Dear You Pak Dosen

Dear You Pak Dosen
BAB 6


__ADS_3

tok tok tok


Suara ketukan pintu yang terkesan tak sabaran itu membuat si penghuni ruangan tersenyum miring. Dapat ia tebak siapa orang yang ada di balik pintu tersebut.


Bara kasihan tapi ingin sedikit mengerjai sehingga ia tak mau bersuara dari 10 menit yang lalu. Ya sudah selama itu dan Alya terus mengetuk pintu bahkan mungkin ruas jarinya sudah keriput sekarang.


" Pakkkk "


Sangking kesalnya Alya berteriak, persetan jika pria itu akan memberi nilainya C, rasanya ia sudah ingin menyerah saat ini juga.


Kembali ke tempat ini untuk kedua kalinya benar benar membuatnya kesal setengah mati. Ia sudah rela tak bertemu Rion dan sekarang ia malah di perlakukan seperti ini. Harga dirinya benar benar jatuh.


" Masuk. " Intrupsi Bara dari dalam sana membuat Alya bisa bernapas lega walaupun tak sepenuhnya.


Karena disini lah Alya sekarang dengan setumpuk berkas di tangannya, heyy apa pria ini menyuruhnya kembali hanya untuk membawa kertas kertas ini?


" Bawa itu ke lantai 3. " Suruh Bara kemudian berlalu dari sana dengan wajahnya yang datar.


" Lantai 3 pak? " Tanya Alya kembali meyakinkan. Ya Tuhan ia tak mau betisnya membengkak karena menaiki tangga dari lantai 1 hingga lantai 3.


Bara menoleh, " Ya, atau kamu mau antar itu ke lantai 5? " Tanya Bara lagi membuat mata Alya melotot.


Dengan gerakan cepat ia segera berlari dari sana, jangan sampai dosen gila itu menyiksanya lebih dari ini. Bara yang menatap punggung gadis itu hanya geleng geleng kepala.


" Gadis aneh, dia pasti tidak mengikuti ospek dengan benar. Bukankah fakultas ini hanya ada 3 lantai saja. " Ucap Bara heran kemudian mengikuti gadis itu dari belakang.


" Arrghhh. "


Suara teriakan itu membuat Bara yang awalnya berjalan santai seketika mempercepat langkahnya. Walau baru 2 hari ia bertemu Alya tapi ia yakin suara erangan itu adalah suara Alya.


" Hey apa kamu baik baik saja? " Tanya Bara dengan wajah panik saat mendapati Alya sudah terkapar di lantai yang berceceran kertas di mana mana.


Air mata turun membasahi pipi merah Alya. Bukan, bukan karena sakit akibat kakinya yang keseleo melainkan cara jatuhnya yang tidak aesthetik dan roknya yang terangkat membuatnya sangat malu saat ini.


Di sekitarnya memang sepi tapi saat ini Bara menatapnya dengan intens membuat rasa malunya tambah berkali kali lipat.


" Biar saya bantu. " Ucap Bara langsung menggendong Alya tanpa menunggu persetujuan gadis itu terlebih dahulu.


" Eeh gak usah pak, saya bisa jalan sendiri. " Elak Alya saat akan di gendong.


" Dengan kondisi kamu yang seperti ini? " Tanya Bara dengan wajah kesal.

__ADS_1


" Ta..tapi pak. "


" Sudah kamu diam saja, saya akan membawa kamu ke rumah sakit. "


Alya pun pasrah saja dalam gendongan Bara, mau protes pun ia yakin pria ini tak akan mendengarkannya. Menurut Alya dosennya ini terlalu berlebihan padahal ia hanya keselao saja bukan patah tulang, kenapa harus ke rumah sakit segala.


Satu hal yang tidak Bara sadari, dirinya yang tak perduli pada apapun kini khawatir pada gadis biasa yang menjadi mahasiswanya.


•••


Selesai dari rumah sakit Bara mengantar Alya ke rumah gadis itu, sedangkan motornya akan ia suruh orang untuk di bawa ke rumah.


" Makasih pak, sorry merepotkan. " Ucap Alya saat mobil Bara yang ia tumpangi berhenti tepat di depan rumahnya.


" Hm. " Hanya gumaman sebagai jawaban.


Alya pun turun dan berlalu masuk ke rumah, sebelum itu ia memperhatikan mobil bara hingga hilang di ujung jalan.


" Hayoo siapa tu yang antarin? "


Pertanyaan dari Satrya membuat Alya terlonjak kaget dan reflek menggetok kepala abang kandungnya itu.


Plak.


" Lo sih ngagetin aja. "


" Gak lo getok juga taik. "


" Yaudah sih Sorry, btw bang Rion mana? " Tanya Alya.


" Lo jawab dulu siapa tu yang ngantarin lo barusan? Udah punya pacar ya? Gue aduin bapak ya lo. " Ancam Satrya membuat Alya makin jengkel pada kakaknya itu.


" Lo gak liat adek lo yang cantik ini jalannya miring miring? " Tanya Alya membuat Satrya otomatis menatap kaki adiknya.


" Eh iya baru sadar gue. Emang apa hubungannya? Di tanya apa jawabnya apa?. "


" Tadi dosen gue yang ngantarin karena kaki gue keseleo pas bantuin dia. Sekarang mana bang Rion? " Alya mengulang pertanyaannya.


" Ohh Rion udah pergi. "


" Hah maksud lo bang? " Tanya Alya berharap ia salah dengar.

__ADS_1


" Om sama tante gak enak, jadi nyuruh Rion nyewa apart aja deh. "


Penjelasan Satrya membuat Alya lemas, semua ini gara gara dosen sialan itu.


Seakan kehilangan harapan hidup Alya menyeret langkahnya yang terseok seok ke dalam rumah dan menghempaskan diri ke sofa. Satrya pun menyusul adiknya itu.


" Dek, lo masih suka sama Rion? Dia sepupu lo. " Peringat Satrya ia tak ingin kedua saudaranya itu menjalin hubungan terlarang.


" Bang Rion bukan anak kandung om dan tante jadi gue rasa gak masalah. " Elak Alya seolah menolak kenyataan yang ada, walaupun benar Rion hanyalah anak angkat om dan tantenya yang tidak bisa memiliki anak, sehingga mengadopsi Rion dari panti asuhan.


Satrya terdiam sesaat dan ia berlalu dari sana, sudah sedari dulu ia melarang adiknya itu. Apalagi Rion juga telah memiliki kekasih, namun adiknya tak perduli dan tetap mempertahankan perasaan bodohnya itu.


Alya mengehela nafas kasar, ia sadar ini salah namun hatinya telah sepenuhnya milik Rion. Namun sebenarnya bagian paling kecil hatinya masih menyimpan rasa untuk Kakak yang sering ia temui dulu di taman.


•••


Semenjak hari dimana Alya terjatuh dari tangga, Bara jadi lebih sering memperhatikan gadis itu. Dan keadaan selalu mempertemukan mereka entah sengaja maupun tak sengaja.


Hari ini Alya dan teman teman sedang mengikuti ujian di mata kuliah yang diajarkan Bara, mata kuliah paling sulit di prodinya.


Di depan sana Bara duduk sembari menatap semua mahasiswanya agar ketahuan saat ada yang menyontek.


Alya ketakutan saat ini, pasalnya ia tak belajar sama sekali. Niatnya ia akan menyontek pada ketiga temannya yang berotak encer namun harus gagal karena Bara memantau mereka bagaikan CCTV.


Pasrah, Alya pun asala jawab saja. Bahkan ada yang tidak ia jawab sama sekali.


Sebenarnya Alya pintar namun karena ada masalah di rumahnya makanya ia sedikit kewalahan.


1 bulan terakihir ini ia juga memutuskan untuk tinggal di kos agar lebih mandiri dan hemat juga. Ayah dan ibunya menyetujui walaupun dengan berat hati melepas anak perempuan mereka untuk belajar mandiri.


" Kumpulkan jawaban kalian di depan. " Suruh Arya membuat para mahasiswa buru buru maju dan mengumpulkan lembaran jawaban masing masing.


Alya pun maju dengan perasaan tak tenang, ia yakin nilainya akan hancur dan harus mengikuti program ulang.


" Tadi lo bisa? " Tanya Anggira yang sadar akan wajah cemas temannya itu.


" Gak usah tanya, gue pasrah. " Ujar Alya menelungkupkan wajahnya pada lipatan tangannya di atas meja.


Ketiga sahabatnya menatap ia cemas, mereka tahu alasan mengapa Alya tak belajar. Karena semalam ibunya tiba tiba jatuh sakit dan harus di larikan ke rumah sakit. Sehingga Alya mau tak mau harus menyusul ibunya lebih dahulu.


...----------------...

__ADS_1


...To Be Continue :)...


__ADS_2