
...HAPPY READING...
......♡--------------------♡......
Alya dan ketiga temannya saat ini sedang berada di mall sesuai rencana mereka tadi. Ke empat mahasiswi itu berkeliling sekedar cuci mata dan membeli beberapa barang yang memang di perlukan.
" Eh itu pak Bara bukan sih? " Tanya Anggira memberi kode ke arah seorang pria yang tengah duduk bersama seorang wanita, di salah satu restaurant di mall tersebut.
" Iya kayanya emang pak Bara deh. " Sahut Chia nampak tak perduli. Fyi sampai saat ini Chia masih menaruh rasa kesal terhadap Bara atas kejadian dulu.
Alya juga menatap ke arah yang di tunjuk temannya itu, namun ia masa bodoh dan lanjut melihat lihat sekitar.
" Gue pulang duluan. " Cetus Erika tiba tiba membuat perhatian ketiganya teralihkan.
" Buru buru amat lo, ngurus anak? " Cecar Chia yang merasa kesal di tinggal salah satu temannya.
" Bukan gitu, gue ada urusan mendadak. " Jawab Erika santai.
" Yaudah, hati hati. " Alya menyahuti, mungkin urusan itu memang tidak bisa di tunda.
Setelah Erika pergi mereka kembali fokus pada kegiatan mereka, dan kali ini mereka memutuskan mampir di restaurant yang sama dengan dosennya.
" Gak usah di situ lah. " Usul Alya tak ingin bertemu dengan Bara, entah mengapa jika melihat Bara saat ini moodnya akan hancur.
" Makanan di situ enak tau, ayolah. " Anggira dan Chia menarik tangan Alya yang nampak ogah ogahan untuk ke sana.
Chia enggan sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi kebetulan restaurant itu tempat makan favoritnya.
" Selamat sore pak Bara. "
Dalam hati Alya dan Chia memaki Anggira yang dengan santai menyapa dosen galak mereka itu. Hal ini akan membuat keduanya makin tak nyaman, apalagi saat ini Bara menatap Alya dengan intens.
" Selamat sore. " Sahut Bara singkat namun tatapannya masih terarah pada Alya.
Alya yang merasa mungkin Bara mengkodenya untuk menyapa pria itu juga, akhirnya memberanikan diri menatap serta menyapa Bara.
" So..sore pak. " Sapa Alya kikuk.
Sedangkan Chia ia memasang mode sok Cool, biarkan saja jika Bara menganggapnya tak soapan. Ia tak perduli.
Bukankah seharusnya Alya biasa saja? Tapi kenapa dirinya jadi seperti ini. Gadis itu merasakan perasaan yang sulit untuk di jelaskan oleh dirinya sendiri.
__ADS_1
" Kita pamit ke sana ya pak. " Pamit Anggira saat menyadari kedua temannya seperti tidak nyaman berada di sana terlalu lama.
Ketiganya pun pergi setelah Bara mempersilahkan.
" Lo ngapain sih pake acara negur. " Alya kesal, moodnya mulai hancur hanya dengan melihat wajah Bara.
" Kita kan harus sopan, lo tau kan besok kita masih ada pertemuan satu kelas sama dia. Mungkin aja kan kalau kita baik dia ngasih kita nilai bagus. " Jelas Anggira karena sebenarnya ia juga malas menyapa dosennya itu, tapi kan sebisa mungkin mereka harus menunjukan sikap baik mereka, walapun itu menipu.
" Dia gak bakal masuk besok. " Ujar Alya santai saat teringat pesan dari Bara tadi.
" Dih sok tau lo. " Sahut Chia yang baru duduk setelah memesan makanan untuk mereka.
" Orang dia sendiri yang ngasitau kok. "
Kedua temannya saling tatap lalu tertawa keras membuat orang orang menatap mereka dengan tatapan heran, termasuk Bara.
" Lo ngada ngada deh, emang lo siapa? Komisaris aja bukan. " Anggira bertanya sambil menatap Alya dengan tatapan meledek.
" Iya ni, makanan cepat datang deh. Kayanya lo udah lapar bangat ya? " Chia menyahut sambil menahan tawanya.
" Taik lo berdua, kalau gue gak halu lo berdua harus beliin apa yang gue mau. " Alya kesal pasalnya ia di tertawakan oleh dua curut yang tidak percaya pada penuturannya.
" Mana tunjukin buktinya. " Suruh Chia menantang Alya, tak masalah jika harus membelikan apa yang temannya mau toh dia dan Anggira merupakan anak orang kaya, jadi tidak masalah.
Angira merampas benda tersebut, lalu membaca pesan yang membuat tubuh keduanya merinding.
" What? Ini benaran pak Bara? " Tanya Chia tak percaya setelah membaca pesan dari dosen mereka itu.
" Bisa bisanya dia ngetik gini? Pak Bara bisa alay juga ya. " Sahut Anggira terkekeh geli.
Tiba tiba Alya tersadar sesuatu, ia belum mengahapus pesan kedua yang dikirim Bara tadi. Habislah dirinya akan di tertawakan lagi oleh dua dajjal di hadapannya ini.
Alya merampas ponselnya, " siniin hp gue. "
Saat ia membaca kembali isi pesan dari Bara ternyata ada satu pesan yang belum ia baca, namun sudah di baca lebih dulu oleh kedua temannya.
*pak Bara.
Kamu cantik*.
Alya reflek menatap ke arah tempat duduk Bara, tatapan mereka bertemu. Yang mengejutkan pria itu tersenyum padanya membuat pipi gadis berusia 18 tahun itu merona. Entah karena kesal atau malu di tatap oleh dosennya itu.
__ADS_1
Saat ini Bara duduk sendirian, entah dimana wanita yang tadi bersama dengannya. Mungkin di toilet pikir Alya, namun setelah dipikir ia merasa untuk apa ia memikirkan dimana wanita itu berada sekarang.
" Ciee di bilang cantik. "
Saat Alya sedang kesal kesalnya, kedua mahluk di depannya malah asyik menikmati makanan pesanan mereka yang baru datang.
" Pokonya lo berdua traktir gue belanja titik. "
Anggira dan Chia mengangguk saja, toh meneraktir Alya tak akan membuat kedua orang tua mereka jatuh miskin bukan. Paling teman mereka itu hanya akan membeli perintilan kpop dan lain lain yang berhubungan dengan korea.
" Iya deh cantiikk. " Ejek Chia di sambut gelak tawa oleh Anggira membuat Alya semakin kesal. Bersyukur makanannya sudah datang jika tidak ia akan memukul kedua temannya itu.
•
•
•
" Jadi bagaimana apa bapak setuju? " Tanya seorang wanita cantik yang duduk di hadapan Bara.
Ya wanita yang tadi bertemu dengan Alya dan teman temannya.
Hari ini Bara sedang melakukan pertemuan khusus dengan tangan kanan salah satu perusahaan yang bekerja sama untuk proyek baru mereka yang tertunda saat ini.
" Baiklah saya setuju, jika masalah ini tidak selesai dalam 3 hari kedepan. Maka saya akan mengganti kerugiannya sebesar 3 kali lipat dari modal awal perusahaan kalian. " Jelas Bara dengan tegas.
" Baiklah kalau begitu silahkan tanda tangan disini. "
Bara membaca terlebih dahulu, saat dirasa sesuai ia pun membubuhkan tanda tangannya di sana.
" Baiklah kalau begitu saya permisi, selamat sore Pak Bara. "
" Terimakasih atas kerja samanya, selamat sore juga. "
Keduanya kemudian berjabat tangan lalu wanita tersebut meninggalkan Bara sendiri di sana. Sebenarnya pria itu juga ingin pulang awalnya, namun karena gadisnya ada di sana maka akan ia manfaatkan waktu ini. Karena 3 hari ke depan dapat ia pastikan tak dapat bertemu dengan gadisnya itu.
Alya menatap ke arahnya namun dengan wajah kesal, ia yakin pasti karena pesan yang tadi ia kirimkan. Wajah gadisnya saat kesal benar benar lucu membuatnya reflek tersenyum namun Alya malah mengalihkan pandangannya.
Tak ingin membuat gadis itu tak nyaman dengan kehadirannya, Bara pun memutuskan untuk pergi dari sana. Karena pekerjaanya belum selesai, memang melelahkan namun saat melihat Alya semangatnya kembali membara seperti namanya.
...----------------...
__ADS_1
...To Be Continue :)...