DAUGHTER TO DEAR KING

DAUGHTER TO DEAR KING
ARICIA ZADIE GWYNETH


__ADS_3

Kehidupan ku sangat membosankan, semuanya serba terbatas. Aku harus cepat besar, agar aku bisa keluar dari sini.


Aku sedang makan dengan ASI lagi, rasanya berbeda dengan rasa yang kemarin. Mungkin ini buatan sedangkan kemarin alami.


BRUKKK... Suara pintu terbuka keras, semua orang langsung memberi salam. "Semoga yang mulia panjang umur dan sehat selalu."


Semoga otakmu waras dan menghilang dari sini, dasar ayah mesum.


"Apa yang sedang dia lakukan?" Duduk di kursi panjang dengan menyilang kan kaki, ditambah dua pengawal di belakang membawa senjata.


Apa dia tidak bisa lihat. Sudah jelas aku sedang makan, dasar bodoh.


"Hamba sedang memberikan tuan Puteri ASI yang mulia." Jawab ibu asuh baruku, yang kemarin baru di utus untuk merawatku. Sedangkan yang kemarinnya lagi, aku dengar beliau di istirahatkan, melihat umur beliau yang sudah tua.


"Maaf yang mulia, hamba lancang. Dari kemarin tuan Puteri belum di kasih nama." Serunya dengan hati-hati.


Wajah raja Chyron langsung tersenyum kecut. "Apa dia ingin aku memberikan nama kepada cacing ini?" Tanya Chyron dan di angguki dayang tadi.


"Ya...Yang mulia, cacing?" Terkejut karena keluar dari mulut Chyron, masa nama tuan Puteri seperti itu. pikir ibu pengasuh.


"ARICIA ZADIE GWYNETH."


Dia barusan bilang apa?


"Hah! Namanya sangat bagus yang mulia. Nah sekarang nama tuan puteri adalah ARICIA ZADIE GWYNETH." tersenyum manis.


"Hidup Tuan Puteri ARICIA ZADIE GWYNETH." sorak mereka bersujud.


Perlahan, Chyron tersenyum kemudian ingin membelai pipi Cici. Tapi dia urungkan hanya menatap Cici dengan tatapan dingin.


Ck. Dasar mesum, apa yang dia pikirkan sekarang? Apa mencari gelar baru untukku lagi.


"Yang mulia ingin menggendong tuan Puteri?"


Apa? Aku mohon jangan, kasianilah aku. Bukannya membuat aku aman yang ada nyawaku terancam.

__ADS_1


"Aku?" Agak ragu, tapi dia mengulurkan tangan dan menggendong ku. Aku pikir akan terjadi sesuatu kepadaku, secara ini kan baru pertama kali dia menggendong bayi. Ternyata aku salah, aku merasa nyaman dan aman berada di gendongan nya.


Sangat hangat dan wangi, tidak aku sangka tidak hanya tampan tapi dia juga wangi. Ah, sayang kau mesum kalau tidak pasti aku sudah jatuh cinta padamu.


"Yang mulia, semuanya sudah siap," ucap pengawal yang baru saja datang melapor.


Entah apa yang mereka maksud, tapi aku punya pirasat jelek mengenai ini.


"Baiklah, pindahkan tuan Puteri ARICIA ke Mension. Aku tidak ingin mainan baruku kesepian, karena tidak ada aku."


Hai! Apa kau bilang? aku mainan, dasar psikopat, mesum. Aku bukan mainan mu, wah . Jiwaku terluka, Bisa-bisanya dia bilang aku mainannya, baiklah kali ini aku maafkan engkau. Karena kau sudah memberikan kehangatan.


"Dan kalian, siapkan keperluan tuan Puteri. Bawa seperlunya saja, yang tidak penting buang." Serunya dan di angguki para dayang.


"Yang mulia, biar saya yang membawa tuan Puteri. Setelah tuan Puteri mandi, kami akan menyusul yang mulia." Ucap Lala ibu asuh cici yang ingin mengambil alih Cici.


"Baiklah, mandikan dia dengan bersih. Dia sungguh bau." Menyerahkan tubuh Cici kepada Lala dan berbalik keluar kamar menuju Istina utama.


Tidak aku tidak ingin tinggal dengan ayah mesum.


Tolong dong, jangan kau simpulkan se'enak jidatmu. Aku tidak cemberut masalah di tinggalkan ayah mesum itu. Tapi aku cemberut, harus menahan siksaan yang akan dia berikan kepada ku. Dan berhentilah mencubit pipiku ini, kau tidak tau berapa mahal perawatan wajahku.


"Semoga dengan adanya tuan Puteri, yang mulia bisa berubah seperti dulu." Gumam Lala, dengan tatapan sendu.


Kenapa Lala sedih, dan berkata seperti itu. Seolah-olah ada kesedihan yang mendalam, apa yang harus aku lakukan agar Lala tersenyum lagi. Semoga saja dengan melihat aku tersenyum dia lebih baikan.


"Ah! Apa tuan Puteri ini mencoba menghibur ku," terkejut melihat Cici tersenyum menatap Lala.


Iya, maka dari itu berhentilah bersedih, itu bisa menambah wajah kamu tua. Jadi tersenyum lah, itu akan membuat kamu nyaman.


"Nah, tuan Puteri kita sudah wangi dan cantik." Ucapnya sambil tersenyum ke arah Cici. Ah sungguh cantik, bisa membuat ku terpesona. kalau dia ada di zaman modern pasti jadi idaman laki-laki.


"Iya. Tuan Puteri kita sangat cantik, pasti yang mulia akan terpukau melihat kecantikan tuan Puteri." tersenyum girang.


Berhentilah, menggoda ku dan jangan menyebut ayah mesum itu, semakin aku mengingat apa yang dia katakan. Membuat ku sakit hati mengingat kejadian sebelumnya, kenapa wajahku memanas. Oh, jangan sampai, bisa malu aku.

__ADS_1


"Apakah tuan Puteri sudah selesai?" Tanya ajudan yang diutus raja untuk menjemput cici.


"Maaf jadi menunggu lama, tuan Puteri kami harus cantik menghadap yang mulia." ucapnya dengan seutas senyuman.


Ah, berhentilah berkata seperti itu. Itu membuat aku malu.


"Baiklah, kita pergi sekarang." Berjalan mendahului dan menuntun kami menuju istana raja.


Tidak, aku tidak ingin kesana, aku ingin pulang. Ibu Lala, aku mohon. Andai sekarang aku bisa jalan, pasti aku akan kabur dan meninggalkan ayah mesum tingkat akut itu.


"Tuan Puteri jangan menangis, kita akan tinggal di tempat yang megah dan nyaman, terus di sana tuan Puteri bisa ketemu Baginda raja tiap hari." Menenangkan Cici.


Yah juga sih, tapi sekarang aku sedang menahan kentut. Aku tak ingin kentut ku kedengaran, makanya aku menangis. Bukan sedih meninggalkan tempat itu, yah agak sedih juga sih.


"Yang mulia, Tuan Puteri ARICIA telah tiba." serunya mengetuk pintu.


"Suruh mereka masuk," Jawabnya dengan menumpang dagu di tangan.


KREKKK...


Wah... Betapa megahnya kamar ayah mesum ini. Berbeda dengan kamar yang aku tempati, ini sungguh tidak adil. Memandang tajam ke arah Chyron.


"Kenapa kau menatapku? Apakah aku terlalu tampan sampai-sampai, cacing seperti kamu. Tidak berkedip menatapku." Tersenyum licik.


"Yang mulia, saya rasa. Tuan Puteri ingin di gendongan Baginda." Ucap Lala yang ingin menyerahkan Cici.


What? Hai, ibu Lala. Ayolah, jangan kau berpikir seperti itu, dan aku mohon kerja samanya jangan kasih aku ke gua buaya.


"Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Chyron yang penasaran, karena Lala berkata demikian.


"Ini adalah insting seorang ibu yang mulia," jawab Lala, menyerahkan Cici dan di sambut oleh Chyron.


Hah, selamat ibu Lala insting mu kali ini salah, aku tidak ingin di gendongan dia dan malah aku ingin pergi jauh dari dirinya.


Chyron menggendong tubuh Cici dengan hati-hati, dia terus menatap wajah Cici dengan seksama. "Sial, kenapa dia harus mirip aku. Kan sayang wajah tampan aku di turun ke dia." Batin Chyron yang terus menatap wajah Cici. Cici bisa merasakan kasih sayang dari Chyron meskipun itu seupil.

__ADS_1


__ADS_2