DAUGHTER TO DEAR KING

DAUGHTER TO DEAR KING
*EGOIS*


__ADS_3

"Lihatlah rambutnya yang hitam gelap dan iris mata biru safir, sungguh menawan. Oh, dia sangat mirip dengan Baginda raja, kau harus hidup sayang, jangan biarkan kelahiran mu sia-sia." Sambil membelai rambutku.


Sungguh semua ini sangat membingungkan, apakah ini yang namanya reinkarnasi? Apakah aku terlahir kembali menjadi seorang putri? Tapi kenapa kesadaran ku masih sama seperti dulu, ada apa ini sebenarnya? Bahkan aku masih ingat kejadian yang baru saja aku alami. Jangan-jangan ini semua mimpi? tau prank.


Kalau iya ini nge prank, sungguh hebat sekali mereka, dan letak kameranya gak ada sama sekali. Aaaaggghhhh ini sungguh membuatku frustasi.


Setelah suasana agak tenang, tiba-tiba terdengar Isak tangis. "Kau harus hidup sayang, jangan kau sia-siakan perjuangan ibu." Seru wanita ini menangis dan terus mencium pipiku dan memeluk erat tubuhku, orang-orang yang ada di dalam ruangan ini pun ikut menangis.


Kenapa dengan wanita ini? Kenapa dia terus mengulangi kalimat itu lagi.


"Yang mulia, bertahanlah. Semua pasti baik-baik saja, percaya lah yang mulia." Terdengar jelas suara gemetar dari wanita paruh baya itu.


"Tolong siapa pun yang merawat tuan Puteri, sayangi dia sebagai mana kalian menyayangi diri kalian sendiri. Anggap dia anak kalian, hiksss.."


Wanita yang menyebutku anak, membaringkan tubuh ku di sampingnya dan dia memberikan makanan berupa ASI, rasanya sangat enak dan membuat ku ketagihan. Meskipun ini hanya air saja tapi kenapa rasanya sangat enak dan membuatku kenyang.


"Biarkan Baginda raja yang memberikan nama." Ucapnya yang suaranya terdengar melemah dan memejamkan matanya, suara nafasnya yang tidak beraturan. Perlahan mulai beraturan, sampai tidak ada hembusan di kepala ku lagi.


Aku coba mendurung-durung dengan tangan kecil ku di dadanya, tapi wanita ini tidak bangun juga dan entah kenapa reaksi tubuhku. Sehingga air mataku keluar dan aku menangis di iringi dengan orang-orang di dalam ruangan.


"Yang mulia." Semuanya berteriak menangis sambil memberi hormat perpisahan, wanita paruh baya menggendong ku dan menenangkan aku agar berhenti menangis.


"Anda tenang saja yang mulia, kami pasti akan melindungi tuan Puteri." serunya dan memberi perintah kepada dayang untuk menutupi tubuh wanita yang menjadi ibu ku.


Setelah suasana haru dan menebarkan, Aku kira semuanya akan selesai sampai di sini. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka senada dengan langkah kaki berjalan cepat mendekat.


"Aku dengar, ada yang melahirkan di istana selir?" Seru suara pria dengan nada marah, semua orang ketakutan dan wanita yang sedang mendekap ku sangat terasa kalau dia ketakutan bahkan bisa dirasakan tubuhnya gemetaran.

__ADS_1


Apa yang terjadi? Siapa pria aneh ini? dan kenapa dia sangat tampan.


"Ya- Yang Mulia." Berlutut mereka bersamaan termasuk wanita yang sedang menggendong ku.


"Berani-beraninya kalian." Menghunuskan pedang ke arah wanita yang sedang menggendong ku. Dari sini bisa ku lihat dengan jelas wajah pria yang mungkin adalah ayahku yang juga sedang menatap ku, mata kami saling bertemu dan aku mencoba untuk mengalihkan pandanganku.


"Gak sadar, gak sadar semoga saja tidak sadar" Batin ku.


Lihatlah, Betapa tampan nya pria yang sedang menghunuskan pedang itu, kepada orang yang sudah menyelamatkan nyawa putrimu. wajah tampan dengan rahang tegas, Mata beririskan biru safir dengan warna rambut hitam yang acak-acakan. Hidung mancung dan kulit putih, tubuh kekarnya tertutupi oleh pakaian kerajaan dengan sangat lengkap.


Tapi kenapa di penuhi darah dan pedang yang dia hunuskan juga sama. "Bunuh semua orang yang ada di ruangan ini!" Serunya dengan terus menancapkan pedang ke bahu wanita paruh baya ini.


Dasar gila, apa dia berniat ingin membunuh orang-orang di sini.


"Ya..Yang mulia," Gemetaran tapi dia tidak ingin melepaskan dekapannya dan berusaha melindungi ku.


"Hemmm."


"Yang mulia, jangan bunuh tuan Puteri, bunuh hamba saja yang mulia." memohon saat pedang itu mengenai kulitku dan keluar darah.


"Kenapa dia tidak menangis?" Gumamnya


Apa kau pikir aku akan menangis, maaf aku mengecewakan mu. Meskipun ini sangat perih, tapi aku tidak akan mau menangis di depan psikopat seperti mu.


Wajah pria yang awalnya merah padam, kini dia tersenyum dengan sangat mengerikan. Dia berjongkok dan melepaskan pedangnya lalu tangannya yang berukuran darah itu membelai pipi cabi ku.


Oh tidak, Jangan sentuh aku, Jauhkan tangan kotormu itu. Dan apa yang kamu lakukan dasar bodoh.

__ADS_1


Aku menatap matanya tajam-tajam. "Apa yang dia lakukan?"


"Yang-yang mulia." Getar suara wanita paruh baya yang menggendong ku, aku hanya menatap matanya dan berusaha menjauhkan tangan kotor itu dari ku. Sungguh menjijikan dan sangat-sangat bau.


Ha... Ha... Ha... Semua orang terdiam merasa kebingungannya. "Kau sangat cantik, baiklah kau ku biarkan hidup, setalah kau besar nanti akan aku nikahi atau aku jual," ucapnya dengan senyum licik.


Hi! Apa kau gila, aku bahkan baru lahir tiba-tiba kau mau menikah dengan ku. Aku anakmu, dasar psikopat.


"Yang-yang mulia." Panggil wanita yang terus melindungi ku ini, aku sangat salut dengannya bagaimana bisa dia rela, mengorbankan nyawanya. Demi bayi yang tidak ada hubungan dengan dirinya sendiri


"Apa? tidak ada yang bisa membantah ku, paham!" serunya dengan nada dingin dan tatapan membunuh.


"Bakar semua mayat yang ada disini, Dia pikir dengan melahirkan seorang anak. Aku akan menerimanya, jangan mimpi." Serunya memandang ku lalu keluar dari kamarku.


"Apa yang harus kita lakukan? bagaimana kita bawa kabur tuan Puteri?" ucap dayang yang masih tersisa satu, bisa dilihat dari raut wajah yang pucat itu. Kalau dia sangat menghawatirkan diri ku.


Lebih baik aku mati saja, dari pada harus melihat kejadian ini. Apa yang engkau harapkan dari ku setelah kau memberikan nyawa kepadaku, tapi kau sendiri malah pergi meninggalkan orang-orang yang berusaha melindungi ku. Apakah aku boleh menyebutmu WANITA EGOIS.


"Apa kau ingin di penggal dan di sebut berkhianat dengan anggota kerajaan, jaga ucapanmu jangan sampai orang lain mendengarnya atau kau dan seluruh keluarga mu mati." Ucap Mey memberi nasehat kepada dayang muda itu.


"Kita sudah berjanji kepada yang mulia, akan menjaga tuan Puteri apapun yang terjadi." sambil mengobati luka yang ada di leherku.


"Kau pasti bahagia," tersenyum lembut dan itu membuatku merasa bersalah, karena sudah membuat kalian menderita demi melindungi ku.


Pelukannya sangat nyaman terasa tulus dan hangat, meskipun aku baru saja kehilangan ibu dan mendapat ayah psikopat. Setidaknya aku mendapatkan seseorang yang menyayangi ku.


"Baiklah, kita obati dulu luka mu itu," Membantu mengobati luka Mey yang ada di bahu bagian kanan.

__ADS_1


__ADS_2