
...HAPPY READING...
......♡--------------------♡......
Liburan sudah selesai, selama hampir 1 bulan masa liburan itu Alya hanya berdiam diri di rumah. Hubungannya dan Satrya sudah baikan akibat dirinya yang merasa bosan selama liburan, jadilah ia mengajak kakakknya jalan jalan sehingga mereka bisa berbaikan.
Satrya juga meminta maaf karena ia sudah membentak adiknya itu. Di tambah ia di marahi habis habisan oleh sang ayah akibat kelakuan kasarnya itu.
" Kamu gak mau tinggal di sini aja? " Tanya Anita kepada sang anak yang sedang membereskan barang barangnya untuk kembali ke kosan.
" Gak bisa di ma, nanti yang ada Alya buang buang uang untuk ongkos ke kampus. "
Anita mengangguk menyetujui, memang benar perkataan anak bungsunya itu.
Tapi sebagai seorang ibu, Anita sedikit sulit melepas anak gadisnya itu untuk tinggal sendiri. Sedari awal pun sebenarnya ia menentang permintaan anaknya itu.
Melihat ibunya yang terlihat cemas Aloka menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu.
" Gak usah gitu ah, Alya nangis ni. " Ancam Alya dengan menunjukan ekspresi cemberut.
Anita terkekeh nelihat ekspresi Alya yang sangat menggemaskan menurutnya, " Yaudah tapi kamu jaga diri loh ya. " Peringat Anita, apalagi sekarang marak kasus pelecehan dan bahkan pemerkosaan yang di lakukan oleh oknum tak di kenal dan juga orang terdekat sekalipun bisa menjadi pelaku kejahatan.
" Iya mamaku yang cantik. "
Keduanya kemudian lanjut membereskan pakaian yang akan di bawa oleh Alya.
30 menit kemudian keduanya keluar dan sudah ada Satrya dan motor aerox kesayangan pria itu yang siang mengantar si tuan putri.
" Ayah, ibu Alya pamit dulu ya. " Pamit Alya menyalimi tangan kedua orang tuanya yang saat ini menahan tangisannya.
" Alah lebay amat. " Cerocos Satrya padahal dalam hati ia juga merasa terharu melihat kedua orang tuanya yang menahan tangis seperti itu.
Walaupun ia adalah anak yang kurang ajar tapi bagaimanapun hati kecilnya akan tersentuh di saat saat seperti ini.
" Ngerusah suasana bangat sih lo. " Alya memarahi abangnya itu yang merusak suasana haru antara mereka bertiga.
" Buruan, gue juga mau beres beres kosan gue ni. "
Satrya tidak tahan berlama lama di sana yang ada ia juga akan menangis. Dan hal itu akan membuat harga dirinya sedikit tersentil, apalagi mutul adiknya yang tidak bisa di kontrol.
Setelah perpisahan yang menguras air mata kini keduaanya telah tiba di kosan milik Alya dengan selamat.
Ponsel Satrya berdering, bisa di tebak itu dari ibunya yang akan mencecarnya dengan pertanyaan apakan mereka sampai dengan selamat dan baik baik saja?
__ADS_1
' Satrya kalian udah sampai? Gimana aman gak di jalan tadi? Adik kamu gak kenapa napa kan? '
Berbagai pertanyaan di lontarkan oleh Anita yang sedang cemas, dan tak memberi waktu untuk Satrya menjawab.
' Udah sampai kok ma, Alya badannya juga masih lengkap. Tenang aja. '
Terdengar Anita menghela nafas lega, dapat Satrya maklumi kecemasan ibunya itu karena dulu Alya pernah mengalami kecelakaan yang dimana adiknya itu mengalami nati suri.
Masih Satrya ingat jelas bagaimana keadaan ibunya saat dokter mengetakan adiknya telah meninggal dunia. Anita menjadi seperti kehilangan kewarasannya, wanita itu bahkan hampir bunuh diri dengan cara meloncat dari gedung rumah sakit.
Namun Tuhan berkehendak lain, jantung adiknya kembali berdetak tepat beberapa detik sebelum para perawat hendak melepas alat alat medis yang melekat di tubuh adiknya.
Dokter pun dengan cekatan mengambil tindakan, yang pada akhirnya Alya di nyatakan kembali hidup dan tadi ia hanya mengalami mati suri.
Sedangkan Anita yang saat iti jatuh pingsan hanya tau bahwa adiknya telah meninggalkan dunia ini selamanya. Bahkan saat Alya mengunjungi ruangan ibunya, Anita sempat mengira itu adalah arwah adiknya.
" Siapa bang? " Tanya Alya yang baru dari kamar mandi.
" Nih ibu nanyain lo. " Satrya menyerahkan ponselnya kepada Alya.
' Hallo ma. '
' Halo sayang, gimana tadi di jalan? Aman kan? ' Anita kembali mengulang pertanyaannya untuk membuktikan kebenaran dari perkataan Satrya tadi.
Keduanya kemudian mengobrol beberapa saat sebelum akhirnya Satrya meminta kembali ponselnya, karena ia akan pulang ke kosannya sendiri.
" Lo hati hato sendirian, pintu sama jendela jangan lupa di tutup. Lagi marak anjing rabies, gue gak mau punya adek udah gila tambah rabies lagi. " Satrya memberi wejangan pada adiknya itu agar berhati hati.
" Iya iya cerewet amat lo, perasaan mam aja gak secerewet lo deh. Mana pake ngatain gue lagi. " Gerutu Alya kesal di katai gila.
" Kan gue khawatir, yaudah gue pamit ye. "
Pemuda itu pun pergi dari sana meninggalkan Alya dengan rasa kesepian yang menyelimuti.
Beberapa anak kos lainya belum pulang, hanya beberapa saja yang sudah pulang itu pun penghuni di lantai bawah dan tidak dekat dengan dirinya.
Ini karena ia kembali lebih awal dari waktu liburan yang seharusnya 1 minggu lagi.
" Ke mini market aja deh. "
Setelah mengambil hoodie dan ponselnya, gadis itu pun berjalan seorang diri dengan modal nekat menuju mini market yang letaknya tak jauh dari kosannya.
Waktu menunjukan pukul 7 malam, harusnya jam segini masih ramai di jalan. Namun malam ini suasananya malah sepi dan kendaraan yang lewat pun hanya beberapa saja.
__ADS_1
" Sepi bangat deh, perasaan gue kok jadi gak enak. " Guamam Alya sembari mengeratkan genggaman tangannya pada saku.
" Woy. "
" Mama tolongg. " Alya reflek bertetiak saat seseorang menepuk bahunya dari belakang.
" Heh, ini gue Rian. "
Mendengar nama Rian di sebut dengan reflek Alya menghantam bahu pria yang mengejutkannya barusan.
" Lo bikin gue jantungan aja. "
Gadis dengan kuncir satu itu mengelus dadanya, ia sungguh takut kalau kalau tadi itu benaran orang yang hendak menjahatinya.
Hey dia belum pernah merasakan rasanya pacaran, jadi dia belum ingin mati muda.
" Ya sorry, habisnya lo kaya ngelamun gitu ya udah gue kerjain aja sekalian. " Aku Rian cengengesan.
Alya menatap pria itu dengan tatapan tajam, " Gak lucu, kalau jantung gue log out gimana? Mau tanggung jawab lo? " Gerutunya kesal.
Rian hanya menampilkan giginya yang rapi, " Gue siap kok tanggung jawab, apalagi cewenya secakep lo. "
" Malah gombal, sana lo ganggu aja. "
Alya kembali melangkahkan kakinya menuju mini market untuk membeli makanan. Perutnya sudah sangat keroncongan karena tak sempat makan dari rumahnya.
" Gue temenin. " Tawar Rian menyamakan langkah kakinya dengan Alya.
" Gak usah, gue gaj butuh. " Ujar Alya ketus.
Jujur saja ia tidak suka di kejutkan seperti tadi, namun karena pria ini adalah teman kelasnya yang jahil jadi ia memaklumi saja.
" Lo gak tau jam segini tu rawan kejahatan loh. " Rian mulai menakut nakuti Alya, agar dirinya di ijinkan menemani gadis incarannya itu.
" Iya, dan lo penjahatnya. "
" Gak lah, gue bakal jadi pahlawan buat lo. " Ujarnya dengan bangga yang di balas dengan tatapan mengejek dari Alya.
Keduanya pun berjalan bersama menuju mini market tanpa mereka sadari seseorang menatap mereka dari jauh dengan tatapan tajam.
...----------------...
...To Be Continue :)...
__ADS_1