
Waktu berlari dengan cepat. Delapan tahun kini telah berlalu. Dalam masa itu Mas Dudy mengalami banyak kemajuan. Diawali ketika dia bisa menggerakan jari-jari tangannya. Lalu setelah itu diikuti oleh kemajuan-kemajuan yang lainnya. Kini Mas Dudy sudah bisa duduk di kursi roda dan bisa melakukan banyak aktifitas. Semangatnya berkobar lagi. Perasaan putus asa dan tak berguna tak lagi ada di dalam hatinya.
Untuk terus menyemangati Mas Dudy, Pak Iskandar pun memberikan modal usaha untuk suamiku itu. Pekarangan luas yang menghadap ke jalan ramai pun disulap mertuaku jadi sebuah tempat usaha.
"Tempat yang strategis, kan? Di lingkungan yang ramai tapi masih tetap di dalam pekarangan rumah kita. Jadi Dudy bisa berkegiatan tanpa harus meninggalkan rumah," jelas Pak Iskandar dengan nada puas.
"Tapi usaha apa yang tidak terlalu melelahkan Dudy? Ibu tidak mau Dudy melakukan kegiatan yang terlalu melelahkan," tanya ibu mertuaku.
"toko perlengkapan alat tulis dan fotocopy saja, bu. Di sekitar sini kan banyak pelajar dan mahasiswa. Sekolah pun dekat dari sini. Saya rasa itu tidak terlalu melelahkan buat saya," kata Mas Dudy membuat keputusan. Dan kami semua pun setuju.
Sedang aku semakin sibuk dengan usaha kuliner yang kujalani selama ini. Bahkan kini sudah menjadi sebuah katering yang memiliki pelanggan tetap. Lebih dari separuh rumah kujadikan dapur usaha. Hingga akhirnya mertuaku meminta aku dan anak-anakku untuk tinggal saja bersama mereka. Toh, rumah mereka pun terlalu luas jika hanya ditinggali berdua saja.
"Biar anak-anakmu dan Dudy, bapak dan ibu saja yang menjaga di sini. Kamu fokus saja pada usahamu biar bisa semakin berkembang. Jadikan saja rumah kalian itu sebagai tempat usaha. Biar kalian tinggal di sini saja bersama kami," usul bapak mertuaku waktu itu. Dan setelah meminta pendapat dari anak-anakku, akhirnya kami pun sepakat untuk tinggal bersama Bapak dan Ibu Iskandar.
Sementara itu Tassa, putriku, telah tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang cantik jelita. Dia seperti sekuntum bunga yang baru merekah. Begitu indah, segar dan semerbak harum mewangi. Banyak pemuda yang datang dan mencoba merebut hatinya. Tapi agaknya Tassa enggan untuk menanggapi. Bahkan sikapnya seringkali terlihat acuh dan dingin. Terus terang saja aku merasa sedikit khawatir melihat semua itu. Seharusnya gadis seusia Tassa sedang hangat-hangatnya dilanda cinta. Mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Tapi Tassa tak seperti itu. Dia lebih suka berteman dengan buku-buku pelajarannya dan menyibukan diri dengan tugas-tugas kuliahnya.
"Masa tidak ada satu pun yang kamu suka, Sa?" tanyaku penasaran.
"Ah, mama. Tassa ingin konsentrasi pada kuliah Tassa dulu, ma. Tassa ingin secepatnya bisa meraih cita-cita Tassa. Tassa ingin jadi dokter di usia muda. Tassa ingin jadi wanita karir yang sukses. Tassa engga mau menikah muda dan menggantungkan hidup pada suami yang belum tentu bisa jadi sandaran," jawab Tassa memberi alasan.
Aku pun tersenyum mendengarnya. "Mama senang kalau Tassa giat mengejar cita-cita. Tassa memang harus jadi perempuan yang mandiri. Tapi itu bukan berarti Tassa harus menutup diri dari teman laki-laki, kan?"
"Kalau Tassa sudah jadi perempuan yang mandiri, itu berarti Tassa tidak harus butuh laki-laki, kan?" tanyanya dengan wajah serius.
"Maksud Tassa?" tanyaku terkejut.
Tassa mendesah pelan. "Sudah, ah, Tassa malas ngomongin masalah beginian. Sekarang Tassa mau fokus dulu sama kuliah Tassa. Tassa cuma mau belajar."
__ADS_1
Ah, sikap Tassa membuatku resah.
Tapi lain dengan Tassa, perubahan yang terjadi pada Ayala justru membuatku senang. Walau tak sefeminin Tassa, tapi Ayala sekarang bisa bersikap lemah lembut seperti layaknya seorang perempuan. Dia tak lagi setomboy dulu. Kasih sayang dan perhatian dari Mas Dudy selama ini ternyata mampu melembutkan hatinya. Ayala bisa tumbuh menjadi gadis yang manis walau seringkali masih tetap bersikap seperti laki-laki.
"Aku mengkhawatirkan Tassa," kataku pada Mas Dudy siang itu.
"Memangnya kenapa dengan Tassa?" tanya Mas Dudy dengan sikap serius.
"Apa mas tidak perhatikan kalau Tassa terlalu asyik dengan buku-buku pelajarannya?"
"Bukankah itu bagus?"
"Ya, mungkin bagus kalau tidak sampai menutup diri dari pergaulan."
"Apa iya dia seperti itu?" tanya Mas Dudy seakan tak menyadari apa yang terjadi pada Tassa.
Mas Dudy menatapku tanpa kedip. "Maksudmu?"
"Entahlah. Tassa seperti menyimpan trauma."
"Trauma?"
"Dia seperti menjaga jarak dengan laki-laki. Dia pernah bilang kalau dia tidak butuh laki-laki."
"Tapi kenapa?"
Aku menatap Mas Dudy tanpa kedip. Aku bingung harus memilih kata yang tepat untuk menjelaskan.
__ADS_1
"Karena aku?" tanya Mas Dudy dengan alis terangkat.
Aku tak menjawab.
"Karena perbuatanku menyakiti kalian dulu, kini Tassa jadi membenci laki-laki? Apa benar itu, Ani?"
"Aku sudah bicara dengannya tentang itu. Dia bilang, dia tidak mau disakiti," kataku akhirnya.
"Oh," desah Mas Dudy seakan menyesali perbuatannya dulu. "Putriku membenci laki-laki karena aku," keluhnya.
"Aku takut semua itu terus terbawa sampai dia dewasa."
"Adakah yang bisa kulakukan untuk menghapus traumanya itu?" tanya Mas Dudy.
"Entahlah, aku tidak tahu. Mungkin kau berikan saja perhatian lebih padanya. Ku harap dengan begitu dia bisa mendapatkan kepercayaannya lagi pada laki-laki," sahutku mencoba memberi jalan keluar.
Tapi ternyata hati Tassa tetap membeku. Aku hampir putus asa.
"Apa salahnya sendiri, ma? Tak harus menjadi Nyonya Anu untuk bisa bahagia, kan? Bersuami pun tidak bisa menjamin kita pasti bahagia. Contohnya mama, kan? Sebesar apa pengorbanan mama selama ini? Tapi sedalam apa luka yang mama punya karena pengkhianatan papa?"
Aku tercekat mendengarnya. Lidahku terasa kelu. Ucapan Tassa itu benar-benar mengguncang hatiku. Gadisku memiliki luka yang dalam. Dia bercermin pada pengalamanku selama ini. Lantas siapakah yang harus dipersalahkan sekarang? Aku yang telah berkorban demi suamiku, atau suamiku yang telah berkhianat padaku?
Mengapa justru papanya yang telah membuatnya kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki? Seharusnya seorang anak perempuan akan merasa damai saat berada dekat dengan papanya. Akan memandang papanya sebagai seorang laki-laki hebat yang patut untuk dibanggakan. Tapi Tassa justru sebaliknya.
Haruskah kubiarkan dia dengan traumanya itu? Tapi aku tak mungkin membiarkan Tassa untuk memilih hidup sendirian. Selamanya sendiri, tanpa ada seorang yang mendampingi.
Tassa harus menikah. Tassa harus memiliki seorang suami. Berkeluarga dan memiliki anak-anak yang akan menjadi kebahagiaannya kelak. Dia harus percaya kalau jalan hidup tiap-tiap orang itu berbeda-beda. Dan bahwa tidak semua laki-laki itu akan menduakan hatinya. Tapi bagaimana caranya?
__ADS_1