
Bara pov:
Pagi ini aku mengalami sedikit musibah, aku hampir menabrak seorang gadis di jalan. Aku akui itu kesalahanku karena berkendara dengan kecepatan tinggi. Namun gadis itu juga salah karena dia berjalan tanpa memperhatikan sekitar, sehingga terjadi insiden itu yang membuatku harus mengeluarkan uang sebagai bentuk tanggung jawab, walau aku tau gadis itu memerasku.
Saat ini suasana di kampus cukup ramai dengan murid murid yang tengah mengikuti ospek hari pertama dan beberapa mahasiswa lain yang masuk hanya sekedar mengurus berkas berkas kemahasiswaan.
Hari ini aku datang hanya untuk mengecek keadaan kantorku, bukan apa apa tapi aku tidak suka tempat yang berantakan, bahkan sedikit debu saja bisa membuatku tidak nyaman.
Benar saja liburan semester membuat ruanganku itu berdebu, aku memutuskan untuk meminta cleaning servis membersihkan ruanganku.
Aku memutuskan duduk di kursi tunggu depan ruangan ku, saat melihat ke arah taman aku kembali melihat gadis aneh menjengkelkan tadi pagi.
" Kenapa aku tak menyadari gadis itu menggunakan kostum kampus ini. "
Aku kembali fokus ke arah tab di tanganku untuk memeriksa beberapa berkas kantor, ya selain dosen aku juga harus bekerja pada ayahku yang berprofesi sebagai CEO sekaligus pemilik perusahaan terbesar di kota ini.
Beberapa kali pria tua itu memarahiku karena tidak ingin berhenti dari profesi sebagai pengajar. Bukan tak ingin meneruskan perusahaan tapi selagi aku bisa menghandle keduanya kenapa tidak.
" Permisi pak Bara, ruanganya sudah selesai saya bersihkan. "
Ujar cleaning servis tadi membuat aku menghentikan sejenak pekerjaanku ini. Aku kemudian memberikan tip pada wanita tua itu, walau gajinya lumayan tapi itu baru di terima akhir bulan sedangkan wanita ini pasti memiliki keperluan lain tiap harinya.
" Terimakasih banyak pak Bara. " Ujar Mariam kemudian ia berlalu dari sana meninggalkanku.
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam ruanganku, namun sebelum masuk aku memutuskan untuk kembali melihat gadis tadi. Dapat aku lihat ada seorang gadis lain yang duduk dengannya.
" Syukurlah. "
" Eh apa apaan ini, kenapa aku jadi memperhatikan gadis itu. "
Ujarku yang merasa heran pada diri sendiri.
Bara pov end.
3 hari sudah Alya menjalani masa ospek yang benar benar menguras tenaganya. Saat ini gadis berusia 18 tahun itu tengah berada di kantin bersama 2 orang teman barunya dan 1 temannya dari SMA.
__ADS_1
" Cape banget gila. " Keluh Chia gadis berambut sebahu dengan wajah imutnya, ia adalah teman Alya dari SMA.
" Iya ihh, nguras tenaga bangat. " Sambung Anggira gadis berambut panjang yang di kuncir ekor kuda. Gadis ini paling tua di antara mereka, usianya sudah 19 tahun karena ia gap year 1 tahun lamanya.
" Yah mau gimana lagi, mau ngeluh tapi kita udah mahasiswa kan? " Sambung Erika yang paling dewasa di antara mereka padahal ia paling muda yaitu 17 tahun, tahun ini.
Sedangkan Alya gadis itu hanya diam sembari menyeruput es jeruk pesanannya yang baru di antar. Gadis itu benar benar kehabisan tenaga sampai tidak bisa berkata kata lagi saking lelahnya ia 3 hari terakhir.
" Semoga kita sekelas deh kata gue, udah pas ini. " Ujar Anggirra yang di setujui oleh ketiga teman lainnya. Mereka sudah cocok dan satu frekuensi jadi malas harus mengakrabkan diri lagi dengan orang baru.
Mereka belum mendaftar ulang ke prodi, niatnya setelah selesai dari kantin baru mereka mendaftar, apalagi di atas masih ramai mahasiswa yang berdesakan.
Sementara itu di tempat lain seorang pria dewasa tengah menikmati makan siangnya dengan hikmat. Terlebih makanan itu di buat oleh sang ibu. Bukannya lebay namun sang ibu hanya memasak untuknya 1 kali dalam sebulan.
Itu sebabnya ia sangat senang jika hari itu tiba, hari dimana ia bisa menikmati kembali makanan buatan sang ibu.
Semenjak kedua orangtuanya berpisah saat usianya 17 tahun, ia mulai belajar mandiri walaupun sulit tapi ia tak menyerah dan terus berusaha. Hingga akhirnya ia dapat meraih cita citanya untuk menjadi seorang dosen oleh karena itu ia tak ingin berhenti dati profesi ini namun ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pewaris tunggal Sephtian group.
Selesai menikmati makan siangnya Bara memutuskan untuk ke kantor membantu ayahnya karena pria tua itu mendapat proyek besar sehingga membutuhkan otaknya yang cerdas dan masih fresh.
" Kamu tidak apa apa? " Tanya Bara memastikan sembari membantu gadis itu berdiri.
Melihat wajah dosennya yang tampan, gadis itu malah senyum senyum sendiri.
" Hey kamu tidak apa apa? " Tanya Bara lagi. Dalam hati ia menebak bahwa ini ada mahasiswa baru karena tidak ada mahasiswa yang berani menatapnya dengan tatapan kagum seperti ini apalagi dalam area kampus.
Perlu di ketahui Bara adalah salah satu dosen killer di fakultas Ekonomi ini.
" E..eh saya gak apa apa pak. " Ujar gadis itu setelah kembali ke alam sadar.
" Baiklah maafkan saya telah menabrak kamu, tapi jika bisa lain kali jangan menatap saya dengan tatapan seperti itu lagi. " Ujar Bara dengan suara tegas dan wajah serius.
Untung di sekitanya sepi jadi tidak ada mahasiswa lain yang melihat interaksi mereka saat ini.
Bara berlalu dari sana meninggalkan gadis itu yang masih specles melihat bagaimana berubahnya aura dosen tampan itu.
__ADS_1
" Wah gue sampe merinding. " Gumam Chia, yah gadis yang tak sengaja Bara tabrak tadi adalah Chia yang baru kembali dari toilet setelah mendaftar ulang di prodi.
Chia segera berlalu dari sana dan kembali ke tempat di mana ketiga temannya berada.
" Kenapa lo? Kaya habis ketemu setan aja. " Tegur Anggira.
" Hooh kenapa lo? " Sambung Alya.
Chia mengatur nafasnya lalu duduk di samping Erika. "Gue ketemu dosen ganteng. " Ujarnya kemudian dengan nafas ngos ngosan.
" Bukannya bagus? Lo kan suka liat cowo yang bening bening, kok muka lo malah kaya orang ketakutan gitu? " Tanya Alya yang paling tahu karakter temannya itu.
" Ganteng ganteng seram anjir. " Gerutu Chia yang di sambut tawa Anggira dan Alya.
" Wah pasti dosen killer tu. " Sahut Erika yang akhirnya mengeluarkan suara.
" Udah pasti sih, moga moga kita gak dapat sama dia deh. "
" Kan belum tentu itu dosen prodi kita ogeb. " Cerca Anggira menanggapi Chia.
" Orang dia keluar dari ruangan dosen Ekonomi kok. "
" Bahaya sih. Tapi lo gak buat masalah kan? " Alya bertanya lagi karena setahunya mahasiswa tidak boleh terlibat masalah dengan dosen, baik masalah perkuliahan maupun masalah pribadi.
" Menurut gue sih gak. " Sahut Chia Menjawab.
" Menurut menurut pala lu kotak, baru maba jangan bikin masalah deh. " Maki Alya karena khawatir pada sahabatnya itu.
" Minimal cerita. " Cetus Erika yang di setujui keduanya.
Chia pun menceritakan dari awal hingga akhir bagaimana ia terlibat dengan dosen itu. Selesai bercerita ketiga temannya hanya menghela nafas dan berharap dosen itu tak mengingat wajah Chia walaupun kemungkinnan itu sangat kecil.
...♡♡♡♡♡...
...To Be Continue :)...
__ADS_1