
...HAPPY READING...
......♡--------------------♡......
Di dalam sebuah ruangan terlihat seorang pria dengan wajah yang tenang namun aura di sekitarnya sangat mematikan.
Bara. Pria itu menepati janjinya, tepat hari ketiga ia sudah dapat menangkap seekor tikus kecil yang sudah berani main main denganya.
" Apa selama ini kau pikir aku tidak mengetahaui kelakuanmu di belakang ku? " Tanya Bara pada seorang pria tua dengan kepala botak dan perut buncit, yang saat ini duduk pada sofa tepat di hadapannya.
" A..apa maksud pak Bara? Saya tidak mengerti. " Elak lelaki tua itu dengan suara bergetar dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya, padahal AC ruangan itu sedang menyala.
Brukk.
Bara melempar sebuah map di meja yang memisahkan mereka. Map yang ia dan asistennya kumpulkan sebagai bukti selama dua hari dua malam tanpa istirahat.
" Apa kau masih bisa mengelak? " Tanya Bara geram.
Pria tua itu mengambil berkas berkas itu lalu membacanya yang seketika ia dibuat mati kutu. Berkas itu adalah bukti kuat akan kasus kelakuan kotor yang ia lakukan dibelakang bosnya.
" I..ini bukan perbuatan saya pak, a..asisten saya yang melakukannya. " Lagi lagi pria tua itu mengelak padahal bukti bukti sudah nyata terpampampang di depan mata. Dan juga omong kosong apa barusan? Jelas jelas pria itu tak memiliki asisten.
" Silahkan anda mengelak di kantor polisi. " Ucap Bara tegas lalu memanggil asistennya untuk menyeret manusia tidak tahu diri ini ke kantor polisi.
" A..anda tidak bisa melakukan ini kepada saya. Saya yang selama ini membantu ayah anda membangun perusahaan ini. " Teriak pria tua itu saat Doni asistennya menarik paksa dirinya keluar.
Bara diam saja melihat pria itu akhirnya di giring oleh dua orang bodyguard yang dibawa oleh Doni. Ia mendudukan dirinya pada kursi kerja miliknya lalu menutup matanya sejenak.
Sudah 2 hari ini ia dan asistennya tidak tidur sama sekali, mereka hanya meminum kopi untuk mencegah rasa kantuk di malam hari.
Tok tok tok.
" Masuk. " Suruh Bara.
Doni masuk ke dalam, " Apa ada jadwal hari ini? " Tanya Bara lagi.
__ADS_1
" Saya sudah membatalkan beberapa pertemuan hari ini, jadi anda bisa beristirahat untuk hari ini. " Ujar asistennya membuat Bara membuka matanya dengan cepat.
" Kenapa kau membatalkan pertemuannya? " Tanya Bara kaget, kenapa asistennya hari ini tidak meminta persetujuanya terlebih dahulu. Main di batalkan saja.
" Maaf Tuan, saya sengaja melakukannya karena dua hari ini anda tidak beristirahat sama sekali. Dan juga jika anda ingin pertemuan ini terus di lakukan, saya bisa menggantikan anda untuk hadir. " Jelas Doni, ia merasa kasihan pada tuannya itu.
Bara tersenyum sinis, " Apa kau ingin menjadi bosnya? " Tanya Bara dengan nada serius walaupun maksudnya hanya untul bercanda.
" Bukan begitu maksud saya Tuan, saya hanya ingin anda istirahat. " Tutur Doni dengan tenang mengutarakan niat baiknya.
" Baiklah, kau bisa cuti untuk 2 hari ke depan. " Ujar Bara membuat Doni menatap pria itu dengan tatapan kaget.
" Terimakasih sebelumnya, tapi saya tidak bisa karena.. "
" Jika kau tidak mau lebih baik kau jangan bekerja lagi di sini. " Bara memotong ucapan asistennya itu. Doni mengasihaninya tapi tidak kasihan pada diri sendiri. Padahal mereka sama sama lembur selama dua hari ini.
Dibandingkan dirinya, Doni lah yang tenaganya lebih terkuras. Buktinya dapat dilihat dari kantung matanya yang membengkak dan menghitam akibat lembur.
" Ba..baik Tuan, apa ada lagi yang harus saya kerjakan? " Tanya Doni untuk terakhir kalinya.
" Tapi Tuan juga harus pulang dan istirahat. " Doni mengingatkan kembali Tuannya yang gila kerja itu.
" Pergi atau aku akan memecat mu sekarang juga. "
Tanpa babibu Doni langsung keluar dari sana dari pada harus di pecat, karena Tuannya tidak pernah main main terhadap omongannya sendiri.
Tersisalah Bara seorang. Melihat meja kerjanya ia jadi teringat akan sosok yang dua hari ini hampir mengacaukan pikirannya. Brsyukur imannya kuat untuk bertahan selama 2 hari.
" Dia sedang apa sekarang? " Tanya Bara entah pada siapa.
Pria itu mengambil handphonenya berniat menghubungi Alya namun ia urungkan saat melihat pintu ruangnnya kembali di buka.
" Doni apa kau ingin di pecat? " Tanya Bara kesal karena mengira yang datang adalah asistennya, tapi ternyata bukan.
" Selamat siang babe. " Sapa seorang wanita sexy dengan pakaian ketat yang membentuk tubuh hasil operasinya itu.
__ADS_1
" Apa yang kau lakukan disini Miranda? " Tanya Bara, raut wajahnya yang tadi bersemangat karena berniat menghubungi sang pujaan hati berubah dingin saat melihat wanita yang bernama miranda ini.
" Tentu saja mengunjungi calon suamiku. " Jawab Miranda sembari berjalan menuju meja kerja Bara dan mendudukan diri di atas meja tersebut.
" Hentikan omong kosongmu dan pergi dari sini. " Tanpa banyak kata Bara mengusir wanita yang megaku sebagai calon istrinya. Menyebut calon istri saja Bara merasa sangat mual dan ingin muntah saat ini juga.
" Oh ayolah, itu bukan sebuah omong kosong. Kita sudah bertunangan dan itu di setujui oleh mu tanpa paksaan. " Ujar Miranda menatap mata Bara tanpa takut.
Bara berdecih, " Apa kau liat aku menyetujui pertunangan bodoh itu? " Tanya Bara meremehkan, pasalnya ia mau bertunangan dengan Miranda akibat paksaan ayahnya yang mengancam akan membuat dirinya berhenti dari profesi dosennya.
Miranda malah terkekeh, " Sekalipun kau tak menyetujuinya kau tetap hadir disana dan kita sudah resmi sebagai sepasang tunangan. "
Bara dibuat makin naik dara oleh wanita ular ini. Wanita yang dulu merupakan temannya namun ternyata ia menyimpan perasaan terhadap Bara dan memanfaatkan kekuasaan orang tuanya untuk mendapatkan Bara.
" Kau sangat menjijikan. "
" Terserah apa yang mau kau katakan aku tak perduli, yang pasti sebentar lagi kau secara resmi akan menjadi suamiku. Ahh karena aku sedang baik aku akan pulang karena sepertinya mood mu kurang bagus hari ini. Sampai jumpa lagi babe. " Setelah mengatakan itu tanpa tahu malu ia mengecup pipi Bara, yang langsung di lap oleh pria itu.
Setelah Miranda pergi dari sana Bara menghantam meja kerja hingga lapisan kaca bagian atasnya pecah. Tangan pria iti bercucuran darah, namun ia tak perduli yang harus ia pikirkan adalah bagaimana caranya menyingkirkan wanita ular bernama Miranda itu.
" Liat saja, aku akan membuat kau sendiri yang membatalka pertunangan ini. "
Jika Bara sudah bertekad maka tekadnya itu pasti akan terlaksana, siapa yang tidak tau itu?
Bara memijat keningnya, ia membatalkan niatnya menghubungi sang pujaan hati. Biarkan ia mengontrol emosinya baru kemudian ia akan mengabari Alya.
Sial, Miranda benar benar menghancurkan moodnya. Sudah lelah dengan urusan si tikus kantor sekarang ia harus kembali di buat pusing dengan ular liar seperti tunangan sialannya itu.
Bara kemudian memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, ia akan meminta ayahnya untuk kerja selama dua hari menggantikan dirinya dan Doni. Karena ia butuh istirahat, tadinya ia tak butuh itu namun alasannya lagi lagi karena Miranda membuatnya semakin lelah.
Dan juga biarkan pria tua itu bekerja, toh ini juga akibat ulah ayahnya yang memaksanya menerima perjodohan bodoh itu.
Yang Bara herankan, apa ayahnya takut bangkrut jika menolak keluarga Miranda? Padahal mereka orang kaya nomot satu di kota ini, atau apakah ayahnya sudah pikun dan melupakan fakta satu itu?
...----------------...
__ADS_1
...To Be Continue :)...