
Bruk..
Seorang gadis dengan rambut yang di kepang dua terjatuh di pinggir jalan akibat hampir di tabrak sebuah mobil mewah yang melaju dengan kencang.
" Taik lo, berhenti. " Gadis bernama Alya itu berdiri lalu menghampiri mobil yang tadi membuat jantungnya hampir log out.
Mobil itu pun berhenti mungkin sadar bahwa ia melakukan kesalahan, padahal Alya pikir orang yang mengemudi mobil ini akan kabur dan lari dari tanggung jawab.
Tok tok tok
Alya mengetuk kaca mobil itu dengan tidak santuy.
" Heh keluar lo. " Teriaknya dengan wajah memerah serta kacamata yang sedikit miring seperti otaknya.
Ekspresinya seketika berubah melongo saat melihat pengemudi mobil tadi keluar dari peradabannya. Tampan. Satu kata yang mewakili pria pemilik mobil mewah tersebut.
Pria itu melambaikan tangannya di hadapan Alya yang masih melongo dengan bibir terbuka dan mata yang membesar hampir copot dari tempatnya.
Seketika ia tersadar tujuan awalnya yaitu ingin meminta pertanggung jawaban bukannya malah terpesona akan ketampanan pria di hadapannya ini.
" Apa kamu buta? "
Bukan, bukan Alya yang bertanya melainkan pria yang notabenenya adalah pelaku disini.
" Lah kok situ yang sewot? Harusnya kan saya, kan yang jadi korban itu saya. Gimana sih? " Balas Alya tak kalah ketus dengan tangan terlipat di depan dada.
" Kamu saja yang tidak hati hati, punya 4 mata tapi tidak berguna semua. " Sinis pria itu lagi, seketika menurut Alya pria ini sangat redflag.
" Hey, harusnya kamu itu tanggung jawab udah buat saya celaka bukannya ngehina saya gitu. "
" Tanggung jawab? Kamu mau uang? Berapa? " Tanya pria itu to the point.
Tak ingin kehilangan kesempatan, Alya pun mulai berpikir berapa banyak money yang harus ia minta pada pria ini. Jika dilihat dari pakaiannya pria ini menggunakan setelan jas yang terlihat mahal apalagi mobilnya yang terlihat sangat mehong.
1 juta sepertinya tidak ada apa apanya bagi pria ini, baik ia sudah menentukan patokan uang yang harus ia minta, anggaplah ia memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bagi Alya ini adalah rejeki yang Tuhan kirimkan untuknya jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin bukan?
" 5 juta. " Ucap Alya mutlak.
__ADS_1
Pria di hadapannya melongo, " Kamu mau meras saya ya? " Tanya pria itu tidak habis thingking. Yang ia lihat gadis ini baik baik saja hanya saja jalannya memang sedikit pincang dan jangan lupakan kacamata yang sudah miring.
" Mobil elit, 5 juta buat tanggung jawab syulit. " Sindirnya membuat pria di hadapannya tepuk jidat.
" No rekening kamu. " Pinta pria itu. Ya sudahlah daripada gadis ini melaporkannya ke polisi bisa jadi lebih rumit urusannya. Lebih baik ia berikan uang itu dari pada terkena masalah yang lebih runyam lagi. Toh 5 juta bukan apa apa untuknya
" Bentar. " Alya mengambil handphonya karena ia tak hafal nomor berharga itu.
" Cepat, saya buru buru. "
" Sabar ngapa bang, nih. " Alya menunjukan no rekeningnya ke arah pria itu yang langsung di scan. Pria itu kembali menyerahkan handphone Alya.
Melihat nominal yang sekarang tertera di akun rekeningnya membuat wajah gadis itu yang awalnya penuh kemarahan berubah full senyum ya guys ya.
" Dasar mata duitan. "
Alya tak mempedulikan kata kata pria itu.
" Makasih banyak loh, lain kali senggol aja lagi biar saya bisa dapat duit. Tapi jangan keras keras saya takut mati. " Ucap Alya cengengesan membuat si pria kesal dan pergi dari sana meninggalkan Alya yang masih senyum senyum tidak jelas.
Melihat mobil tersebut berlalu dari hadapannya, Alya kembali sadar kalau hari ini adalah hari pertama ospek. Habis lah dirinya pasti akan di hukum.
Benar saja Alya terlambat dan ia dihukum, hukumannya ia harus meminta nomor kakak tingkat paling populer yang bernama Arya bagaskara.
" Dih gila bangat, kampus sebesar ini gue harus nyari satu orang yang bentukan mukanya aja gua kaga tau. "
Karena menyerah bukan pilihan bagus akhirnya ia memutuskan bertanya pada beberapa kating yang kebetulan lewat, mungkin mereka ingin mengurus berkas atau apalag itu.
Namun nihil tidak ada satupun yang tahu di mana pria yang ia cari berada. Karena lelah ia memutuskan duduk di bawah pohon mangga yang ada du dekatnya.
" Lo nyari Arya? " Tanya salah satu kating yang kebetulan melihatnya planga plongo seperti orang tolol.
" Kok lo bisa tau, cenayang ya lo? " Tanya Alya dengan ekspresi wajah curiga. Hm maba tidak tahu diri.
" Ya jelas gue tau lah, dari tadi lo misuh misuh sambil nyebutin nama Arya. " Kating tersebut menggeleng kepala melihat maba yang kelakuannya sedikit aneh ini.
" Affah iyah. " Tanyanya lagi.
__ADS_1
" Lo ngeselin, jadi malas mau ngebantuin. " Ujar kating perempuan itu mulai jengah, dan hendak pergi dari sana namun Alya menahannya.
" Yeh baperan, sorry deh. Plis bantuin gue cari si Arya Arya itu. Pening gua keliling kampus. "
" Arya gak masuk, dia lagi sakit. " Ucapnya sambil terkekeh melihat wajah cengo Alya.
" Taik lah, gue udah kaya orang dongo eh dia malah gak hadir. "
Alya benar benar kesal, di panas terik seperti ini ia harus berkeliling demi seorang laki laki bernama Arya itu. Pasti kating yang menyuruhnya sudah tau hal ini. Sial dia pasti di kerjai.
" Lo punya nomor Arya? " Tanya Alya lagi.
" Ngapain lo nanya nomor dia? Kan udah gue bilang dia gak hadir hari ini."
" Gue gak peduli tuh orang hadir apa kaga yang jelas tadi gue disuruh minta nomornya bukan orangnya. " Ujarnya penuh semangat setelah menyadari suruhan dari katingnya tadi.
Setelah Alya mendapatkan nomor dari kating yang baru ia ketahui namanya sella itu, ia pun segera berlalu menuju aulla tempat kegiatan ospek berjalan.
" Ini kak. " Ujar Alya menyerahkan selembar kertas berisi nomor Arya yang sella cerita merupakan pria tertampan di kampus ini.
Kating tersebut menerimanya lalu mengijinkan ia duduk dan mengikuti kegiatan ospek hari ini. Hingga sore hari pukul 5 sore ia pulang dan baru tiba pukul setengah 6 sore karena jarak rumah dan kampus yang lumayan jauh.
" Gimana ospeknya? Lancar kan? " Tanya Anita sang ibu yang tengah menyajikan makan malam di meja makan.
Bukannya menjawab ia malah mencomot satu potong daging ayam kecap, alhasil ia mendapat getokan maut dari sang ibu.
" Auw sakit tauu. " Gerutu Alya sembari mengusap tangnnya yang di tabok namun tetap memasukan potongan ayam tadi ke dalam mulutnya.
" Bukannya di jawab malah nyomot makanan. " Oceh sang ibu.
Alya cengengesan mendengar ocehan sang ibu, habislah dirinya akan di omeli lebih lama lagi jika ia tak segera meredahkan kekesalah ibunya itu.
" Hehe sorry ibuku yang syantik, abisnya Alya lapar bangat. Ibu gak kasihan sama inces ini? " Ujarnya dengan memasang wajah memelas seperti anak kucing karena hal ini biasanya berhasil meluluhkan hati ibunya yang cerewet itu.
" Ya sudah sana mandi habis itu kita makan malam. "
Berhasil, walaupun tidak langsung di suruh makan tapi setidaknya telinganya lolos dari mendengarkan ocehan yang pastinya tidak sebentar. You know lah ibu ibu jika mengoceh maka semua kesalahan di masa lalu akan di spill.
__ADS_1
...♡♡♡♡♡...
...Angkat kaki yang ibunya kaya ibu Alya wkwkw...