
...HAPPY READING...
......♡--------------------♡......
Seperti pesan yang di kirimkan oleh Bara, pria itu tidak menunjukan batang hidungnya hingga kini mereka libur semester.
Alya sempat berpikir mungkin saja dosennya itu hanya berbohong tentang ketidak hadirannya, tapi yang terjadi pria itu benar benar menghilang.
" Alya. " Suara seseorang nemanggil Alya yang saat ini sedang menemani abangnya untuk sekedar jalan jalan sore.
Alya mencari sumber suara, saat ini mereka berada di wahana bermain sebuah mall sehingga Alya sedikit kesulitan mencari si pemanggil.
" Siapa tu? " Tanya Satria menatap seorang laki laki yang berjalan ke arah mereka.
" Eh Rian. " Sapa Alya saat tahu siapa yang memanggilnya.
" Hy, lo sama siapa ke sini? "
Pertanyaan dari Rian barusan membuat Satrya yang jelas jelas berada di samping adiknya itu menjadi kesal. Alya yang menyadari perubahan wajah sang kakak pun berusaha mengalihkan topik sebelum Rian di ulti oleh Satrya.
" Oh ini, barang kakak gue. Kalau lo sama siapa? " Alya balik bertanya.
Rian menatap pria di samping Alya yang tadinya ia kira pacar Alya.
" Gue tadi sama teman, karena liat lo jadi gue samperin. "
Alya menganggukan kepalanya.
" Dia siapa dek? " Tanya Satrya menatap ke arah Rian dengan tatapan tajam.
Rian yang di tatap demikian seketika menjadi gugup, salahnya juga susah berpikir negatif tadinya.
" Ini teman gue bang. Rian kita pamit duluan ya. "
Alya buru buru pamit, karena merasa atmosfir di sekitar kedua pria ini menjadi menegangkan. Keduanya pun pergi meninggalkan Rian yang menghela nafas lega.
" Gila, baru mau PDKT udah buat masalah gue. " Rian merutiki dirinya sendiri yang sudah ceroboh dengan mengabaikan Satrya yang jelas jelas ada disana, akibat salah mengira.
Ia pun ikut pergi dari sana kembali bersama teman temannya.
•
•
•
Saat ini sepasang kakak beradik itu sudah tiba di rumah mereka. Alya memutuskan akan tinggal di rumah sampai liburan semester selesai, 1 bulan adalah waktu yang cukup lama.
" Gak usah dekat dekat sama dia. " Ucap Satrya memperingati.
__ADS_1
" Dia siapa maksud lo? " Tanya Alya, walupun ia tau maksud Satrya adalah Rian.
" Cowo kurang ajar yang tadi di mall. "
" Yeh kenapa emang? Orang kita sekelas kok. " Bela Alya, mana mungkin ia menjauhi Rian yang adalah teman kelasnya sendiri. Mereka akan otomati sering bertemu.
" lo gak liat sifat kurang ajar dia tadi? Sama tampangnya yang kaya playboy gitu? " Tanya Satrya dengan wajah kesal mengingat kejadian tadi.
" Yah mungkin dia emang gak liat, dan juga selama ini dia baik sama gue. Jadi kayanya gak ada alsan gue harus jauhin dia. " Ujar Alya membela Rian walaupun ia akui temannya itu sedikit kurang ajar terhadap abangnya.
" Gue bilang gak usah ya gak usah Alya. " Nada bicara Satrya sedikit meninggi, karena adiknya itu sangat susah untuk dibilangi.
" Lo apa apaan sih, urus aja hidup lo tuh gak usah urusin gue. " Nada bicara Alya pun tak kalah tinggi, ia tak suka di atur atur.
Alya berlalu dari saja menuju kamar, moodnya jadi hancur.
" Adek kamu kenapa? " Tanya Anita yang kebetulan berada di dapur dan mendengar perdebatan kakak beradik itu.
Memang mereka sering bertengkar, tapi jika sampai bernada tinggi seperti ini maka ada hal serius yang mereka ributkan.
" Anak ibu tu keras kepala bangat. " Ucap Satrya dengan nada kesal.
" Loh, kalau Alya keras kepala terus kamu apa? " Tanya Anita pada anaknya yang lupa berkaca ini. Padahal menurut Anita sendiri anak perempuannya itu jauh lebih baik dari pada anak sulungnya.
Satrya cengengesan, " Hehe lupa buu. "
" Duduk dulu, cerita ke ibu ada masalah apa siapa tau ibu bisa bantu nasihatin adik kamu itu. "
" Jadi gitu bu, Satrya gak suka dia dekat dekat saka tu cowok. Dari yang Satrya liat dia buka cowo baik baik. " Jelas Satrya mengutarakan kecemasannya.
Anita menganggukan kepalanya setelah mendengar penjelasan dari anak pertamanya itu. Ia paham Satrya tidak ingin adiknya dalam masalah, walau mereka sering ribut namun Anita tau mereka sebenarnya saling menyayangi satu sama lain.
Begitulah hubungan persaudaraan, hidup tanpa ribut rasanya hambar bagi kakak beradik.
" Yaudah sana kamu bersih bersih nanti ibu coba bicara sama Alya ya? "
Mendengar perintah ibunya tampa banyak babibu Satrya langsung berlalu dari sana. Semoga adiknya akan lebih luluh jika di ajak bicara oleh Anita.
•
•
•
tok tok tok
" Sayang boleh buka pintunya? " Tanya anita dari luar kamar anak perempuannya.
Alya yang mendengar suara ibunya menebak jika Satrya mengaduh kepada ibunya.
__ADS_1
" Dasar mulut ember. " Gerutunya pelan kemudian berlalu untuk membukakan pintu dan mempersilahkan ibunya masuk.
" Alya tau ibu datang ke sini mau ngomongin soal aduan bang Satrya kan? " Tanya Alya to the point saat ibunya baru duduk di kasur.
Anita menatap putrinya yang kini sudah dewasa namun masih kekanakan.
" Apa yang tadi di bilang sama abang kamu gak 100 persen benar, tapi ada baiknya kamu selalu hati hati. " Nasihat Anita sehalus mungkin karena anaknya itu sangat keras kepala seperti kata abangnya tadi.
" Alya tau bu. Aku bukan anak kecil lagi yang apa apa harus di atur. "
" Ibu tau maksud kamu, tapi yang abang kamu bilangin kan untuk kebaikan kamu juga. " Jelas Anita lembut agar Alya paham.
Alya termenung, memang benar Rian cukup populer akan sifat play boy yang dimilikinya. Namun Alya juga sadar diri untuk menjaga jarak dari pria itu, lagian Rian juga tak melakukan hal hal aneh padanya selama ini. Jadi untuk apa di takutkan.
" Bentar lagi ayah pulang, kita makan malam bareng ya? "
" Iya bu. "
Setelah itu Anita meninggalkan Alya di dalam kamar sendiri.
Kini keluarga kecil tersebut sedang menikmati makan malam mereka, namun suasana malam ini sangat berbeda dari biasanya.
Aura aura negatif bertebaran di seluruh area meja makan. Alya yang biasanya banyak omong mendadak diam begitu pun dengan Satrya.
Biasanya akan ada pertengakaran pertengkaran kecil antara kakak beradik itu, yang berakhir dimarahi oleh Anita. Namun sekarang keduanya hanya diam, bahkan Anita pun diam.
Surya sang kepala keluarga yang tidak tau apa apa merasa bingung dengan suasana sekarang. Ada apa? Apa kedua anaknya adu mulut dengan sang ibu?
Selesai makan Surya ingin bertanya namun ia urungkan ketika kedua anaknya malah pergi dari sana.
" Ini ada apa bu? " Tanya Surya penasaran.
Anita yang baru balik dari dapur untuk membawa piring kotor mengajak suaminya untuk ke ruangan tamu.
" Alya lagi ngambek sama abangnya. " Anita langsung memberitahu point utamanya.
" Iyaa tapi masalahnya apa? Kok susana sampe tegang kaya tadi? "
Anita menceritakan semuanya mulai dari mereka keluar untuk jalan sore, sampai saat ia menasihati Alya di kamar anak gadisnya tadi.
Surya mendengarkan dengan seksama, ia mengerti sekarang. Anak gadisnya itu saat ini sedang belajar mandiri, jadi mungkin Alya merasa Satrya mengganggu kenyamanannya yang saat ini ia bangun.
" Kalau menurut ibu sih, Satrya gak salah tapi gak sepenuhnya benar juga. " Anita berpendapat.
" Bapak setuju. Apa yang Satrya bilang benar, mungkin maksudnya biar Alya hati hati terhadap laki laki tapi cara dia nasihatin adiknya juga gak sepenuhnya benar. Apalagi sampai berbicara dengan nada tinggi seperti itu."
" Iya, tadi ibi sudah bicarakan sama Alya dan kayanya anak bungsu kita itu paham akan maksud abanya. Mungkin sekarang mereka masih gengsi mengakui itu. " Anita sebagi seorang ibu tentu tau segala hal tentang anaknya, apalagi Alya yang sulit menutipi ekspresinya.
" Iya bu, semoga mereka segera baikan. Suasana rumah rasanya jadi gak enak kalau mereka gak saling tegur kaya gini. " Ujar Surya yang berharap kedua anaknya segera baikan, begitu pun dengan Anita yang berharap demikian.
__ADS_1
...----------------...
...To Be Continue :)...