
Beberapa hari setelah kejadian itu, aku mendapat telepon dari Mas Boby. Kakak iparku itu membawa kabar buruk buatku. Dia mengabarkan Mas Dudy mengalami kecelakaan.
"Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya, An. Dudy mengalami koma sekarang," kata Mas Boby mengejutkanku.
"Oh, tuhan!" pekikku nyaring. Seketika tubuhku seperti limbung. Aku seperti tak mampu untuk berdiri.
"Ada apa, An?" tanya Wak Ipah seraya bergegas menghampiri.
"Mas Dudy kecelakaan, Wak," kataku panik. "Dia koma!"
"Apa?!" seru Wak Ipah terkejut.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, wak. Saya ingin melihat keadaan Mas Dudy."
"Ya, ya, kita ke rumah sakit sekarang," kata Wak Ipah segera.
Ya, tuhan, kenapa tak henti cobaan datang menghampiriku? Belum sempat aku bernafas dengan lega, cobaan yang baru datang menimpa, membuat nafasku menjadi sesak.
"Ada apa ini? Mau kemana kamu, An?" tanya Faisal yang baru saja masuk.
"Kami mau ke rumah sakit," Wak Ipah menjawab cepat. "Dudy kecelakaan."
Faisal tampak terkejut sesaat. "Lantas kenapa kalau dia kecelakaan? Bukankah ada Ika, istrinya?" Sinis sekali sikap Faisal. Begitu besar dia menyimpan kebencian pada Mas Dudy.
"Jangan begitu, Sal! Jangan terbawa dendam. Dudy sedang mendapat musibah sekarang. Sudah sepantasnya jika Ani menjenguknya."
"Separah apa dia?" tanya Faisal lagi, masih dengan sikap yang sinis.
"Dia koma," sahutku.
"Mungkin karma sudah datang padanya sekarang."
"Ah, kau ini," omel Wak Ipah. "Kau mau ikut tidak? Kami mau berangkat sekarang."
"Ya, saya ikut."
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit pikiranku melayang entah kemana. Berbagai macam bayangan buruk melintas. Apakah yang akan terjadi selanjutnya, tuhan? Ku harap bukan hal yang buruk lagi. Aku lelah...
Wajah anak-anakku dan Mas Dudy bermain di depan mata. Bayang-bayang indah masa lalu dan kejadian menyakitkan kemarin pun terlintas. Silih berganti berputar-putar dalam ingatan. Aku seperti menonton adegan film dalam tiap titian hidupku. Sebuah cerita yang berakhir lara. Menyisakan luka.
Air mataku menetes perlahan. Aku sadari, aku masih sangat menyayanginya. Karena mendengar dia terluka, hatiku perih. Tapi dia tidak tahu itu. Di matanya aku adalah seorang istri yang tak setia. Dia tidak pernah tahu tentang hatiku. Dia tidak pernah tahu tentang kesetiaanku.
"Kenapa menangis?" cetus Faisal dengan ketus.
"Tidak apa-apa," sahutku pelan.
"Bodoh! Aku tahu kau menangisi dia."
"Apa tidak boleh aku menangisi suamiku?"
__ADS_1
"Kau masih menganggapnya suami?"
"Kami belum bercerai."
Faisal mendengus kesal. "ku pikir di zaman sekarang ini sudah tidak ada lagi perempuan yang bodoh seperti itu. Tapi ternyata aku salah. Perempuan bodoh itu justru adikku sendiri."
"Cukup, Sal!" bentak Wak Ipah.
Tapi aku malas menyahuti. Biarkan Faisal bicara apa yang dia suka. Aku hanya diam sambil memandangi deretan mobil yang memadati jalan raya. Semua bergerak pelan dalam kemacetan. Cuma bisa pasrah tanpa bisa berbuat apa-apa.
Sesampainya di rumah sakit aku segera disambut oleh pelukan dan isak tangis Bu Iskandar. Ibu mertuaku itu terlihat pucat dan sedih. Pasti semua ini jadi pukulan berat baginya.
"Dudy koma, An. Dia sekarat," tangisnya.
Ku pandangi Mas Dudy dengan perasaan iba. Laki-laki terkasih itu kini terbaring lemah tak sadarkan diri. Suamiku sedang berada antara hidup dan mati. Aku harus membantunya dengan do'a. Walau bila dia sembuh nanti, dia akan kembali menorehkan luka dalam hatiku.
Setelah itu segera ku bawa Bu Iskandar untuk keluar dari ruangan tempat Mas Dudy dirawat. Sebab ku lihat ibu mertuaku itu tampak semakin sedih. Aku takut jika berlama-lama di ruangan ini dia akan jatuh pingsan nanti.
Di ruang tunggu yang cukup luas, sudah ada Pak Iskandar dan Mas Boby serta Wak Ipah sedang serius bicara. Sementara Faisal sedang duduk diam tak jauh dari mereka.
Aku segera membawa Bu Iskandar untuk duduk di dekat Faisal. Sedang aku segera menghampiri Bapak mertuaku yang berdiri bersandar pada dinding dengan wajah lelah.
"Apa kata dokter, pak?" tanyaku pada Pak Iskandar.
"Kita berdo'a saja yang terbaik untuk Dudy, Ani," jawab bapak mertuaku itu seakan pasrah pada apa yang akan terjadi nanti.
"Tapi pasti masih ada kemungkinan untuk sembuh kan, pak?" tanyaku penuh harap.
Aku menoleh pada Mas Boby yang berdiri di sampingku. "Bagaimana kejadiannya, Mas?" tanyaku.
"Saya juga kurang tahu, An. Dia sedang berboncengan dengan Ika ketika peristiwa itu terjadi."
"Oh. Lalu bagaimana keadaan Ika?"
"Dia tidak apa-apa. Cuma lecet dan terkilir pergelangan kakinya. Sekarang dia sedang diobati."
"Kenapa dia tidak ikut kritis saja sekalian," cetus Faisal tajam.
"Sal, jangan begitu," omelku pelan. Faisal cemberut.
"Apa mungkin semua ini teguran dari tuhan, An?" keluh Mas Boby seakan menyesali dosa yang telah diperbuat Mas Dudy kemarin.
"Ini cobaan dari tuhan, mas. Bukan hanya untuk Mas Dudy, tapi juga untuk kita semua," kataku menguatkan.
Mas Boby memandangku dengan wajah serius. "Kau masih mencintainya, An?" tanyanya.
"Ya, mas, saya masih mencintainya," anggukku.
"Dudy benar-benar laki-laki yang bodoh. Seharusnya dia tidak menukarmu dengan perempuan itu. Kau istri yang sempurna," sesal Mas Boby.
__ADS_1
Setelah itu semua hening. Kami sama duduk dalam diam. Tak terdengar seorang pun diantara kami membuka suara. Mungkin dalam kesedihan lebih baik memang diam. Supaya dapat khusyuk hati ini berdo'a dan meminta, menyandarkan hidup pada cinta dan kasih tuhan.
Tiba-tiba Ika datang menghampiri. Seorang perawat mendorongnya pelan di kursi roda. Dengan wajah masam Ika memandangku. Ku lihat kaki kirinya dibalut gips dan ada beberapa luka lecet di tubuhnya.
Bagaimana keadaanmu, Ika?" tanyaku berbasa-basi.
Ika cemberut. "Ini semua salahmu!" semburnya.
"Apa maksudmu, Ika?" tanyaku.
Wajah Ika makin tak bersahabat memandangku. "Kau memang licik! Sengaja kau kirim Faisal untuk mengacaukan pikiran Mas Dudy. Kau buat skenario sedemikian rupa agar Mas Dudy merasa kasihan padamu dan merubah keputusannya untuk membawa Ayala!"
Aku menatap Ika bingung. Ocehan Ika itu benar-benar tak ku mengerti. "Aku tidak mengerti dengan omonganmu ini," kataku.
"Dendammu sudah terbalas kini. Kau puas, kan? Kau bisa tertawa sekarang!" ucapnya berapi-api.
"Kenapa kau bicara seperti itu, Ika? Apa kau pikir aku senang melihat keadaan Mas Dudy yang seperti itu?" tanyaku terkejut dengan tuduhannya.
"Semua memang sudah kau rencanakan, kan? Karena itu kau mengutus Faisal untuk menceritakan tentang penderitaanmu dan menghajar Mas Dudy dengan brutal seperti preman pasar!"
"Tapi aku tidak pernah mengutus Faisal untuk bicara dengan Mas Dudy."
"Munafik! Lalu kenapa Faisal datang sore itu dan bicara dengan Mas Dudy kalau bukan karena atas perintahmu? Dan ketika Mas Dudy menolak untuk mengurungkan niatnya itu dia langsung menghajar Mas Dudy dengan brutal!" ucap Ika tajam.
"Jadi sore itu Faisal berkelahi dengan Mas Dudy?" tanyaku.
"Bukan berkelahi. Tapi Mas Dudy dihajar tanpa perikemanusiaan oleh Faisal! Awalnya dia datang bicara baik-baik. Dia membujuk Mas Dudy untuk merubah keputusannya itu. Dia bercerita tentang kesedihanmu kalau harus berpisah dari anak-anakmu. Setelah itu ditinjunya Mas Dudy sampai Mas Dudy tergeletak tidak berdaya."
Oh" pekikku pelan.
"Kau tahu? Sejak saat itu Mas Dudy jadi sering melamun. Bahkan dia mulai berpikir untuk membatalkan rencananya untuk mengasuh Ayala. Dia bilang kasihan Ani. Hah, gila! Kau berhasil mengacaukan pikirannya!"
"Tapi aku tidak tahu tentang semua itu, Ika."
"Omong kosong! Sejak saat itu aku dan Mas Dudy jadi sering bertengkar karena aku tidak setuju kalau dia sampai membatalkan rencananya. Dan sampai pagi tadi pun kami bertengkar hebat. Karena itulah terjadi kecelakaan ini. Karena Mas Dudy telah kau kacaukan pikirannya!"
"cukup, Ika. Sungguh keterlaluan kau menuduhku seperti itu," kataku cepat.
"Ya, ini memang salahmu. Kenapa tidak kau relakan saja Ayala diasuh oleh aku dan Mas Dudy? Kalau kau relakan semuanya, kecelakaan ini tidak akan terjadi."
"Kau yang telah mengacukan pikiran Mas Dudy ketika sedang mengendarai motor. Kau ajak dia bertengkar hingga dia hilang konsentrasi. Jangan kau salahkan aku."
"Ini semua salahmu!" kata Ika penuh luapan emosi.
"Seharusnya kita mendoakan kesembuhan untuk Mas Dudy sekarang ini. Bukannya malah bertengkar seperti ini, Ika."
"Ya, Mas Dudy memang harus sembuh untuk membencimu," sahut Ika tak mengenakan.
"Sudah! Cukup!" suara Pak Iskandar tiba-tiba terdengar penuh emosi. "sungguh keterlaluan sikapmu ini, Ika. Sangat tidak pantas kau mengajak Ani bertengkar di depan kami dan dalam situasi seperti ini. Dan asal kau tahu, tidak ada seorang pun ibu di dunia ini yang bisa merelakan anaknya direnggut dari dekapannya. Dan sungguh kekanak-kanakan kalau kau menyalahkan Ani atas kecelakaan yang menimpa kau dan Dudy. Kalau kau tidak bisa bersikap sopan, lebih baik kau menjauh dari kami."
__ADS_1
Memerah wajah Ika mendengar kata-kata Pak Iskandar yang tajam itu. Dia menangis. Lalu tanpa permisi dia pergi meninggalkan kami. Sebetulnya aku kasihan pada Ika. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan untuk menghiburnya. Aku cuma bisa memandangi kepergian itu dengan perasaan iba.