
Aku duduk melamun di toko sambil memandangi tetesan hujan yang turun sore ini. Angin yang berhembus terasa begitu sejuk. Sore ini suasana terasa damai. Rasanya sudah lama tak ku rasakan suasana seperti ini.
Dari warung bakso yang tak jauh dari sini terdengar sayup-sayup suara radio yang menimpali alunan suara hujan. Aku mendengarkannya sambil lalu. Hanya sekadar mampir di telinga lalu terlupakan begitu saja. Aku lebih fokus pada tetesan hujan yang ramai menimpa aspal yang basah. Rasanya sejuk dipandang mata.
"Ma," panggil Tassa pelan. Tak ku sadari kalau putriku itu sudah berada di belakangku.
"Ya," sahutku pendek.
"Kok melamun? Mama memikirkan soal Faris?" tanya Tassa.
"Ya, mama memikirkan tentang Faris, juga tentang kamu," sahutku pelan.
"Tentang Tassa? Memangnya Tassa kenapa, ma? Tassa baik-baik saja," kata Tassa bingung.
"Mungkin Tassa tidak sadar kalau sikap Tassa selama ini telah menyita pikiran mama," kataku sambil menoleh padanya.
"Sikap Tassa yang mana, ma?"
"Coba sini duduk dekat mama," pintaku. Tassa menurut, dia segera duduk di dekatku.
"Sa, kamu sudah dewasa sekarang. Kamu pasti mengerti bagaimana perasaan orang tua yang anak gadisnya selalu bersikap dingin pada laki-laki, bahkan mungkin cenderung membenci. Jujur saja sikapmu ini membuat mama cemas, Sa," kataku dengan sikap serius.
"Ah," Tassa menegakan duduknya. "Jadi tentang itu?" tanyanya.
"Apa kamu menganggap semua itu bukan masalah yang serius, Sa?"
Tassa menghela nafas panjang lalu menatapku dengan matanya yang jernih. "Tassa mengerti perasaan mama. Dan Tassa minta maaf jika sikap Tassa selama ini telah membuat mama bingung. Tapi, ma, kenapa kita tidak membiarkan saja jodoh itu datang dengan sendirinya? Tassa tidak menutup hati Tassa, ma. Tassa hanya menunggu waktu yang tepat dan laki-laki yang terbaik untuk jadi teman hidup Tassa. Jadi mama tidak perlu bingung, apa lagi cemas memikirkan Tassa."
"Tapi Tassa selalu bilang kalau Tassa tidak butuh laki-laki. Kata-kata itu mengganggu mama, Sa."
__ADS_1
Tassa tersenyum. "Saat ini Tassa memang tidak butuh laki-laki, ma. Karena saat ini Tassa sedang berjuang mengejar cita-cita Tassa. Tapi satu hari nanti, Tassa akan memilih satu yang terbaik untuk jadi imam buat Tassa."
"Tassa tidak membenci laki-laki? Tidak trauma atas perbuatan papa pada kita dulu?"
"Jujur saja, ma. Di dalam sini, masih ada rasa sayang untuk papa," Tassa menunjuk dadanya. "Tassa mengerti kalau papa hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari salah. Dan lagi masih ada sosok laki-laki lain yang diam-diam Tassa kagumi selama ini."
"Siapa?" tanyaku penasaran.
"Kakek, Pak De Boby dan Om Faisal. Mereka contoh dari laki-laki yang setia pada keluarga. Mereka yang membuat Tassa percaya bahwa masih ada laki-laki yang bisa menjaga hatinya hanya untuk keluarganya. Mungkin Tassa tidak mengagumi papa sebagai seorang laki-laki yang setia. Tapi Tassa tetap menyayangi papa, ma."
Betapa leganya hatiku mendengar kata-kata Tassa itu. Lepas sudah beban pikiran yang membebaniku selama ini. Semua pikiran buruk itu pun pergi. Tassa hanya butuh waktu untuk menyembuhkan luka hatinya. Dan dia menjadikan buku-buku pelajaran dan cita-citanya sebagai obat penyembuh. Kan ku berikan dia waktu untuk bisa menemukan laki-laki yang terbaik untuknya. Kisah yang dia jalani mungkin memang harus seperti ini.
***
Malam harinya kami sekeluarga duduk rapi di ruang tamu. Ada Tassa, Ayala dan Resa di sofa panjang. Ada aku dan Mas Dudy yang duduk tegang di hadapan mereka. Juga ada bapak dan ibu mertuaku yang duduk diam di dekat jendela. Mereka sengaja hadir dalam rapat keluarga yang ku adakan malam ini. Tapi mereka bilang, mereka hanya akan menjadi saksi. Mereka tak akan memberikan suara. Mereka menyerahkan semua keputusan pada kami.
"Pertanyaan apa itu?" tanyaku.
"Jika Faris tidak tinggal di sini, dimana dia akan tinggal nanti?"
"Di rumah Pak De Boby. Kemarin papa dan mama sudah membicarakannya bersama Keluarga Pak De Boby dan mereka setuju untuk mengasuh Faris jika seandainya kalian menolak Faris untuk tinggal di sini," kataku menjelaskan.
"Kalau begitu berikan saja dia pada Pak De Boby. Karena Tassa tidak ingin anak itu ada di sini," ucap Tassa memberikan suaranya.
Ayala menyusul dengan anggukan kepalanya. "Dia anak Tante Ika, perempuan jahat," cetusnya.
"Aya engga boleh bicara begitu. Faris juga anak papa," kataku mengingatkan.
"Tapi dia bukan anak mama. Dia anak perempuan yang telah menghancurkan kebahagiaan mama. Kalau dia ada di sini, luka hati mama engga akan bisa sembuh, ma. Pasti mama akan terkenang terus pada pengkhianatan papa dulu," kata Tassa memberikan alasan.
__ADS_1
"Tapi Faris tidak berdosa apa-apa pada kita, Sa. Dan sebagai anak papa, dia juga berhak untuk tinggal di sini dan mendapatkan kasih sayang dari papa, sama seperti kalian," ujarku.
"Lantas mama mau berkorban perasaan lagi?"
"Mama lakukan demi Faris."
"Apa bedanya? Demi Faris atau demi Tante Ika atau demi papa, semuanya akan sama membawa kenangan buruk buat mama. Berhentilah berkorban demi orang lain, ma."
"Tapi Faris cuma seorang anak kecil yang tidak berdosa, Sa. Adilkah jika kita mencampakan dia karena kita membenci ibunya? Dan jangan kalian lupa kalau dia adalah adik kalian juga."
"Ya, mama benar," kata Resa yang sejak tadi diam mendengarkan.
"Jadi adik setuju kalau Faris tinggal di sini bersama kita?" tanyaku berharap.
"Ya, adik setuju, ma," jawabnya membuatku sedikit lega.
"Adik tidak merasakan luka yang Tassa rasakan, ma. Saat itu adik masih terlalu kecil untuk bisa mengerti semuanya," kata Tassa seakan protes pada suara Resa.
"Ya, adik engga ngerasain gimana sakitnya kehilangan papa karena direbut oleh Tante Ika!" sambung Ayala cepat.
"Tapi Faris tidak harus dihukum karena kesalahan Tante Ika, kan? Andai saat itu Faris sudah ada, mungkin dia pun tidak akan setuju dengan perbuatan mamanya," ucap Resa terdengar bijak.
Tassa dan Ayala pun terdiam. Aku melirik pada Mas Dudy yang sejak tadi cuma jadi pendengar. Suamiku itu tidak mau berkata apa-apa. Dibiarkannya kami berembuk dan mengeluarkan isi hati dengan sangat terbuka. Sesungguhnya aku ingin bertanya apa pendapatnya tentang semua ini. Tapi tadi Mas Dudy sudah mengatakan kalau dia tidak akan memberikan suara. Dia akan menerima keputusan apa pun yang akan kami sepakati nanti. Mas Dudy takut jika pendapatnya nanti melukai perasaanku dan anak-anak. Dia tahu kalau segala sesuatu mengenai Ika, akan sangat mudah melukai hati kami.
"Mama tahu kata sepakat tidak akan kita dapat malam ini. Mungkin kita semua memang butuh waktu untuk berpikir. Mama yakin saat ini hati kita terbagi dua. Di satu sisi kita ingin terus membenci Tante Ika dan ingin membalaskan dendam itu sekarang. Tapi sisi yang lainnya merasa ragu dan bertanya adilkah ini untuk Faris? Sebab Faris cuma seorang anak kecil. Sebab Faris juga anak papa, sama seperti kalian semua. Sebab sebentar lagi Faris harus menjadi piatu dan kehilangan satu-satunya orang yang sangat menyayangi dia. Jadi mama minta renungilah dulu dengan hati dan pikiran yang jernih. Bayangkanlah bagaimana rasanya jika kalian yang jadi Faris. Setelah itu, barulah kalian ambil satu keputusan yang terbaik menurut kalian bagi kita semua," kataku menutup rapat malam ini.
Semua setuju untuk mengakhiri rapat malam ini. Tak guna terus berdebat. Lebih baik renungi semuanya sendirian agar dapat berpikir dengan jernih dan bisa mengambil keputusan yang terbaik.
Akhirnya malam ini aku tidur dengan gelisah. Dekapan hangat Mas Dudy tak mampu membawaku ke dalam mimpi indah. Ada rasa cemburu dan iba yang berseteru dalam hatiku. Aku ingin ikhlas tanpa cemburu. Tapi rasanya terlalu sulit. Harus kuakui kalau aku hanyalah seorang manusia biasa...
__ADS_1