
Hari demi hari terasa berjalan lambat. Dua minggu sudah Mas Dudy koma. Sampai hari ini tak terlihat adanya satu kemajuan. Tapi mungkin hal itu lebih baik dari pada bertambah parah. Karena jika hal itu terjadi berarti tak akan ada lagi harapan.
Namun ada satu berita pahit dari dokter Kemal, dokter yang telah menangani Mas Dudy selama ini. Dokter Kemal mengatakan kalau Mas Dudy akan mengalami kelumpuhan total pada tubuhnya. Kemungkinan Mas Dudy hanya akan bisa menggerakkan kepalanya saja.
Ya, tuhan... Aku pasrah. Jika Kau beri kesempatan pada Mas Dudy untuk bisa membuka matanya dan keluar dari masa kritisnya, aku sudah sangat bersyukur.
Dan tuhan mendengarkan Do'a-ku. Pada hari kedua puluh Mas Dudy membuka matanya. Dia pun bisa mengenali kami satu persatu. Aku tahu itu karena dia menangis ketika melihatku. Air matanya berurai sambil terus menatapku. Ku coba untuk tersenyum semanis mungkin padanya. Ku belai rambutnya dengan penuh kasih sayang. Aku bahagia, hari-hari menegangkan itu akhirnya berlalu juga.
Setelah itu pengobatan Mas Dudy terus berjalan, walau tak banyak yang bisa dilakukan. Dan akhirnya, atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan untuk membawa Mas Dudy pulang. Kami membawa Mas Dudy ke rumah Pak Iskandar. Karena rumah bapak mertuaku itu yang terdekat dengan rumah sakit. Jadi tidak menyulitkan jika Mas Dudy harus menjalani terapi dan berobat jalan.
Dengan sabar aku bolak-balik ke rumah bapak mertuaku, hampir setiap hari. Ku rawat dia dengan penuh kasih. Kusuapi. Kubasuh. Ku salin pakaiannya. Ku bantu dia melatih otot-otot tubuhnya agar bisa kembali berfungsi dengan semestinya. Aku tak putus asa meski dokter mengatakan kalau kelumpuhan Mas Dudy ini sulit untuk disembuhkan. Aku cuma perlu berusaha. Setelah itu, serahkan semua pada kehendak tuhan.
Kemarin Faisal sempat mengomeliku. Dia tidak suka aku setiap hari sibuk mengurusi Mas Dudy. Dia bilang aku bodoh. Ketika sehat dulu Mas Dudy mencampakan aku seenaknya. Tapi ketika dia sakit dan tergeletak lemah tak berdaya, aku malah merawatnya dengan penuh kesabaran.
"Untuk apa kau merawatnya, An? Kau kan tahu kalau dia sembuh nanti, dia akan meninggalkanmu. Serahkan saja dia pada Ika. Biar perempuan itu yang merawat Dudy sampai dia sembuh. Atau jangan-jangan Dudy sengaja menahanmu karena dia tahu kalau dia tidak akan sembuh. Kau masih ingat apa yang dikatakan dokter waktu itu, kan? Dokter bilang kalau kemungkinan Dudy untuk sembuh itu kecil sekali. Hampir tidak mungkin, An!"
"Ah, dokter bukan tuhan. Aku yakin Mas Dudy bisa sembuh," sahutku penuh keyakinan.
"Lalu apa bedanya untukmu? Dia sembuh, kau diceraikan. Dia sakit, kau dijadikan budaknya. Sama pahitnya untukmu, Ani. Kau ini rajanya bodoh atau apa?"
__ADS_1
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan dia sekarang, Sal."
"Kenapa tidak bisa? Sekarang kau wujudkan saja keinginannya untuk hidup berdua dengan Ika. Inilah saatnya kau bisa membalaskan dendammu pada mereka. Biar mereka tahu kalau hukum karma itu sesungguhnya ada."
"Ah, Sal, aku tidak punya dendam..."
"Tapi aku punya! Dan anak-anakmu juga punya! Aku tidak heran jika kau tidak punya dendam terhadap mereka. Karena kau memang bodoh, An!"
"Anak-anak menyayangi Mas Dudy."
"Itu karena mereka belum tahu bagaimana Dudy dan Ika memperlakukanmu selama ini. Waktu akan bercerita pada mereka sedalam apa lukamu itu. Dan saat mereka telah dapat memahaminya, mungkin rasa dendam itu akan tumbuh."
"Aku akan menghapus dendam itu dari hati mereka."
Tak ada yang dapat merubah keputusanku untuk merawat Mas Dudy sampai sembuh. Aku hanya mengikuti kata hatiku untuk terus menjadi istri yang terbaik bagi suamiku.
Di luar dugaan, Ika sekarang justru merasa takut kalau aku akan pergi meninggalkan Mas Dudy. Ketika itu kami sedang berada di dapur. Selain kami cuma ada Bik Mur di sana. Bapak dan ibu mertuaku sedang menemani Mas Dudy di dalam kamar. Perlahan Ika mendekatiku dan mulai bicara yang bukan-bukan.
"Kau pasti senang karena tidak perlu mengurus Mas Dudy lebih lama lagi. Kenapa kau tidak tertawa senang, An? Kau dan kekasihmu itu pasti merasa bahagia sekarang."
__ADS_1
"Jangan bicara sembarangan, Ika. Mulutmu terlalu tajam," kataku marah.
"Sudahlah, An. Kita berdua sama-sama tahu kalau Mas Dudy bukan apa-apa lagi sekarang. Dia seperti mayat hidup. Apa yang bisa diharapkan dari laki-laki seperti itu. Berbeda sekali dengan kekasihmu yang gagah itu."
Aku menoleh terkejut pada Ika. "Kau tidak mencintai Mas Dudy lagi sekarang?"
"Dia lumpuh, An! Dan itu untuk berapa lama? Satu tahunkah? Dua tahun atau tiga tahun? Tidak, tapi untuk selamanya! Rasanya mustahil kalau kau masih mencintainya. Dulu memang Mas Dudy adalah seorang laki-laki gagah yang pantas untuk dicintai. Tapi sekarang dia bukan apa-apa. Dia cuma akan menjadi beban!"
Hampir saja aku menampar wajah Ika karena kata-katanya yang keterlaluan itu. Tega sekali dia bicara seperti itu tentang Mas Dudy. Sedangkan aku, istri yang pernah disakitinya saja masih tetap menyimpan cinta yang teramat besar untuknya. Masih tetap mau mengabdi padanya tanpa mengharapkan imbalan apa-apa. Sebagai seorang istri tidak sepantasnya Ika bicara seperti itu. Sungguh keterlaluan dia. Benar-benar tidak punya hati.
"Ternyata kau memang benar-benar jahat, Ika! Tega kau bicara seperti itu tentang Mas Dudy. Apa kau tidak merasa kasihan melihat keadaannya sekarang?"
"Tentu saja kau bisa bicara seperti itu karena kau tidak perlu merawat dia selamanya. Besok pun kau akan pergi meninggalkan dia, kan?"
"Kenapa sekarang kau takut aku akan pergi meninggalkan Mas Dudy? Bukankah dulu kau bersemangat sekali menghancurkan hubungan kami? Apakah sekarang kau sudah tidak ingin lagi memiliki Mas Dudy seutuhnya? Aku tahu apa yang ada di kepalamu sekarang. Kau pasti ingin mencari laki-laki lain untuk kau rebut dari istrinya. Iya, kan?"
"Tutup mulutmu! Jangan coba-coba kau tebak isi kepalaku!" sembur Ika marah.
"Kenapa tidak boleh?"
__ADS_1
"Karena kau perempuan pengkhianat yang selalu bawa sial!" serunya sambil melangkah cepat keluar dapur.
Aku menghembuskan nafas lega. Syukurlah pertengkaran ini cepat berakhir. Ika benar-benar membuatku jengkel. Dia pasti marah karena semua rencananya hancur berantakan sekarang. Keinginannya untuk hidup bersama Mas Dudy dan mengasuh Ayala tidak terwujud. Dan kini dia melampiaskan rasa kecewanya itu padaku. Mantan sahabatku itu kini jadi musuhku. Dan kami berperang di bawah satu atap, secara sembunyi-sembunyi.