
Bara memijat keningnya yang terasa pening. bagaimana tidak? Jawaban mahasiswa yang satu ini membuat ia pusing tujuh keliling. Tidak ada satu pun yang benar, malahan gadis itu menulis permintaan maaf karena tidak dapat menjawab soal soal darinya.
Bara menyandarkan tubuh ke kursi kerjanya sambil menutup mata sejenak.
" Alya.. Lia. " Gumam Bara, seketika ia menegapkan kembali duduknya. Ia baru menyadari kesamaan dari nama yang mungkin saja Lia adalah nama kecil gadis yang menjadi mahasiswinya ini.
" Apa mungkin mereka orang yang sama? Tapi, gelang yang saat itu aku lihat berbeda. " Pikir pria itu lagi, namun entah kenapa firasanya saat ini mengatakan jika mereka adalah satu orang.
Ia harus mencari tahu lebih dalam lagi tentang gadis itu. Bara mengambil handphone dan menghubungi seseorang untuk datang ke ruangannya.
Tok tok tok
Hanya butuh waktu 5 menit untuk orang itu segera datang, " Masuk. "
Masuklah seorang gadis yang tak lain dan tak bukan adalah Alya. Bara sengaja menyuruh gadis itu datang ke ruangnnya dengan memanfaatkan hasil ujiannya.
" Silahkan duduk. " Suruh Bara saat melihat Alya yang hanya berdiri saja sembari menunduk, bukan seperti Alya gadis banyak tingkah yang selama ini ia kenal.
" Bagaimana cara kamu untuk memperbaiki nilai ini? " Tanya Bara menatapnya dengan intens.
" Maaf pak, saya gak tau. " Alya menjawab dengan jujur dan tak berani menatap ke arah dosen di depannya.
" Apa kamu tidak belajar semalam? Sampai tidak bisa menjawab benar sama sekali? " Tanya Bara lagi sekedar basa basi karena tujuannya saat ini adalah mencari tahu tentang Alya.
" Iya pak, ibuu saya semalam masuk rumah sakit jadi saya harus ikut jagain. " Lagi lagi Alya menjawab dengan jujur ia tak ingin menambah masalah dengan Bara saat ini karena masalahnya sudah banyak.
" Dimana tempat tinggal kamu? "
" Saya tinggal di kos pak, di jalan xx no 5. "
" Tidak jauh dari sini. Apa kamu punya kelas setelah ini? "
Alya menggeleng, hari ini ia hanya punya 2 mata kuliah saja.
" Bagus, ayo kita pulang. " Ajak Bara sambil bangun dari duduknya.
" Hah? Maksud bapak? "
" Nilai kamu ini jelek, saya sebagai dosen pengampu mata kuliah ini sekaligus dosen pembimbing kamu akan mengajari kamu hari ini juga. Itupun jika kamu ingin nilai kamu bagus. " Jelas Bara panjang lebar.
__ADS_1
" Ta..tapi pak, kan bisa di cafe atau yang lainnya. " Saran Alya merasa tak enak jika harus di kosnya.
" Ibumu sedang sakit bukan? Apa kamu mau terlihat seperti hura hura saat ibumu sakit? "
Bara berusaha agar ia bisa masuk lebih dalam ke kehidupan Alya. Ia akan mencari tahu lebih detail lagi dimulai dari tempat tinggal gadis ini.
Alya mengangguk mengiyakan saja dengan polosnya, dan juga keuangannya menipis jika harus ke cafe.
" Baik pak, kita jalan sekarang. "
Kini kedua manusia berbeda status itu berada di depan gerbang sebuah kos berlantai 3, kos kosan ini cukup mewah.
Kos ini juga kosan putra dan putri sehingga tak masalah jika Alya membawa dosennya kemari, toh untuk belajar juga bukan macam macam.
" Silahkan masuk pak. " Alya mempersilahkan Bara setelah ia membuka kunci pintu kamarnya yang ada di lantai 3.
Bara pun masuk dan duduk di sofa yang memang di sediakan langsung oleh pemilik kos sehingga harga sewanya pun sedikit mahal.
" Saya ke kamar dulu, ambil buku. " Pamit Alya kemudian berlalu dari sana.
Bara memperhatikan sekitar. Gotcha foto keluarga berukuran cukup besar tertempel di dinding ruangan tamu yang terhubung langsung ke dapur.
Di sana ada foto gadis yang selama ini ia cari, gadis itu duduk di pangkuan sang ayah. Sedang kan ibunya memangku seorang anak laki laki yang Bara tebak adalah kakak Alya.
" Bapak ngapain? " Tanya Alya yang baru keluar dari kamar dengan pakaian yang lebih sopan, serta di tangannya terdapat buku dan alat untuk belajar lainnya.
Bara gelagapan namun berusaha tenang, " Gak, saya hanya liat foto keluarga kamu. " Jelasnya tenang.
Alya mengangguk, " Ohh kirain bapak ngapain, bisa mulai sekarang? " Tanya Alya agar lebih cepat selesai karena ia tak ingin ada fitnah.
" Apa ini kamu? " Tanya Bara menununjuk ke arah foto gadis yang berusia sekitar 9 tahunan dalam foto tadi.
" Iya itu saya pak, waktu saya 9 tahunan "
Bara mengangguk kemudian mereka kembali ke ruang tamu untuk mulai mengajari materi yang harus gadis ini pahami.
" Bapak mau minum apa? " Tanya Alya saat sadar belum menawarkan sesuatu pada dosennya.
Bara memggelenng, " Tidak perlu, kamu cukup kerjakan itu. " Suruhnya lagi.
__ADS_1
Sepanjang Alya mengerjakan contoh soal yang ia suruh, Bara menatap Alya dengan tatapan penuh haru. Terpampang jelas senyuman kebahagiaan di bibirnya.
Gadis yang selama ini ia cari ternyata ada di depannya, tak Bara sangka gadis yang dulunya kalem berubah menjadi remaja banyak tingkah seperti sekarang.
Bara jadi menyesal telah membuat gadisnya ini terluka saat di tangga waktu itu.
Bara memperhatikan Alya terus menerus, ia tak mengalihkan pandangan sedukit pun dari gadisnya yang tengah fokus pada soal. Sama seperti dulu saat Lianya berhasil mengambil alih seluruh pandangannya serta hatinya yang beku.
Dalam hati bara berjanji tak akan melepaskan gadisnya lagi. Soal gelang ia akan mencari tahu lagi saat hubungannya dengan Alya sudah semakin dekat. Itu tujuan Bara sekarang.
" Pak saya udah selesai ngerjain. "
Merasa dosennya itu tak menyahut ucapanya Ia mengangkat wajah dan terkejut melihat Bara yang menatapnya dengan tatapan aneh.
" Ba..bapak gak apa apa kan? " tanya Alya sembari melambaikan tangan di depan dosennya itu, takut takut Bara kerasukan penghuni lain di kosannya.
Bara tersadar, " Uhm saya gak papa, jawaban kamu akan saya periksa di rumah saja. Saya pamit sekarang. "
Alya mengangguk kaku karena masih heran dengan tingkah Bara yang menurutnya aneh, namun ia akhirnya mengantar dosennya sampai gerbang kosannya.
Setelah mobil yang di kendarai bara hilang dari pandangannya, ia pun bernafas lega karena sedari tadi para penghuni kos yang lain menatap ke arahnya dengan tatapan penuh tanya.
Bagaimana tidak? Yang datang adalah dosennya, apalagi dosen yang terkenal galak dan juga katanya dosen paling tampan di kampusnya.
" Eh itu pak Bara kan? " Tanya salah satu penghuni kos yang entah sejak kapan ada di belakangnya.
" Iya pak Bara. " Alya mengiyakan.
" Kok bisa? " Tanya gadis yang merupakan katingnya dengan perasaan bingung. Bagaimana bisa dosen galak itu mau datang ke kosan mahasiswanya, untuk apa coba.
" Pak Bara cuman ngajarin gue doang kok. " Jelas Alya seolah tau isi pikiran katingnya yang satu ini.
Mendengar jawaban Alya membuat gadis itu makin merasa aneh, sejak kapan ada dosen yang seperhatian itu pada mahasiswanya. Ia jadi curiga, pasti hubungan mereka lebih dari sekedar dosen dan mahasiswa.
" Gue masuk duluan. " Pamit Alya sambil berlalu dari sana, ia tak ingin di cecar lagi oleh pertanyaan dari kating yang di kenal sebagai biang gosip di kosannya ini.
Persetan jika ia digosipkan yang tidak tidak, pada kenyataan ia benar benar hanya belajar tak lebih. Lagipula penghuni kos di lantai 3 lainnya yang lalu lalang pasti bisa melihat kedalam apa yang mereka lakukan. Karena sepanjang belajar tadi ia membiarkan pintu kosnya terbuka agar tak menimbulkan fitnah.
...----------------...
__ADS_1
...To Be Continue :)...