Dalam Dekapan Luka

Dalam Dekapan Luka
Bab 15


__ADS_3

Awan hitam menggelayut menyeramkan di atas langit. Gumpalan-gumpalannya memenuhi langit luas hingga tak tersisa warna cerah sedikit pun. Agaknya hujan akan turun merata di seluruh Jakarta. Dan pasti titik-titik air itu sebentar lagi akan jatuh mencium bumi. Lihatlah awan hitam yang semakin menebal itu. Sepertinya berat sekali dia bergelantungan di atas sana.


Aku mempercepat kayuhan kakiku. Sungguh aku tak ingin berhujan-hujanan sore ini. Apa lagi barang-barang belanjaanku lumayan banyak. Satu kantong besar mainan untuk anak-anak dan satu kantong buah-buahan.


Mainan-mainan ini memang sengaja ku beli untuk Tassa dan Ayala. Aku berharap mereka akan senang dan bisa sedikit melupakan kesedihan mereka.


Aku memang merasa perlu memberikan perhatian yang lebih pada kedua putriku itu. Karena ku perhatikan akhir-akhir ini keduanya berubah, semakin membuatku cemas. Ayala yang dulu cuma nakal, sekarang malah suka bicara kasar. Sedang Tassa yang dulu periang, sekarang malah berubah jadi pendiam dan suka menyendiri. Tak pernah lagi dia bercanda dan tertawa ceria seperti dulu. Sikapnya jadi sangat acuh, terutama pada Mas Dudy. Setiapkali Mas Dudy pulang, Tassa selalu mengurung diri di kamarnya. Bicara dengan Mas Dudy pun sepertinya dia enggan. Aku jadi benar-benar khawatir melihat sikap mereka yang seperti itu. Sebisanya ku dekati mereka dan mencoba mengisi hati keduanya yang kosong. Aku ingin bisa membalut luka hati mereka. Agar mereka bisa kembali menjadi putri-putri manisku seperti dulu.


Tes! Tes! Tes! Tetesan hujan mulai membasahiku. Aku pun berlari-lari kecil menuju halte bus yang ada di depan sana. Aku harus segera memesan taksi online agar tak kehujanan. Tapi sebuah suara menghentikan langkahku dan memaksaku untuk menoleh.


Oscar?" kataku ketika mengenali orang yang barusan memanggilku.


Oscar tersenyum lebar. Dia berlari-lari kecil menghampiriku. "Ani, tidak sangka kita bertemu di sini. Habis belanja, ya?" katanya ramah sambil melihat pada kantong belanjaku.


"Ya, beli mainan anak-anak," sahutku cepat. Sementara itu rintik hujan mulai membesar.


"Wah, hujannya bertambah besar. Mari, ku antar kau pulang," kata Oscar menawarkan bantuan.


Sesaat aku ragu untuk menerima tawaran dari Oscar itu. Rasanya tidak enak kalau aku pulang diantarkan oleh laki-laki. Siapa pun yang melihat bisa berpikiran negatif. Tapi hujan semakin deras. Mungkin sebaiknya ku terima saja tawaran dari Oscar untuk mengantarku pulang.


"Yuk, An, kita mulai basah," ajak Oscar sedikit memaksa. Tanpa menunggu jawaban dariku, dia mengambil kantong belanjaanku dan berjalan mendahuluiku menuju mobilnya yang diparkir tak jauh dari kami.


"Hampir saja kita basah kuyup," kata Oscar ketika kami telah berada di dalam mobil. "Lihatlah, hujan deras sekali. Kalau kehujanan nanti kamu bisa sakit. Untung saja barusan aku melihatmu, An."


"Kau sedang apa di sini?" tanyaku karena tak ku lihat Oscar membawa barang belanjaan.


"Cuma cari makan. Di situ ada tempat makan favoritku. Soto Padang. Nantilah lain waktu ku ajak kau makan di situ."


Aku tersenyum lalu mengangguk.

__ADS_1


Mobil pun berjalan lambat di tengah kemacetan lalu lintas. Sementara itu hujan turun sangat deras. Dalam hati aku bersyukur karena tak harus berteduh di halte dalam cuaca yang seperti ini.


"Oh iya, An. Aku mau minta maaf tentang kejadian tempo hari. Aku benar-benar tidak tahu kalau kau masih bersuami. Faisal bilang perceraianmu hampir selesai. Kalau aku tahu, tentu aku tidak akan datang seperti itu. Aku jadi seperti orang yang tidak tahu aturan. Sungguh aku malu sekali padamu," kata Oscar dengan sikap serius.


"Ya, Faisal memang keterlaluan. Aku tidak marah padamu, Oscar. Semua itu ulah Faisal. Kadang dia tidak berpikir panjang dulu sebelum melakukan sesuatu," kataku segera.


"Ya, Faisal memang seperti itu. Terus terang saja tadinya aku sempat marah padanya. Tapi setelah Faisal menceritakan tentang keadaan rumahtanggamu yang sebenarnya padaku, aku jadi mengerti kalau sesungguhnya dia berniat baik. Cuma caranya saja yang salah. Mungkin dia pikir setelah kita berkenalan kau akan jatuh cinta padaku dan meninggalkan suamimu," kata Oscar yang diakhiri dengan derai tawa.


"Faisal memang membenci Mas Dudy setelah pernikahannya itu. Dan setiapkali kami bertemu, dia selalu memintaku untuk meninggalkan suamiku itu dan memulai kehidupan yang baru bersama laki-laki lain," kataku menjelaskan.


"Mungkin itu karena dia sangat menyayangimu, An. Maaf ya, tapi kalau seandainya aku jadi dia, pasti aku pun akan mengambil sikap yang sama. Mana mungkin aku rela melihat adik yang ku sayangi disakiti seperti itu oleh suaminya sendiri. Orang yang seharusnya menjaga dan menyayangimu, An."


Aku diam. Ya, Oscar benar. Aku pun tak akan rela melihat orang yang aku sayangi tersakiti seperti aku sekarang.


"Hei, kok diam? Kau marah dengan pendapatku, ya? Maaf, seharusnya aku memang tidak memberikan pendapat apa-apa tentang hal yang bukan urusanku. Maaf aku sudah lancang memberikan pendapatku, An,"kata Oscar bernada menyesal.


"Aku tidak marah, Oscar. Mungkin kau dan Faisal benar. Mungkin aku yang salah karena tetap mencintai suami yang telah mendua," kataku getir.


"Aku tidak mengerti...," katanya setelah sekian lama terdiam.


"Tentang apa?" tanyaku.


"Kenapa ada orang yang tega mengkhianati istrinya sedangkan istrinya itu telah begitu mengabdi padanya? Seorang istri yang baik dan penuh cinta kasih. Sedangkan aku yang tidak suka pada pengkhianatan, yang berjanji pada diriku sendiri untuk setia, malah tidak juga dapat istri sampai sekarang." Oscar tertawa seolah mentertawakan dirinya sendiri.


"Bukan tidak dapat, tapi belum dapat," ralatku.


"Entahlah," sahut Oscar pelan.


"Kedengarannya seperti putus asa," kataku mengomentari nada bicara Oscar.

__ADS_1


"Mungkin," sahut Oscar pendek.


"Ah, laki-laki segagah kamu putus asa dalam mencari istri?"


"Nyatanya aku masih sendiri sampai sekarang."


"Memangnya perempuan seperti apa yang kamu mau?"


"Yang seperti kamu," sahut Oscar tanpa bernada merayu.


Aku tertawa pelan. "Yang seperti aku? Kamu saja belum tahu seperti apa aku, Oscar."


Oscar menoleh padaku sambil tersenyum. "Aku sudah mengenalmu lewat cerita Faisal, An," katanya.


"Begitukah? Semoga cerita yang baik-baik," kataku tersipu.


"Tidak ada cerita yang jelek tentang kamu, Ani. Kamu seorang istri yang soleha," puji Oscar. "Sesungguhnya aku iri pada suamimu."


Sekali lagi aku tersipu. Pipiku menghangat. Pujian Oscar membuatku melambung sesaat. Sementara itu jalanan semakin padat. Mobil Oscar melaju pelan di bawah guyuran hujan. Sesekali terlihat kilatan petir seolah membelah langit. Diikuti oleh suara gelegar yang menyeramkan. Ah, cuaca benar-benar tak bersahabat.


Tak terasa sepanjang perjalanan ini membuka pintu bagiku dan Oscar untuk saling mengenal lebih dekat lagi. Kami bicara tentang segala hal. Oscar teman bicara yang menyenangkan. Wawasannya luas dan dia pandai menilai sesuatu dengan cara yang bijak.


"Oh iya, kata Faisal kau punya seorang putri yang tomboy, An. Terus terang saja aku pun punya seorang adik yang super tomboy. Namanya Gisella. Saking tomboy-nya dia, aku sering merasa kalau dia lebih laki-laki dari aku." Tawa Oscar berderai.


"Oh, ya?" sahutku tertarik pada ceritanya.


"Dia sudah menikah sekarang dan sudah punya seorang bayi perempuan berusia sembilan bulan. Lucunya, dia menikah dengan seorang laki-laki yang lemah gemulai." Oscar tertawa lepas.


Aku ikut tertawa. Menarik juga cerita Oscar itu. Gisella mungkin serupa dengan Ayala. Dan mungkin aku bisa belajar dari Oscar bagaimana caranya menghadapi gadis tomboy serupa mereka.

__ADS_1


"Kalau boleh aku ingin mengenal anak-anakmu, An. Terutama si tomboy Ayala. Mungkin aku bisa melihat sosok kecil Gisella dalam dirinya. Seperti mengenang masa kanak-kanak kami dulu," pintanya.


Dan aku pun mengangguk. Tanpa ku sadari, aku telah membiarkan Oscar masuk ke dalam kehidupanku.


__ADS_2