Ani. Kenyataan ini terlalu berat untukku."
Kata-kata Ika menyentuh hatiku. Tanganku bergerak pelan menyentuh Faris. Bocah itu tak menolak. Aku pun jadi tergerak untuk memeluknya dengan kasihku. Kutarik dia perlahan ke dalam pelukanku. Dan kurasakan cinta yang sama yang ku punya untuk Resa, memenuhi ruang hatiku. Ah, aku punya cinta untuknya.
"Ani...," panggil Mas Dudy pelan.
"Aku cuma ingin memeluknya," kataku sambil terus memeluk Faris.
"Tapi...."
"Resa senang bermanja seperti ini padaku."
"Tapi dia bukan Resa."
"Tapi dia mirip sekali dengan Resa."
Mas Dudy mendesah pelan. Entah kesal, entah bingung. Tapi dia tak lagi melarangku memeluk Faris.
" Faris haus?" tanyaku dengan suara yang lembut.
Faris mengangguk pelan. Segera saja aku beranjak ke dalam untuk mengambilkan air minum untuknya. Tak lama aku pun kembali dengan dua gelas sirup dingin. Ku berikan satu pada Faris dan satunya lagi ku letakan di atas meja. Tanpa menunggu lama Faris pun meneguk minuman dingin itu dengan nikmat.
"Terima kasih, tante," ucapnya sopan.
Aku pun tersenyum padanya. Faris tampak tenang sekarang. Dia tak tampak ketakutan lagi seperti tadi. Sambil masih terus memegangi gelas minumannya, dia duduk tenang di samping Ika.
"Ani...?" panggil Ika meminta jawaban dariku.
Aku menoleh pada Mas Dudy yang duduk diam di sampingku. Aku tahu, aku harus mengambil keputusan. Tapi mungkin sebaiknya ini tak menjadi keputusanku sendiri saja. Aku juga harus meminta persetujuan dari anak-anakku dan juga mertuaku. Sebab kehadiran Faris di rumah ini nanti akan menjadi urusan keluarga, bukan urusanku sendiri saja.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku harus bicara dulu dengan anak-anakku, juga dengan bapak dan ibu. Datanglah lagi nanti. Tapi aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padamu," kataku akhirnya.
Ika pun pulang dengan kegelisahan yang masih menggayuti hatinya. Sedangkan aku kini sibuk berperang dengan batinku sendiri. Aku tahu, aku tak mungkin menolak Faris. Tapi..., entahlah.
"Maafkan aku. Sungguh aku tak menyangka jika semua ini akan terjadi. Hatimu dan anak-anak kita masih akan terus terluka karenaku," kata Mas Dudy penuh penyesalan.
"Tidak guna menyesali semua itu, mas. Jika memang benar Faris adalah darah dagingmu, tidak ada kata lain selain kita setuju menerimanya di sini," sahutku.
"Tapi benarkah kau bisa menerimanya?" tanya Mas Dudy hati-hati.
__ADS_1
"Lantas apa kita harus mencapakannya? Kita adalah keluarganya. Dan seperti anak-anak kita yang lain, dia juga berhak atas kasih sayang dan perhatianmu, mas," kataku mencoba untuk bersikap bijaksana. Pedih, sudah pasti akan menggores hatiku. Tapi aku harus tetap bisa berpikir jernih. Tak mungkin ku korbankan Faris demi rasa cemburuku. Sebab Faris tak punya dosa apa pun padaku juga anak-anakku.
Ah, sekali lagi aku dituntut untuk kuat...