
Seorang gadis tengah duduk di kasur dengan laptop di pangkuannya, dia Alya. Gadis dengan rambut cepol asal itu tengah menonton drama korea kesukaannya. Namun fokusnya buyar saat ponselnya berdenting menandakan pesan masuk dari aplikasi hijau.
Ternyata dari grup kelasnya. Ya ia sudah bergabung dalam grup kelas bersama teman teman lainnya. Isinya hanya pemberitahuan jika besok mereka akan mengikuti kelas pertama di ruangan yang sudah di tentukan.
Dan seterusnya hanya berisi obrolan obrolan receh antar mereka saja. Tidak ada dosen di dalamnya sehingga mereka bebas mengobrol apa saja.
Setelah membaca pemberitahuan itu, Alya kembali memfokuskan diri untuk menonton drama kesukaannya, saat ia hendak mengambil snack ternyata sudah habis. Lagi lagi konsentrasinya buyar.
" Yaelah pake acara habis lagi. " Keluhnya dengan lesu sembari mempause tontonannya.
" Gak jadi maraton drakor ni lama lama, pause mulu perasaan. "
Karena mengeluh tidak membuat snacknya datang sendiri maka mau tak mau ia harus keluar sendiri untuk mengambil stok di dapur.
" Arghhh. " Teriaknya saat melihat seseorang di dapur. Bagaimana ia tidak kaget, seluruh rumah lampunya sudah dimatikan namun di dapur malah masih menyala dan ada orang lagi.
Saat ini jam menunjukan pukul 1 malam, biasanya orang rumah sudah pada tidur.
" Alya. " Ujar orang itu menghadap ke arahnya dengan gelas air di tangan pria itu.
" Siapa lo? " Tanya Alya panik saat melihat orang tak di kenal berada di dapur rumahnya.
Cetak.
Bunyi saklar lampu yang dibuka, " Alya lo kenapa teriak teriak sih? Ganggu aja. " Gerutu Satrya dengan muka bantalnya.
" Pake nanya lagi lo, noh ada orang asing di rumah kita gimana gue kaga teriak. " Ujar Alya kesal sembari menunjuk ke arah pria yang masih menatap mereka dengan tatapan heran.
" Rion lo bilang orang asing? " Tanya Satria.
" Rion... " Alya menutup mulutnya menyadari siapa pria asing tadi.
" Bang Rion? Ini beneran bang Rion? " Tanya Alya sembari mendekati pria bernama Rion itu. Ia menatap lamat lamat ke arah Rion, pantas saja ia sulit mengenali, pria ini lebih glow up dari 3 tahun lalu.
" Iya ini aku Rion. " Ucap Rion dengan suara lembutnya yang selalu membuat Alya makin mengagumi pria ini.
Rion, pria berusia 21 tahun itu adalah sepupu Satrya dan Alya. Rion berkuliah di luar negeri dan saat ini memasuki semester 7 sama seperti kakaknya dan kebetulan ia mendapat tempat magang di indonesia sehingga ia memutuskan untuk tinggal di rumah paman dan bibinya saat ini.
" Ahhh kangen bangett. " Ujar Alya terharu sambil memeluk erat tubuh tegap Rion membuat pria itu terkekeh sedangkan Satrya menatap keduanya jengah.
__ADS_1
" Ada apa ini? " Tanya Anita yang terbangun karena mendengar kegaduhan yang dibuat oleh 3 orang remaja ini di dapur.
" Eh ibuu, ini Alya tadi ngira bang Rion perampok. " Jelas Alya dengan wajah cengengesan.
Anita mengangguk tak marah karena memaklumi, tadi saja ia juga sempat tidak mengenali keponakannya yang tampan itu.
" Yaudah kalian tidur, udah malam bangat ini. " Perintah ibunya sambil berlalu kembali ke kamarnya
" Bang Rion kapan datangnya? Kok Alya gak tau. "
Saat ini ketiga bersaudara itu tengah duduk di ruang tamu sambil menonton acara TV, sebenarnya Alya yang memaksa karena ingin mengobrol dengann Rion. Satrya yang ngantuknya sudah hilang pun hanya bisa mengikuti keduanya.
" Abang datang sekitar jam 10, kata Arya kamu lagi nonton drakor jadi gak bisa di ganggu. " Jelas Rion sembari mengupas apel untuk Alya.
Begini lah Alya jika bersama Rion, ia akan menjadi sangat manja. Berbeda saat dengan Satrya maka ia akan berubah menjadi setan liar yang sedang kerasukan.
Malam itu Alya menghabiskan waktunya dengan mengobrol bersama Rion hingga waktu menunjukan pukul 3 pagi baru ia mau tidur, itupun harus di paksa oleh Rion dan Satrya.
Hal itu juga yang menyebabkan ia terlambat masuk kelas, makin terlambat lagi kala ia tidak mengetahui dimana letak kelasnya.
" Mampus guee, hari pertama udah telat. Sial sial. " Gerutunya sambil menatap handphone dan mencocokan dengan plang kelas yang ada di fakultasnya.
tok tok tok.
" Masuk "
Setelah mendengar suara yang ia yakini adalah dosen, ia pun masuk ke dalam. Saat masuk matanya seketika terbelalak saat mengetahui siapa yang berdiri di depan kelasnya saat ini.
" Loh om ngapain disini?. " Ujarnya reflek membuat teman temannya meringis melihat Alya.
" Kamu terlambat 30 menit, kali ini saya maafkan tapi tidak untuk lain kali. Silahkan duduk. "
Bukan menjawab pertanyaan Alya pria itu malah menyuruhnya duduk walupun dengan wajah yang terlihat kesal.
Alya cengo, apa pria yang hampir menabraknya beberapa hari lalu adalah dosen di fakultasya. Jika iya maka habislah riwayatnya. Ia sudah memeras pria itu dan tadi sudah memanggil dosennya sendiri dengan panggilan om. Dapat ia pastikan ia akan mendapat nilau C di mata kuliah ini.
Alya pun mengambil tempat duduk di dekat Anggira.
" Lo kenapa manggil pak Bara om, emang dia adek bapak lu apa? " Anggira bukannya menenangkan malah mencecarnya dengan pertanyaan.
__ADS_1
" Bukan gitu gue.... "
" Jika ingin mengobrol silahkan keluar dari kelas ini. "
Belum sempat Alya menyelesaikan perkataannya untuk menjawab Anggira, keduanya sudah tersindir oleh teguran Bara.
" Kamu yang terlambat, ke ruangan saya setelah ini. "
" Baik pak. " Sahut Alya karena ia sadar diri hanya dirinya yang terlambat hari ini.
" Semangat. " Ketiga temannya menyemangati walaupun tak membantu sama sekali.
Kelas telah selesai, setelah Bara keluar Alya pun mengikuti pria itu agak tak tersesat di jalan.
" Silahkan duduk. " Suruh Bara setelah mereka memasuki ruangannya.
Alya pun duduk, ia menatap kagum ruangan luas yang sangat rapi dan wangi serta nuansa elegannya yang membuat nyaman berada di sana seharian.
" Jelaskan. " Suruh Bara tiba tiba membuat Alya heran namun sesaat kemudian ia sadar maksud perkataan pria itu. Ia pun menjelaskan alasanya terlambat dengan jujur tanpa berbohong sedikitpun.
" Sebagai hukumannya kamu bersihkan ruangan ini. "
Alya kaget, bukan bukan karena disuruh bersih bersih. Melainkan apa yang harus ia bersihkan melihat bagaimana bersihnya ruangan ini.
Bara Pov:
Aku sempat terkejut mendapati gadis yang hampir ku celakai beberapa hari lalu masuk ke dalam kelas yang ku ajari hari ini. Yang lebih mengejutkan lagi gadis itu memanggilku dengan sebutan om, memangnya sejak kapan dia menjadi keponakanku?
Tapi baguslah jika begini, lihat saja aku akan menghukumnya. Bukan hanya karena terlambat tapi karena ia memanggilku om dan memalakku beberapa hari lalu.
Saat ini aku sedang memperhatikannya membersihkan ruanganku yang sebenarnya baru di bersihkan pagi tadi. Memang sengaja aku melakukan ini untuk mengerjainya.
Saat ia hendak melap rak buku bagian atas yang agak tinggi lengan bajunya yang panjang tergulung sehingga aku dapat melihat tangannya, namun bukan itu yang menjadi poin utamanya melainkan benda yang berada di tangan gadis yang bernama Alya itu.
Benda yang membuat jantungku berdegup kencang, aku menatap lebih lamat untuk memastikan lebih pasti apakah benda itu memang benda yang sama atau hanya mirip saja.
Bara pov end.
...♡♡♡♡♡...
__ADS_1
...To Be Continue :)...