Dalam Dekapan Luka

Dalam Dekapan Luka
Bab 19


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu. Mas Dudy tak pernah datang kemari menemuiku. Setiap hari kunanti dia. Aku berharap dia mau datang dan bicara denganku. Aku ingin menjelaskan semua. Aku ingin mengakui kesalahanku karena telah membiarkan Oscar kembali hadir dalam hidupku. Tapi sampai di hari ketujuh setelah peristiwa itu, Mas Dudy tak juga mau kembali. Amarahnya pasti masih berkobar untukku. Sungguh aku takut. Aku takut dia benar-benar pergi meninggalkan aku. Aku masih mencintainya. Aku masih ingin mengarungi hidup bersama dengannya.


Yang ku inginkan sekarang hanyalah bicara dan meyakinkan dia bahwa aku adalah seorang istri yang setia. Tak pernah sekeping hati ini menyimpan nama yang lain selain namanya. Hingga dalam setiap hembusan nafasku pun yang kudesahkan cuma dia...


"Melamun lagi, An?" tanya Wak Ipah padaku. Sudah satu minggu Wak Ipah menginap di sini. Wak Ipah membantuku merawat Resa yang sampai hari ini masih sakit.


"Saya bingung, wak. Sampai hari ini Mas Dudy tidak pulang. Rupanya dia masih marah pada saya. Saya cuma ingin bicara dengannya, wak. Saya ingin menjelaskan semuanya."


"Tunggulah satu atau dua hari lagi, An. Dia pasti pulang. Bukankah anak-anaknya ada di sini bersamamu?"


"Entahlah, wak. Apa iya dia masih peduli pada anak-anak? Sedang Resa sakit pun dia tidak menengoknya."


Wak Ipah mendesah pelan. Wajah tuanya tampak lelah. Aku tahu, semua yang terjadi padaku ini pasti membebani pikirannya. Walau dia tak mengatakannya. Walau dia tak meneteskan air mata. Tapi aku tahu hatinya gundah. Aku tahu hatinya juga terluka.


"Waktu yang berlalu seperti ini membuat saya gila, wak. Saya harus menyusul Mas Dudy di rumah Ika. Saya tak bisa menunggunya lebih lama lagi."


Wak Ipah menatapku dengan sayang. "Bawalah suamimu kemari dan bicaralah secara baik-baik di sini. Jangan kau biarkan Ika jadi penonton dari kesulitanmu ini. Perempuan itu akan punya kesempatan untuk menyakitimu lagi nanti. Kau mengerti maksud wak, kan?"


Aku mengangguk. "Do'a-kan saya, wak," pintaku.


***


Aku tiba di rumah Ika pukul lima sore. Sengaja ku sesuaikan dengan jam pulang kantor Mas Dudy. Sebab aku tak mau jika harus menunggunya di sana. Duduk berlama-lama di rumah Ika pasti akan membuat perasaanku jadi tambah tak karuan.


Rumah bercat merah muda itu tampak sepi. Pintu dan jendelanya tertutup rapat. Aku jadi khawatir, jangan-jangan Mas Dudy dan Ika sedang pergi. Tapi ternyata pintu pagarnya tidak terkunci. Ah, mereka pasti ada di rumah. Sebab bukan kebiasaan Mas Dudy meninggalkan rumah tanpa mengunci pagar seperti ini. "Jangan mengundang pencuri," pesan Mas Dudy selalu.


Ku buka pintu pagar itu dan melangkah perlahan memasuki halaman kecil yang terawat rapi. Ada beberapa pohon bunga dalam pot yang berjejer rapi di depan teras. Bunga-bunganya begitu indah bermekaran. Warnanya beranekaragam hingga memberi kesan ramai.


Di teras ada dua buah kursi rotan dengan sebuah meja kecil yang diletakkan diantara keduanya. Setangkai anggrek menempel manis pada dinding di atasnya. Tapi aku tak melihat bel. Aku cuma melihat sebuah ketukan dari besi yang menempel pada pintu.


Belum lagi kusentuh ketukan pada pintu itu, seseorang telah membukanya dari dalam. Wajah Ika menyembul dengan keterkejutan yang tidak dia sembunyikan. "Ani...?" ucapnya menggantung.


"Mas Dudy ada?" tanyaku tanpa berbasa-basi.


Ika mengangguk. "Ya, jadi kau menyusulnya juga kemari."


"Dia suamiku. Dan aku ingin bertemu dengannya sekarang. Bisa kau panggilkan dia untukku?" tanyaku dingin.


"Tunggu sebentar," sahutnya tanpa mempersilakan aku untuk masuk.


Aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang sempit dan dengan gelisah duduk di sana. Tiga menit yang panjang benar-benar menyiksaku. Kulewati tiap detik yang berlalu dengan perasaan tak menentu. Mereka ingin menyiksaku dengan penantian ini. Tak ada sedenting pun suara dari dalam. Aku benar-benar merasa sendirian.

__ADS_1


Akhirnya Mas Dudy keluar bersama Ika. Dan dengan wajah kaku Mas Dudy memandangku sesaat. Lalu tanpa berbasa-basi langsung duduk di hadapanku dan bertanya dengan suara yang datar. "Untuk apa kau datang kemari?"


"Untuk menyusulmu, mas. Ku mohon pulanglah agar kita bisa bicara. Lari dari rumah tidak akan menyelesaikan masalah," kataku dengan suara yang lembut.


"Aku tidak lari dari rumah. Aku cuma perlu waktu untuk berpikir. Dan sekarang aku telah mengambil satu keputusan yang terbaik untuk kita semua."


"Keputusan? Keputusan apa?" tanyaku dengan perasaan tidak enak.


Mas Dudy memandang lurus padaku. Dan dengan suara yang sangat jelas dia berkata, "Ani, kita harus bercerai."


Nyawaku serasa melayang mendengarnya. Satu kata yang sangat kutakutkan itu terucap jelas dari mulut suamiku. Dan dia mengucapkannya tanpa beban sama sekali.


"Kau sadar apa yang barusan kau ucapkan, mas?" tanyaku perih.


"Ya, Ani. Aku sadar dengan apa yang aku ucapkan ini. Aku ingin kita segera bercerai agar kita bisa melanjutkan hidup kita masing-masing dengan tenang."


"Tapi, mas, kau tidak bisa mengambil keputusan seperti itu tanpa mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu," kataku mulai panik.


"Penjelasan apa lagi yang harus aku dengarkan? Mataku telah membuktikan sendiri bagaimana kau telah bermesraan dengan kekasihmu itu."


"Tapi kau salah, mas."


Mas Dudy menggeleng. "Maafkan aku, Ani. Aku sudah tidak bisa lagi mempercayaimu."


"Pulanglah dulu, mas. Kita bisa bicara dengan tenang di rumah," pintaku.


"Kau saja yang pulang. Di sini rumahku sekarang," sahutnya dingin.


"Tapi aku tak ingin berpisah, mas. Aku masih mencintaimu."


Mas Dudy diam. Sepertinya dia enggan menanggapi kata-kataku. Wajahnya tampak dingin dan kaku tanpa ekspresi sedikit pun.


"Bicaralah, mas. Katakan kalau kau juga masih mencintaiku," kataku memohon.


"Tidak, Ani. Cinta diantara kita mungkin memang sudah berakhir. Tak ada lagi yang harus kita pertahankan sekarang. Perpisahan itu adalah jalan yang terbaik untuk kita."


"Tidak, ku mohon jangan ucapkan itu. Kau pasti tidak menyadari kalau kita masih saling mencintai. Dan anak-anak kita membutuhkan kita, mas."


"Ah," desah Ika nyaring. "Jangan kau gunakan anak-anakmu sebagai senjata, An. Kalau benar kau sangat menyayangi anak-anakmu itu, seharusnya kau menjaga keutuhan rumahtanggamu. Bukannya malah asyik bermain api dengan pacar gelapmu itu. Dan sekarang, setelah hubunganmu dengan Mas Dudy berantakan, kau lantas berteriak-teriak mengkhawatirkan keadaan mereka. Menjadikan mereka umpan untuk mendapatkan hati Mas Dudy lagi. Ternyata kau memang pintar!"


Mendengar kata-kata Ika yang pedas itu, emosiku langsung meninggi. Berani sekali dia bicara seperti itu padaku. Aku tahu dia sedang di atas angin sekarang. Tapi sungguh dia tidak berhak mencampuri urusanku. Apa lagi sampai bicara setajam itu padaku.

__ADS_1


"Diam kau, perempuan tidak tahu diri!" pekikku marah. "Berani sekali kau mencampuri urusanku. Kau pikir, kau siapa, hah? Kau cuma istri yang dinikahi siri oleh suamiku. Kau perempuan brengsek, perebut suami orang!"


"Tapi aku tidak pernah mengkhianati suami kita. Aku tidak pernah membawa masuk laki-laki ke dalam kamarku selagi Mas Dudy sedang tidak ada di rumah. Seharusnya kau malu menghardikku seperti itu. Karena sesungguhnya kau jauh lebih buruk daripada aku!"


"Diam kau!"


"Kau yang diam!"


"Kau tidak berhak mencampuri urusanku!"


"Oh, ya? Kau lupa kalau aku adalah istri Mas Dudy, suamimu? Apa yang menjadi urusan Mas Dudy, maka itu juga menjadi urusanku. Karena aku terluka, jika dia terluka. Aku bahagia, jika dia bahagia. Jiwa kami telah menyatu, Ani. Dan luka yang kau torehkan padanya sekarang telah membuat hatiku pedih. Cintaku pada Mas Dudy begitu tulus dan aku sangat menyayanginya."


Ternyata Ika telah benar-benar berhasil menyakitiku. Tanpa iba sedikit pun dia menyerangku dengan kata-kata yang menyakitkan. Dan Mas Dudy cuma diam mendengarkan. Dibiarkannya Ika bersorak di atas kehancuranku. Hatinya tak tergerak sedikit pun untuk mengucapkan sepatah kata pembelaan untukku. Mestinya dia bicara. Mestinya dia menghentikan perbuatan Ika. Mestinya dia menyisakan sedikit perasaan iba untukku. Tapi suamiku itu cuma diam. Dia tak peduli...


"Bisakah kau memintanya untuk diam, mas?" kataku pada Mas Dudy.


Mas Dudy menoleh pada Ika. Tapi dia tak mengucapkan sepatah kata pun pada perempuan itu. Sikapnya ini sungguh tak pernah ku duga. Mas Dudy seperti orang yang asing di mataku saat ini. Tapi sungguhkah tak ada campur tangan Ika di sana? Sebab ku lihat Ika begitu bersemangat memperjelas kesalahanku di depan Mas Dudy.


"Sudahlah, Ani. Lebih baik kau pulang sekarang. Hari hampir malam. Tak guna kau berada lebih lama lagi di sini," kata Mas Dudy padaku.


"Tapi kita belum bicara."


"Tak ada lagi yang harus dibicarakan."


"Tidak, masalah ini belum selesai. Kau belum tahu persoalan yang sebenarnya."


"Bagiku semuanya sudah jelas. Dan aku akan mengurus perceraian kita secepatnya."


"Tidak, kumohon..."


"Pulanglah. Kasihan anak-anak menunggumu di rumah."


"Dan demi mereka, Pulanglah bersamaku ke rumah kita."


Mas Dudy menggeleng. "Biar ku pesankan kau taksi," katanya sambil berdiri dan memesan taksi online lewat hpnya.


***


Ternyata Mas Dudy tidak main-main dengan keputusannya itu. Dua hari kemudian dia menemui Wak Ipah untuk mengutarakan maksudnya. Wak Ipah dan Faisal sangat terkejut. Begitu pula dengan keluarga Mas Dudy, bahkan mereka menentang keras keinginan Mas Dudy untuk menceraikan aku. Aku sangat bersyukur, di mata mereka aku tetaplah menantu yang baik. Rupanya mereka tidak percaya dengan cerita Mas Dudy tentang perselingkuhanku.


Mungkin penyesalan tak ada guna lagi sekarang. Nyatanya kehadiran Ika dan Oscar telah mendatangkan kehancuran bagiku. Mereka seperti serangkaian bom waktu yang meledak beriringan dalam genggamanku hingga membuatku hancur berkeping-keping. Tak ada lagi yang tersisa kini. Bahkan setitik cinta Mas Dudy tak lagi kumiliki.

__ADS_1


Pengorbananku tak berbalas indah. Kesetiaanku cuma mendatangkan luka. Aku merasa terbuang. Begitu mudah dia mencampakkan aku seolah aku tak pernah memiliki arti baginya. Padahal kesalahpahaman ini bisa diluruskan. Dan aku rela mencium telapak kakinya sebagai tanda penyesalan atas dosa-dosaku padanya. Tapi ternyata dia lebih senang mengucap kata cerai dan menghapus aku dari hidupnya.


__ADS_2