Dalam Dekapan Luka

Dalam Dekapan Luka
Bab 23


__ADS_3

"Aku sangat malu padamu, Ani," kata Mas Dudy ketika kami sedang berdua di dalam kamar.


"Malu? Kenapa?" tanyaku lembut.


"Karena aku telah menyakitimu. Aku telah membuatmu menangis. Sungguh aku benar-benar menyesal...," rintih Mas Dudy tersedu.


Ku genggam tangannya dengan hangat. Ku berikan senyumku yang paling manis hingga sedu Mas Dudy terhenti. Dia memandangku dengan matanya yang basah. Dan dengan penuh kasih ku hapus air mata itu dengan jariku. Ku belai dia.


" Sudahlah, Mas, jangan menangis lagi. Kau tidak perlu merasa malu padaku. Aku tidak marah, apalagi mendendam. Aku telah melupakan semuanya."


"Kau memang baik. Bahkan terlalu baik. Setelah semua yang kulakukan padamu, kau masih tetap mau merawatku. Terima kasih untuk semua kebaikanmu, Ani. Tanpa kau di sisiku, aku pasti akan lebih hancur lagi. Aku hampir tidak bisa menerima kenyataan ini. Tapi kehadiranmu memberikan aku satu kekuatan untuk bisa menerima semuanya."


Mendengar itu senyumku mengembang. Aku senang karena masih bisa berarti untuk dia. Setidaknya dia tahu seberapa besar cinta yang ku punya untuknya.


"Aku senang kau masih membutuhkan aku," ucapku bahagia.


"Aku akan selalu membutuhkanmu."


Ku kecup keningnya dengan sayang. Lalu ku tatap wajahnya. "Kalau begitu aku akan selalu ada di sini untukmu," bisikku di telinganya.


Mas Dudy menggeleng pelan. Air matanya pun berlinang lagi. "Tidak, pergilah, Ani. Pergilah tinggalkan aku," ucapnya serak.


Aku tercekat menatapnya. Ucapannya itu begitu mengejutkan. Tadi dia bilang, dia membutuhkan aku. Tapi sekarang dia memintaku untuk pergi meninggalkan dia.


"Mas Dudy mengusirku?" tanyaku tak percaya.


"Ya, Ani, pergilah tinggalkan aku."


"Tapi kenapa?"


Isak Mas Dudy semakin keras. Dia tampak begitu menderita. "Lihat aku, Ani. Lihat keadaanku. Apa yang bisa kau harapkan dari laki-laki seperti aku? Aku tak bisa memberimu masa depan. Aku cuma akan menjadi beban buatmu. Pergilah tinggalkan aku. Mulailah kehidupan yang baru tanpa aku. Aku rela melepasmu..."


Dua tetes air mata bergulir di pipiku. Tak kuasa ku bendung tangis saat mendengar kata-katanya itu. Bagiku permintaannya itu adalah sesuatu yang sangat memilukan. Dan aku tahu dia mengucapkan itu dengan hati yang perih. Tak mungkin dia menginginkan aku untuk pergi meninggalkannya. Hatinya pasti menginginkan aku untuk tetap ada di sampingnya.


"Jangan kau minta aku untuk pergi meninggalkanmu, mas. Karena aku tak akan bisa jauh darimu. Aku ingin tetap ada di sini untuk mendampingimu, merawatmu, menemanimu dalam menjalani cobaan hidup ini. Aku tak akan membiarkanmu sendiri."


"Tapi kau tak harus berkorban lagi untukku, Ani."


"Ini bukan sebuah pengorbanan. Ini sebuah ungkapan cinta dan kasih sayang yang tulus dari seorang istri kepada suaminya. Sampai detik ini aku masih tetap istrimu, mas. Maka biarkanlah aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri. Tak setitik pun cintaku padamu berubah. Aku akan selalu mencintaimu apa adanya."


"Tidak, jangan cintai aku." Tangis Mas Dudy semakin sedih.


"Mencintaimu adalah hal yang indah buatku."


"Tapi aku lumpuh."


Aku diam. Ku tatap Mas Dudy yang sedang terisak dengan pandangan sayang. Suamiku memang lumpuh kini. Dia tergolek lemah seperti bayi yang tak berdaya. Mungkin memang tak ada lagi yang bisa aku harapkan dari dia. Mungkin sebaiknya aku pergi saja meninggalkannya. Tapi perasaan cinta membuat aku ingin tetap ada di sini.


"Izinkan aku untuk tetap setia...," kataku dengan penuh kasih sayang.


"Kau menyia-nyiakan hidupmu. Untuk apa kau habiskan hidupmu bersamaku di sini. Di luar sana kau bisa meraih bahagia bersama dengan laki-laki lain."


"Laki-laki lain?"

__ADS_1


"Oscar. Dia pasti sedang menunggumu sekarang."


Aku menggeleng pelan. "Tak pernah terjadi apa-apa antara aku dan Oscar," kataku.


"Kau mencintainya, kan?"


"Tidak, mas. Aku mencintaimu. Harus berapakali kukatakan itu."


"Dia lebih pantas untukmu, Ani."


"Dia temanku. Oscar tak lebih dari seorang sahabat bagiku."


"Tapi malam itu..."


"Malam itu Oscar hanya ingin menguatkan hatiku karena saat itu aku memang benar-benar sedang kalut, mas. Saat itu Resa sakit dan kau entah berada dimana. Tak lebih dari itu. Apa kau masih berpikiran kalau aku selingkuh dengan dia?"


"Tidak, aku percaya kau setia. Tapi aku juga percaya kalau dia mencintaimu."


"Itu hak-nya untuk mencintai siapa pun."


"Cintailah dia, ku mohon. Dia bisa membahagiakanmu. Belum terlambat untuk memulai hidup baru bersamanya."


"Apa kau tidak mencintaiku lagi, mas?"


"Justru karena aku sangat mencintaimu, maka aku memintamu untuk pergi. Terlalu egois jika aku memintamu untuk tetap di sini. Kau masih muda, sayang. Jalan hidupmu masih panjang. Pergilah... Tinggalkan aku."


Belum sempat aku menjawab permintaan Mas Dudy itu, tiba-tiba Ika muncul dari balik pintu depan wajah yang tampak gusar. Dia memandangku dengan tajam sesaat. Lalu dia melangkah ke sisi lain tempat tidur. Sepertinya dia ingin menjauhiku.


"Aku tidak mengerti maksudmu, Ika," jawab Mas Dudy bingung.


"Kenapa mas menyuruh Ani untuk pergi? Kalau Ani pergi, maka aku juga akan pergi!" kata Ika tanpa basa-basi.


"Ika!" hardikku cepat. "Benar-benar keterlaluan kau bicara seperti itu. Mas Dudy sedang sakit. Jangan kau bebani lagi pikiran Mas Dudy dengan tingkah kekanak-kanakanmu itu!"


"Aku dengar percakapanmu dengan Mas Dudy barusan. Kau pikir cuma kau yang berhak mendapatkan kebahagiaan? Kau pikir cuma kau yang menginginkan masa depan? Aku juga berhak dan aku juga ingin! Tidak ku sangka kalau kau ternyata sangat licik, Ani. Selama ini kau berpura-pura bersikap baik pada Mas Dudy karena kau ingin Mas Dudy menaruh iba padamu dan menyuruhmu untuk pergi. Benar-benar rencana yang sempurna!"


Aku benar-benar gusar mendengar kata-kata Ika. Entah setan apa yang telah merasukinya hingga dia jadi manusia tak berperasaan seperti ini. Dia melontarkan tuduhan gila seperti itu padaku. Sungguh membuat telingaku menjadi panas.


"Silakan kau tuduh aku sesuka hatimu, Ika. Aku sudah tidak peduli lagi. Aku capek meladeni kelakuanmu yang seperti anak kecil itu. Kau jahat! Hatimu busuk!"


"Oh ya? Lalu bagaimana dengan perbuatanmu bersama laki-laki itu? Pengkhianatanmu itulah yang busuk!"


Aku merasa darahku panas membakar hatiku. Kalau saja aku tidak menjaga perasaan Mas Dudy, pasti sudah ku terjang dia. Rasanya Ika sudah tak pantas lagi untuk diberi hati. Semakin hari sikapnya semakin keterlaluan. Bahkan kini dia sudah tidak lagi menjaga perasaan Mas Dudy, suaminya, yang sedang tergolek lemah tak berdaya.


"Jangan kau dengarkan perkataannya, Ani. Dia mengatakan semua itu cuma untuk menyakitimu," kata Mas Dudy padaku.


Ika menoleh gusar pada Mas Dudy. "Kenapa mas membelanya? Apa mas sudah lupa pada perbuatannya itu? Perempuan pengkhianat itu tidak pantas untuk dibela!" ucapnya marah.


"Ani bukanlah seorang pengkhianat. Akulah yang lebih pantas disebut sebagai pengkhianat. Dan kau, sebagai orang yang telah mengkhianati sahabatmu sendiri, seharusnya kau malu bicara seperti itu. Seharusnya kau malu pada dirimu sendiri, terlebih pada Ani," balas Mas Dudy.


Wajah Ika menegang setelah mendengar kata-kata pedas dari Mas Dudy itu. Aku yakin kalau dia tak pernah menyangka akan mendengar kata-kata seperti itu dari mulut Mas Dudy. Ku pikir sebentar lagi pasti dia akan meledak. Mukanya kini memerah seperti kepiting rebus.


"Jangan membelanya di depanku!" pekik Ika marah. "Kau memang tidak pernah bisa bersikap adil. Bagaimana pun juga aku adalah istrimu yang sah, sama seperti dia. Tapi kenapa kau hanya memikirkan kebahagiaannya saja? Coba kau pikirkan nasibku, mas. Kau memberikan pilihan pada Ani, tapi tidak padaku. Kenapa hanya Ani yang kau minta untuk pergi? Kau pikir dia akan tetap mendampingimu setelah kau mengizinkannya untuk pergi? Jangan bodoh, Mas Dudy. Kau terlalu naif jika berpikiran seperti itu. Coba kau pikir, apa alasannya dia lebih memilihmu dari pada laki-laki selingkuhannya itu? Cinta atau kasihan?"

__ADS_1


"Sudah, cukup, Ika! Bicaramu sungguh menyakitkan. Kalau kau ingin pergi, baik, ku izinkan kau untuk pergi! Aku menyesal telah menikahimu. Kau benar-benar perempuan berhati jahat. Pergi kau! Pergi!" teriak Mas Dudy lantang.


Ika langsung menghambur keluar. Hampir saja dia bertabrakan dengan Pak Iskandar yang berlari masuk karena mendengar teriakan Mas Dudy barusan. Di belakangnya Bu Iskandar tergopoh-gopoh datang menyusul.


Mas Dudy menangis. Dia tampak sedih sekali. Kedua matanya sendu menatapku. Aku seperti melihat luka melalui tatapan itu, hingga aku merasa ingin ikut menangis bersamanya.


"Ada apa, Ani?" tanya Pak Iskandar bingung.


"Kenapa kau berteriak-teriak, Dudy?" tanya istrinya pula.


"Ika benar-benar keterlaluan, bu," tangisnya pada ibu mertuaku. "Kalau dia ingin minta cerai, mestinya dia bicara baik-baik pada saya. Tapi jangan hina saya seperti itu. Saya memang bukan lagi Dudy yang dulu. Sekarang saya hanyalah mayat hidup. Saya tidak berguna sama sekali. Seumur hidup saya, saya cuma akan menjadi beban. Tak ada alasan untuk tetap setia pada saya. Saya ini cuma sampah, bu."


"Mas, jangan bicara seperti itu," bujukku.


"Memangnya apa yang telah dikatakan Ika pada Dudy, An?" tanya Pak Iskandar.


"Ika ingin pergi, pak," jawabku.


"Oh," ucap Pak Iskandar pelan. Beliau nampak terkejut.


"Biar saja dia pergi. Dengan senang hati aku akan menceraikan dia," kata Mas Dudy emosi.


"Ah, dia memang bukan perempuan baik-baik. Sekarang kau bisa lihat perempuan seperti apa dia. Sudahlah, biarkan saja dia pergi sesuka hatinya. Jangan kau bebani pikiranmu dengan semua tingkahnya itu. Kesembuhanmu adalah hal yang terpenting sekarang," kata Pak Iskandar dengan sikap yang tenang.


"Tapi saya tidak bisa disembuhkan lagi, pak. Mungkin lebih baik saya mati saja biar tidak menjadi beban buat kalian semua," kata Mas Dudy serak.


"Dudy!" bentak Pak Iskandar.


Bu Iskandar memeluk Mas Dudy sambil menangis. Aku bisa mengerti bagaimana perasaan ibu mertuaku saat ini. Sebagai ibu yang telah melahirkan dan membesarkan, tentu hatinya hancur melihat keadaan Mas Dudy sekarang ini. Putranya yang dulu tampan dan gagah, kini tergolek lemah tak berdaya seperti seorang bayi.


"Ingat tuhan, mas. Ku mohon jangan pernah kau berputus asa. Kau tidak sendiri dalam menghadapi cobaan ini. Aku akan selalu ada di sisimu," kataku lembut, berusaha untuk menenangkan Mas Dudy.


Dengan pandangan mata yang tak lagi setegar dulu Mas Dudy menatapku. "Kau benar-benar telah memaafkan aku, Ani?" tanyanya lirih.


"Ya," jawabku pasti.


Mas Dudy memejamkan matanya lalu kembali menangis.


***


Tiga hari setelah kejadian itu, Ika menghilang. Dia pergi entah kemana. Tak ada sepatah kata sebagai salam perpisahan. Sepertinya Ika memang tak lagi memandang Mas Dudy sebagai seorang suami yang harus dia hormati. Tali perkawinan yang telah dia jalani bersama Mas Dudy selama ini ternyata tak mampu untuk mengikat hatinya. Dia pergi dengan langkah yang ringan meninggalkan suaminya yang sedang sakit.


Aku tak tahu harus berkata apa. Sungguh aku tak menyangka Ika tega berbuat seperti itu. Dan demi menjaga perasaan Mas Dudy, tak ada satu pun dari kami yang membahas tentang Ika lagi.


Tapi ternyata perbuatan Ika itu menorehkan luka yang cukup dalam di jiwa Mas Dudy. Dia jadi selalu melamun, tak lagi mau bicara. Mungkin dia menyesal atau mendendam. Entahlah, aku tak tahu apa yang berkecamuk di dalam hatinya sekarang.


"Papa giginya lagi sakit, ya? Kok engga mau ngomong? Pasti gara-gara kebanyakan makan permen." celoteh Ayala ketika sore itu kuajak untuk datang menemui Mas Dudy.


Mendengar itu, Mas Dudy tersenyum. "Papa cuma lagi kangen sama Ayala," sahut Mas Dudy pelan. Untuk pertama kalinya sejak kepergian Ika, suara Mas Dudy kembali ku dengar.


"Kalau kangen kok diam aja? Cium dong," kata Ayala lagi sambil menyodorkan pipinya ke bibir Mas Dudy. Mas Dudy pun segera menciumnya dan tertawa ceria. Hilang sudah kebisuan Mas Dudy selama satu minggu ini. Kehadiran Ayala seperti obat mujarab baginya.


Di hari-hari berikutnya keadaan berjalan seperti biasa. Mas Dudy masih tetap tergolek lemah di atas ranjangnya. Dan aku masih tetap disibukan oleh tugas-tugasku sebagai ibu rumah tangga dan juga oleh bisnisku yang kini mulai berkembang. Bahkan aku kini telah memiliki beberapa orang karyawan untuk membantuku. Tak ada waktu luang bagiku. Waktu terasa padat dan begitu berarti. Melelahkan. Tapi aku bahagia bisa memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang ku sayangi

__ADS_1


__ADS_2