Dear You Pak Dosen

Dear You Pak Dosen
BAB 3


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang terlihat mewah dan elegan terlihat seorang pria dewasa tengah disibukan dengan berkas berkas yang menumpuk di hadapannya.


Bara, pria itu tengah berkutat memeriksa semua berkas berkas yang menumpuk karena tidak di kerjakan oleh sang ayah hingga dibebankan kepadanya.


Ingin mengeluh tapi sudah menjadi resiko baginya lagipula ia mengerti ayahnya sudah tua dan perlu lebih banyak istirahat. Ayahnya yang dulu sangat gila kerja kini menjadi mudah lelah.


Saat tengah sibuk megerjakan tugasnya itu tatapan Bara teralihkan pada sebuah bingkai foto yang ada di meja kerjanya. Foto seorang yang sangat berarti bagi pria itu setelah kedua orang tuanya.


Bara mengambil bingkai tersebut dan menatapnya dengan tatapan lembut, " Kemana lagi aku harus mencarimu? "


Wajahnya yang tadi penuh kelembutan berubah sedih, bertahun tahun ia mencari gadis dalam bingkai foto tersebut. Gadis yang membuatnya tersenyum di saat ia terpuruk ketika kedua orang tuanya berpisah.


" Auw. "


Seorang gadis berusia sekitar 11 tahunan, gadis itu meringis kalah merasakan perih di lututnya yang berdarah.


Datang seorang remaja pria yang menghampiri gadis itu, dengan wajah datarnya ia mulai membersihkan luka itu kemudian membalutnya dengan kain kasa yang ia sempat beli di sekitar taman tadi.


" Eh kakak ngapain? " Tanya gadis itu kebingungan melihat apa yang di lakukan pria dihadapannya ini. Ia tahu sedang di obati, tapi kenapa tiba tiba dan dengan wajah datar seperti itu.


Bukannya menjawab pria itu malah membatunya berdiri dan membawa ke bangku taman lalu meninggalkan gadis itu sendiri.


"Aneh. " Gumamnya


Saat tersadar akan sesuatu ia bangkit dan berusaha mengejar pria itu, dengan langka yang terseok seok ia tetap berusaha mengikuti dan meneriaki pria itu.


" Kak... Kakak tunggu. " Teriaknya sekencang yang ia bisa agar bisa di dengar.


Berhasil. Pria itu nampak mengehentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


" Akhirnya kakak berhenti juga. " Ucap gadis itu dengan napas yang tak beraturan.


" Kenapa. " Tanya pria baik yang menolongnya tadi.


" Uhm aku punya sesuatu buat kakak, sebagai bentuk terimakasih hehe. "


Gadis itu merogoh tas kecilnya dan mengeluarkan sebuah gelang berwarna hitam yang kebetulan ia beli bersama teman temannya beberapa saat lalu.

__ADS_1


" nih. "


Remaja pria itu nampak bingung melihat benda yang di sodorkan gadis di hadapannya ini. Namun tak ayal ia tetap menerimanya walaupun gelang tersebut terlihat aneh untuk anak seumurannya.


" Terimakasih, tapi ini tidak perlu. " Pria itu menyodorkan kembali gelang di tangannya.


" Kakak harus terima itu, atau aku bakal nangis biar orang orang ngira kakak mau nyulik aku. " Gerutunya dengan wajah cemberut dan tangan yang di lipat depan dadanya. Menggemaskan sekali pikir pria itu.


" Ok, thanks. " Ucapnya kemudia hendak berlalu dari sana namun di cegah lagi.


" Nama kakak siapa? Aku Lia. "


" Bara. "


Setelah hari itu mereka jadi sering bertemu di taman secara tak sengaja hingga akhirnya gadis itu tiba tiba menghilang begitu saja. Lagi lagi bara sendiri, kesepian.


Ibunya yang pergi sedangkan ayahnya sangat gila kerja. Membuatnya kesepian di tambah dengan fakta jika dirinya adalah anak Tunggal.


" Andai ada keajaiban, aku hanya ingin bertemu kembali denganmu. " Gumam Bara menatap foto yang dulu ia ambil diam diam.


Ia menatap laci dan mengambil sebuah kotak, kotak yang berisi gelang. Gelang yang dulu ia anggap aneh namun kini menjadi benda yang benar benar berharga. Ia bahkan membawa itu kemana pun ia pergi, ia tak ingin memakainya karena takut rusak.


Cafe tersebut berada tepat di depan kantor jadi tak perlu menggunakan kendaraan tinggal jalan kaki saja. Cafe ini juga bersih sehingga ia menjadi langganan tetap di sana, para pelayan pun sampai hafal menu yang setiap harinya ia pesan.


....


" Gue pulang duluan ya. " Pamit Anggira yang sudah du jemput kekasihnya lebih tepat tunangannya. Gercep amat neng.


" Gak pulang itu mah, pasti pacaran dulu tuh. " Cerca Chia denga wajah mesumnya membuat Anggira kesal.


Alya dan Erika hanya geleng geleng melihat kedua temannya itu. Berita baik untuk semester 1 ini mereka mendapat kelas yang sama.


Setelah itu Anggira pulang menyisakan ketiganya yang memutuskan untuk pulang juga.


Tiba di rumah seperti biasa Alya di sambut oleh ibunya yang sore hari di sibukan dengan bunga bunga kesayangan wanita tua itu. Ayahnya pulang malam sedangkan Satria kakaknya pasti sedang di tempat tongkrongan bersama teman temannya.


" Abang belum pulang bu? " Tanya Alya sembari menyalimi sang ibu.

__ADS_1


" Biasalah, pulang kuliah bukan kerumah malah ke tempat nongkrong. Anak siapa sih itu aneh bangat. "


" Anak mu itu bukk. " Ujar Alya jengah.


" Ohh iya lupa, saking jarangnya dia di rumah. "


" Entar pulang marahin bu, ya udah aku masuk dulu ya. "


" Mandi dulu baru makan, udah ibu siapin. "


Wah kata makan menbuatnya bersemangat sekali. Anehnya walaupun rakus tubuh Alya tak pernah gemuk, apa karena cacing dalam perutnya terlalu banyak hingga makanan itu di embat habis.


Hah bodo amat intinya makan dan kenyang, kalau kata Alya mah.


Selesai membersihkan tubuh gadis itu tak langsung makan namun mengecek handphonnya siapa tau ada pesan masuk. Ya ada, berisi tagihan untuk mengembalikan paket darurat sebesar 10 ribu. Alya jadi menyesal telah meminjam paket darurat tersebut, akibat menggunakan wifi di rumah ia jadi lupa membeli paketan sehingga ia harus meminjam dari operator.


Karena kesal ia melempar benda persegi tersebut ke atas kasur, kalau ke lantai kan akan lain ceritanya.


" Makan aja deh, abang sama ayah udah pulang juga kayanya. "


Ia pun keluar dari kamar menuju meja makan di ruang tengah, benar saja ayah, ibu serta abang laknatnya sudah duduk manis di sana.


" Lama amat lo, perut gue udah keroncongan ini. " Gerutu Satrya yang menyulut emosi Alya.


" Gue kira lo udah makan noh di tongkrongan lo. " Sindirnya dengan tatapan bombastic side eye.


" Udah udah, jangan ribut sekarang waktunya makan bukan berantem. Kalau mau berantem entar ayah daftarin ke MMA. "


Seketika kedua kakak beradik itu terdiam namun sambil menahan tawa karena ayahnya yang hendak mendaftarkan mereka ke acara tinju bebas itu. Lucu sekali ayahnya ini.


" Makan. " Perintah ibunya yang mulai jengah melihat tingkat ketiga orang kesayangannya ini.


Mereka bertiga menelan ludah dengan susah payah saat mendengar perintah mutlak dari wanita tua kesayangan mereka itu, yang entah kenapa terdengar sangat menyeramkan.


Daripada dapat amukan mereka memutuskan untuk makan sebelum terjadi hal hal yang tidak di inginkan.


Makan malam tetsebut berjalan dengan tenang seperti biasanya. Keluarga bahagia, walaupun kadang ada pertengkaran kecil namun mereka berusaha untuk tidak memperpanjang masalah.

__ADS_1


...**♡♡♡♡♡...


...To Be Continue** :)...


__ADS_2