Dalam Dekapan Luka

Dalam Dekapan Luka
Bab 13


__ADS_3

Ika datang. Benar-benar suatu kejutan untukku. Apa lagi dia membawa sebuah boneka untuk Ayala. Juga bermacam kue dan coklat. Walau dengan hati bingung, kupersilakan juga dia untuk masuk dan duduk.


Pagi ini seperti biasanya rumahku sepi. Cuma ada aku dan si kecil Resa. Nining sedang ke pasar setelah terlebih dahulu mengantar Tassa dan Ayala ke sekolah.


Aku dan Ika duduk berhadapan dengan kikuk. Aku tak tahu bagaimana membuka percakapan. Apa harus kuberikan senyumku sambil menanyakan bagaimana kabarnya saat ini? Tapi rasanya aku tak lagi ingin tahu tentang keadaannya sekarang. Dan sesungguhnya aku pun tak ingin lagi melihat wajahnya. Apa lagi berhadap-hadapan dengannya seperti sekarang ini. Tapi tak mungkin ku usir dia. Biarlah kuterima saja dia dengan baik dan mendengarkan apa maksud tujuannya datang kemari pagi ini.


"Apa kabar, An?" tanya Ika berbasa-basi membuka percakapan.


"Oh, baik," jawabku datar.


"Kok sepi? Anak-anakmu sudah berangkat sekolah?"


"Sudah. Sekarang sudah pukul delapan. Cuma ada aku dan Resa di sini. Sebetulnya ada perlu apa kamu datang kemari? Apa Mas Dudy tahu tentang kedatanganmu ini?"


"Tidak," geleng Ika pelan. "Mas Dudy tidak tahu aku datang kemari. Dia sudah berangkat ke kantor ketika aku jalan tadi. Mas Dudy tidak perlu tahu, kan?"


"Tentu Mas Dudy harus tahu tentang kedatanganmu ini," kataku cepat. "Kau adalah istrinya, Ika. Seharusnya kau minta izin darinya jika ingin pergi keluar rumah. Kau harus tahu kalau Mas Dudy paling tidak suka jika istrinya pergi keluar rumah atau melakukan sesuatu tanpa minta izin terlebih dahulu."


"Ku rasa Mas Dudy tidak akan tahu tentang kedatanganku ini kalau kau tidak bercerita padanya," sahut Ika santai.


"Maksudmu aku tidak boleh bercerita pada Mas Dudy kalau kau datang kemari? Kenapa begitu? Aku tidak pernah menyimpan rahasia apa pun dari Mas Dudy."


"Apa salahnya punya satu rahasia kecil antara kita berdua? Toh, aku datang kemari tidak untuk mengajakmu bertengkar."


Aku mendesah kesal. Baru beberapa bulan dia menjadi istri Mas Dudy, tapi dia sudah mengajakku menyimpan satu rahasia dari Mas Dudy . Padahal aku, istri yang telah bertahun-tahun mendampingi Mas Dudy, selalu bersikap jujur dan terbuka pada suamiku itu.


"Katakan saja apa maksud kedatanganmu kemari. Maaf, aku tidak punya banyak waktu untuk menemanimu. Aku sibuk," desakku tak sabar.


Ika tak segera menjawab. Dia malah asyik memandangi Resa yang sedang asyik bermain sambil tersenyum. "Cepat besar dia," ucapnya tanpa menjawab pertanyaanku.


"Ya, memang. Tapi kau datang kemari pagi ini bukan untuk melihat Resa, kan?"


Ika mengangkat wajahnya menghadap ke arahku. Tiba-tiba saja dia terlihat begitu serius. Aku jadi tegang sendiri.


"Sebetulnya aku datang kemari ingin menawarkan bantuan padamu, An," katanya kemudian.


"Bantuan?" tanyaku bingung.


"Ya, bantuan untuk merawat Ayala," jawabnya santai tapi terdengar bagai suara dentuman bom di telingaku.


"Apa?" pekikku nyaring.


"Aku ingin merawat Ayala, An. Aku ingin mengajaknya untuk tinggal bersamaku."


Bagai tersengat listrik aku terlonjak kaget mendengar kata-kata Ika itu. Bagaimana mungkin dia bisa berpikir seperti itu? Merawat Ayala? Dia benar-benar gila!


"Aku tahu kau pasti terkejut mendengarnya. Tapi aku serius, An. Aku sungguh-sungguh menginginkan Ayala untuk tinggal bersamaku," kata Ika lagi, masih dengan sikap yang tenang.


Seketika itu juga emosiku seperti tersentil. Aku merasakan perlahan hatiku mulai dipenuhi oleh amarah. Ika benar-benar keterlaluan. Setelah dia berhasil merebut suamiku, kini dia pun ingin merebut anakku. Apa dia pikir aku akan diam saja membiarkan dia merebut semua milikku?


"Kau gila!" pekikku marah. "Ayala adalah anakku, darah dagingku! Kau gila kalau berpikir bisa merebutnya dariku!"


"Aku tidak ingin merebut Ayala darimu, An. Ayala tetap anakmu, kamu tetap ibunya. Aku cuma ingin merawat dan membesarkannya karena dia anak Mas Dudy. Jadi tentunya aku bisa..."

__ADS_1


"Tidak! Kau tidak bisa! Ayala anakku!" pekikku benar-benar marah.


"Aku tahu," kata Ika pelan, kontras dengan suaraku yang nyaring tadi. Dia masih terlihat begitu tenang. "Aku menyayangi Ayala karena dia anak Mas Dudy, suamiku. Ku rasa aku bisa menyayanginya seperti anakku sendiri. Apa lagi aku sulit mendapatkan keturunan. Dan aku tahu kalau kau sering kerepotan mengurusnya. Jadi maksudku baik, kan? Aku cuma ingin membantumu. Aku kan juga ibunya, An."


"Demi tuhan kau benar-benar tidak berperasaan, Ika! Apa masih belum cukup kau rebut Mas Dudy dariku? Apa sekarang kau ingin merebut anakku juga? Ya, Ayala memang nakal dan sering membuatku repot. Tapi itu tidak berarti aku ingin menyerahkannya padamu! Aku sangat menyayangi anak-anakku dan aku akan membesarkan mereka walau sesulit apa pun itu!"


"Tapi Ayala tidak akan kekurangan apa-apa bersamaku, An. Aku akan memberikan kasih sayang seperti yang kau berikan padanya selama ini. Dan dia pun akan tetap bertemu dengan papanya di sana. Jadi kau tidak perlu khawatir. Cobalah pikirkan lagi, An."


"Tidak!" seruku cepat. "Kau tidak akan mungkin bisa memberikan kasih sayang seperti aku, Ika! Karena akulah ibu yang telah mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkannya selama ini. Kau harus ingat itu!"


"Aku cuma ingin membantumu," kata Ika mulai merasa jengkel.


"Aku tidak perlu bantuanmu dalam mengasuh anak-anakku! Kau pikir, kau bisa lebih hebat dariku? Lucu sekali. Anak saja kau tidak punya. Bagaimana kau bisa merasa lebih mampu dari aku, Ika?"


"Cukup!" bentak Ika marah. Rupanya dia tersinggung dengan ucapanku itu. Wajahnya tampak gusar. Dia memandang marah padaku. "Kau tidak perlu menghinaku seperti itu. Aku memang tidak mempunyai pengalaman apa-apa dalam membesarkan anak. Aku sadar, aku belum pernah memilikinya. Kenyataan pahit bagiku karena aku sulit mempunyai anak, tidak sepertimu, Ani. Tapi aku tidak suka kau hina seperti itu. Aku juga punya perasaan!"


Mendengar ucapan Ika, tawaku berderai. "Jadi kau punya perasaan katamu? Kau merebut suami sahabatmu yang telah banyak menolongmu dan sekarang ingin pula merebut anaknya. Tidakkah kau malu mengaku punya perasaan di hadapanku? Lalu kau taruh dimana perasaanmu itu selama ini?"


Wajah Ika merah padam. Rupanya dia benar-benar marah kini. Kupikir tentulah sebentar lagi dia akan meledak. Tapi ternyata tidak. Ika duduk diam, seperti ingin meredakan emosinya. Nafasnya mulai teratur kini. Dan kemudian wajahnya tampak tenang kembali.


"Aku datang kemari bukan ingin bertengkar," katanya pelan. "Aku ingin meminta izinmu untuk membawa Ayala. Kalau kau tidak bisa berpikir dengan tenang sekarang, akan kuberi kau waktu untuk berpikir. Ku mohon, An, berikanlah Ayala padaku. Aku berjanji akan mengurusnya dengan baik seperti anakku sendiri."


"Anakku bukan barang yang bisa kau minta. Sampai kapan pun jawabanku tetap sama. Jadi pulanglah kau sekarang. Tak ada gunanya kau berlama-lama di sini, Ika."


"Baiklah, aku pulang. Tapi aku akan kembali lagi nanti."


"Tidak, ku mohon kau jangan pernah lagi datang kemari, apa lagi untuk membicarakan hal ini. Lupakan saja niatmu itu."


Aku menggeleng sebal. Ika sulit sekali mengerti kalau aku tidak mungkin menyerahkan Ayala padanya. Tidak mungkin aku memberikan anakku pada orang lain. Apa lagi pada orang yang telah merebut suamiku dan menghancurkan bahagiaku.


"Dengar, Ika. Sekali pun aku memiliki sepuluh orang anak, aku tetap tak akan menyerahkan Ayala padamu. Kau mengerti itu?"


"Oh, aku mengerti," angguk Ika. "Kau pasti sangat membenciku karena telah menikah dengan suamimu, kan? Tapi tak dapatkah kau memaafkan aku? Kita bisa saling berbagi, Ani."


"Oh, ya? Saling berbagi katamu? Kalau boleh aku bertanya, apa yang dapat kau bagi padaku setelah aku membagi suami dan anakku?"


"Kau terlalu sinis," katanya kesal.


"Dan kau terlalu egois," kataku tak mau kalah.


Ika berdiri dengan gusar. Boneka besar yang sejak tadi dipeluknya ditaruhnya di atas meja bersama dengan bungkusan kue-kue dan coklat yang tadi dibawanya. "Aku pulang," pamitnya.


"Bawa kembali oleh-olehmu itu. Ayala tidak membutuhkannya," kataku segera.


"Tidak, berikanlah pada Ayala. Tak perlu kau katakan kalau semua itu dari aku kalau kau tidak mau mengatakannya."


"Tidak! Kubilang bawa kembali oleh-olehmu itu!" seruku tajam.


Ika menatapku jengkel. Tapi kemudian dibawanya juga oleh-olehnya itu. Dia melangkah cepat meninggalkan aku. Tapi di depan pintu dia menoleh. "Jangan ceritakan pada Mas Dudy apa yang telah terjadi pagi ini. Ku rasa dia tidak perlu tahu," katanya.


"Kenapa? Kau takut Mas Dudy marah atas perbuatanmu ini?"


Ika tak menyahut. "Permisi," katanya sambil melangkah pergi.

__ADS_1


Aku mendesah lega setelah Ika pergi meninggalkan rumahku. Sungguh menyebalkan. Belum puaskah dia mengganggu ketenangan hidupku?


***


"Ika datang kemari dan meminta Ayala padamu?" tanya Mas Dudy tercengang.


"Ya, keterlaluan sekali dia. Apa belum puas dia menyakitiku?"


"Memang keterlaluan dia," kata Mas Dudy kesal. "Berani benar dia datang kemari menemuimu, padahal sudah kularang. Aku tidak mau dia menyakitimu, Ani."


Aku menoleh terkejut pada Mas Dudy." Jadi kau sudah tahu kalau dia berniat meminta Ayala padaku?" tanyaku marah.


"Tapi aku sudah melarangnya, An. Aku sudah katakan padanya kalau keinginannya itu bisa menyakiti hatimu. Aku benar-benar tidak tahu kalau dia tetap nekat menemuimu," kata Mas Dudy membela diri.


"Aku tak mengerti kenapa dia jadi tak berperasaan seperti itu," keluhku kesal. "Ayala anakku, Mas. Aku tidak mungkin memberikannya pada orang lain, terutama pada dia. Seharusnya dia tahu itu."


"Aku tahu, sayang. Memang tidak pantas dia melakukan itu. Biarlah aku bicara lagi dengannya nanti. Aku tak suka dia mengganggumu."


"Begitukah? Jadi kau masih tetap sayang padaku seperti dulu?" tanyaku sambil menatap bola matanya.


Mas Dudy memeluk pundakku, lalu dikecupnya pipiku dengan sayang. "Cintaku padamu tak akan pernah hilang, Ani," bisiknya di telingaku


"Tapi Ika hadir diantara kita."


"Maafkan aku. Aku terlalu lemah untuk bisa menolak kehadirannya. Tapi aku berjanji untuk selalu jadi yang terbaik untukmu. Hatimu tak boleh lagi terluka."


Aku tersenyum mendengar ucapannya itu. Aku tak tahu apakah harus bahagia atau kecewa mendengarnya. Nyatanya dia telah membiarkan Ika menempati posisi antara aku dan dia.


Setelah itu aku menceritakan tentang Ayala pada Mas Dudy. Suamiku itu tampak serius mendengarkan.


"Ah, masa begitu, An? Tapi setahuku dia biasa-biasa saja."


"Tapi itu yang terjadi, mas. Kenakalannya semakin menjadi. Dan semua itu karena dia berpikir kalau kau membencinya. Aku sudah berusaha memberikan pengertian padanya. Tapi tidak berhasil."


Mas Dudy diam terpekur. Dia seperti tak bisa berkata apa-apa.


"Sekarang dia harus berbagi kau dengan Ika, Mas. Dia memang tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Yang dia tahu sekarang kau jarang pulang. Dia kehilanganmu, mas."


"Jangan melebih-lebihkan seperti itu dong, An. Kau membuatku merasa bersalah."


"Aku tidak melebih-lebihkan, mas. Ayala sendiri yang bilang begitu."


"Tapi kenapa dia tidak bilang apa-apa padaku?"


"Tidak semua anak bisa dengan gampang bicara tentang perasaannya, mas. Bicaralah secepatnya dengan dia, mas. Sebelum rasa kecewanya itu semakin dalam."


Mas Dudy menghela nafas panjang. Wajahnya tampak murung. "Kasihan anak itu. Aku telah berdosa besar padanya."


Aku cuma diam. Entah apa yang harus kukatakan. Mas Dudy memang telah berdosa pada ketiga buah hatinya. Karena dia telah menciptakan satu sisi ruang kosong di hati mereka. Dan ruang kosong itu telah menghadirkan rasa sepi dan luka di hati mereka.


"Hapuslah ruang kosong di hati mereka yang telah kau ciptakan, mas. Semoga ruang kosong itu bisa kembali terisi," pintaku bersungguh-sungguh.


Mas Dudy menatapku lalu mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2