
...HAPPY READING...
......♡--------------------♡......
Semenjak hari dimana Bara selaku dosen membantunya saat di kosan, Alya merasakan perubahan yang terjadi pada sifat dosennya. Pria yang sering menghukum dan menatapnya tajam itu berubah menjadi pria baik hati dengan tatapan yang menurut Alya aneh.
Salah satu contohnya adalah saat ini Alya di suruh oleh Bara untuk keruangan pria itu. Namun alasan Alya harus datang kesana membuat gadis muda itu ingin mengamuk.
Bagaimana tidak? Bara menyuruhnya ke sini hanya untuk menemani pria itu makan.
" Bapak nyuruh saya ke sini cuman buat liat pak Bara makan? " Tanya Alya cengo.
Bara yang tengah melahap makanan itu mengalihkan pandangannya pada Alya yang duduk di hadapannya.
" Apa kamu juga ingin makan? " Tanya Bara sekedar basa basi.
" Bukan itu pak, ginii loh saya tu.. "
Belum juga Alya selesai berbicara mulutnya sudah lebih dulu di sodok roti isi, siapa lagi pelakunya jika bukan Bara.
Alya mengeluarkan roti tadi, " Bapak apa apaan sih? " Tanya Alya dengan wajah memerah menahan geram sekaligus malu.
" Kamu cerewet. "
" Bapak bilang saya cerewet? Yaudah saya keluar saja. " Ancam Alya membuat tatapan Bara seketika berubah tajam saat mendengar perkataan Alya barusan.
" Berani kamu keluar dari sini, saya jamin kamu bakal ngulang kelas. " Bara balas mengancam, ia tau ini kelewatan mengancam mahasiswanya sendiri. Tapi ini satu satunya ancaman yang ampuh agar Alya tidak pergi dari sisinya.
" Ancamannya itu mulu, saya bosan pak. " Keluh Alya menatap Bara dengan tatapan jengah. Ia sungguh bosan karena pria yang tak lain adalah dosennya ini selalu mengancam dengan nilai. Terlalu mainstream menurutnya.
" Yasudah saya ganti, berani kamu keluar kamu akan hamil anak saya. "
Byurrr.
Alya yang tengah minum memuncratkan kembali cairan dalam mulutnya itu, saking syoknya mendengar ancaman dari Bara.
" Alyaaa. "
__ADS_1
Wajah Bara di penuhi dengan cairan yang di semburkan Alya tadi.
" Ma..maaf pak, saya gak sengaja. " Ucap Alya mengambil tisu di tas dan melap wajah Bara yang basah akibat ulahnya.
" Bapak sih kalau ngomong gak kontrol bangat, saya kan kaget. " Oceh Alya sambil terus melap wajah Bara, sedangkan pria itu justru fokus pada wajah gadisnya yang sangat dekat dengan wajahnya.
Tatapan mereka bertemu, hening beberapa saat hingga Alya sadar dan buru buru menjauhkan wajahnya dari Bara.
" Ma..maaf sekali lagi pak. Bapak udah selesaikan? Saya pamit pulang ya? "
Tanpa menunggu jawaban dosennya Alya buru buru mengambil tas dan berlari secepat mungkin meninggalkan ruangan itu.
Bara tak menahan Alya lagi karena saat ini jantungnya sedang berdetak tak terkontrol, walau akhir akhir ini mereka mulai dekat namun tadi adalah pertama kalinya wajah mereka sedekat itu.
" Kamu tidak berubah Lia, tetap sama. "
Tidak berbeda jauh dengan Bara, Alya saat ini bersandar pada tembok di samping ruangan Bara. Wajah gadis itu memerah ia benar benar malu apalagi saat mengingat bagaimana tatapan Bara padanya tadi.
" Pak Bara ganteng jugaa.. Eh? " Alya menepuk mulutnya saat sadar akan ucapannya barusan walaupun harus Ia akui Bara memang tampan apalagi dengan wajah blasterannya itu.
Alya kemudian memutuskan untuk pulang saja, dan datang lagi saat kelas berikutnya di sore hari nanti.
" E..eh i..iya nih, tadi ada urusan sama pak Bara. " Jelas Alya yang gugup karena ia merasa wajahnya saat ini masih terasa panas akibat kejadian beberapa saat lalu.
Risky mengangguk, " Yaudah pulang bareng aja yok. " Ajak Risky menawarkan, karena arah kosan mereka juga sama.
" Ehh gak usah aku jalan aja. " Tolak Alya halus.
" Udah gak papa, sama gue aja kan searah. " Risky memaksa yang membuat Alya mau tak mau menerima ajakan baik dari teman kelasnya itu.
" Ayo. "
Kedua manusia itu pun pergi meninggalkan tempat itu, tanpa mereka sadari ada seseorang yang menatap mereka tepatnya ke arah Risky dengan tatapan membunuh dan tangan yang terkepal seolah hendak memukulnya.
Orang itu adalah Bara, ia keluar hendak mengantar Alya pulang namun yang ia lihat malah pemandangan yang membuat daranya naik. Bara pun membatalkan niat dan kembali ke ruangannya.
-----
__ADS_1
" Makasih ya udah ngantarin. " Alya berterimakasih pada Risky saat turun dari motor pria itu.
" Yoi sama sama, kalau gitu gue langsung balik yah. "
" oke, hati hati. "
Risky mengangguk lalu tancap gas pergi dari sana meninggalkan Alya.
" Alya lo lama bangat sih, ngapain aja coba di kampus? "
" Anjing. " Reflek Alya karena kaget mendengar suara yang tiba tiba dari belakangnnya. Ketiga teman dajjalnya itu benar benar ingin membuat jantungnya log out dari tempat.
Tidak bisakah bertanya saat di kamarnya saja? Hari ini memang mereka berencana nginap di kosan Alya dari pada harus bolak balik ke rumah. Tapi karena Alya ada urusan yang tidak berfaedah bersama Bara maka ia menyuruh teman temannya untuk duluan ke kosnya.
" Sante aja pig kaga usah ngegas. " Ujar Anggira dengan wajah ketus sambil menahan tawa.
" Lo ngangetin taik lah, masuk sono simpan dulu pertanyaa lo itu. "
" Iya iya, yang habis di antarin Risky si populer. " Ejek Chia ikut nimbrung.
Alya memutar bola matanya jengah, " Diam lo semua, sebelum gue usir sih. "
ketiga temannya terkekeh kemudian buru buru pergi dari sana, lagi lagi Alya di tinggalkan. Gadis itu kemudian menyusul ketiga temannya.
Di tempat yang berbeda Bara tengan memijat keningnya yang terasa sangat pusing, bagaimana tidak? Laporan keuangan kantor tiba tiba menurun sehingga menyebabkan pembangunan proyek baru mereka terhambat.
" Sepertinya ada tikus kecil yang mau main main denganku. "
Bara menduga jika salah satu staff keuangan pasti telah melakukan penggelapan dana sehingga hal ini bisa terjadi. Tak akan ia biarkan ini berlangsung lama, dalam 3 hari akan ia pastikan pelakunya berakhir di penjara.
Bukan pertama kalinya hal ini terjadi, namun kali ini angka kerugian sangat besar sehingga tidak bisa di biarkan lagi. Bara harus turun tangan sendiri untuk mencari tikus kecil yang sudah berani main main dengannya.
" Siapkan ruangan rapat sekarang. " Perintah Bara pada asistennya yang dari tadi hanya terdiam menyaksikan kemarahan Bara.
" Baik pak. " Pria itu pun pamit berlalu dari sana.
Setelah asistenya pergi, Bara menopang dagu pada tangannya, " Jika dalam 3 hari aku tidak dapat menangkap tikus itu, aku akan berhenti menjadi dosen. " Ucap Bara berjanji dan akan ia tepati karena ia tak ingin berhenti dari profesinya itu dan ia juga tak ingin berpisah dengan gadis kesayangannya yang baru ia temui setelah bertahun tahun mencari.
__ADS_1
...----------------...
...To Be Continue :)...